Kesempatan yang Sama


“Takdir seringkali memanggilmu di saat yang kurang tepat.” –Optimus Prime

Kesempatan selalu Allah berikan pada kita, untuk melakukan apa pun. Hanya saja, kita kadang tak menyadari datangnya kesempatan itu. Atau kalau menyadarinya, kita tak punya antusiasme dan semangat untuk mengambilnya. Alasannya bisa macam-macam.

Baca juga: Tahu Batasan Itu Penting

Photo by Kha Ruxury on Pexels.com

Menurut saya, kesempatan untuk mewujudkan harapan seturut dengan usia yang Allah berikan pada kita. Selama kita masih mengembuskan nafas, selama itu pula kita masih punya kesempatan. Untuk melakukan apa pun: kuliah di kampus favorit, bekerja di tempat idaman, atau sekadar jalan-jalan ke tempat-tempat yang Instagramable.

Beberapa hari ini saya berpikir, apa benar tiap orang punya kesempatan yang berbeda dalam mewujudkan harapannya? Jangan-jangan apa yang kita anggap berbeda itu bukan kesempatan, tapi tindakan atau usaha kita terhadap kenyataan yang kita terima.

Setiap orang punya kesempatan untuk melakukan apa pun. Kesempatan itu boleh jadi menyesuaikan kondisi kita, tapi ia tak pernah hilang sama sekali dari hidup kita. Maka, keberhasilan seseorang dalam hal apa saja sebenarnya lebih bergantung pada tindakan atau usahanya dalam menggunakan kesempatan itu.

Kita tentu ingat kisah seorang anak tukang becak yang dinobatkan sebagai lulusan terbaik di Universitas Diponegoro. Saya lupa namanya. Kondisinya berbeda jauh dengan teman-temannya, yang mampu-mampu, tapi toh dia berhasil juga mewujudkan impiannya menjadi sarjana.

Baca juga: Harapan Itu Kata Kerja

Kenapa bisa begitu? Karena ia melakukan tindakan atau usaha yang tepat dalam merespon kondisi dirinya (let’s say, sebagai anak dari keluarga kurang mampu) sekaligus dalam mewujudkan cita-citanya (menjadi sarjana). Belakangan saya dengar, sekarang ia bahkan tengah melanjutkan kuliah di Inggris. Luar biasa, bukan?

Apa yang kita baca dari berita itu bukan tentang seorang anak yang punya kesempatan sementara yang lainnya tidak. Baik anak tukang becak itu maupun anak-anak yang lainnya sama-sama punya kesempatan untuk kuliah, menjadi sarjana, dan memperbaiki kondisi hidupnya.

Yang membedakan adalah kondisi mereka masing-masing dan tindakan mereka dalam mengatasi kondisi tersebut, di samping usaha mereka dalam mewujudkan harapannya. Jadi, menurut saya, mengkambinghitamkan kesempatan (apalagi menyalahkan Allah) atas kegagalan kita dalam hidup itu tidak pas.

‘Kan semua sama-sama punya kesempatan untuk melakukan yang terbaik?

12 thoughts on “Kesempatan yang Sama

  1. Setuju 👍😊 Yang Maha Kuasa selalu memberikan kesempatan yang sama, kadang manusia terlalu dibutakan oleh emosi2 negatif (iri, dengki, dsb) sehingga melewatkan semua kesempatan yg ada..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s