Memperalat Syariat


Satu di antara sedikit yang tak bisa kita lakukan adalah membungkam hati nurani. 

Source: google.com

Saya sengaja menyebutnya ‘sedikit’, sebab kita sering membanggakan diri, seakan kita bisa melakukan apa saja yang kita mau. Terbang ke luar angkasa, menyelam ke dasar laut, melihat dari jarak yang jauh, bahkan memahami kehendak Tuhan.

Semua orang kini mengatakan bahwa dirinya hebat, tak terkecuali kita. Kita bisa melakukan ini, kita bisa melakukan itu. Seakan tak tersisa satu pun hal mustahil di dunia ini yang tak bisa dikerjakan oleh makhluk yang disebut manusia.

Baca juga:
Berhala Itu Mungkin Ada di Dalam Diri Kita
Kita Bukan Hanya Sebuah Nama

Ketika modernitas ‘menggantikan’ hidup kita, kita mengira yang ia bawa hanya manfaat dan keuntungan. Berbagai kemudahan memang kita dapat, tapi sebenarnya tetap ada jarak yang tak terkatakan antara pengetahuan kita dan kehendak Tuhan.

Bersamaan dengan itu, entah kenapa, pelan-pelan kadar kemanusiaan kita berkurang. Kita lupa bahwa kita adalah makhluk dengan berbagai keterbatasan. Di depan orang-orang kita berteriak dan bertingkah seakan kita bukan keturunan Adam, tapi Jibril.

Kita mudah merasa benar dan sulit percaya bahwa kita bisa salah …

Kita mudah marah dengan kesalahan orang lain. Bahkan, kita mudah marah hanya karena orang lain berbeda dengan kita. Kita ingin mereka mengikuti pendapat, pemikiran, paham, aliran, agama, atau keyakinan yang sama dengan kita.

Seakan keseragaman pasti keindahan. Sulit menolak bahwa apa yang seragam itu rapi dan tertib. Tapi kadang, apa yang tunduk pada keseragaman adalah kurangnya gagasan, keberanian, dan kreativitas, sekaligus pengingkaran terhadap realitas kehidupan.

Berbeda adalah fitrah kita. Tak ada yang salah dengan itu. Tapi, kalaupun itu kita anggap sebagai kesalahan, apa susahnya memahami dan memaklumi kesalahan orang lain? Siapa sih yang tak pernah salah? Semua orang berbuat salah, bahkan orang suci.

Mata syariat kerap kita arahkan pada orang lain, tujuannya: untuk mengoreksi, mengutuk, dan merendahkan. Syariat kita peralat untuk menggebuk orang yang kita anggap berdosa dengan mencapnya kafir dan sesat, seraya mengatasnamakan Tuhan.

Pelan-pelan, kita mengambil alih tugas malaikat dan merebut wewenang Tuhan. Setiap hari, kita merasa seolah punya mandat, bahkan kuasa, untuk mengatur apa yang boleh dan tak boleh diperbuat oleh orang lain.

Namun demikian, di tengah kebebalan kita untuk memikirkan kembali hakikat diri kita, kita sebenarnya tak mampu mengabaikan nurani kita, yang berbisik lirih dan menggugat kesewenangan kita. Yang menciptakan rasa tak nyaman di hati kita.

Bisikan itu terus terdengar, kadang membuka mata kita tentang kemungkinan kita salah paham dengan orang lain, kadang menghadirkan kekhawatiran bahwa suatu saat kita bisa saja tergelincir di tempat yang sama; kita tak lagi sempurna, kita di masa depan adalah orang yang kini kita olok-olok.

4 thoughts on “Memperalat Syariat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s