Sempak Merah


Siang setelah jumatan, suasana pesantren tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

Di dapur umum, santri-santri yang makan 3 kali sehari sedang mengantre untuk mengambil jatah makan mereka. Ruangan yang dindingnya kusam oleh jelaga dan bekas tangan-tangan kotor itu hampir tak sanggup meredam hiruk-pikuk mereka. Santri-santri yang sudah tak sabar mendorong antrean dari belakang, membuat teman-temannya yang ada di depan berteriak dan mengumpat.

Santri-santri lain yang hanya makan 2 kali sehari sibuk mengalihkan rasa laparnya dengan bercengkerama, melipat cucian kering, atau tidur. Udara panas menjadi cobaan yang melengkapi tirakat mereka. Santri yang punya uang melarikan diri ke kantin untuk mencari minuman dingin, sedang mereka yang bokek hanya bisa meminum air isi ulang.

Di tengah rutinitas yang berlangsung setiap siang itu, sebuah keributan kecil terdengar. Salah seorang santri memanggil-manggil nama Ustadz Fuad sambil keluar-masuk kamar-kamar santri putra. Santri-santri lain turun tangan membantunya begitu tahu bahwa yang mencari ustadz mereka adalah Kyai Tamim, sang pengasuh pesantren.

Ustadz Fuad yang tengah menikmati makan siang terhenyak sebelum membalas panggilan itu. Begitu diberitahu bahwa Kyai mencarinya, buru-buru ia menelan nasi yang belum lumat betul di mulutnya dan mencuci tangan ala kadarnya. Sejurus kemudian, beliau melompat keluar kamar dan berlari kecil menghampiri sang Kyai.

Di samping kantin, Kyai Tamim mematung sambil memandangi langit-langitnya yang bocor akibat hujan deras malam sebelumnya. Setelah melihat kedatangan Ustadz Fuad, beliau langsung melempar isyarat ke tanaman puring yang tumbuh bersisian dengan dinding kantin. Sesaat setelah mengikuti isyarat Kyai Tamim, Ustadz Fuad kaget bukan kepalang.

“Itu tanaman apa, kok bunganya seperti itu?” Kyai Tamim pura-pura tidak tahu.

Semua penghuni pesantren Nurul Huda, termasuk Kyai Tamim sendiri tentunya, tahu bahwa itu puring. Kalau kemudian beliau memberi isyarat dan seakan bertanya tentang tanaman yang daunnya hijau kekuningan itu, itu karena beliau melihat sebuah benda tak bertuan yang mengering di atasnya, yang mungkin sudah sepanjang siang sengaja dijemur di sana.

Melihat tatapan Kyai Tamim yang tampak tak berkenan dengan pemandangan itu, Ustadz Fuad segera mendekati benda yang dimaksud, mengambilnya dengan tangan yang masih bau sayur, dan cepat-cepat menyembunyikannya di balik punggung. Kyai Tamim lalu beringsut pergi tanpa mengubah raut wajahnya, meninggalkan sang ustadz yang salah tingkah dan menahan malu.

***

Bersambung…

Umar dan Seekor Burung Pipit


Cinta memang tak selalu mudah dimengerti.

Bahkan setelah para pujangga, pencipta lagu, dan budak-budak cinta menyempitkannya hanya terhadap lawan jenis, cinta tetap rumit, kompleks, atau mbulet.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Oh, tentu, cinta tak sebatas pada gadis pujaan atau mantan yang tiba-tiba menyapa di beranda media sosial. Cinta itu liar, menjangkau lebih banyak hal dari apa yang bisa dipahami oleh pikiran sempit kita. Bahkan cinta sebenarnya bisa menjangkau segalanya. Maksudku, ya, segalanya.

Mau benda hidup atau mati, mau manusia, anjing, janda bolong (sedang trending saat ini, heran … ), mobil idaman, buku kenang-kenangan, baju lebaran, dan bahkan Tuhan. Ya, tak adil rasanya bicara cinta seakan-akan itu hanyalah rasa di antara manusia, sementara Tuhan kita anggap bukan siapa-siapa untuk dicintai dan sebaliknya, “tunaasmara”.

Mungkin karena itu, Nabi Muhammad saw berpesan pada sahabat-sahabatnya, “Para pencinta akan dicintai oleh Sang Mahacinta, karenanya cintailah makhluk-Nya yang ada di bumi, niscaya makhluk-Nya yang ada di langit akan mencintaimu.”

***

Suatu hari Umar bin Khathab melintas di salah satu ruas jalan di Madinah. Secara tak sengaja, dia melihat seorang anak sedang menggenggam burung pipit dan asyik memainkannya. Jatuh kasihan melihat burung itu, Umar membelinya dan membebaskannya.

