Udah Ngaku Aja!


Kita kadang malu-malu mengakui kenyataan.

Coba aja beberapa hal ini: negara-negara muslim banyak yang terbelakang dalam hal pendidikan (dan pulitik, dan hukum, dll), lagu Garuda Pancasila diciptakan oleh Sudharnoto, seorang seniman Lekra, film buatan anak negeri masih didominasi tema pocong, kuntilanak, atau sejenisnya (The Raid itu anomali), dan timnas Indonesia selalu keok saat lawan timnas Malaysia (kenapa Malaysia?!) di ajang internasional.

Tapi, coba kita gak bicara hal-hal yang serius dulu. Masih pagi kok udah bahas sesuatu yang bikin stres, hehe.

Coba kita bicara selera musik. Ada gak dari kita yang suka dangdut? Lagu Malaysia? India? Keroncong? Atau, tembang Jawa?

Meski kadang diam-diam (saat naik motor atau saat jongkok di toilet) melantunkan lagu-lagu itu, kita mungkin gak akan begitu saja mengakuinya. Gengsi.

Ada yang ngeles, ada juga yang senyum-senyum seperti minta dijambak.

Baca juga:
Kebanyakan Rencana, Ujung-ujungnya Batal
“Kamu Sekarang Kok Berubah?” dan Maksud Sesungguhnya dari Kalimat Itu

Ulum, teman satu kos saya dulu, suka banget meledek teman-temannya yang kedapatan sedang nyanyi lagu dangdut. Komentar-komentarnya tentang dangdut udah seperti cemoohan Fahri Hamzah kepada Jokowi: pedes level absolut. Mulai dibilang ndeso, katrok, lagunya orang susah, ketinggalan zaman, dll. Agnez MO pun kalau nyanyi lagu dangdut akan dinyinyirin sama teman saya itu.

Tapi, yang namanya kutukan Tuhan itu ‘kan bisa datang kapan pun, dan kutukan yang paling mengerikan adalah saat kita melakukan apa yang selama ini kita cemooh.

Suatu pagi ketika sedang menjemur cucian, mungkin karena suratan takdir, bibir Ulum pelan-pelan menyenandungkan lagunya Meggi Z. (saya gak tahu judulnya). Kebetulan sekali teman yang sering jadi korban ledekannya memergoki.

Selanjutnya, dunia seperti memasuki zaman baru. Sampai saya lulus dari kos-kosan itu, teman-teman gak pernah puas meledek Ulum.

Ada yang memanggilnya Meggi, ada juga yang menyanyikan lagu dangdut itu sambil suaranya dimirip-miripin suaranya Ulum. Gak ada kosakata dalam bahasa manusia untuk mengungkapkan kebahagiaan teman-teman karena bisa ganti meledeknya.

Kita sendiri mungkin sama. Masa kecil generasi 90-an berwarna-warni mungkin karena hasil perpaduan antara lagu anak-anak, seperti lagunya Melisa (Abang Tukang Bakso), Enno Lerian (Du Di Dam), dan Trio Kwek-kwek (Jangan Marah) dan lagu-lagu Malaysia, seperti lagunya Search (Isabella), Iklim (Suci Dalam Debu), dan Slam (Gerimis Mengundang).

4
Yang paling atas jidatnya kepotong, maaf ya! Sumber gambar: https://goo.gl/qY7emm

Kalau sekarang ditanya, suka apa gak sama lagu-lagu Malaysia, apa kita mau ngaku?

Youtube bisa lho memberikan informasi mengerikan tentang masa lalu kita (!). Lagu-lagu yang dulu kita sukai hampir semuanya ada di sana, termasuk lagu-lagu Malaysia itu. Yang penyanyinya bertampang eksotis itu, dengan rambutnya yang gondrong berponi, dan video klipnya yang menampilkan sang penyanyi seperti sedang mendeklamasikan puisi di pentas 17 Agustus-an.

Itulah kita, dulu. Sebuah masa yang turut membentuk diri kita, saat ini.

Mau mengakuinya atau gak, itu bukan hal penting. Yang pasti, kita gak bisa mengelak.

Kita adalah apa yang kita lakukan sejak lahir hingga sekarang, baik itu kebaikan atau keburukan, baik itu mendengarkan lagu-lagu keren maupun lagu-lagu yang sekarang bikin kita malu kalau harus mengingatnya. Kalau dipikir-pikir, saat itu kita masih anak-anak, tapi lagu-lagu Malaysia bisa kita hafal di luar kepala.

Ini kita belum bahas lagu India ya…

3 thoughts on “Udah Ngaku Aja!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s