Di Teras


Sumber gambar: Tempo

Di teras, tiga pria tua duduk membisu.

Orang pertama mengisap rokoknya dalam-dalam sambil menatap jauh ke depan. Ubannya yang berkilauan membuat siapa pun yang memandangnya silau.

Orang kedua, mengenakan celana dan kemeja rapi serta satu-satunya yang tidak berpeci, menatap lekat ke arah meja. Wajahnya teduh, tapi sorot matanya mengisyaratkan sesuatu sedang mengganggu pikirannya.

Orang ketiga mengetuk-ngetukkan jari tangannya mengikuti alunan Symphony No. 9 in D minor dari sebuah gramofon lawas. Wajahnya rileks meski nafasnya agak berat, mungkin karena berat badannya yang berlebih.

“Hehe,” begitu ia menutup pertemuan sore itu.

Anak Soleh


Setelah bubar jamaah Maghrib, salah satu guru ngajinya Nabil bertanya ke saya.

“Pak, nama lengkapnya Nabil siapa, sih?”

“Muhammad Nabil,” jawab saya.

“Udah, Pak, itu aja?” lanjutnya.

“Iya.”

“Oh, soalnya tadi saya tanya Nabil nama panjangnya siapa, terus katanya Nabil Anak Soleh.”

Saya ngempet ketawa mendengar cerita guru ngaji tersebut. Dari balik masker, saya cuma bisa senyum-senyum.

Sesampai di rumah, saya ceritakan pengalaman itu kepada istri, membuatnya ngakak sampai pipinya basah oleh airmata.

Kami gak mengira bahwa kebiasaan menyebut “anak soleh” di belakang namanya dianggap Nabil sebagai nama panjangnya.

Tentang Bapak


Ini bapak saya, mungkin di usianya menjelang 30 tahun.

Baru pada usia 25 tahun (ketika meletus G30S) ia kembali ke rumah. Kemungkinan besar atas perintah ayahnya.

Saat muda Bapak tidak pernah betah tinggal di rumah. Nyaris seluruh masa remajanya ia habiskan dengan nyantri di satu pesantren ke pesantren yang lain.

Di mata saya, perjalanan hidup Bapak adalah seutas cerita tentang kesabaran. Meski semua yang mengenalnya sulit melupakan wataknya yang keras dan pemarah (salah seorang iparnya pernah digampar karena ingin memadu istrinya, adik bapak saya), bagi saya ia orang yang kuat.

Kuat menjalani lika-liku hidup. Alias sabar.

Memang, Bapak sangat keras. Saya dan kakak-kakak gak ada yang berani membantah kalau ia sudah bertitah. Jangankan mendengar bentakannya, melihat tatapannya saja kami takut.

Kakak perempuan saya pernah berkisah bahwa semasa kecil dia gak pernah menangis kencang kalau ada Bapak di rumah. Jika Bapak mendekatinya saat menangis, bukan suara tangis yang keluar dari mulutnya tapi isakan yang tertahan.

Di balik sifatnya yang galak, Bapak adalah penyabar. Masih menurut kakak perempuan saya, konon saat muda Bapak pernah memiliki calon pendamping hidup. Tapi oleh kakek saya, satu-satunya orang yang gak berani dibantah oleh Bapak, rencana itu tidak direstui.

Bapak lantas dijodohkan dengan putri seorang janda dari desa tetangga. Kemungkinan ayah gadis tersebut, yang tewas dibedil tentara Belanda, punya hubungan baik dengan kakek saya.

Bapak tidak bisa menolak, dan terjadilah apa yang kemudian terjadi. Tahun-tahun berlalu dan ia habiskan waktunya bersama dan untuk gadis pilihan ayahnya itu.

Di sinilah saya melihat Bapak sebagai penyabar yang sesungguhnya.

Sebagai menantu seorang janda yang tidak berpunya, Bapak tidak bisa mengabaikan kehidupan mertuanya itu. Dan karena istrinya (ibu saya) punya dua kakak perempuan (yang satu punya penyakit dan melajang seumur hidup, satunya lagi menjanda dengan 2 orang anak), Bapak tidak bisa lain kecuali ikut menanggung hidup mereka.

