Harapan Itu Kata Kerja


“Jika bukan karena luasnya harapan, alangkah sempit hidup kita.”

Begitu ungkapan yang saya baca di sebuah selebaran yang saya temukan di kamar pondok, sekitar 15 tahun yang lalu. Sampai saat ini, ungkapan itu masih saya ingat.

Kadang saya tulis di media sosial, kadang saya tambahkan dalam naskah yang sedang saya sunting. Sayangnya, saya gak ingat siapa orang yang pertama mengungkapkannya.

Baca juga:
Sama-sama Punya Kesempatan
Kita Tak Pernah Sendiri

Harapan mungkin satu di antara sedikit tema abadi yang terus dibincangkan dan ditulis oleh manusia, selain cinta. Dari anak-anak sampai kakek-kakek, dari penyair sampai akademisi.

Bukan sesuatu yang aneh, karenanya gak usah dipersoalkan. Sebab siapa pun, di mana pun, dan kapan pun, pasti pernah punya yang namanya harapan. Harapan tentang sesuatu yang sederhana, mungkin juga sesuatu yang besar.

Sementara ada yang berkata bahwa harapan adalah sumber kekecewaan, saya justru berpikir sebaliknya: tanpa harapan, kita gak akan pernah mengecap kebahagiaan.

Andai gak pernah berharap, manusia mungkin gak pernah keluar dari gua tempat tinggalnya di zaman purba. Karena harapanlah hidup kita menjadi lebih mudah, seperti sekarang. Bukankah kemerdekaan Indonesia juga bermula dari sebuah harapan?

drummer-2634193_960_720
Sumber foto: pixabay.com

Saya pernah menonton sebuah film hasil adaptasi novel karya Alexandre Dumas, The Count of Monte Cristo. Sebuah drama petualangan seorang pelaut muda yang dikhianati sahabatnya sendiri hingga dijebloskan ke dalam penjara di sebuah pulau yang terpencil.

Jika bukan karena seorang pendeta yang terus menyemangatinya, pelaut muda itu mungkin sudah membusuk di sana. Petuah sang pendeta membuat lakon dalam film tersebut bangkit dari keterpurukannya.

Meski terkurung di dalam penjara bawah tanah tapi harapannya untuk terus hidup dan pulang ke dunianya yang telah direnggut membuatnya sanggup bertahan. Berkat pertolongan sang pendeta juga, ia akhirnya berhasil mewujudkan harapannya.

Gak semua harapan bisa kita wujudkan. Sayangnya, kita khawatir menelan kegagalan yang sama, lalu memilih gak berharap sama sekali. Atau, kita berani berharap tapi terlalu berhati-hati, sehingga lambat mengambil tindakan.

Kekecewaan di masa lalu membuat kita lupa dengan apa yang bisa ditawarkan oleh masa depan, termasuk kebahagiaan di dalamnya.

Soal cinta saya rasa gak berbeda. Ada baiknya jika punya kenangan buruk tentangnya kita mulai membiasakan diri, dalam arti berhenti menganggapnya sebagai sesuatu yang pantas untuk terus diratapi.

Menerimanya sebagai realitas yang harus diikhlaskan, meski gak gampang, bukan cuma bisa menenangkan hati tapi juga memudahkan kita untuk melanjutkan hidup. Move on, kata anak-anak saat ini.

Menurut saya, ungkapan bahwa Allah akan mempertemukan kita dengan orang yang tepat di waktu yang juga tepat gak hanya bermakna bahwa sekarang belum saatnya, tapi ada sesuatu yang masih perlu kita kerjakan. Entah apa.

Yang pasti, itu sesuatu yang besar, yang berkenaan dengan keyakinan, prinsip hidup, kebiasaan, atau mungkin semata-mata waktu. Kita harus betul-betul memperhatikannya, sebab kalau mengerjakannya sambil lalu, bisa sia-sia.

Di sini, harapan menemukan dimensi logisnya. Sebuah kebahagiaan gak akan menjadi nyata hanya dengan diharapkan. Perlu ada sesuatu yang menjembatani antara realitas kita saat ini dengan kebahagiaan yang kita harapkan itu.

Hanya saja, karena gak tahu apa sesuatu itu, kita mungkin bingung memulainya. Yang paling mudah, tentu saja berdoa, sesuatu yang jauh lebih berguna ketimbang hanya membayangkannya.

Orang-orang menyebut ini “ikhtiar memantaskan diri”, sebuah istilah yang muncul dari asumsi bahwa mereka yang belum bertemu jodohnya mungkin disebabkan belum pantas mengemban amanah berumah tangga.

Sebuah asumsi yang kalau gak hati-hati disampaikan malah bisa membuat salah paham.

6 thoughts on “Harapan Itu Kata Kerja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s