Beberapa lama kemudian setelah kematiannya, sejumlah orang mengaku bertemu Umar di dalam mimpi, lalu bertanya tentang keadaannya.

“Apa yang sudah Allah lakukan padamu?” tanya mereka.
“Allah mengampuniku,” jawab Umar, singkat.
“Karena apa? Kebaikanmu, keadilanmu, atau kebersahajaanmu?”

“Setelah kalian memasukkanku ke liang kubur,” jawab Umar, “menutupnya dengan tanah, kemudian meninggalkanku seorang diri, dua malaikat yang sangat berwibawa menemuiku. Saat itu, pikiranku buntu dan sendi-sendi tulangku seperti mau lepas.

“Mereka kemudian memegangku, mendudukkanku, dan tampak ingin mengajukan pertanyaan padaku. Tapi, tiba-tiba aku mendengar entah suara siapa, ‘Tinggalkan hambaku dan jangan membuatnya ketakutan! Aku mencintainya dan telah mengampuninya. Sebab, dulu dia mencintai seekor burung di dunia, dan kini giliranku mencintainya di akhirat’.”

Coba lihat, hanya karena membebaskan seekor burung pipit, Umar bin Khathab mendapat kemuliaan sedemikian rupa di alam kubur. Kita tahu, Umar adalah salah satu pembela Rasulullah saw yang paling berani dan setia. Kita juga tahu, dia adalah pengganti/khalifah beliau yang membuat Islam menyebar dengan pesat ke berbagai penjuru, bahkan hingga ke luar tanah Arab.

Namun, yang membuatnya selamat di alam kubur ternyata bukan semua itu, tapi kebaikannya yang lain, sesuatu yang mungkin dianggap sepele oleh orang-orang, mungkin juga oleh Umar sendiri saat melakukannya. Ya, besar kemungkinan dia tak mengira bahwa melepaskan seekor burung pipit yang tak berharga itu membuka jalan bagi keselamatannya di alam kubur.

Oh ya, satu lagi. Cerita ini juga menjelaskan pada kita bahwa pertanyaan di alam kubur ternyata tak disampaikan kepada semua orang. Umar mungkin bisa menjawab pertanyaan kedua malaikat itu, seandainya tetap ditanyakan (sebuah formalitas belaka, jika demikian). Yang pasti, dia tak sampai ketakutan, karena toh ada suara yang membelanya dan menyuruh mereka pergi.

Bayangkan seandainya saat itu Umar ketakutan …

*Cerita 1, Kitab Al-Mawa’izh Al-‘Ushfuriyyah, karya Syekh bin Muhammad bin Abi Bakr, hal. 7.

Para Pemelihara


Tak banyak yang tahu bahwa dunia berputar sebagaimana mestinya berkat sentuhan mereka.

Source: Frederick Goodall, https://www.pinterest.com.au/pin/463730092860021899/?d=t&mt=login

Siang dan malam mereka menjaganya, tak peduli angin bertiup ke arah mana dan bintang jatuh mengirimkan pertanda apa. “Selama panggilan itu masih berkumandang, kami tak akan beranjak dari tempat di mana kami seharusnya berada,” kata mereka.

Para pemelihara adalah manusia-manusia yang setia berpegang pada kitab warisan. Hari demi hari, entah sudah berapa abad sejak mulai membaca dan menyelami isinya, mereka amati segala yang terjadi di berbagai belahan dunia, mereka artikan gerak-geriknya, dan mereka perkirakan bagaimana akhirnya dengan berpedoman pada kitab warisan itu.

Aku pernah bertemu dengan mereka, kalau kau mau tahu. Lebih dari itu, aku pernah melewatkan masa-masa remajaku yang membosankan bersama mereka. Menitipkan bukan hanya masa depanku tapi bahkan hidup dan matiku. Orang-orang yang penampilannya sangat bersahaja tapi hatinya kaya-raya.

Namun, Teman, jangan membayangkan mereka sebagai orang-orang yang di sakunya penuh dengan uang dan kepentingan, apalagi kekuasaan. Sejak lama mereka adalah orang-orang yang dipinggirkan, dipandang sebelah mata, bahkan pada periode masa yang lama keberadaannya tak diinginkan.

Bagi orang-orang yang rongga perutnya seperti ruang antara bumi dan bulan, mereka yang menjaga roda dunia ini tetap berputar tak ubahnya kucing liar yang hanya pantas dilempar sandal.

