Hanya Bisa Berharap


Ini adalah kali kedua istri saya memberitahu kalau isi perutnya seperti ada yang menendang-nendang.

“Dug … dug … dug,” katanya, melalui pesan Watsapp. Mungkin si adek mengajak main, mungkin juga mengajak shalawatan.

Saya pernah merindukan seseorang yang tak pernah saya temui sebelumnya. Pertama, kakek saya, dan kedua, istri saya. Buah hati saya ini sepertinya menjadi yang ketiga.

Baca juga: Untuk Anakku (1)

Kakek saya meninggal sekitar lima belas tahun sebelum saya lahir. Kata Bapak, kakek saya galaknya bukan main, tidak kalah dengan komandan koramil yang kumisnya seperti sikat sepatu itu. Tapi, beliau juga baik. Puluhan anak pernah ditampung di rumahnya yang mungil, diberi makan, dan diajari mengaji.

Istri saya, sebelum saya kenal dan kami sepakat hidup bersama, adalah orang yang saya rindukan di dalam doa-doa. Saya tidak pernah bermimpi memiliki teman hidup secantik Raisa atau Dian Sastro. Saya tahu diri, bahkan saat bermimpi pun saya tahu diri. Dan ketika doa saya terkabul, istri saya memang bukan Raisa atau Dian Sastro.*

Nah, anak dalam kandungan istri saya adalah orang ketiga yang, meski belum pernah saya jumpai juga, sudah saya rindukan kehadirannya. Minggu-minggu ini saya sering membayangkan bermain-main dengannya, membacakan buku cerita, atau mengajarinya mengaji dan shalawatan.

***

Saya bersyukur, sejauh ini si kecil baik-baik saja. Ibunya juga sama, tidak mual-mual lagi atau, seperti umumnya ibu hamil, ngidam sesuatu yang sulit dicari. Emosinya juga lebih stabil, malah sudah tidak sabar ingin melakukan ini dan itu. Mungkin boring kalau tiap hari berdiam diri terus.

Eh, ada ding keinginan istri saya yang susah dicari. Tapi, karena saking susahnya didapatkan, dia mafhum. Atau lebih tepatnya, pasrah.

Beberapa waktu lalu dia bilang ingin tojin. Katanya, itu semacam makaroni dengan bumbu khas Mesir. Sebabnya, setelah seharian buka-buka Instagram, dia melihat temannya mem-posting foto makanan yang seumur-umur belum pernah saya lihat itu. Seperti baru dapat wangsit, istri saya langsung terinspirasi.

Baca juga: Untuk Anakku (2)

Saya sih belum mencari di restoran Mesir atau Timur Tengah di sekitar Depok dan Jakarta. Tapi katanya, tojin ini jajanan kaki lima di negeri asalnya sana. Kalau di sini mungkin cilok atau gorengan. Tapi, karena istri saya maunya tojin dan bukan cilok atau gorengan, ya saya tidak mungkin membelikannya cilok atau gorengan.

Disetrap saya nanti …

***

Sampai hari ini, kami belum sepakat dengan nama anak pertama kami. Istri saya sudah dapat sebetulnya, dan saya setuju, sebelum kemudian dia mengganti satu huruf yang paling akhir. Dari Sofie menjadi Sofia. Satu huruf sih, dan maknanya tidak berubah gara-gara huruf itu. Tapi, itu sukses membuat saya berpikir ulang.

By the way, itu nama cewek. Kalau nama cowok, kami belum nemu. Saya sendiri masih galau. Kadang suka nama Abdurrahman, besoknya ingin Muhammad, lain waktu ingat Ibrahim. Saya tidak mempertimbangkan nama Jawa, seperti Soesilo, Soewito, apalagi Bambang dan Joko. Terlalu “biasa” rasanya, di samping terkesan kuno.

Kalau kami jadi memberi nama Sofie (bukan Sofia), yang berarti anak kami perempuan, mungkin buku kedua yang akan dia baca setelah Al-Quran adalah Sofies Verden, atau Dunia Sofie, karya Jostein Gaarder. Sebuah novel filsafat yang tebalnya mungkin sama dengan bantal saya yang penuh gambar pulau itu. ‘Kan namanya sama.

Baca juga: Life, So Far

Berharap masih boleh, ‘kan? Belum ada tagar untuk memboikotnya, ‘kan? Hehe, ya kalau ternyata dia lebih suka cergam tidak apa-apa, masak mau dipaksa? Lagipula, anak-anak zaman now mana ada yang suka buku filsafat? Saya sendiri sebenarnya juga malas membaca. Dunia Sofie saja sampai sekarang masih jadi pajangan di rak buku.

***

Saya kira, sembilan bulan itu akan lama, ternyata saya keliru. Rasanya baru kemarin istri saya antarkan ke klinik untuk cek kehamilan, sekarang sudah lima bulan saja usia kandungannya. Ada waktu empat bulan bagi kami untuk mempersiapkan segalanya. Bukan waktu yang lama, tapi semoga saja cukup.

Mungkin kalau anak kami sudah lahir nanti, waktu juga berjalan cepat, ya? Selama ini, saya melihat ketakjuban itu di wajah kakak-kakak saya saat mereka memperhatikan anak-anaknya. Tahu-tahu sudah lulus SD, tahu-tahu sudah pakai abu-abu-putih, tahu-tahu sudah jadi PNS. Hihi, time flies …

Apa pun itu, semoga semua yang terjadi dalam hidup kita adalah yang terbaik yang Allah berikan untuk kita. Dan, semoga kita senantiasa ingat hal itu. Mau bagaimana lagi, Dia yang punya hidup. Kalau tidak terima, kita bisa apa? Wong makan pakai nasi dan Boncabe saja sudah alhamdulillah.

Eh, kapan-kapan kita sambung lagi ya ceritanya. Mau menikmati hujan dulu. Sayang kalau tidak sambil makan Indomie goreng.

* Tuhan mungkin memang cepat mengabulkan impian yang nggak muluk-muluk seperti ini.

14 thoughts on “Hanya Bisa Berharap

  1. Wah… selamat ya mas.. 😀 makasih udh berbagi kisahnya sebagai suami yang istrinya lagi hamil. Saya juga nih lg belajar jd suami yg siap siaga krn istri jg lagi mengandung anak pertama.. hehe 😀 salam kenal.. 😀 silahkan follow and visit blog saya jg mas… hehe 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s