Pada masa di mana hidup sangat berpihak padanya, tanggung jawab itu bukan perkara besar. Dengan satu tangan saja mungkin Bapak bisa menyelesaikan. Kalaupun ada masalah, paling itu ombak kecil yang meninggalkan riak-riak tak berarti.

Ujian sesungguhnya, sekaligus momen ketika kesabaran Bapak benar-benar saya saksikan, adalah saat takdir mulai menjungkirbalikkannya. Dari anak kiai yang dikenal dan dihormati banyak orang, punya “segala-galanya”, menjadi perantau yang asing, sakit-sakitan, dan bangkrut.

Dalam keadaan benar-benar di bawah, Bapak enggan beranjak dari tempatnya berdiri. Tetap kukuh memegang tanggung jawabnya menghidupi istri, 5 anak, mertua, dan ipar-iparnya.

Jangan bayangkan rumah kami saat itu besar dan punya banyak kamar. Di kontrakan kami yang berpindah-pindah sampai empat kali itu paling banyak ada 3 kamar. Di 3 kamar itulah para penghuni kontrakan saling berbagi tempat dan bersabar.

Jika ada rezeki lebih, kami merayakannya bersama-sama. Jika tidak, kami diam. Mungkin membayangkan makanan, minuman, atau tempat-tempat indah yang kami lihat di televisi hitam-putih di ruang tengah. Satu-satunya barang berharga yang kami miliki.

Sering saya lihat Ibu menatap kasihan diri saya, sebab menurutnya saya “tidak kebagian” masa jayanya Bapak. Maka sebagai hiburan, Ibu akan pergi ke pasar lalu membelikan apel-apel cacat dan tidak laku untuk saya.

Tidak setiap hari saya bisa menikmati buah apel. Jadi, ketika apel-apel itu terhidang di meja makan, saya seperti menemukan sekantong buah surga.

***

Lusa insya Allah lebaran tiba. Kali ini saya akan merayakannya di kediaman istri di Jogja.

Entah kenapa, hari-hari ini saya teringat Bapak. Terkenang saat kami santap sahur bersama, berbuka bersama, dan dengan para tetangga mengaji bersama.

Sudah lima kali lebaran saya tidak menjenguk pusaranya. Namun semoga doa-doa yang saya rapalkan setiap bakda shalat ia terima.

*Foto aslinya buram, ini saya edit menggunakan Remidi.

Menghargai Kenangan


Saya sudah merasa, saat meninggalkan Jogja awal pekan ini, seperti ada yang berat di hati.

Awalnya saya abaikan, tapi karena penasaran saya cari tahu sebabnya dan saya temukan: Bahwa dua minggu ke depan akan menjadi saat-saat terakhir saya berada di Depok.

Photo by Jeswin Thomas on Pexels.com

Kota kesayangan yang sumpek. Seperti angkot-angkot dan ojek online di sepanjang Jalan Margonda, kenangan tentang segala yang pernah saya alami di kota ini berjejalan, semrawut, dan ada di mana-mana.

Di warteg-warteg sepanjang Jalan H. Usman, ruas-ruas jalan sempit menuju tempat kerja, gerai minimarket yang bertebaran di sana-sini, dan masjid-masjid yang mudah sekali ditemukan di sekitar tempat tinggal saya.

Sepuluh tahun yang lalu saya tidak menyangka bahwa suatu saat saya akan meninggalkan, juga merindukan, tempat ini. Namun sejujurnya, saya juga tidak punya bayangan akan selamanya menetap di sini. Harga tanahnya selangit, belum lagi harga rumahnya.

***

Saat ini pukul 14.06. Udara sejuk karena hujan yang tak kunjung reda. Menciptakan genangan yang penuh riak dan menghadirkan suasana yang sempurna untuk saya menikmati hari-hari terakhir di kontrakan. Di layar gawai, Ulul tak henti mengirim pesan tentang banyak hal yang juga saya rindukan.

