Tentang Kita


Kita sama-sama tahu, bahwa keindahan yang kini saling kita kagumi itu pelan-pelan akan memudar. Mata yang bening akan mengeruh, dan kerlingnya yang menggoda akan tampak biasa saja.

Pipi yang merona akan berganti kerut-kerut yang menandakan betapa kita, suatu hari nanti, akan tunduk pada usia. Pada senja yang temaram dan bunyi panggilan yang sayup-sayup terdengar.

Baca juga: Sebuah Ajakan

Akan ada hari kita menghabiskan waktu dengan duduk di teras rumah dan menatap kosong ke jalan raya. Kita mengenang saat pertama bertemu dan menertawakan kebodohan yang pernah kita lakukan.

Seperti siksaan, angin sore mengusap lembut rambutmu yang sudah memutih dan memaksa tanganmu bersedekap untuk menahan dinginnya. Secangkir teh hangat yang kaubuat tak sanggup lagi menghangatkan tubuhmu.

Pernah aku menebak siapa, mengira apakah dia ataukah dia, untuk kemudian kecewa dan putus asa. Tak pernah kusangka, kaulah orangnya. Yang seakan bersembunyi saat aku mencari tapi tiba-tiba berdiri di hadapan saat aku ingin melanjutkan perjalanan.

Allah punya banyak cara untuk membuatku terkesima dengan skenario-Nya yang penuh lubang tapi seakan disengaja.

Image by Pexels from Pixabay

***

Sore itu, kau kembali bercerita tentang janji-janji yang telah kita tepati dan impian yang masih terus menanti. Sementara aku masih mondar-mandir ke masa lalu, demi menyampaikan pesan dari orang-orang yang turut menciptakan duniaku.

Surat-surat cinta masih kauterima dan tumpukan buku masih kueja maknanya. Kita saling menunjukkan sebaris kata, terkesima, bertanya-tanya, dan menertawakannya.

Baca juga: Hari Itu

Kita tak banyak berubah, meski sesekali aku mengeluhkan nyeri punggung yang semakin sering terasa dan kau tak berhenti memijit-mijit kakimu yang ngilu setelah berdiri terlalu lama. Orang lain memang melihat banyak perubahan dalam diri kita, tapi kita sama sekali tak mendapatinya.

Kau tetap cinta yang dulu kutemukan dan aku masih rindu yang mengepungmu di tengah malam.

Kita telah sepakat memulai semua ini, keputusan besar yang belum pernah kita buat sebelumnya. Satu waktu kau bercerita tentang keraguan yang terdengar dari lamunan hatimu, yang entah ke mana perginya saat kausebut namaku.

Aku lega mendengarnya, dan sangat bisa memahaminya. Bagaimanapun aku bukan siapa-siapa di kehidupanmu yang dulu. Kita bertemu semata-mata karena turut campurnya waktu.

***

Aku tak mau berjalan terlalu cepat dan meninggalkanmu, atau terlalu lambat sehingga merepotkanmu. Di jalan yang panjang dan berliku, aku ingin kita terus bersama, beriringan. Agar jika salah satu dari kita lelah, kita bisa saling menghibur dan menopang.

Kau tak perlu khawatir saat hari mulai gelap, atau cemas saat tiba-tiba langit tak kuasa menahan hujan. Aku ingin setia, seperti udara yang mengarak awan menjelajah benua.

Akan ada saat aku mengajakmu terbang ke masa-masa yang telah berlalu. Memperlihatkan padamu malam-malam ketika aku harus berjalan sendiri dan menunjukkan impian-impian masa silam yang, entah kenapa, menjadi nyata setelah aku bertemu denganmu.

Aku ingin selalu membuatmu kagum padaku, dan karena mahkota tak ada harta pun tak punya, semoga sedikit yang kulakukan bisa menyenangkanmu.

Mencintaimu tak perlu berkata-kata, menua bersamamu adalah kesibukanku selanjutnya.

2 thoughts on “Tentang Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s