Terancam Bahagia


Kita terlahir untuk bahagia. Hal-hal kecil yang ada di sekeliling kita, yang untuk mendapatkannya gak perlu keluar banyak duit atau tenaga, bisa membuat kita bahagia. Ya, ya, mungkin itu ada benarnya.

Source: pexel.com

Saya katakan mungkin, sebab seperti segambreng urusan lain dalam hidup, apa yang sederhana menurut orang lain terkadang gak sesederhana yang mereka bilang. Orang berkata apa biasanya memang punya maksud tertentu. Ya entah apa …

Baca juga:
Harapan Itu Sebuah Kata Kerja
Khawatir Ini, Khawatir Itu

Bukan saya tidak setuju dengan pendapat tersebut. Hanya menurut saya, membincangkan dari mana kebahagiaan berasal rasa-rasanya lebih mudah dipahami ketimbang menerangkan sudut pandang yang tepat untuk melihatnya.

Kita tahu, kebahagiaan bersumber dari hati, bukan dari pekerjaan, popularitas, istri yang cantik, pengakuan orang lain, atau properti yang kita miliki. Itu semua memang bisa memantik kebahagiaan. Tapi memantik ya, bukan menciptakan.

Artinya, potensi kebahagiaan sebenarnya sudah ada di dalam hati sejak kita lahir ke dunia ini. Pada beberapa orang ia muncul setelah terpantik oleh sesuatu yang datang dari luar, pada beberapa orang yang lain ia bisa muncul kapan saja.

Orang yang bahagia hanya setelah berhasil mendapatkan sesuatu, karier yang bagus misalnya, menggantungkan kebahagiaannya pada sesuatu yang ada di luar dirinya. Sesuatu yang gak selalu ada dalam jangkauannya.

Sementara orang jenis kedua, yang kebahagiaannya bisa muncul kapan saja, menerima sepenuh hati apa yang ia dapatkan. Kebahagiaannya gak muncul dari tuntutan-tuntutan melainkan kerelaan pada apa pun yang ia dapatkan.

Karena mengandalkan sesuatu yang ada di luar jangkauannya maka kebahagiaan orang tipe pertama lebih sulit didapatkan. Ia harus berurusan dengan rencana, target, deadline, dan segala tetek-bengek yang bisa-bisa membuatnya stres.

Sementara orang tipe kedua, meski bukan berarti gak perlu ngapa-ngapain karena toh kebahagiaan mudah ia miliki, minimal ia gak butuh apa pun untuk bahagia selain kesediaan hatinya untuk ikhlas.

Itu sebabnya, orang-orang yang telah mengenal Tuhannya (‘aarifiin) adalah manusia-manusia yang paling bahagia di dunia. Sebab, dalam berdoa saja gak ada yang mereka minta kecuali apa yang Tuhan kehendaki untuk mereka.

Entah kemasyhuran, keluasan ilmu, harta yang berlimpah, penyakit yang menahun, kemiskinan yang sangat, atau kesepian yang mendera. Mereka yang kebahagiaan sejati telah bersemayam di hatinya, mau dikasih ‘kemudahan’ atau ‘kesulitan’, sama saja.

Orang yang telah mengenal Tuhannya “tak menginginkan apa pun kecuali apa yang dikehendaki oleh Tuhannya, dan tak mengharapkan apa pun kecuali apa yang diputuskan oleh Tuhannya untuknya”. (Iyqadzul Himam, Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajibah, h. 179)

Bagi mereka, warna-warna gak ada bedanya. Hijau atau merah, terang atau gelap, sama saja. Bukan karena mata mereka katarak, tapi justru karena mereka mampu melihat keindahan yang ada di balik warna-warna itu.

“Dan apabila aku menulis sajak,” kata Rendra dalam Hai, Ma!, “aku juga merasa bahwa kemarin dan esok adalah hari ini. Bencana dan keberuntungan sama saja. Langit di luar, langit di badan bersatu dalam jiwa.”

Udah waktunya laper, nih. Makan siang dulu, yuks! 🙂

6 thoughts on “Terancam Bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s