Selama beberapa menit kami bertukar ingatan tentang detail-detail yang dulu kami anggap sepele dan sering kami biarkan berlalu begitu saja.

Kami rindu berbincang pagi-pagi saat baru tiba di ruangan, kelakar Mas Epeng yang tak henti mengundang tawa, curhat satu sama lain tentang masalah keluarga yang entah-kenapa-seperti-tak-ada-habisnya, dan sedikit gosip dengan bumbu tipis-tipis dari biangnya.

Ulul.

Siapa lagi?

Awal-awal resign, saya sudah merasa bahwa kalau suatu saat nanti saya merindukan tempat kerja, itu sebenarnya bukan merindukan pekerjaan lama saya, tapi suasana kantor dan keakraban para penghuninya.

Tadi Ulul menyampaikan hal yang sama. Dia bercerita kalau rasa kangennya itu bahkan sudah dia rasakan belum lama setelah resign.

Saya memang tipe orang yang melankolis, jadi saya tidak merasa aneh jika siang ini saya habiskan 15-20 menit waktu saya untuk menulis apa yang sedang saya rasakan terkait Depok, kontrakan yang saya tempati 5 tahun ini, dan publishing house di mana saya menghabiskan 10 tahun berjibaku dengan dunia yang pernah saya idamkan sejak lama.

Saya justru menikmatinya.

Memutar kembali ingatan tentang hari-hari yang saya anggap biasa dan tak istimewa. Sekadar untuk menyadari betapa berharganya hari-hari itu dan betapa saya, juga hidup saya seluruhnya, turut dibentuk oleh hari-hari yang telah saya lewati itu, juga nama-nama yang meramaikannya.

Sambil melayangkan pandang ke seantero ruang kontrakan, tunas-tunas kerinduan seperti bersemai sebelum waktunya. Dan tanpa terasa bayangan tentang semua yang pernah saya lakukan di kontrakan ini seperti diputar ulang.

Pagi-pagi saat saya berpamitan kepada istri dan anak saya untuk berangkat kerja, siang terik ketika istri saya memunguti cuciannya yang sudah kering dan jatuh tertiup angin, juga sore tatkala Nabil mondar-mandir di halaman dengan sepeda biru kesayangannya.

Semoga Allah memanjangkan umur saya dan teman-teman serta memberi kesempatan kepada kami, di hari-hari yang lebih indah, untuk bersua.

Hari Baru


Assalamualaikum, Nabil.

Kau sehat, Nak? Alhamdulillah, Ayah dan Ibu sehat selalu. Bagaimana ngajimu? Sudah berapa bait Alfiyyah yang kauhafalkan? Jangan lupa, kau harus mulai mencicilnya dari sekarang. Fathul Qarib bagaimana, apa ada masalah? Sharaf? Tafsir?

Bukan maksudku menginterogasimu. Aku cuma ingin tahu perkembangan belajarmu. Jawab saja apa adanya, tak perlu takut. Aku dan ibumu juga pernah ada di posisimu, dan kami tak selalu baik-baik saja.

Kalau kau tak menemui masalah dalam belajarmu, bersyukurlah, sebab artinya Allah telah memudahkannya. Kalau kau menemuinya, bersabarlah, itu juga bentuk lain dari cinta kasih-Nya. Kau boleh tertinggal untuk urusan pelajaran (jangan terlalu dipikirkan!), tapi aku harap kau selalu menjaga adab pada guru-gurumu. Kata Kyaiku, adab itu nomor satu. Pandai kira-kira nomor dua puluh tujuh.

Sekarang hari Kamis, 9 September 2021. Hari yang cerah setelah sore hingga malam kemarin hujan deras mengguyur Jakarta.

Sewaktu aku melintas di jalanan pagi tadi, genangan masih terlihat di mana-mana. Daun-daun terlihat segar, rumput-rumput seperti bergembira menyambut pagi yang hangat.