Ada memang segelintir orang yang menganggap para pemelihara itu penting. Mereka adalah orang-orang yang wajahnya bersih karena rajin perawatan, pakaiannya licin dan mewah, dan baunya wangi. Mereka datang lima tahun sekali, yaitu pada momen pemilihan bupati atau anggota dewan. Mereka menyapa orang-orang desa itu dan dengan berbuih-buih menjanjikan karpet, semen, besi cor, genteng, meja-kursi, dan komputer, sembari menyampaikan maksud kedatangan mereka: meminta restu.

Meski begitu, jangan pula membayangkan para pemelihara itu adalah orang-orang akademis yang bicaranya rumit dan melangit, yang membuat para pendengarnya terkagum-kagum meskipun tak mengerti. Mereka memiliki ilmu yang menyamudera, tapi sehari-hari mereka tinggal di sudut desa yang terpencil. Bertetangga dengan belut dan ular sawah, berteman jangkrik dan burung hantu.

Mungkin karena itulah mereka juga dicap bodoh, kolot, terbelakang, dan berbagai stereotip negatif lainnya. Dianggap tak mengerti perkembangan dan tak tersentuh kemajuan. Orang-orang Jakarta yang rajin ikut seminar dan sering tampil di layarkaca pasti sulit percaya bahwa di tangan merekalah masa depan umat manusia digenggam. Lebih dari itu, berkat sentuhan tangan merekalah dunia yang kita tempati hingga kini baik-baik saja.

Sejak masih sangat belia mereka telah mempelajari kitab warisan. Mengakrabi huruf demi hurufnya, mengeja indah kata-katanya, membaca kalimat-kalimatnya yang bertuah, dan menggali makna terdalamnya. Dengan kitab itulah mereka bercermin, dan dengan kitab itu pulalah mereka menunjukkan jembatan bagi siapa saja yang ingin menyeberang.

Curhat Singkat Tentang Pesantren


Minggu-minggu ini sepuluh tahun yang lalu adalah saat yang paling saya syukuri dalam hidup.

Setelah menunggu berbulan-bulan, akhirnya saya diterima bekerja di tempat yang saya idam-idamkan: menjadi editor di sebuah penerbit buku.

Saat kuliah, saya gak pernah menargetkan diri saya harus menjadi apa atau bekerja di bidang apa. Doktrin orangtua dan kyai-kyai membentuk mindset saya bahwa belajar ya belajar, gak usah menjadikannya sebagai modal untuk mencari uang.

Ketika lulus kuliah, baru saya kelimpungan. Kerja apa, ya? Saya memang bingung, tapi rasa-rasanya saat itu keluarga lebih bingung. Saya punya prinsip yang bisa dipegang, yaitu nasihat kyai-kyai saya, tapi mereka gak punya.

Alhasil, ketika berhasil diterima bekerja di sebuah penerbit, saya dan keluarga lega.

***

Ada banyak hal yang saya pelajari di tempat kerja saya selama ini. Di luar masalah teknis penerbitan buku, saya bisa mengasah keterampilan komunikasi dan manajemen. Masih jauh dari sempurna, tapi minimal saya sudah memulai.

Pondok Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, didirikan 2,5 abad yang lalu.

Menurut saya, salah satu pelajaran yang perlu dikejar oleh anak-anak pesantren adalah kedua hal itu. Mereka memang sudah dibekali keterampilan berkomunikasi, dalam kaitan dengan dakwah dan syiar agama. Tapi sepengalaman saya, biasanya itu sesuai dengan konteks di mana pesantren mereka berada. Karena lokasinya di pedesaan (kebanyakan pesantren ada di desa-desa), maka cara mereka berkomunikasi ya banyak terpengaruh oleh masyarakat desa.

Artinya, dalam hal satu ini, mereka tinggal melakukan penyesuaian saja, seandainya di kemudian hari tinggal di kota besar atau hidup di lingkungan urban. Tentang manajemen, menurut saya anak–anak pesantren perlu banyak belajar.

Bukan rahasia kalau soal yang satu ini institusi pesantren banyak ketinggalan. Itu sebabnya, berkiprah di lembaga lain dalam kurun tertentu akan memberikan banyak pelajaran bagi mereka tentang manajemen. Bagaimana mengelola SDM, keuangan, kegiatan produksi, dan lain-lain.

Mungkin masalah ini gak berpengaruh langsung terhadap dakwah atau syiar yang mereka lakukan, tapi gak bisa dipungkiri bahwa tugas mulia tersebut akan lebih mudah dengan bekal manajemen yang baik. Mau bangun TPQ atau madrasah gak perlu repot bikin proposal, mau mengelola pesantren gak perlu bingung mencari tenaga pendidiknya.

