Hari Itu

Kau masih lekat menatap kedua mataku, meski kata selamat tinggal sudah terlepas dari bibirmu.

Sumber foto: pixabay.com

Angin sore menderu dari pucuk-pucuk gunung di kejauhan. Warna keemasan pelan-pelan menyeruak di cakrawala.

Kita berdiri lama di ujung jalan itu. Tak percaya bahwa esok akan menjadi hari-hari yang panjang. Tak ada lagi cerita yang akan kita bagi, impian yang bisa kita yakini, atau cinta yang malu-malu kita tutupi.

Kita mulai melangkahkan kaki. Mata kita berat untuk saling melepaskan. Ada harapan, di detik-detik terakhir pertemuan itu, bahwa suatu saat kita akan bertemu kembali.

Menyatukan keping-keping kenangan yang masih tersisa. Membalut luka yang mungkin masih terasa.

Tapi, masa depan memang memiliki misterinya sendiri. Penuh teka-teki yang siapa pun kewalahan menebaknya.

Kita sadar betul hal itu. Mungkin karena itu, kita lantas membiarkan semua berjalan apa adanya. Kita pasrahkan hidup pada kejutan-kejutan yang mungkin tak pernah kita duga.

Maka, kita pun sibuk menenggelamkan diri. Dalam kabut kenyataan yang menutup cerita tentang rasa itu. Dalam ombak masa depan yang membuat kita hilang ingatan.

Hingga kemudian, datanglah kejutan itu …

Malam-malam kau kembali hadir dalam mimpiku. Memanggil-manggil namaku. Mengakhiri tidur panjangku.

Kau mengajakku melompat mundur ke masa lalu. Menelusuri jalan-jalan berliku di hatiku. Dan menikmati angin dari pucuk-pucuk gunung seperti sore itu.

Lalu, sayup-sayup lagu itu pun terngiang di telingaku.

Jangan datang lagi, Cinta
Bagaimana aku bisa lupa
Padahal kau tahu keadaaannya
Kau bukanlah untukku

Jangan lagi rindu, Cinta
Ku tak mau ada yang terluka
Bahagiakan dia
Aku tak apa
Biar aku yang pura-pura lupa

Ada Malam-malam

Ada malam-malam aku ingin pulang ke masa itu. Masa ketika jiwa kita tak ubahnya rimba raya yang lebat. Yang tiap pohonnya menjulang, membuahkan cita-cita dan harapan.

Photo by Dmitry Zvolskiy from Pexels

Kita belum diracuni uang dan kemewahan. Kita tak punya waktu memusingkan sewa rumah dan cicilan. Kita bahkan tak pernah sempat memikirkan hidup dan masa depan.

Ada malam-malam aku ingin berdua saja denganmu. Menghabiskan waktu di kantin penuh kenangan itu. Menikmati secangkir sepi, meredakan hiruk-pikuk di hati.

Hari-hari yang damai. Detik-detik yang berjalan lambat. Kita saling mendengar dan berkeluh kesah. Seakan hati kita selembar surat yang bisa dibaca dan dibolak-balik halamannya.

Tak terasa, hampir seabad sejak masa-masa itu. Tapi, aku masih bisa membayangkan rambut-rambut halus di keningmu, titik indah di dagumu, dan binar cahaya yang berloncatan di antara kerling matamu.

Masih segar dalam ingatanku bagaimana caramu bicara, menatap, membuat jantungku berderap-derap.

Tak cukup. Tak cukup kata-kata untuk menggambarkan betapa jauh kaumenyelam di dasar hatiku. Mengacak-acak diamku. Meluluhlantakkan sumpahku.

Tak sabar kuhitung hari yang memisahkan pertemuan kita. Habis sudah angka-angka untuk menghitung musim entah yang ke berapa. Abad-abad berlalu tanpa sempat aku membuka mata.

Ada malam-malam aku ingin kautahu. Bahwa hari-hari yang kita jalani bersama telah berlalu dengan penuh makna, berkat hadirmu. Tapi ruas-ruas masa yang kini kujalani tanpamu adalah kesia-siaan yang kusengaja, sebab terkenang dirimu.

Mengingatmu membuatku ingin bunuh diri. Berkali-kali.

Namamu

Aku tak pernah mengira, bahwa nama yang berabad lalu kudengar untuk pertama kalinya masih terngiang di telingaku yang mulai tuli ini.