***

Dua hari kemarin aku kembali berbincang dengan ibumu. Setelah sepuluh tahun menyunting naskah, mengoreksi, mem-proof, membuat konsep desain, merancang judul buku, sampai mempromosikan dan membantu memasarkan buku, kini tiba saatnya aku berpikir tentang kemungkinan melanjutkan perjalanan. Sebuah pilihan yang tidak mudah.

Hari ini setelah jam makan siang, aku akhirnya duduk di ruang yang biasanya kugunakan untuk meeting bersama teman-teman. Hanya kali ini aku berbincang empat mata dengan atasanku. Detik demi detik terasa sangat lambat.

Baca juga: Ketidakpastian Tak Semenakutkan Itu

Ada banyak yang kami bicarakan. Mulai tugas harianku, hambatan-hambatan yang sedang kuhadapi, sampai rencana ke depan. Kujawab semua apa adanya, termasuk kenekatanku meninggalkan pekerjaan yang dulu pernah kuidam-idamkan ini: editor.

Ya, kalau kau belum pernah mendengar, aku pernah sangat mendambakan diriku menjadi editor buku. Sebuah pekerjaan yang menurutku keren tapi pada saat yang sama “gelap”, sebab tak banyak yang kutahu dan hanya sedikit orang yang bisa kutanya-tanya tentangnya. Aku tak ragu mengatakan bahwa dari sekian banyak pengalaman, menjalani pekerjaan ini adalah salah satu yang paling kusyukuri.

Sepuluh tahun menjadi editor, banyak asam-garam yang sudah kukecap. Setidaknya sebelum dua tahun yang lalu, aku tak menyangka akan tiba hari ketika aku memikirkan kembali kesibukanku, mencermati kemungkinan yang lain, dan bukan mustahil memilihnya.

Berat rasanya meninggalkan sesuatu yang bukan hanya kaucintai tapi juga kaujaga kesetiaanmu padanya. Entah sama atau tidak, tapi melirik pekerjaan baru sama berbahayanya dengan melirik seorang wanita yang baru kaulihat.

Ini hanya ibarat. Ibumu tak perlu tahu.

***

Aku tak tahu apa yang akan mengejutkanku di depan nanti. Tapi dalam hidup kita, selain jalan menanjak juga ada jalan menurun, bukan?

Aku mungkin akan mengkhawatirkan banyak hal, tapi seperti yang sudah-sudah, Anakku, aku akan percaya pada-Nya. Bukan hanya kali ini aku berada dalam situasi yang tak bisa kurekayasa. Jadi, untuk urusan berpasrah pada-Nya, aku sudah punya pengalaman.

Aku jadi ingat, dulu sewaktu masih tinggal di pesantren sering aku menemui situasi yang tak menyenangkan dan celakanya tak bisa kuhindari. Kau mungkin sudah beberapa kali ada dalam situasi seperti itu, jadi tak perlu kujelaskan panjang-lebar.

Baca juga: Menyederhanakan Kebahagiaan

Yang pasti, serumit apa pun masalah yang kita hadapi, seburuk apa pun situasi itu membekap kesadaran kita, jika sudah waktunya selesai, akan selesai. Sama dengan angin puyuh, jika saatnya tiba ia akan memporak-porandakan segala yang ada di jalur lintasannya. Tapi jika sudah saatnya reda, ia akan tenang dengan sendirinya.

Lama-lama aku jadi ingat Gus Dur. Katanya, kalau kau menghadapi masalah yang masih bisa kauatasi, ya atasi saja, nanti akan selesai. Jika kau menemui kesulitan yang tak bisa kauatasi, biarkan saja, nanti akan selesai sendiri.

Hidup kita pendek, Nak. Jangan habiskan untuk terus-terusan mengkhawatirkan sesuatu. Apalagi sesuatu yang Allah sudah mengatur dan menjaminnya, seperti urusan rezeki.

Kita mengaku percaya pada Allah, tapi pada saat yang sama masih khawatir besok kita makan apa. Kata Mbah Tedjo, itu sama saja dengan menghina Tuhan.

Sudah ya, aku pulang dulu. Mendung terlihat semakin tebal, aku takut hujan segera turun.

