Merdeka untuk Bahagia


Hanya dengan bermain, anak-anak bisa menemukan kebahagiaan.

Source: pexel.com

Cuma ketika masuk usia dewasa, ada dua jalan yang membuat mereka harus memilih salah satunya: pertama, jalan yang mudah, atau kedua, jalan yang sulit. Siapa pun diri mereka sekarang, mereka adalah bagian dari salah satu dari kedua jalan itu.

Baca juga:
Terancam Bahagia
Menyederhanakan Kebahagiaan

Sejak itu, mereka yang saat anak-anak bisa bahagia dengan cara yang sama, menjadi berbeda. Ada yang bisa bahagia hanya dengan sesuatu yang kecil, seperti menikmati pisang rebus, ada juga yang terobsesi dengan sesuatu yang besar, seperti menjadi presiden.

Hihi, gak, saya gak akan bahas pulitik …

Orang bijak berkata bahwa kebahagiaan gak memberi kualifikasi terhadap apa pun yang datang dari luar diri kita. Mau dagangan sepi, mau hidup kebanjiran hoax, bahkan mau Indonesia bubar bulan depan, kebahagiaan tetap bisa kita dapatkan.

Caranya gak rumit, tapi gak gampang dikerjakan: qana’ah sama apa pun yang Allah berikan. Merasa cukup, dan gak mempermasalahkan apa dan berapa rezeki yang kita terima. Qana’ah adalah hulu dari sikap sabar, syukur, dan beragam sikap mulia lainnya.

Orang yang qana’ah punya hidup yang tenang, karena gak pengin ini dan itu: ada iklan Tupperware pengin beli, ada promo IPhone terbaru pengin order. Dia mungkin gak punya uang banyak, tapi dia memang gak merasa ingin membeli barang banyak.

Orang-orang dengan sikap qana’ah juga gak gampang ‘kerasukan’ syaithon. Syaithon di sini bukan makhluk turunannya iblis yang durjana itu, tapi bisikan-bisikan lembut yang biasanya mengajak kita melakukan perbuatan-perbuatan rendah.

Seperti iri, hasud (girang kalau temannya ada masalah, bete kalau temannya lagi hepi), namimah (manas-manasin orang lain biar melakukan sesuatu yang menguntungkan dirinya). Contohnya seperti di bawah ini, bayangin sendiri situasinya ya 🙂

“Alah, motor kredit aja dibangga-banggain!”
“Mentang-mentang cantik Ig-nya muka dia mulu!”
“Tas baru, ya? Gue tahu itu harganya …”

***

Sikap qana’ah membuat kita elegan, baik di hadapan Allah, lebih-lebih di hadapan manusia. Kita boleh pakai baju seadanya, tapi kalau pembawaan kita memang elegan, orang lain akan segan, hormat, memuliakan, di samping juga senang bergaul sama kita.

Untuk terlihat elegan kita bisa mengenakan baju yang mahal, tapi sebagaimana baju pada umumnya yang bisa koyak dan pudar warnanya, pada saatnya baju itu, semahal apa pun, akan kita tanggalkan. Kesan elegan yang dibuat-buat (fabricated) suatu saat akan pudar.*

Ini beda sama elegan yang lahir dari sikap qana’ah, atau merasa cukup dengan jatah Yang Mahakuasa. Kalau jerih payah kita mendatangkan rezeki yang melimpah, kita gak takabur, dan kalau sebaliknya, kita gak tamak apalagi meminta-minta.

Nah, qana’ah juga membantu kita untuk memusatkan harapan pada Allah Ta’ala, sehingga kita gak ngarep-ngarep sama makhluk. Orang yang sudah ‘putus asa’ mengharapkan uluran tangan makhluk sejatinya adalah orang yang merdeka.

“Barangsiapa yang menghamba pada Allah Ta’ala,” kata Syaikh Ibnu ‘Ajibah, “maka dia merdeka dari sesamanya.” ‘Sesamanya’ di sini bukan hanya sesama manusia tapi juga makhluk lainnya, ya termasuk apa yang dia harap-harapkan itu.

Mengharap-harapkan sesuatu meniscayakan cinta dan ketundukan, yang karena keduanya kita akan bersedia melakukan apa saja, demi mendapatkannya. Dan bukan barang baru kalau yang namanya cinta itu membuat kita buta dan tuli.

“Al-‘abdu hurrun maa qana’, wal hurru ‘abdun maa thama’ (Seorang hamba itu merdeka selama ia qana’ah, dan seorang yang merdeka itu hamba selama ia tamak).” (Iyqazhul Himam, h. 140)

***

Kita semua mungkin masih belajar untuk qana’ah, dan sampai sekarang masih belum bisa melakukannya dengan baik. Paham artinya mungkin sudah, tapi siap dengan segala konsekuensinya nanti dulu. Jangankan siap, insentif berkurang saja kepikiran terus.

Hihihi …

Semua memang mending disyukuri. Saya sendiri alhamdulillah bisa beraktivitas seperti biasanya, meski belakangan mondar-mandir Jakarta-Jogja. Istri makin sehat setelah melahirkan dan anak saya sudah pup buaaanyak setelah empat hari gak pup sama sekali 😀

Ya Allah, maafkan saya masih sering kurang ajar. Merengek-rengek minta ini dan itu, giliran dikasih lupa berterima kasih. Ingat hanya ketika ada perlu, mencari cuma kalau sedang butuh. Maaf sekali lagi, sebab memperlakukan Sampeyan seperti gunting kuku.

Ya wis lah, moga-moga kita dibantu oleh Allah agar bisa qana’ah. Apalah kita ini, sok mau mengandalkan ikhtiar sendiri, kayak bisa jamin saja semua bakal sesuai harapan.


*Ada sebuah syair di buku Iyqazhul Himam (h. 141) karya Syaikh Ibnu ‘Ajibah, tapi saya kesulitan menerjemahkannya dengan baik. Jadi, saya terjemahkan apa adanya saja ya.

Aku mengartikan qana’ah pangkal kekayaan
Jadi, aku tak merasa butuh dengan selebihnya
Kemuliaannya memberiku pakaian yang indah
Yang tak akan koyak seiring berlalunya masa
Aku kaya meski tak punya sepeser pun harta
Bangga di depan manusia laksana seorang raja

One thought on “Merdeka untuk Bahagia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s