Aneh, sebab setiap ingatanku menghadirkannya, bahkan caramu memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama itu juga tergambar jelas.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Aku tak tahu, ini anugerah atau musibah …

Yang pasti, nama itulah yang menemaniku pada hari-hari bahagiaku, juga pada saat-saat sedihku. Meski hanya sepenggal nama –sebab kau tak pernah menyebutkan nama panjangmu, kenangan membuatnya seakan abadi.

Seumpama orang, ia bisa berbisik, tertawa, menghibur, atau setidaknya membersamaiku. Ia yang selama ini menjelmakanmu di alam khayalku, menghadirkan sosokmu di antara kerinduanku padamu.

Kadang, aku bertanya-tanya di mana kau sekarang. Apa yang sedang kaulakukan. Apa yang tengah kauperjuangkan. Lalu, detik demi detik menyeretku pada kata seumpama.

Seumpama kita berjumpa, seumpama kita bersama. Indahnya …

Sayangnya, sering terjadi, cerita kita berhenti di situ. Tak pernah lebih jauh. Seperti tak terima aku melipir sejenak, duniaku selalu membuyarkan lamunan dan menggelandangku untuk kembali bergumul dengan kenyataan. Seperti yang sudah-sudah.

Dan aku pun melihatmu, untuk kesekian ribu kali, melambaikan tangan padaku.

Gumaman

Kau berbusa-busa bicara tentang kesetiaan, padahal cintamu dengannya kaubangun dengan sebuah pengkhianatan. Tidakkah kau pernah mendengar bahwa kutukan terbesar seorang pengkhianat adalah ketakutan yang berlebih bahwa kekasihnya akan berkhianat?

Jadi, selamat bersenang-senang!

Pict. source: pexel.com

Egois

Kalian pernah gak sih ngerasa bahwa kalian gak cukup pantas disebut orang baik? Bisa karena cara bicara kalian yang menurut orang lain sombong, sikap kalian yang cenderung egois bahkan arogan, atau simply karena wajah kalian entah kenapa kesannya kurang bersahabat, kayak ngajak berantem terus.

Source: pixabay.com

Ini aku nulis bukan ujung-ujungnya buat memotivasi ya, jadi jangan alergi dulu. Haha. Aku nulis karena akhir-akhir ini gak tahu kenapa sering banget malu sama kelakuan diri sendiri. Ya siapa sih di dunia fana ini yang gak pernah bikin salah?

Kadang sengaja, kadang gak. Kadang kesalahan yang serius, kadang sepele. Kadang malu-maluin banget, kadang biasa aja.

Pernah?

Tadi siang ceritanya kan aku lagi ngadem di kamar. Maklum, yang ada AC-nya cuma di kamar, ruangan lain gak ada. Nah, pas asyik-asyiknya ngadem, ada pesan masuk di handphone, dari temen lama. Dia gak ngomong yang serius-serius, sih. Say hello aja.

Cuman ya itu, nyapa doang atau ngomongin sesuatu yang serius, tetep aja bikin aku inget sesuatu. Sesuatu yang sebenernya gak enak kalau inget: bahwa aku pernah bikin salah sama dia. Kesalahan kecil sih, gak mau minjemin duit. Padahal waktu itu ada kalau seratus-dua ratus, sesuai kebutuhan dia. Cuman karena udah punya rencana mau pakai itu duit, jadinya enteng aja aku bohong ke dia, “Gak ada.”

Sebenernya kebohonganku ke dia bukan soal yang serius, kalau dia gak pernah nolong aku pas aku lagi butuh bantuan. Jadi, sewaktu bohong kayak gitu, ada perasaan gak enak banget di hati. Tapi ya gimana, solidaritas kalah sama ego. Utang jasa kaalah sama lupa balas budi. Bohong enteng banget jadinya.

Setelah bohong kayak gitu, rasanya gak kenapa-kenapa sih. Biasa aja. Kebohongan yang aku lakuin kayak bukan kesalahan penting yang harus disesali. Terlewat gitu aja. Cuman gak tahu kenapa, aku gak pernah bisa lupa. Besoknya, lusanya, minggu berikutnya, seterusnya sampai mungkin setahun lebih.

Nah celakanya, tiap inget kebohongan itu, aku jadi ngerasa bersalah banget. Apalagi kalau inget mimik temenku pas bilang dia butuh duit, yang kelihatan bener-bener lagi butuh, terus dengan enteng aku jawab gak ada, sambil acting pura-pura lagi susah. Malu banget rasanya.

