Mimpi Pun Perlu Realistis


Saya yakin teman-teman yang sampai sekarang masih suka melajang (atau jomblo atau single atau sendiri) suatu saat akan resmi melepasnya.

Menikah adalah sesuatu yang baik, dan sesuatu yang baik akan semakin baik kalau disegerakan. Asal niat mereka untuk menikah juga baik, pasti akan ada jalan untuk menemukan jodohnya.

Baca juga:
Kamu Kapan?
Doain Aja!

Entah dengan cara yang standar seperti dikenalin teman (bukan gue banget yang ini *boong ding), atau dramatis seperti serempetan di jalanan sempit, atau klasik seperti dijodohin orangtua padahal sama-sama nggak kenal, atau almost desperate and the only thing they can do is surfing seperti iseng-iseng ikut biro jodoh, atau yang lainnya.

Yang mana pun jalan mereka untuk menemukan jodohnya, itu bukan sesuatu yang memalukan atau membuat mereka ternista. Malah harus disyukuri. Justru kita-kita yang yang masih sendiri, stop membayangkan bertemu jodoh di kereta, perpustakaan, café, masjid, pengajian, atau di tempat yang indah-indah tapi kuecccil kemungkinan terjadi.

Yang masuk akal aja, biarpun nggak romantis babar blas

Source: pexel.com

Boleh kita mengira kehidupan rumah tangga itu penuh hal-hal romantis ala film Korea, dan itu memang nggak mustahil terwujud. Bisalah diusahakan. Hanya, apa yang kita sebut romantis, yang sering kita impi-impikan itu, kadang nyerempet-nyerempet non-sense, sehingga kenyataan yang kemudian kita temui berbeda jauh dari harapan.

Betah-betahin melajang (sengaja saya perhalus, sebab “jomblo” terdengar seperti ledekan) itu nggak enteng. Tuntutan dari diri sendiri ada, tuntutan dari orang lain (emak, bapak, adik, tetangga yang cerewet dan suka nanya-nanya, sampai tukang bikin meme) juga ada. Nggak kalah besar, malah. Apalagi buat para cewek.

Jadi, nggak usah membayangkan yang aneh-aneh. Menyandang status lajang itu udah berat. Masak setelah berhasil melepasnya kita harus menanggung beban lain yang muncul karena rasa kecewa akibat kenyataan yang nggak cocok sama imajinasi kita? Itu seperti lolos dari terkaman singa tapi kemudian ketemu sekawanan serigala.

Teman saya pernah cerita bahwa ia kecewa dengan pasangannya. Banyak hal yang ia persoalkan. Tapi akar masalahnya, menurut saya, bukan terletak pada kekurangan sang pasangan, yang boleh jadi memang prinsipil dan mengganggu kenyamanan teman tersebut, melainkan ekspektasi teman saya itu yang terlalu tinggi.

Kenapa ia punya ekspektasi yang menjulang seperti itu?

Sebab, ia mengira pernikahan adalah klimaks dari harapannya, yang bertabur keindahan tapi sayangnya nggak realistis, alias hanya ada di negeri dongeng. Harapan seperti itu sebenarnya wajar, dan sewajar itu pula kalau ada orang yang kecewa ketika mendapati kehidupan rumah tangganya nggak sesuai harapannya saat masih lajang.

Sebelum menikah kita mudah mencita-citakan sebuah dunia yang sempurna tapi celakanya nggak pernah ada, dengan seorang pasangan sebagai salah satu “makhluk” ciptaan kita. Sebuah dunia di mana kita bebas mengatur apa yang perlu terjadi dan apa yang nggak. Dunia ciptaan kita itu lantas mempengaruhi cara kita melihat dunia nyata.

Kita boleh prihatin, sebab nggak sedikit orang yang punya imajinasi seperti itu. Mereka membangun dunia dengan dinding-dinding yang tebal dan tinggi, yang lama-lama membuat mereka enggan melompatinya dan malah menghapus ingatan tentang kenyataan yang sejak baheula memang nggak sempurna.

Jadi, daripada setelah menikah jantung kita nggak sehat karena terlalu sering mendapat kejutan dari pasangan, mulai porsi makannya yang jumbo sampai posisi tidurnya yang aneh, mending kita cuci muka dan melek sekarang juga. Nggak ada yang selalu bisa membahagiakan kita, apalagi membuat kita merasa paling beruntung di dunia.

Gombalan laki-laki bahwa dia akan selalu membuat kita senang itu ngayal belaka. Waspadalah!

14 thoughts on “Mimpi Pun Perlu Realistis

  1. Iya kak karena nikah itu bukan perkara sehari dua hari, hehe. Kalau belum nikah udah ngebayangin yg indah dulu, yg manis manis dulu ntar giliran udah nikah kagett.. 😂😂,padahal nikah itu ngga semuanya yang indah indah doank looh..

    Like

  2. “Gombalan laki-laki bahwa dia akan selalu membuat kita senang itu ngayal belaka.”

    hmm.. jadi akan aku timbang 1000x kalau nanti ada bujang yang ngegombal gitu..😂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s