Di atas semua itu, niat yang lurus, kebersihan hati, dan tawakal lillahi Ta’ala bagaimanapun gak bisa digantikan. Menurut saya, sampai kapan pun ini adalah kekhasan sekaligus kekuatan terbesar masyarakat pesantren.

Sekian tahun bergaul dengan orang-orang Jakarta sedikit-banyak membuat saya paham bahwa di mata mereka mengurus sebuah institusi agama (termasuk pesantren) gak ada bedanya dengan mengelola sebuah lembaga bimbingan belajar (bimbel). Modal utamanya ya manajemen. Gak heran banyak orang yang latar belakang pendidikannya non-agama kemudian mendirikan madrasah atau pesantren.

Mau ngajinya cuma streaming Youtube dan pemahaman keislamannya sangat terbatas, asal punya kemampuan manajerial yang bagus, cukup bagi mereka untuk “berjihad fi sabilillah dengan mendirikan pesantren. Gak tanggung-tanggung, bahkan pesantren tahfizh, seperti sekarang sedang merebak di mana-mana.

Ini jauh berbeda dengan lulusan pesantren. Mendirikan sebuah pesantren bukan hanya tentang bagaimana agar generasi muda melek agama (piawai berpidato, misalnya), lebih dari itu juga harus berkarakter mulia. Dan karakter mulia itu gak cukup hanya dibangun melalui manajemen kurikulum “yang memadukan iptek dan imtak”.

Perlu riyadhah atau ikhtiar batin yang cukup, yang bukan hanya merapalkan doa selamat setiap bakda shalat, tapi juga laku hidup sehari-hari yang disesuaikan dengan Al-Quran, sunah Rasulullah saw, juga kebiasaan para ulama dan shalihin. Lulusan pesantren yang alim-alim, yang kalau membahas masalah fikih gak perlu lagi membuka kitab, sepakat bahwa ini adalah tantangan mereka yang sebenarnya.

Tradisi dan alam pikiran masyarakat pesantren membentuk pola pikir santri-santri sedemikian rupa. Jika dilihat dari kacamata masyarakat non-pesantren, itu mungkin dianggap kolot. Tapi bagi santri-santri, itu adalah jalan yang memang harus ditempuh. Toh, gak ada satu pun kyai atau pesantren yang mewajibkan alumninya untuk membangun pesantren. Kalau mengharuskan mereka mendidik masyarakat, dengan cara yang mereka mampu, mungkin iya.

Saya jadi ingat pesan KH. Maimun Zubair. Banyak orang salah paham. Mengira pesantren itu urusan akhirat. Kalau ta’lim (belajar-mengajar)-nya memang akhirat, tapi kalau pesantrennya itu dunia.

Nah, sekarang saya bertanya dalam hati. Setelah sepuluh tahun melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sebuah perusahaan dimenej sedemikian rupa, apa yang bisa saya lakukan untuk masyarakat atau pesantren? Rasa-rasanya kok belum ada. Lantas, kalau sekarang saya menulis panjang lebar tentang niat lurus dan bagaimana sebuah pesantren itu seharusnya dimenej, semua itu gak lain karena saya gabut.

Sekian dan wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sibuk Berdalih


Saya kadang merasa gagal mewujudkan cita-cita. Saya pikir, hanya dengan memilikinya, saya punya persediaan semangat yang membuncah-buncah.

Ternyata, saya salah.

Dulu saat masih duduk di bangku Aliyah, saya ingin sekali melanjutkan ngaji di sebuah institusi pendidikan tinggi yang ada di pesantren saya kala itu. Namanya Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning, disingkat STIKK. Di mata saya saat itu, mahasantri STIKK itu keren, karena terampil memahami literatur Islam klasik yang bejibun itu.

Impian tersebut ambyar hanya dalam hitungan bulan setelah saya mendaftar dan diterima di lembaga tersebut. Alasannya sepele: saya gak betah setiap hari dikejar-kejar target hafalan Alfiyah (sebuah kitab pedoman gramatika bahasa Arab dalam bentuk syair sebanyak 1.002 bait). Padahal, sejak kelas 1 Aliyah saya sudah mencicil hafalan.

Saat kuliah, saya juga pernah punya impian, yaitu melanjutkan studi magister dan doktoral di luar negeri. Agak muluk sih, memang. Untuk impian yang satu ini, saya bahkan pernah menyampaikan secara panjang-lebar kepada salah seorang dosen, yang karena saking lamanya saya bicara, beliau sampai bete. Sampai sekarang, saya masih ingat bagaimana wajah beliau ngempet emosi. Hehe.

