Mari Berkenalan Kembali


Sampai sekarang saya masih percaya bahwa kewajiban yang mesti kita ketahui sebelum mencari tahu kewajiban-kewajiban yang lain adalah mengenali diri sendiri.

Baca juga:
Topeng-topeng yang Menipu
Tertawa Karena Buta

Mengenali diri sendiri gak melulu tentang bagaimana kita melihat ‘aku’ tapi juga implikasi dari hal itu, yakni bagaimana kita memandang ‘dia’. Bukan, ini bukan tentang setinggi apa orang lain menghormati kita atau seberapa banyak tabungan kita di bank.

Ini tentang kehormatan yang hakiki di sisi Tuhan dan makhluk-Nya, yang menurut agama bertumpu pada iman kita pada-Nya dan perilaku kita terhadap sesama.

Source: pixabay.com

Agama kita menyebut kekayaan, jabatan, kekuasaan, pengaruh di masyarakat, istri, dan bahkan anak sebagai perhiasan. Karena hanya perhiasan maka itu gak akan cukup untuk mendefinisikan apalagi menggantikan jati diri kita.

Semua itu hanyalah asesoris yang suatu saat akan kita tanggalkan dan tinggalkan. Kita adalah kita, dengan tingkat keyakinan pada Tuhan yang gak sama dan perilaku terhadap sesama yang juga berbeda-beda.

Hanya dengan mengenali siapa diri kita, kita bisa menjawab siapa Tuhan kita. Mengenal Tuhan gak mungkin dilakukan dengan memikirkan apalagi membayang-bayangkan-Nya. Dia melampaui rahasia, misteri di atas misteri.

Ada orang yang mati-matian berusaha mengenal Tuhan tapi dilakukan sambil melupakan dirinya sendiri. Ketika merasa sudah menemukan-Nya, ia bangga, tanpa sadar apa yang ia temukan itu gak lebih hanyalah persepsinya tentang Tuhan.

Bukan Tuhan itu sendiri.

Okay, kita bisa membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Kalau saya gak ingin ke kantor sambil nyeker maka sepatu adalah kebutuhan, tapi kalau saya ingin tampak berkelas dengan sepatu model terbaru maka itu adalah keinginan.

Gampang kok membedakan dua barang remeh itu, sambil merem juga bisa.

Benarkah? Bagaimana kalau situasinya seperti ini.

Ketika sedang jalan-jalan di mall kita menemukan toko yang menawarkan diskon bagus. Kita gak tergoda, sampai kita melihat jam tangan Casio terbaru yang beberapa minggu terakhir sering melintas di timeline dan diam-diam membuat kita kepincut.

Nah, saat itulah, beberapa menit setelah kita merasa everything is under control, kebingungan itu terjadi, persis sebuah tsunami di kepala kita. Menguji akal sehat kita dan sering membuatnya gagal membedakan kebutuhan dan keinginan.

Ada yang bilang, justru saat kita merasa aman dari bisikan ego, saat itulah sebenarnya kita benar-benar sedang terancam olehnya.

Man ‘arafa nafsah faqad ‘arafa rabbah, siapa yang mengenali dirinya sendiri maka sungguh ia telah mengenal Tuhannya,” begitu kata Rasulullah. Itu sebabnya, “Ma halaka imru’un ‘arafa qadrah, tak akan binasa orang yang tahu diri,” kata sebuah pepatah.

Mengenali hakikat diri sendiri akan membuat kita tahu hakikat Tuhan kita.

Sebagai hamba, kita hanya bisa pasrah, dan sebagai Tuhan, Dia bebas berkehendak atas diri kita. Apa yang terjadi di kolong langit ini, termasuk kejutan-kejutan kampret dalam hidup kita, semua karena kuasa dan kehendak-Nya.

Jadi, gak perlu menghabiskan waktu meratapi sesuatu yang memang bukan jatah kita atau merasa hebat hanya karena berhasil mewujudkan impian kita.

Kuasa dan kehendaknya memang Dia jelmakan dalam bentuk ikhtiar kita, tapi kita mesti ingat, kalau mau, bisa saja Dia memporakporandakan hidup kita dan bahkan semesta raya ini, bukan hanya impian dan ikhtiar kita. Tuhan mah bebas!

Konsekuensi dari sikap tahu diri ini termasuk gak bertingkah seakan kita ini Tuhan: serba tahu dan gak bisa salah. Selain itu, kita juga mesti menjaga diri agar gak berperilaku seakan-akan kita lebih baik ketimbang diri kita yang sesungguhnya.

Mengapa? Karena kita yang sebenarnya gak seperti itu.

Kalau kita memaksa diri bertingkah seperti orang lain, selamanya kita gak akan bisa menjadi mereka. Kita malah akan menjadi manusia yang menghabiskan umur hanya untuk bergelut dengan sesuatu yang gak pernah selesai: kemunafikan.

Menjadi diri sendiri enggan, menjadi orang lain gak pernah bisa.

Saya rasa, menulis sesuatu di social media dan blog, dalam batas-batas tertentu, juga mengandung kemunafikan. Seperti yang saya lakukan sekarang.

7 thoughts on “Mari Berkenalan Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s