Tuhan Yang Mahaasyik

Kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Source: pexel.com

Saya kadang menebak-nebak bagaimana rupa saya 20 atau 30 tahun lagi, seandainya masih diberi umur panjang sama Tuhan. Rutinitas apa yang saya gemari di usia itu, masakan apa yang sering istri saya siapkan untuk keluarga, dan cerita apa yang sering diulang-ulang oleh anak saya setiap kali kami berbincang di meja makan.

Baca juga:
Bermimpi Pun Perlu Realistis
Mari Berkenalan Kembali

Membayangkan masa depan bisa sangat menyenangkan, selama optimisme kita terhadapnya gak dirusak oleh keraguan dan prasangka buruk terhadap Tuhan. Buang jauh-jauh pertanyaan seperti ini, “Kok kayaknya sulit ya saya dan istri bisa saling percaya?” atau “Jangan-jangan pas sudah pensiun nanti gak ada yang mau merawat saya?”

Keraguan dan prasangka lebih dari cukup untuk mengacaukan hari kita saat ini dan membuat hari esok seakan-akan pantas untuk kita takuti, dan kalau bisa kita hindari. Alhasil, kita gak bisa menikmati apa yang kita miliki sekarang dan gak bisa get into sama kegiatan kita sekarang, sebab waktu kita sudah habis untuk mencemaskan apa yang akan datang.

Ragu-ragu dengan masa depan itu tanda bahwa kita belum sepenuhnya beriman pada Tuhan. Kita boleh mengaku bertuhan dan mungkin dikenal tetangga rajin menjalankan kewajiban agama, tapi selama sikap mental dan aktivitas fisik kita menunjukkan sebaliknya maka baik pengakuan maupun perilaku kita itu gak lebih dari omong kosong yang gak ada gunanya.

Bukankah berkali-kali Tuhan menyatakan bahwa Dia yang menghidupkan kita, menuliskan takdir baik dan buruk kita, serta menjamin semua kebutuhan hidup kita, baik hari ini maupun di masa depan? Ulat daun pisang saja bisa gemuk ginuk-ginuk lho gara-gara kelimpahan banyak makanan, kok kita sampai segitunya ketakutan gak bisa cari penghidupan?

Kemudian prasangka buruk. Selain merupakan perbuatan yang rendah, prasangka buruk juga bukti bahwa orang yang menyimpannya gak cukup pandai dalam merayakan hidupnya. Yang seharusnya dibikin hepi, eh malah diisi benci. Orang yang pandai akan selalu berbaik sangka pada Tuhan, sebab sejak lahir sampai detik ini, Dialah yang memenuhi kebutuhannya

Kita perlu ingat, bukan usaha kita yang membuat kita survive sampai di titik ini. Bukan kerja keras kita yang menjadikan kita sehebat sekarang. Buang jauh-jauh kegeeran yang lebay itu. Semua ini gak lain karena kasih sayang Tuhan. Kita ini, persis seperti dibilang Megatron (random ya, Mas?), hanyalah makhluk lemah dan menjijikkan, yang bisanya paling hanya meminta belas kasihan-Nya.

Kita bisa pup sebelum berangkat kerja, bisa telepon istri yang lagi ada di kampung, bisa menyantap bekal untuk makan siang (meski cuma sisa nasi goreng tadi pagi), dan bisa menerima gaji di tanggal yang seharusnya, itu semua karena kasih sayang Tuhan. Bahkan kalau nanti masuk surga (amin!), itu bukan karena amal baik kita di dunia tapi kasih sayang yang Allah curahkan pada kita.

Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi Muhammad saw bersabda, “Amal baik tak akan bisa menyelamatkan siapa pun di antara kalian.” Seorang sahabat lantas bertanya, “Apa termasuk dirimu, ya Rasulallah?” “Ya,” jawab beliau, “hanya saja Allah akan mencurahkan kasih sayang-Nya padaku.”

Sekhusyuk apa sih shalat kita sampai merasa layak dibangunkan istana di surga? Sebanyak apa sedekah kita kok berani-beraninya merasa pantas menjadi penghuni surga bahkan setengah “mewajibkan” Tuhan agar memasukkan kita ke dalamnya? Shalat masih suka telat, sedekah masih kecampuran riya’, sedikit-sedikit masih membicarakan kekurangan orang lain, sudah belagu!

Kok jadi marah-marah, ya?

Begini, begini. Masa depan memang sebuah tanda tanya besar. Dan benar, kita gak perlu cemas dengan apa pun yang akan kita temui (ada Tuhan ini!), cukup pikirkan bagaimana mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Jangan lupa, Tuhan sudah mengatur semuanya, termasuk sesuatu yang menurut kita berat dan sulit. Yakin deh, wong Dia sendiri yang janji sama kita.

Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus’ahaa, Allah tak akan membebankan suatu hal (ujian, kewajiban) kecuali orang yang mengembannya pasti sanggup mengatasinya.”

Di sini lho asyiknya Tuhan itu. Dia gak mau kita jadi makhluk cemen yang gampang remuk dan sedikit-sedikit mengiba pada orang, jadi Dia melatih kita agar kuat dan bisa berdiri di atas kaki sendiri. Tapi, Dia juga gak mentang-mentang Tuhan lalu bertindak semena-mena dengan menimpakan ujian yang gak sanggup kita pikul. Dia memberi kita jatah ujian yang pas.

Gak terlalu gampang, agar kita gak petentang-petenteng karena merasa bisa mengatasi ujian-Nya dengan mudah, tapi gak sampai bikin semaput apalagi dirawat inap gara-gara menanggung beban hidup yang terlalu berat. Ya kalau cuma ngos-ngosan, sport jantung, mewek, dan nabrak-nabrak sih mungkin menurut Tuhan itu masih wajar.

So, Guys, stop worrying what will happen in the future. Let’s start enjoying what we have now while preparing for the next. God is always with us. I love you! *eh

4 thoughts on “Tuhan Yang Mahaasyik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s