Lagi-lagi, impian tersebut gak terealisasi. Saya punya banyak dalih, yang kalau saya ringkas dalam sebuah kalimat, semuanya bersumber dari “ledakan energi di dalam jiwa saya yang berimplikasi pada menurunnya semangat (!) dan membuat saya betah terus-menerus rebahan (?!)”, atau singkatnya males. Padahal, kalau serius mau lanjut kuliah, saya punya banyak pilihan: UI, UIN, LIPIA, PTIQ, dan lain-lain.

Tapi, seiring berjalannya waktu saya gak terlalu menyesali keputusan untuk berhenti mengejar cita-cita. Bagaimanapun memiliki ilmu yang luas dan “efek sampingnya” berupa pengaruh di masyarakat bukan sesuatu yang ringan. Sama seperti orang-orang dengan nama besar, melakukan sedikit saja ketidakpantasan bisa jadi gunjingan manusia-manusia seperti Bu Tedjo dkk bahkan sampai H-1 kiamat.

Lagipula, mencari ilmu ‘kan gak harus dengan masuk ke lembaga-lembaga formal, bisa dengan menjadi santri kalong, santri freelance, atau apalah namanya. Ini mungkin “pelarian” saya saja, tapi melihat bagaimana Gus Baha’ begitu digandrungi saat ini, dengan pengajian-pengajiannya yang sangat berbobot tapi pada waktu yang sama ringan (?!), saya jadi seperti punya justifikasi untuk ngeles.

Ngeles dari kejaran rasa sesal akibat gagal mewujudkan impian.

“Gus Baha’ yang gak sekolah tinggi-tinggi aja bisa seperti itu, kok.”

Tentu saja siapa pun bisa dengan mudah membantah kata-kata saya itu.

‘Kan Gus Baha’ memang dari sononya cerdas!
‘Kan beliau ngajinya khatam!
‘Kan kamu bukan Gus Baha’!

Iya, iya. Tapi, apa Sampeyan gak pernah mendengar yang namanya Ibnu Athaillah? Beliau pernah lho berpetuah seperti ini:

“Kadang Dia mengabulkan doamu dengan cara menolaknya, dan kadang Dia menolak doamu dengan cara mengabulkannya. Ketika pintu pemahaman tentang arti sebuah penolakan itu terbuka untukmu, maka penolakan itu hakikatnya adalah pengabulan doa.”

Hmm, saya senang mendapati kata-kata beliau mudah terbaca (gak seperti quote-quote beliau yang lain di dalam Al-Hikam, tumben), di samping akhirnya bisa saya terjemahkan.

Tapi, iya sih, mungkin ini dalih saya saja untuk lari dari cita-cita dan rasa malu menanggung kegagalan. Tapi, gak apa. Kalau semuanya jadi ulama, MUI bisa-bisa overload.*

*Masih berdalih 🙂

Ngaji Online


Saya pernah sangat menyesal, mengapa dulu gak menuntaskan pendidikan saat masih di pesantren.

Menamatkan Alfiyah Ibnu Malik, lalu Fathul Mu’in, dan kitab-kitab lain. Memang gak ada jaminan bahwa lulus akan membuat saya mahir membaca kitab, tapi paling gak kemampuan saya pasti lebih baik, dan mungkin mendapat keberkahan yang lebih banyak.

Sampai saat ini, penyesalan itu kadang masih menghampiri. Tapi, seperti kata banyak motivator yang nyambi jadi ustadz seleb (demi menyesuaikan target market), “Hidup harus terus berjalan”. Menyesal gak apa, tapi jangan lupa untuk terus melangkah.

Meleng karena terlalu lama melihat masa lalu akan membuat kaki kita tersandung batu atau terpeleset tahi ayam.

BTW, saya gak percaya-percaya amat sih sama motivator. Cuman kali ini mereka ada benarnya.

***

Beberapa minggu yang lalu salah seorang teman di pondok dulu menegur saya melalui Watsapp. Dia menyampaikan keinginan sekaligus usulan agar alumni seangkatan kami mengadakan pengajian. Hari dan jam bisa didiskusikan.

“Materinya kalau bisa tasawuf yang ringan-ringan saja.” Dia mengusulkan. “Kayak Al-Hikam itu lho,” ujarnya menawar. Saya mendengarkan saja, sambil menahan kecut.

Al-Hikam dibilang ringan …

Apa pun itu, saya senang dengan keinginannya, di samping heran. Saat di pondok dulu, teman saya itu bukan tipikal santri yang manut-manut banget. Cenderung bandel kalau boleh saya bilang. Entah berapa kali dia kabur dari pondok gara-gara menonton konser Slank atau sekadar memuaskan hasratnya makan nasi lalapan. Bahwa sekarang dia punya keinginan mulia nan luhur seperti itu, saya masih gak habis pikir.