Cinta Ayah


Sudah 2 tahun ini saya asyik bermain Twitter. Banyak hal baik saya dapatkan darinya, mulai informasi hingga pertemanan.

Saya mengenal orang dari berbagai latar belakang sosial dan pendidikan. Beberapa di antara mereka tak henti mengetuk-ngetuk hati saya dengan perjuangan hidupnya.

Ada seorang pengemudi Gojek (atau Grabbike, saya lupa) yang menghabiskan berjam-jam waktunya mencari nafkah di jalanan. Menembus terik siang dan derasnya hujan demi keluarga tercintanya, terutama anak laki-lakinya yang mengidap lupus.

Teman yang lain tak ketinggalan mencuit perjuangan para ayah yang tak mengenal lelah mencari uang untuk keluarganya. Ada yang menjadi sopir truk, ada juga yang berjualan nasi goreng, kue kering, katering kecil-kecilan, hingga bumbu dapur.

Di tengah kondisi sulit seperti sekarang, apa saja mereka lakoni demi menghidupi istri dan anak-anak mereka.

Baca juga: Untuk Anakku (1)

Sepintas lalu, apa yang mereka lakukan tampak biasa saja. Semacam naluri bertahan hidup untuk diri dan anggota keluarganya.

Tapi dalam agama kita, pengorbanan yang bersifat naluriah ini sangat diapresiasi.

Suatu ketika seseorang menghadap Rasulullah saw. Orang itu berkata bahwa dirinya telah melakukan dosa kepada Allah dan ingin disucikan oleh Rasulullah, maksudnya dimohonkan ampunan kepada Allah.

Mendengar permintaan itu, Rasulullah bertanya dosa apa yang telah dilakukannya.

“Saya malu mengatakannya,” jawab orang itu.

Rasulullah kecewa mendengarnya, lalu berkata kalau dia malu kepada beliau, mengapa dia tidak malu kepada Allah, padahal Allah selalu melihatnya.

“Pergi kamu, jangan sampai neraka diturunkan kepada kami akibat dosamu itu!” sabda Nabi.

Remuk hati orang tersebut mendengar perintah Rasulullah itu. Dia pun beringsut dengan perasaan kecewa, putus asa, dan bercucuran airmata.

Saat itulah malaikat Jibril menghadap Rasulullah dan bertanya, mengapa beliau membuat putus asa orang yang memiliki penghapus dosa-dosa.

“Apa penghapus dosa-dosanya?” tanya Nabi.

Malaikat Jibril menjawab, “Anak kecil.”

Baca juga: Untuk Anakku (2)

Ketika orang itu pulang ke rumahnya, seorang anak kecil menyambutnya. Orang itu lantas memberikan makanan atau benda lain yang sekiranya bisa membahagiakan hatinya.

“Ketika anak kecil itu bahagia, saat itulah dosa-dosa orang tersebut dihapus,” lanjut malaikat Jibril.

Cerita itu saya baca dalam buku Al-Mawa’izh Al-‘Ushfuriyyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakr, sebuah kumpulan hadis dengan penjelasan berupa cerita-cerita inspiratif dari Rasulullah, sahabat, dan orang saleh.

Membaca hikayat itu, saya merasa terlibat dengan perasaan orang yang diceritakan –saya juga seorang ayah. Betapa indah perjuangan seorang kepala rumah tangga dan betapa besar cintanya pada sang buah hati.

Sekeras apa pun hidup menempanya, dengan berbagai dosa atau kesalahan yang mungkin dilakukannya, ia tak lupa membuat gembira anak-anaknya sewaktu pulang dan bertemu mereka.

Dan siapa sangka, perbuatan kecil yang menutup harinya itu menjadi pelebur dosa-dosanya.

Satu Yang Tersisa


Ya, saya tahu, kapan pun dan di mana pun kita bisa kehilangan apa pun yang kita miliki.

Kehilangan pekerjaan yang kita idamkan, kehilangan kesempatan untuk bersua dengan keluarga, mungkin juga kehilangan hidup dan cerita-cerita bahagianya.

