Seperti Baru Kemarin


Seperti baru kemarin kita menyusuri jalan setapak itu. Menjejak rerumputan di pagi hari, menyentuh embun di pucuk-pucuk daun padi.

Kita adalah anak-anak tanpa nama. Tanpa baju, bahkan celana. Tanpa kenangan yang kita banggakan atau impian yang kita puja-puja.

Baca juga:
Untuk Felda

Apa Kabar, Pak?

Kita gembira dengan kebodohan yang kita punya, bahagia dengan kebebalan yang seakan tiada habisnya.

Kita hanya tahu bagaimana tertawa dan mudah lupa bagaimana mengalirkan air mata.

Source: pixabay.com

Masihkah kau ingat rumah kenangan itu? Tempat kita belajar membuka mata dan bersama-sama mengeja a-ba-ta. Bagaimana kabar kakek yang menjaganya? Siapa yang kini menabuh bedug dan mengumandangkan panggilan-Nya?

Sungai kecil yang dulu airnya jernih, seperti apa warnanya kini? Kau tentu ingat saat kita memancing ikan di sana, atau berbagi tebu hasil mencuri entah di ladang siapa.

Kau tahu, Kawan, ada saat-saat aku ingin kembali ke masa itu. Menjadi anak-anak. Yang hanya tahu bagaimana menikmati permainan dan membuat kesalahan.

Aku menyesal menjadi seperti sekarang. Yang harus tahu bagaimana mengalahkan lawan dan membela kepentingan.

Aku juga menyesal, di tengah jalan kita harus berpisah dan melambaikan tangan.

Aku masih ingat hari-hari itu, saat sinar matahari menghangatkan badan kita dan air sungai memantulkan keperak-perakan cahayanya.

Lalu, terdengar kakek yang menjaga rumah kenangan itu sayup-sayup memanggil kita.

“Hayya ‘alal falah, hayya ‘alal falah …”

5 thoughts on “Seperti Baru Kemarin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s