Tentu saja itu sesuatu yang positif. Selain ngaji, kami ‘kan bisa menyambung silaturahmi. Masalahnya, mengumpulkan sekian banyak alumni seangkatan dalam sebuah forum pengajian online jelas bukan persoalan mudah. Kalau makan-makan atau sekadar ngopi, semua pasti mau. Ngaji? Apalagi diadakan secara online. Bukan su’uzhon, tapi apa iya beberapa teman (gak semuanya sih) yang dulu saya kenal gaptek itu bisa dengan mudah join di forum online?

Memang, semuanya ’kan harus dicoba. Dengan begitu kita akan tahu sejauh mana keberhasilan usaha kita sekaligus sekuat apa semangat kita. Tapi, benar lho, masalah seperti ini jangan sampai membuat kita terlalu berharap. Daripada meringis sendiri melihat antusiasme yang naik-turun.

Sore ini saya akan menyusun langkah-langkah teknis untuk memastikan pengajian bisa diadakan dengan lancar. Pematerinya sudah ada, yaitu Gus Helmi, yang tak lain adalah teman kami sendiri, kitabnya Al-Mawaa’izh Al-‘Ushfuuriyyah, waktunya Minggu jam 20.00, dan aplikasi yang digunakan Zoom (atau Google Meet, belum disepakati).

Saya sih, terus terang, terbayang-bayang bahwa pengajiannya nanti sunyi-senyap, karena gak banyak yang ikut. Tapi, mengaji ‘kan memang gak cuma bisa dilakukan di satu tempat. Lagipula, aynamaa tuwalluu fatsamma wajhullaah (ke mana pun kalian menghadap, maka di sanalah Allah berada).

Jadi, ya nothing to lose. Mau banyak atau sedikit yang ikut, yang penting dimulai saja dulu. Bismillah.

*Gambar salah satu sudut pesantren saya, An-Nur 2 Al-Murtadlo, saya pinjam dari https://fahrurrozhy.wordpress.com/about/

Note #1


Jangan menunggu saat-saat sulit untuk mensyukuri keadaanmu yang sekarang. Bagaimanapun, apa yang kaumiliki saat ini lebih berharga daripada semua yang telah berlalu, lebih-lebih jika itu bukan milikmu, tapi milik orang lain.

Kau mungkin mengharapkan anugerah yang mereka miliki, dan merasa bahwa apa yang ada dalam genggamanmu sekarang tak lebih berharga darinya. Tapi, satu hal perlu kauingat: sejak dulu bulan tampak indah hanya jika kita melihatnya dari jauh.

Travel in Time: Sebuah Fantasi yang “Nyata”


Sejak menonton About Time, film-film bertema travel in time adalah favorit saya.

Saya sempat berburu film bertema sama, tapi ternyata gak banyak. Film lokal bertema travel in time sebenarnya ada, cuman sampai sekarang belum ada yang digarap secara apik dan bernas. Dan satu-satunya yang masih saya ingat: Lorong Waktu.

Agaknya sulit mengharapkan insan perfilman Indonesia menggarap tema ini. Bukan karena minim talenta, tapi film bertema travel in time rasanya lebih bagus kalau diperankan oleh orang luar (?) dan lokasi pengambilan gambarnya di negara-negara Barat.

Ini mungkin subyektif. Menurut saya, film-film fantasi lebih sempurna kalau semua unsur dalam ceritanya juga fantasi, atau seenggaknya bukan sesuatu yang dekat dengan keseharian kita. Sehingga kita gak disibukkan dengan usaha untuk mengonfirmasi atau mengoreksi hal-hal yang kita anggap gak pas dengan kenyataan.

Sejauh ini, film tentang travel in time yang paling saya suka adalah About Time (2013). Yang lain adalah The Time Traveler’s Wife (2009), Interstellar (2014), dan tentu saja Back to the Future (1985). Age of Adeline (2015) bagus, tapi bisa gak ya disebut film travel in time? Kayaknya sih gak.

Director: Richard Curtis
Writer: Richard Curtis
Stars: Domhnall GleesonRachel McAdamsBill Nighy

Dalam film-film bertema travel in time, kita sepenuhnya diajak berfantasi. Melompat ke masa lalu atau masa depan tentu hanya bisa dilakukan dalam khayalan. Nah, film-film tersebut membantu menghidupkan alam khayal kita menjadi serupa kenyataan.

Tentu menarik melihat seseorang kembali ke masa lalunya, lalu memperbaiki sesuatu yang menurutnya salah atau menjadi sebab masa depannya berantakan. Tapi, menghayati peran tokoh-tokoh dalam film tersebut memunculkan kegelisahan di benak kita: Apa menariknya seandainya hidup bisa direkayasa seperti itu?