Saya membuat tulisan ini ketika kasus infeksi Covid-19 di Indonesia sedang berada di puncak. Cerita tentang pasien isolasi mandiri yang meninggal kesepian di kamarnya berseliweran di beranda media sosial, demikian pula kisah pilu pasien-pasien yang tak tertolong karena kehabisan tabung oksigen.

Bencana ini benar-benar membuat kita tak berjarak dengan kematian, sekaligus memaksa kita terus mendekat pada Tuhan.

Kadang saat terjaga dari tidur pikiran saya berkeliaran membayangkan hal-hal buruk. Tentang istri saya yang sedang mengandung anak kedua kami, tentang Nabil, juga tentang saudara-saudara dekat saya. Sering saya bergidik dan buru-buru memalingkan pikiran pada hal lain yang menyenangkan.

Baca juga: Ketidakpastian Tak Semenakutkan Itu

Jika pandemi ini terus memburuk dan memporakporandakan impian yang ditata berjuta-juta orang di muka bumi ini, mungkin hal baik yang tersisa dalam hidup tiap orang hanya itu: pikiran tentang sesuatu yang menyenangkan.

Entah dalam bentuk kenangan atau keyakinan.

Yaa amaanal khooifiiin, aaminnaa mimmaa nakhoof.
Yaa amaanal khooifiin, sallimnaa mimmaa nakhoof.
Yaa amaanal khoo’ifiin, najjinaa mimmaa nakhoof.

Mimpi Tsabit Al-Bunani


Cerita ini saya tulis ulang dari buku Syarh Al-Mawa’izh Al-‘Ushfuriyyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakr. Diterbitkan oleh Maktabah At-Turmusi Lit Turas dalam bahasa Arab.

Suatu malam Tsabit Al-Bunani berziarah ke pemakaman. Seperti kebiasaannya, di tempat tersebut ia berzikir, berdoa, dan melakukan ibadah apa saja yang bisa mendekatkan dirinya pada Allah. Namun malam itu Tsabit merasakan sesuatu yang membuat matanya mengantuk luar biasa, sampai-sampai karena tak sanggup menahan, ia tertidur.

Dalam tidurnya Tsabit melihat sejumlah ahli kubur keluar dari makam mereka. Wajah mereka putih bersinar dan pakaian mereka sangat indah. Tsabit melihat orang-orang itu disuguhi nampan yang isinya berbagai macam makanan lezat.

Baca juga: Yang Haram Aja Susah
Ilustrasi makanan, diposting pertama kali di http://www.barakabits.com

Di antara orang-orang yang terlihat bahagia itu, Tsabit melihat seorang anak muda yang tertunduk lesu. Wajahnya kusam, rambutnya kusut, airmata berlinang membasahi pipinya. Berbeda dengan orang-orang di sekitarnya, anak muda itu tidak disuguhi makanan, sama sekali.

Hal tersebut menumbuhkan pertanyaan di hati Tsabit. Ia hampiri pemuda itu, lalu ia tanya siapa dirinya dan orang-orang itu. Pemuda tersebut menjawab bahwa dirinya adalah orang yang kebaikan-kebaikannya semasa hidup dilupakan dan tidak ada seorang pun dari keluarganya yang mau mendoakannya. Sementara orang-orang yang disuguhi makanan itu memiliki saudara, keluarga, dan kerabat yang mau mengingat kebaikan mereka, mendoakan mereka, dan bersedekah atas nama mereka di setiap malam Jumat. Berkat kebaikan keluarganya mereka dianugerahi pahala dan kebahagiaan di alam kubur.

Baca juga: Paradoks Agama

Anak muda itu lalu mengisahkan sepenggal kisah hidupnya. Bahwa dirinya memiliki seorang ibu. Suatu waktu, karena ingin menunaikan haji ia meninggalkan sang ibunda. Malang tak dapat dihindari, di suatu kota dalam perjalanannya menuju Mekah, ajal menjemput pemuda tersebut.

