Dikontrol Ya, Dikontrol!


Kita semua punya pengalaman memalukan, dan sebagian di antaranya disebabkan oleh kecerobohan.

Kecerobohan dalam mengumpulkan informasi, menganalisis fakta, membandingkan pilihan-pilihan, dan…mengontrol salah satu lubang dalam tubuh kita. Lubang belakang. Maaf kalau saya jorok, tapi kali ini mari kita sedikit acak dengan membicarakan kegagalan dalam memenej kapan dan di mana sebaiknya kita kentut. Sesuatu yang remeh, tapi minimal sekali seumur hidup kita pernah kecolongan.*

Baca juga:
Masruhin & Teman-teman Kambingnya
Kasur di Rumah Saya

Saya menulis sesuatu yang nggak penting di sini, mungkin juga menjijikkan dan unfaedah. Gunakan saja istilah yang paling buruk. Tapi saya yakin, pengalaman paling remeh sekalipun, jika meninggalkan kenangan buruk dalam hidup kita, karena membuat kita malu misalnya, bisa menjadi sumber masalah. Kecuali kita bisa melupakannya, alias move on darinya.

not-hear-1760750_960_720
Sumber foto: pixabay.com

Saya pernah membaca pengalaman seorang pria yang menunggu jadwal keberangkatan pesawat di sebuah boarding room yang penuh dengan penumpang lainnya. Pria itu duduk dengan rileks sambil mendengarkan musik melalui headset yang tersambung ke handphone-nya. Nggak ada yang memedulikannya, termasuk gadis-gadis kuliahan dan rombongan biarawati yang duduk di dekatnya.

Mungkin karena capai bercanda atau kehabisan bahan obrolan, orang-orang seisi ruangan itu mulai diam. Untuk pertama kalinya setelah lebih dari setengah jam, nggak terdengar sedikit pun suara di sana. Kesunyian menguasai tempat itu. Lalu, di tengah kebosanan para penumpang menunggu jam keberangkatan dan situasi boarding room yang hening, sebuah suara terdengar dari pria tersebut, “Pruuut … prut!”

Mungkin karena lupa memakai headset, pria itu enteng menghempaskan kentutnya. Di waktu yang benar-benar tepat. “Ramai ini, nggak bakal ada yang denger kalau Gue kentut.” Mungkin begitu batinnya.

Tawa gadis-gadis meledak saat tahu asal suara itu, yang sama sekali nggak menunjukkan wajah berdosa. Sebagian dari mereka lalu menutup hidungnya dengan tangan, sementara sebagian yang lain masih melanjutkan tawanya. Para biarawati tersenyum malu-malu. Salah seorang yang duduk paling dekat dengan pria tersebut bangkit dan menjauh, sambil setengah mati menahan tawa.

Saya nggak tahu cerita itu fakta atau fiksi belaka. Tapi pertama kali membacanya, saya geli sendiri. Dan kebetulan, saya juga punya cerita yang mirip. Masih seputar kentut. Bedanya, cerita tersebut terjadi di dunia nyata, persis di depan mata saya.

Sekitar sepuluh tahun lalu, dalam perjalanan ke kampus di dalam angkot, saya melihat dua ibu-ibu penjual sayur duduk berdampingan. Badan mereka gemuk, bawaan mereka banyak. Saat itu, kursi di dalam angkot sudah penuh. Sedikit ruang tersisa di antara dua penjual sayur itu, yang kemudian diisi seorang mahasiswa perempuan yang kebetulan juga bertubuh kekar. Maksud saya … lebar.

Ibu-ibu penjual sayur itu terus berbincang, tanpa jeda, bahkan setelah ada penumpang duduk di antara keduanya. Tentang daging ayam yang semakin mahal dan kebiasaan buruk suami masing-masing. Kadang dalam bahasa Jawa, sesekali Madura. Ketika angkot sampai di depan sebuah kampus, mahasiswi tadi berniat turun. Tapi, karena ada di antara ibu-ibu berbadan gemuk dan ia sendiri juga gemuk, ia kesulitan berdiri.

Segera setelah bersantun-santun permisi dan ibu-ibu penjual sayur itu mengangkat dagangannya, mahasiswi tersebut berhasil bangkit. Dan saat berdiri dengan punggung merunduk itulah, persis ketika pantat lebarnya ada di depan wajah dua penjual sayur tadi, sebuah suara sumbang terdengar, “Pret!” Dua penjual sayur itu berpandangan, seakan nggak percaya apa yang baru saja mereka dengar.

Sang mahasiswi berjas almamater itu buru-buru melempar uang ribuan ke arah sopir, dan tanpa sempat meminta maaf langsung kabur sambil berpura-pura menerima telepon.

Tentu saja kentut sialan itu membuat wajah ibu-ibu penjual sayur merah padam, entah malu karena seumur-umur baru kali itu dikentuti anak muda kurang ajar atau kandungan amoniak dalam kentut mahasiswi tadi sudah kadung bereaksi. Yang pasti, seisi angkot pelan-pelan berani membebaskan tawanya, termasuk saya, meski sambil menutup hidung dan melempar pandang ke jalanan.

“Woo, mudun ninggal entut!”** kata salah seorang penjual sayur, marah.

Perut saya mulas ketika turun dari angkot itu, karena menahan tawa yang terlanjur meledak. Penumpang lain yang ternyata sekampus dengan saya, seorang gadis berjilbab lebar dan berwajah manis ala-ala aktivis KAMMI, sampai memegangi perutnya. Kalau bukan karena takut telat, pasti saya sudah mengajaknya ke kantin dan menemaninya tertawa, sebelum kemudian kenalan dan meminta nomor handphone-nya.

Nggak, nggak ada mutiara hikmah atau pesan moral dari dua cerita di atas. Saya hanya ingin kita membaca sebuah cerita betapa kentut, makhluk Tuhan yang sering dicaci dan dianggap hina itu, bisa sedemikian lantang menyuarakan kejujuran, atau kebenaran. tentang keadaan seseorang yang sesungguhnya. Sesuatu yang kadang nggak sanggup disuarakan oleh lubang kita yang lain: mulut.

Bayangkan kalau mulut juga mengenal situasi ketika ia nggak bisa mengeluarkan suara kecuali kejujuran atau kebenaran, saya yakin tugas KPK akan berlipat-lipat lebih ringan. Nggak perlu ada penyadapan dan pengintaian. Maling berdasi tinggal ditanya satu persatu. Hemat waktu, hemat biaya. “Papa minta saham” nggak akan bisa berkelit, mangkir dari panggilan KPK sambil memakai alat bantu pernafasan pun percuma.

* Saya sih lebih dari sekali, tapi nggak bakalan saya ceritakan di sini. Malu 🙂
** “Woo, turun ninggal kentut!”

3 thoughts on “Dikontrol Ya, Dikontrol!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s