Malam yang Paling Gelap


Ada saatnya usaha yang kita lakukan gak membuahkan hasil apa-apa, dan di tengah situasi yang gak menentu itu kita seperti dipaksa untuk pasrah dan menyerah pada keadaan.

Baca juga:
Kita dan Tuhan Yang Mahaasyik
Sama-sama Punya Kesempatan

Tuhan memang gak bawel dalam menerangkan mau-Nya. Dia diam, atau paling gak irit bicara, tapi maksa. Dan maksa-Nya itu gak bisa ditawar. Kita, yang ingin segala sesuatu sesuai dengan harapan, jadi kecewa, dan gak lama kemudian marah-marah.

“Ini disuruh gimana, sih? Begini salah, begitu salah!”
“Katanya Maha Penolong, ini kok kayak dibiarin gini?!”

Source: pexel.com

Berderet-deret umpatan muncul dari kekurangsabaran kita, yang sering diperparah oleh kemalasan kita untuk kembali mengingat siapa sebenarnya kita dan Dia. Kelakuan kita pun kayak anak-anak playgroup saking absurdnya: ngambek sama Tuhan, mutung. Kayak-kayak kita udah gak butuh lagi sama Dia.

Namanya makhluk, dalam keadaan seperti ini, yang bisa kita lakukan ya hanya menunggu. Mau gak mau, suka gak suka. Kalau belum waktunya, apa pun masalah kita, gak akan selesai, dan apa pun keinginan kita, gak akan kesampaian. Sejak zaman Adam dan Hawa, ‘tulisannya’ udah seperti itu.

Bertahun-tahun kita menunggu, kadang bahkan sampai lupa apa yang selama itu kita tunggu.

Kecewa udah gak terasa, harapan entah ada di mana.

Lalu, ketika penantian kita mulai terlihat tepinya dan apa yang menjadi keinginan kita terpenuhi, kebahagiaan yang kita rasakan gak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Sensasinya luar biasa, melampaui segala ungkapan syukur. Capek gak kita rasakan, omongan orang gak kita pedulikan. Yang keluar dari mulut kita hanya alhamdulillah ….

Menurut saya, ada satu anugerah yang Tuhan berikan pada kita tapi dalam selubung yang sangat menjengkelkan, yang dengannya anugerah itu jadi tersamarkan, sehingga membuat kita kurang bisa bersabar. Kita menyebut anugerah itu: penantian.

Tuhan menurunkan anugerah itu pada orang-orang yang istimewa. Pada Zakaria yang sampai renta menanti seorang anak. Pada Yakub yang sampai buta menanti bertemu Yusuf. Dan pada Muhammad yang sampai dijauhi oleh keluarganya sendiri karena menanti Islam diterima oleh masyarakatnya.

“Jangan biarkan kesulitan membuatmu gelisah, karena bagaimanapun hanya di malam yang paling gelap bintang-bintang bersinar semakin terang,” kata Ali bin Abi Thalib, sepupu Nabi Muhammad yang kemudian ia nikahkan dengan putri kesayangannya, Fatimah.

5 thoughts on “Malam yang Paling Gelap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s