Apa Kabar, Pak?


Aku baik-baik saja di sini, Neng juga.

Akhir-akhir ini, banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Bertemu penulis, membuat laporan pertanggungjawaban, juga menyunting naskah yang harus terbit bulan depan. Itu sebabnya, baru sekarang aku bisa menulis surat untukmu.

Source: pexel.com

Neng titip salam buat Bapak. Dia bilang, masalah Ariq sudah ketemu jalan keluarnya. Alhamdulillah, setelah dibawa ke psikolog, akhirnya dia mau sekolah juga. Sekarang, hampir tiap malam kami BBM-an.

Curhat tentang gebetannya yang baru. ABG labil, seperti kita dulu.

Hari ini, umurku bertambah lagi, Pak. Untung di Facebook dan Twitter aku tak menyantumkan tanggal lahir. Gawat kalau ketahuan orang-orang, bisa diseret aku nanti ke kamar mandi, atau kalau tidak disuruh bayar makan siang.

***

Pak, besok aku akan pulang. Sudah setengah tahun aku tak menjenguk Ibu. Kangen.

Aku kadang berpikir, betapa durhakanya aku pada kalian. Setelah membesarkan, menjaga, dan mendidikku sepenuh hati, kalian malah kutinggalkan. Bagaimana perasaan kalian saat melepasku pergi dari rumah?

Neng bilang kalau Ibu sekarang sakit-sakitan. Gula darahnya semakin sulit dikontrol. Tubuhnya kurus, ubannya merata. Aku selalu ingat Ibu setiap melihat wanita seusianya di televisi atau di jalan.

Apa yang sedang ia pikirkan sekarang? Apa yang sedang ia harapkan?

Kalaupun aku tahu, Pak, aku tak yakin bisa banyak membantu.

Aku memang tak berguna. Hanya uang bulanan yang tak seberapa yang bisa kukirimkan. Padahal di usianya yang sekarang, Ibu tak hanya butuh uang.

Kasih sayang, itu yang sangat Ibu dambakan. Betapa durhakanya aku, yang membiarkan wanita paling berjasa dalam hidupku menjalani hari tuanya dengan kesepian.

Besok, aku akan bertemu Ibu kembali, insya Allah. Ada berita baik sekaligus berita buruk yang akan kusampaikan. Berita baiknya, aku sekarang sudah diangkat menjadi karyawan tetap. Aku harap, Ibu senang mendengar ini.

Berita buruknya, gajiku tak ada kenaikan. Hihi… Status karyawanku saja yang berubah, yang artinya, uang bulanan yang kukirimkan ke rumah mungkin belum bertambah. Semoga Ibu tak kecewa.

***

Sayangnya, aku tak bisa bertemu denganmu, Pak.

Andai ada kesempatan untuk bersua, kau mungkin akan bicara panjang-lebar tentang jadwal pengajianmu yang padat dan murid-muridmu yang terus bertambah. Atau kalau sedang ingin berkelakar, kau mungkin akan menceritakan masa mudamu yang penuh pengalaman menggelikan.

Kita juga bisa berbincang tentang koleksi bukumu yang berjilid-jilid itu. Kau mungkin akan membuka percakapan tentang hadits-hadits. Kau memang punya banyak kitab hadits. Tapi, jangan salahkan kalau aku hanya banyak mendengarkan. Aku tak banyak mengerti tentang itu.

Tak terasa, Pak, sebelas tahun sudah kau tak bersama kami. Aku rindu. Sesampai di Malang nanti, aku berjanji akan menjengukmu. Akan kutabur segenggam melati di pusaramu dan kukirimkan doa untukmu. Semoga Allah mengabulkan permohonanku.

Suatu hari di 2015

2 thoughts on “Apa Kabar, Pak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s