Pernah aku mau minta maaf ke dia, sambil terus terang bahwa dulu aku sebenernya bohong. Tapi, buat apa juga? Toh, masalah kecil, udah lama juga. Dan aku yakin dia bakal memaafkan. Kalau cuman buat nyari ketenangan hati, berarti aku egois dong. Itu kayak-kayak mulia, mau mengakui kesalahan, padahal ya balik lagi buat diri-sendiri. Lain kali ya, kalau permintaan maaf itu aku sampaikan biar dia tahu hatiku yang sebenernya.

Tapi, itu kan bisa ngerusak hubungan baik kami berdua. Dia mungkin memaafkan, tapi jangan-jangan nanti dia gak percaya lagi sama aku.

Tuh, kan, egois lagi.

Kotak Perhiasan

Ini memang aneh. Setiap melihat benda itu tergeletak di lantai, hatiku iba padanya. Tidak, aku tidak sedang bicara tentang sesuatu yang mahal. Ini hanya tentang sebuah kotak perhiasan.

Photo by Juan Pablo Arenas on Pexels.com

Nabiel sedang masa-masanya menjadikan semua yang ia lihat sebagai mainan. Dompet, kacamata, panci, bumbu dapur, buku-buku, dan tentu saja kotak perhiasan itu. Setelah puas bermain, sekaligus sebagai ritual untuk menutup kebosanannya, ia akan melemparkan begitu saja benda-benda itu.

Beberapa kali saat terbangun tengah malam aku mendapati kotak itu tergeletak di ruang depan. Sendiri dan kesepian. Aku membayangkan seandainya kotak itu seekor kucing, jangankan kau, aku saja mungkin jatuh kasihan. Siapa yang tak iba melihat makhluk selucu itu dibiarkan tak terurus?

Pernah suatu malam setelah memungut dan meletakkannya di atas meja, aku agak lama memandangi benda tersebut. Pikiranku melayang kepada pengrajin yang membuatnya. Ada sebuah ukiran yang sangat detail dan rapi di sisi atas benda itu. Pertanda dibuat dengan cermat dan sepenuh hati.

Pengrajin itu pasti sangat mahir membuat karya seni. Saat membuat kotak perhiasan itu, mungkin ia membayangkan anak semata wayang yang akan dilahirkannya. Ia merasa tak boleh sembarangan, agar siapa pun yang memilikinya punya kekaguman terhadapnya dan tak sampai hati menyia-nyiakannya.

Ia mungkin berasal dari Jepara, kota kecil di pesisir pantai utara Jawa. Hingga kini kota itu dikenal sebagai penghasil karya ukir yang berkualitas. Mungkin juga dari daerah lain. Entahlah.

Selama beberapa menit aku membiarkan pikiranku berkelana tanpa arah, sampai aku menyadari satu hal: tidakkah seharusnya benda itu diisi sesuatu yang lazimnya diletakkan di dalamnya? Emas, mungkin, atau permata, atau minimal benda-benda yang menyimpan kenangan?

Aku bingung lama-lama. Kalau kita tidak memiliki benda-benda itu, kenapa sampai sekarang masih menyimpannya?

***

Aku ingat, kau mendapatkan kotak itu dari nenekmu di hari lebaran empat tahun lalu. Melihat warnanya yang kusam dan aroma kayunya yang tak tersisa, aku perkirakan umurnya sudah puluhan tahun. Mungkin nenekmu membelinya saat masih gadis, mungkin juga ia mendapatkannya dari kakekmu, sebagai bingkisan di hari pernikahan mereka.

Pikiranku terus berputar-putar di sekitar kotak itu, sampai aku kembali ke kamar dan mencoba memejamkan mata. Awalnya aku mengabaikan, tapi beberapa menit kemudian aku sadar kotak itu terlalu jauh mencampuri pikiranku. Membuatku kesulitan, pada tengah malam yang gerimis itu, untuk melanjutkan tidur.

Pikiranku pun terbang semakin liar. Aku tak lagi memikirkan kotak perhiasan itu sebagai kotak perhiasan, maksudku sebagai tempat untuk menyimpan perhiasan, tapi membayangkannya sebagai … mesin waktu. Ya, mesin waktu. Mirip kotak Jumanji, tapi tidak akan membawamu ke hutan yang penuh hewan liar.

Entah dari mana pikiran konyol itu datang. Angin malam mungkin bisa kusalahkan. Kau akan tersenyum geli mendengarnya. Tak apa. Aku sendiri malu kalau mengingatnya.