Jenazahnya lalu dikirim kepada sang ibunda, dan dikuburkan di pemakaman yang dikunjungi oleh Tsabit. Tak ingin larut dalam kesedihan, ibunda anak muda itu menikah lagi dan membangun rumah tangga yang baru; sayangnya sambil melupakan anaknya yang telah wafat. Ia tidak pernah mengingat kebaikan sang anak, mendoakannya, atau bersedekah atas namanya.

“Karena itulah aku kecewa dan bersedih setiap waktu,” ujar pemuda itu.

Tsabit tersentuh oleh cerita anak muda itu. Ia lalu meminta alamat ibundanya, yang dijawab beserta hal lain yang tak kalah penting: Bahwa sang ibunda menyimpan harta warisan suaminya atau ayah anak muda itu, yang sebagian merupakan haknya.

Ketika Tsabit berhasil menemui ibu yang dimaksud dan menyampaikan pesan dari anaknya, ibu tersebut memberikan 100 mitsqal perak (setara 425gram, atau senilai Rp5.193.075) kepada Tsabit dan memintanya untuk menyedekahkan harta itu, atas nama putra tercintanya. Mendapat kepercayaan itu Tsabit tidak bisa melakukan hal lain kecuali menunaikan kewajibannya.

Pada malam Jumat berikutnya, Tsabit mengunjungi salah seorang saudaranya. Ketika tanpa sengaja tertidur di kediaman saudaranya, ia bermimpi melihat anak muda itu dalam keadaan yang jauh lebih baik: Wajahnya berseri, pakaiannya indah, dan hatinya tampak bahagia.

Anak muda itu berkata pada Tsabit, “Semoga Allah merahmatimu, sebagaimana Dia merahmatiku.”

Mas Aziz


Sejak pagi mendung bergelayut di langit Depok. Bulan sudah separuh jalan, tapi hujan sesekali masih datang.

Hari-hari ini kematian rasanya semakin dekat dengan siapa pun. Ambulans berlalu-lalang di jalanan. Sirinenya meraung-raung menerobos kemacetan.

Masjid-masjid berlomba mengumumkan kabar duka, bahkan tak lama setelah orang-orang baru membuka mata.

Mendengar berita kematian bukan lagi sesuatu yang aneh, kecuali menyangkut orang-orang terdekat.

Foto:  Julian Hochgesang 

Kemarin pukul 6 pagi kabar duka juga terdengar. Sayup-sayup berasal dari mushala yang entah masih mengadakan shalat jamaah atau tidak. Yang membuat saya terkejut adalah nama yang diumumkan: Mas Aziz.

Nama lengkapnya Abdul Aziz. Beliau saya kenal tidak lama setelah pindah ke Kukusan. Mungkin karena sama-sama dari Malang (kampung saya dan kampungnya hanya berjarak 15-an menit naik motor), kami jadi cepat akrab.

Baksonya menjadi santap siang favorit Nabil anak saya. Kata istri, kuahnya enak. Tapi saya duga, selain kuahnya yang memang sedap, istri saya berlangganan karena Mas Aziz sangat royal pada kami. Setiap istri kami membeli bakso, tak lupa ia memberi gratisan.

“Buat si kecil,” ujarnya, singkat.

Itu tidak hanya sesekali tapi sering, kalau tidak selalu. Tak heran, ketika istri saya beritahu kabar lelayu itu, matanya berkaca-kaca. Saya mengerti. Dibanding saya, istri saya lebih sering bertemu Mas Aziz.

Siang-siang saat ia berkeliling menjajakan baksonya, istri saya akan memanggilnya, menyampaikan pesanan sambil berbincang alakadarnya, membayar, lalu saling mengucapkan terima kasih.

Sesederhana itu, seperti kebiasaan antara penjual dan pembeli. Tapi, sepertinya keramahan dan ketulusan beliau menyentuh hati kami berdua.

Di tempat yang jauh dari kampung halaman, kami menemukan seorang saudara. Orang biasa, tapi berhati mulia.

