Kita, Kenangan, dan Impian


Malam itu, kita berbincang tentang masa depan. Tentang hari-hari yang akan kita lewati bersama, tentang mimpi-mimpi yang ingin kita raih. Tentang rumah kita membesarkan anak-anak.

Source: pexel.com

Matamu berbinar saat kusebut rumah bergaya 70-an. Diam-diam, kita punya selera yang sama. Asal, katamu, rumah itu tak terlalu besar dan bukan peninggalan Belanda. Aku setuju.

Baca juga:
Saat Hanya Bisa Berharap
Sama-sama Punya Kesempatan

Aku membayangkan kelak kita tinggal di sebuah rumah mungil yang kita bangun sendiri. Dengan lelehan keringat kita sendiri, dengan rupiah demi rupiah yang kita kumpulkan bersama. Dengan doa-doa dan shalawat yang mengiringi pembangunannya.

Aku yakin suatu saat kita akan memilikinya. Kau tak perlu cemas soal uang. Pasti ada jalan.

Lantai rumah kita cukup ubin sederhana, persis seperti lantai sekolah di desa-desa. Ubin abu-abu aku rasa cocok untuk semua ruangan. Hanya ubin teras dan ruang tamu yang mungkin perlu variasi warna.

Untuk dapur, kalau boleh menyarankan, ubin warna kuning sepertinya menarik. Aku tak memaksa. Bagaimanapun, kau lebih tahu segala hal tentang dapur.

Aku tak sedang bicara Feng Shui –aku buta tentang itu. Aku hanya berpikir lantai tak perlu terbuat dari material yang mahal. Sebagai tempat berpijak, lantai hanya perlu kuat.

Apa gunanya keramik mahal dan indah kalau mudah retak Lagipula, karena tampilannya yang unik, ubin tak kalah indah dibandingkan keramik-keramik yang harganya mahal.

Seperti umumnya rumah zaman dulu, pintu dan jendela akan kita buat dengan model kupu-kupu. Kau bisa memilih warna untuk keduanya, tapi dinding dan langit-langit akan kita cat dengan warna putih.

Kau ingat kursi beranyam rotan dan mejanya yang kita lihat di pasar loak waktu itu? Dari dulu, aku ingin sekali punya kursi model begitu.

Kau tak keberatan aku membelinya dan meletakkannya di ruang tamu? Almari baju dan meja riasmu ada di ruang tidur utama. Almari buku kita taruh di ruang sebelahnya.

Meja tempat kita membaca juga akan kuletakkan di ruangan itu. Foto berbingkai yang kini ada di meja kerjaku kelak ada di atasnya.

Kau juga bisa meletakkan bufet untuk memajang foto, cinderamata, dan benda-benda kesayanganmu di sana. Di atasnya, akan kutaruh mesin ketik dan telepon lawas yang sudah tak terpakai.

Bufet tempat kau memajang piring dan gelas kuno ada di ruang keluarga. Televisi juga. Kita mungkin butuh meja yang agak tinggi untuk meletakkan radio lawas dan gramofon kesayanganku.

Gitar dan biola bisa kau taruh di samping meja, sedang mainan anak-anak akan kubuatkan tempat di bawah jendela.

***

Orang lain mungkin tertawa seandainya tahu isi perbincangan kita. Jangankan impian, kenyataan saja bisa ditertawakan. Karena itulah impian disebut impian: sesuatu yang tak nyata, sesuatu yang tampak mustahil dan banyak orang menganggapnya absurd untuk dibicarakan.

Padahal, sesuatu kita katakan tak nyata seringkali karena ia belum berhasil dibuktikan –bukan karena memang tak ada. Jadi, apa yang nyata sebenarnya hanyalah realitas yang tunduk pada rasionalitas kita, akal kita.

Padahal, realitas ada di luar kesadaran kita dan sama sekali tak bergantung padanya.

Jika kita bicara tentang realitas di masa depan –aku suka menyebutnya impian, harapan, atau cita-cita, kita memang butuh waktu untuk membuktikannya. Dan satu-satunya cara untuk membuktikannya adalah tak berhenti berusaha sambil menunggu saatnya tiba.

Meski begitu, orang yang memiliki impian tak perlu menunggu impiannya terbukti untuk meyakininya. Ia bisa melihat dengan nyata kesuksesannya di masa depan dengan mata batinnya.

Selama kita bisa memimpikan sesuatu, selama itu juga kita bisa meraihnya.

9 thoughts on “Kita, Kenangan, dan Impian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s