Ujungnya Gak Jadi


Orang yang kebanyakan rencana itu biasanya selalu urung melakukan apa pun.

Source: pexel.com

Ya sih, gak semua orang seperti itu. Sebagian saja. Sebagian besar.

Tapi, bukan berarti orang yang gak pernah bikin rencana selalu bisa mewujudkan keinginannya lho. Mafhum mukhalafah gak berlaku di sini.

Kalau kita mau melihat lebih dekat, ini sebenarnya bukan soal ada-tidaknya rencana, tapi kuat-tidaknya kemauan kita.

Orang yang kebanyakan rencana mencurahkan banyak energinya untuk menyusun rencana. Mencari pilihan-pilihan yang mungkin ada, mendiskusikannya dengan teman atau keluarga, menimbang-nimbangnya, lalu memutuskan mana yang paling tepat untuk diambil.

Ketika tiba saatnya mengeksekusi rencana itu, energi orang tersebut sudah habis. Jangankan melaksanakan apa yang direncanakan, mengingat-ingat rencana itu saja ia ngos-ngosan.

Alhasil, rencana tinggalah rencana. Debat dan eyel-eyelan saat sedang membuat rencana itu gak ada bekasnya.

Maryono, teman saya yang merasa punya pesona seorang Don Juan di antara teman-teman kantornya, punya kebiasaan seperti itu. Beberapa minggu sebelum libur tahun baru Hijriyah, ia mengajak saya dan beberapa teman untuk pergi ke Malang. “Refreshing,” katanya.

Sudah lama ia ingin ke Malang. Karena saya baik padanya dan ia tahu itu (hehe), ia bertanya banyak hal pada saya.

“Berapa tiket kereta ekonomi?”
“Hotel yang murah tapi dekat pusat kota ada gak?”
“Tiketnya Batu Night Spectacular berapa?”
“Harga bakso kisaran berapa?”
“Toko oleh-oleh yang mau ngasih utangan di mana?”
“Kalau aku kehabisan uang terus pengin jual ginjal, ada makelar yang bisa bantu gak?”

Dan lain-lain, dan lain-lain…

Sambil menahan kesabaran, saya jawab satu demi satu rasa penasarannya. Sebisa mungkin saya jelaskan apa saja yang perlu ia tahu tentang Malang, termasuk tip-tip untuk survive di sana. ‘Kan gak asyik kalau liburan diganggu sama urusan hidup yang masih perlu diselamatkan.

Satu minggu dari perbincangan kami hari itu, Maryono bilang sendiri ke saya kalau liburannya harus di-cancel. Alasannya? Banyak: gak ada teman (saya sendiri menolak ikut), budget kurang (dasar gak niat!), kerjaan gak bisa ditinggal (apesnya dia), dan alasan-alasan lain yang kalau ia sebutkan lagi satu persatu bisa-bisa saya makan beling dan kembang tujuh rupa karena kemasukan arwah nenek moyang kita yang katanya pelaut itu.

Pelajaran berharga yang saya petik dari kisah Maryono di atas adalah: satu, kalau mau liburan gak usah banyak rencana, dan dua, kalau duit belum ada dan izin cuti belum diberikan, jangan meneror orang lain dengan pertanyaan-pertanyaan yang setelah dijawab dengan penuh kesabaran ternyata gak dipakai sama sekali.

Emosi saya lama-lama…

8 thoughts on “Ujungnya Gak Jadi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s