Bukankah hidup menjadi layak dijalani sebab apa yang akan terjadi tak selalu bisa ditebak dan apa yang telah terjadi tak bisa dianulir? Kenyataan memang tak selalu sesuai harapan dan kesalahan mungkin berakibat buruk, tapi justru di situ menariknya: kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dengan belajar darinya.

Mungkin karena itu, dalam About Time, Tim sampai pada sebuah kesimpulan tentang hidup –setelah puas melompat-lompat ke masa lalunya:

“No one can ever prepare you for what happens when you have a child. When you see the baby in your arms and you know that it’s your job now. No one can prepare you for the love and the fear. No one can prepare you for the love people you love can feel for them. And nothing can prepare you for the indifference of friends you don’t have babies. And it’s a shock how quickly you have to move to a new place you completely can’t afford. Suddenly, time travel seems almost unnecessary, because every detail of life is so delightful.”

About Time menjadi film favorit saya karena isinya romance (semua orang suka, kan?) dan alurnya sederhana. Kesan pertama saat selesai menonton film itu: ringan, hangat, dan indah. Alurnya gak serumit The Time Traveler’s Wife dan jalinan ceritanya lebih mudah dimengerti.

Selain itu, saya memang suka dengan drama Inggris. Kadang ceritanya memang cetek, tapi ini adalah satu-satunya kekurangan yang bisa kita kritisi. Siapa pun yang pernah nonton Love Actually (2003), The Holiday (2006), atau Me Before You (2016, buset, ini film cewek semua ya, hehe) mungkin punya komentar sama tentang jalan ceritanya: ringan, atau dalam cibiran para kritikus film: dangkal.

Ada banyak klise, bahkan cringe, dalam dialog atau adegan tokoh-tokohnya. Coba ingat Love Actually, bagaimana Natalie (Martine McCutcheon) yang berkali-kali salah ngomong di hadapan David, sang Perdana Menteri yang baru dilantik, yang diperankan oleh Hugh Grant.

Kalau kita nonton The Holiday, kita juga menemukan adegan yang sama. Salah satunya saat Amanda (Cameron Diaz) bertemu Graham (Jude Law) untuk pertama kalinya. Percakapan keduanya terdengar artifisial, adegan mereka lebih-lebih, gak natural.

Alhasil, film-film yang mengangkat tema travel in time, terlebih yang diproduksi di Inggris, memiliki ciri khasnya sendiri. Terlepas dari berbagai kekurangannya. Dan meski film-film ini menghidupkan khayalan kita tentang travel in time, pesan utamanya identik: bahwa manusia harus mensyukuri apa yang mereka miliki hari ini.

Katie Melua: I Will Be There


Mungkin satu atau dua tahun yang lalu saya menemukan lagu Katie Melua ini. Kesan saya saat pertama mendengarnya: indah sekali. Suaranya dalam dan bergema, hampir mirip seriosa. Liriknya pun tak kalah bagus.

Sempat terlintas di benak saya untuk mengunduh audio lagu ini dan menyimpannya di playlist, sebab dari sedikit lagu yang saya suka, ini adalah salah satunya. Sayangnya, SPPD Jogja dan Liquid Star melalaikan saya darinya.

Sungguh sebuah kelalaian yang besar dan patut disesali. Eh, BTW, buat yang gak tahu apa itu SPPD Jogja dan Liquid Star, mending gak usah penasaran, ya. *wink

Untungnya, minggu lalu saya menemukan lagu ini kembali, seperti sebelumnya, secara tak sengaja. Di tengah tekanan batin akibat pandemi dan perjuangan untuk meraih “husnul khatimah“, lagu ini seperti mencoba menghibur dan menguatkan.

Meski sepertinya tak berhasil.

I Will Be There bercerita tentang seorang ibu; sebuah tema universal yang mengajak kita mengenang jasa-jasanya, merasakan perjuangan dan jatuh-bangunnya membesarkan kita, serta membalas budinya –seandainya bisa.

Dari sekian kata-kata indah dalam lirik lagu ini, barangkali bagian ini adalah favorit saya.

Don’t ever be lonely
Remember, I’ll always care
Wherever you may be
Remember I will be there

Berikut video klipnya. Selamat menikmati 🙂

Lagu Lawas: Mengapa Masih Banyak yang Menyukai?


Lagu lawas membuat penggemarnya sepakat dengan satu hal: mendengarkannya akan mengingatkan mereka tentang suatu masa.

Photo by Burst on Pexels.com

Sesuatu yang kini menjadi kenangan. Bisa peristiwa yang dialami oleh orang lain, bisa juga pengalaman sendiri.