Seandainya kotak itu benar-benar bisa membawaku menjelajah waktu, itu tentu sangat menyenangkan. Aku bisa berjam-jam mendengarkan teman-temanku menyombongkan perjalanan mereka ke tempat-tempat yang jauh (Istanbul, New York, atau Madinah), sembari pura-pura terkesima.

Ya, buat apa heran, jika aku sendiri sudah berkali-kali berada di tempat yang membayangkannya saja mereka kehabisan akal.

***

Akan kusediakan satu jam setiap malam, atau dua hingga tiga jam di akhir pekan, untuk berkunjung ke masa lalu dan masa depan. Aku akan menengok kakekku saat ia baru membangun rumah tangga, untuk memastikan bahwa hidup pas-pasan di awal pernikahan itu biasa.

Aku juga ingin melihat masa-masa ibuku masih seorang gadis, apa kesibukannya, bagaimana parasnya, dan siapa saja laki-laki yang mendekatinya. Juga ayahku, terutama sekali saat ia masih SMA. Dia anak laki-laki pertama di keluarganya, jadi aku ingin tahu seberapa dewasa dia saat itu.

Aku mungkin juga akan mengunjungimu, sepuluh atau lima belas tahun yang lalu. Aku rasa itu ide yang bagus. Kau mungkin tak percaya, atau bahkan jijik, jika aku menyapamu dan mengatakan bahwa aku adalah suamimu di masa depan. Jadi, mungkin aku akan bercerita tentang hal-hal yang tak seorang pun tahu kecuali dirimu. Jika itu kurang sopan, aku akan membawa barang-barang favoritmu yang kaubeli di masa-masa itu. Dengan begitu, kuharap kau bisa percaya padaku.

***

Yang pasti, Istriku, aku juga akan meluangkan waktu untuk mengunjungi nenekmu. Saat ia masih gadis tentunya. Aku ingin tahu bagaimana kotak perhiasan itu memulai perjalanannya di keluargamu.

Segala sesuatu mempunyai permulaan, dan setiap permulaan sangat menentukan suatu perjalanan. Mengetahui permulaan sesuatu akan membuat kita bijaksana dalam memperlakukannya.

Alam semesta ini mungkin terlalu kompleks untuk kita bahas. Jadi, mari ambil sesuatu yang lebih sederhana. Kotak perhiasan itu. Ya, kotak itu adalah contoh yang tepat. Selama ini kita hanya menebak-nebak tentangnya. Seandainya bisa, aku ingin sekali tahu awal perjalanan kotak itu.

Bagaimana sang pengrajin mencari kayu yang tepat, mengeringkannya, menggergajinya, menghaluskan teksturnya, membentuknya menjadi sebuah kotak perhiasan, mengecatnya, hingga menjualnya kepada seorang pembeli. Aku juga ingin tahu saat pembeli itu mulai menggunakannya atau memberikannya kepada seseorang yang mungkin berarti baginya.

Mengunjungimu saat kau masih belia mungkin juga bisa menambah sedikit pemahamanku tentangmu. Aku katakan sedikit, karena sebanyak apa pun pengetahuan tentangmu yang kuperoleh, akan terasa penuh keterbatasan jika kau sudah berada di hadapanku. Bagaimanapun kau terlalu membingungkan untuk kumengerti. Mungkin semua perempuan memang begitu.

Tapi, paling tidak dengan sedikit pengetahuanku itu aku bisa lebih mengenalmu. Aku jadi mengerti mengapa kau lebih suka sayur bening daripada kuah bersantan, mengapa lebih senang pergi ke pasar malam dibandingkan nongkrong dan berbelanja di mall, dan mengapa lebih suka warna-warna alam ketimbang warna yang terang. Aku rasa itu bisa membantuku memilih kata-kata atau mengambil sikap yang tepat saat kita membahas suatu hal.

Aku ingin bisa bersikap lebih bijaksana saat bersamamu. Sebab seperti kotak perhiasan itu, seharusnya aku mengisi hatimu dengan sesuatu yang bernilai, sesuatu yang istimewa. Sesuatu yang menjadi alasan kita harus bersama dan saling memiliki.

Aku tak sampai hati mendapatimu kosong dan terabaikan, sebagaimana kotak perhiasan itu saat kutemukan tengah malam. Kau harus kuisi dengan sesuatu yang bernilai, kuletakkan di tempat yang terhormat, dan tak kubiarkan sendiri dan kesepian, apalagi sampai tergeletak seolah tak ada yang memiliki.