Menyederhanakan Kebahagiaan

Saya gak pernah mengira kalau kebahagiaan itu bisa datang tiba-tiba karena sesuatu yang sepele. Sampai saya menikah.

Source: pexel.com

Bagi sebagian orang, untuk bahagia kita harus mengeluarkan banyak uang. Semua orang boleh sih menentukan standar kebahagiaannya sendiri, dan berhubung saya orang kampung yang dididik ala kampung, maka standar kebahagiaan saya ya sama dengan standar kebahagiaannya orang kampung.

Bisa makan nasi sama penyetan tempe itu sudah alhamdulillah.

Teman-teman saya banyak yang suka traveling, dan bagi mereka, kebahagiaan bisa didapat dengannya. Saya sebenarnya juga suka, tapi karena traveling itu butuh persiapan (duit, maksudnya), jadi saya travelingnya gak bisa sering-sering. Dan sekalinya traveling, paling-paling ke Jogja, ke kediaman mertua tercinta buat nengokin istri yang lagi numpang tidur di sana.

Hehe, maklum sebentar lagi lahiran, jadi harus cari teman.

Dulu waktu masih sendiri, saya tahunya kebahagiaan itu ada di tempat-tempat yang asyik. Seenggaknya kafe, bioskop, atau pusat-pusat keramaian yang lain. Kumpul bareng keluarga yang katanya sumber kebahagiaan paling murah, bagi saya yang entah gara-gara apa kerasan di Depok, jelas mahal, sebab saya butuh waktu, tenaga, dan biaya untuk menemui mereka di Malang.

Setelah menikah, saya harus berpikir berkali-kali kalau ingin merasakan kebahagiaan-kebahagiaan di atas. Kadang karena urusan dapur malah lupa sama semua itu. Yang penting gak ngrepotin orangtua dan istri gak kesusahan sudah cukup. Kalau ingat tentang kebahagiaan, paling-paling itu adalah sebungkus Soto Surabaya yang saya beli di dekat kantor.

Buat dimakan sama istri.

Sebelum saya menyimaknya mendaras kitab suci.

Sebelum dia cerita tentang obrolannya hari itu dengan sang ibu.

Sebelum dia rebah di pangkuan saya sambil mengomentari alur cerita sebuah film.

Saya bukan orang yang pandai bersyukur kalau merasa bisa menghitung anugerah yang sudah Allah berikan pada saya. Anugerah-Nya gak terhingga, dan di antara anugerah-anugerah yang Dia turunkan pada saya belakangan ini, justru anugerah yang saya kira sepele, karena saking istiqamahnya Allah memberikannya pada saya, yang paling membahagiakan.

Saya gak pernah mengira kalau kebahagiaan itu bisa datang tiba-tiba karena sesuatu yang sepele. Sampai saya menikah, dengan istri saya sekarang.

12 thoughts on “Menyederhanakan Kebahagiaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s