Itu bukan isapan jempol. Siapa pun yang mendengarkan suara emas Pance Pondaag, Vina Panduwinata, Broery Marantika, Iis Sugianto, Chrisye, Ebiet G. Ade, dan sederet nama tenar lainnya akan terkenang entah peristiwa apa ketika mereka masih remaja, mungkin juga anak-anak.

Tak Sekadar Kenangan

Namun, lagu lawas sebenarnya bukan hanya tentang kenangan. Memutar kembali lagu-lagu tersebut dan mencermati lirik, musik, dan video klipnya akan membuka mata kita tentang roda zaman yang terus bergerak, yang setiap penggalnya menunggu untuk dikuak.

Baca juga:
5 Lagu Jadul Paling Romantis
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Ibarat pita film sebelum tersentuh digitalisasi, lagu-lagu itu merekam bagaimana mereka yang hidup di zaman itu memaknai berbagai hal di sekitar mereka, mungkin juga di dalam diri mereka. Tentang cinta, perpisahan, pengkhianatan, kekecewaan, dan lain sebagainya.

Zaman berubah. Apa yang penting bagi orang sekarang belum tentu disikapi sama oleh mereka yang hidup di zaman dahulu. Demikian pula sesuatu yang pantas atau tidak. Coba saja lihat video klip lagu-lagu itu, jika bukan keheranan, minimal rasa penasaran akan muncul di hati kita.

Cinta, tema abadi yang diangkat dalam berbagai lagu, memiliki nilai transenden tertentu kala itu. Dulu bukan era remaja-remaja memaknai cinta dengan jalinan yang hampir sama dengan hubungan suami-istri, seperti biasa kita temui sekarang.

Gambaran Situasi

Perubahan yang lebih konkret bisa kita lihat, misalnya, dalam cara berbusana model klip lagu-lagu zaman dulu. Dalam klip lagu Pance Pondaag yang berjudul “Kucoba Hidup Sendiri”, tampak seorang model melakukan serangkaian adegan.

Sesuai lirik lagunya, model wanita tersebut beradegan bak seorang yang sedang bimbang, atau istilah populer zaman sekarang “galau”. Ia berjalan di sebuah tempat wisata, mungkin Bali atau TMII, seorang diri. Di sekelilingnya sepi, tak ada seorang pun yang terlihat.

Gadis cantik itu hanya mengenakan minidress: lengan terbuka, belahan dada terlihat, dan rok di atas lutut. Untuk alas kaki ia mengenakan sepatu boot tinggi. Meski mode busana tersebut tak mencerminkan gaya berpakaian gadis-gadis saat itu, toh klip tersebut tak dipersoalkan.

Ketika video klip tersebut masih sering ditayangkan di layar kaca, masyarakat Indonesia mungkin tak terlalu memusingkannya. Boleh jadi karena saat itu standar moral yang berlaku tak mempermasalahkannya. Selama tak ada adegan erotis, no problem.

Baca juga:
7 Lagu Lawas yang Paling Menyentuh
5 Original Soundtrack Paling Keren

Namun, bagaimana jika sekarang ada stasiun televisi yang menayangkannya? Jika bukan KPI menyurati mereka, mungkin ormas-ormas keagamaan berdemo di depan kantor mereka. Masyarakat yang menonton mungkin juga gerah, dan menganggapnya tayangan maksiat.

Apa yang sebenarnya terjadi? Zaman berubah. Banyak hal yang memengaruhi. Dalam hal ini, orientasi keberagamaan masyarakat yang semakin ketat mungkin penyebabnya. Itu bisa terjadi karena banyak faktor, salah satunya: gerakan dakwah yang massif.

Diakui atau tidak, pengaruh tersebut telah membentuk cara pandang yang baru di masyarakat. Bahwa fenomena itu muncul sebagai konsekuensi logis dari suatu peristiwa yang lain, mungkin saja. Dalam konteks Indonesia, kolapsnya Orde Baru mungkin merupakan titik mula.

Jika kita ingat, ambrolnya benteng pertahanan Orde Baru akibat meletusnya reformasi telah membuka keran berbagai corak pemikiran keagamaan. Tampilnya ormas dan orpol bercorak keagamaan merupakan gejala yang menunjukkan apa yang sekarang kita lihat di masyarakat.

Jadi, selain menjadi bahan nostalgia, lagu-lagu lawas juga menarik karena merekam sesuatu yang berbeda. Dan adanya perbedaan yang terperangkap dalam lagu-lagu itu dengan kondisi sekarang telah menyadarkan kita tentang arti sebuah perubahan.