Mulai hari ini dan seterusnya, kami tak akan lagi melihatnya keluar-masuk gang-gang kecil di Kukusan. Tak akan lagi kami menemuinya mangkal di depan masjid selepas shalat jamaah. Tak akan lagi kami mendengar sapaan hangatnya saat berpapasan entah di mana.

Dia hanya orang biasa yang kami kenal, bukan saudara, bukan pula orang yang kami anggap “penting”. Tapi, kebaikannya betul-betul membahagiakan kami sekeluarga.

Mas Aziz, maturnuwun untuk kebaikannya selama ini. Kelak ketika Nabil sudah bisa memahami, akan aku ceritakan semua kebaikan Sampeyan padanya.

Selamat jalan dan sampai jumpa, pulanglah dengan hati yang penuh ridha dan ketenangan.

Nabil Belajar Mellow ;)


Sudah masuk bulan Juli, tapi hujan masih terus mengguyur. Sesekali panas memang menyengat, tapi sore atau malamnya limpahan air seperti dicurahkan dari langit.

Lumut di halaman rumah seperti berpesta-pora karena tak jadi sekarat, pohon-pohon alpukat milik para tetangga seakan terus merapal syukur, mungkin karena baru kali ini berbuah sambil terus diguyur hujan.

Nabil sudah memasuki usia 3 tahun (lebih 2 bulan). Meski bulan lalu ia berada dalam fase marah-marah gak jelas alias tantrum, beberapa minggu ini keadaannya sudah lebih baik. Saya perhatikan kosakatanya semakin banyak, nafsu makannya meningkat, dan yang tak kalah penting ia semakin terlatih mengungkapkan emosinya: bahagia, sedih, dan tentu saja marah.

Saat vidcall dengan bude dan pakdenya kemarin malam, ia sempat berkaca-kaca karena tahu bahwa pakde ada di rumah sakit. Dan anak seusia itu, tahunya rumah sakit memang untuk orang sakit. Yang gak ia tahu, pakdenya akan menjalani operasi jantung. Apa pun itu, wajahnya yang di awal ceria langsung mendung mendengar kakak ipar saya itu berada di rumah sakit.

Baca juga: Untuk Anakku (1)

Itu bukan pertama kali wajahnya muram karena sesuatu yang menyedihkan. Saya masih ingat, satu tahun lalu saat menonton sebuah film anak-anak di Youtube, ia tiba-tiba menangis (dan menangisnya itu langsung mangap, bukan mimbik-mimbik dulu, hihi). Karena heran, saya coba tonton film yang ia putar di tab-nya. Dan benar, ada adegan sedih di dalam film itu.

Saya sempat tercenung: Anak sekecil itu sudah bisa tersentuh oleh cerita sedih?

Namun setelah baca-baca, begitulah. Bahkan saat masih berada di tahun-tahun pertama kehidupan, seorang anak bisa tersentuh. Ya gak apa, itu normal, dan itu berarti emosinya berkembang dengan baik.

Sebagaimana ia bisa tersentuh, lain waktu ia juga bisa kecewa, ingin, menyesal, antusias, dan bahagia. Kalau ini saya renungkan, saya semakin mafhum, sekaligus bersyukur. Namanya manusia ‘kan punya emosi, dan karena emosi itu terlihat dalam sikap, maka wajar kalau saat menonton film sedih Nabil tersentuh dan mewek.

Mungkin karena pertama kali melihat, saya agak heran, kaget, dan…bingung mau bagaimana.

Baca juga: Untuk Anakku (2)

Untungnya karena ada pengalaman itu, kemarin saat dia seperti mau menangis karena tahu pakdenya berada di rumah sakit, saya langsung memberi penjelasan bahwa pakdenya gak sedang sakit.

“Pakde cuma mau periksa, kok,” kata saya.

Saya awalnya merasa berbohong, tapi perasaan itu saya tepis, karena kakak ipar saya memang gak sedang sakit. Hanya berdasarkan observasi dokter, ia perlu menjalani operasi.

Sakitnya sih sudah beberapa minggu yang lalu 😦