Untuk Anakku (2)


Assalamualaikum, Nak. Apa kabar? Terima kasih sudah meluangkan waktu, dan maaf kalau aku mengganggu istirahatmu. Aku janji, ini tak akan lama. Kau mungkin sudah sampai di baris terakhir surat ini sebelum terpikir untuk beranjak dari tempat dudukmu.

Photo by Zach Damberger on Pexels.com

Sebelumnya, aku ingin sampaikan salam dari ibumu. Alhamdulillah, kami di rumah baik-baik saja. Semua sehat. Minggu lalu ibumu malah baru mendapat arisan di kelompok mengajinya. Keberuntungan yang aneh, sebab ia tak pernah terlihat mengharapkannya.

Apa kabar guru-gurumu? Semoga Allah selalu menjaga dan mencukupi kebutuhan mereka. Tolong sampaikan permintaan maafku. Sudah beberapa bulan ini aku belum juga menemukan waktu untuk mengunjungi mereka.

Akhir pekan kemarin sebenarnya ingin kami habiskan di Malang, setelah terlebih dulu singgah di Jogja. Meski tak bisa lama, kami ingin menemui guru-gurumu dan melihat keadaanmu. Sayangnya, rencana itu harus kami batalkan, karena suatu alasan.

Aku tak perlu menjelaskan. Kau sudah tahu, bukan?

Ada banyak yang ingin kulakukan di Malang. Terutama menjumpai teman-teman seperjuangan dulu. Sudah belasan tahun kami tak pernah bersua.

Hampir setiap hari aku ingat mereka. Orang-orang yang ada tak hanya saat aku senang tapi juga saat kesusahan. Aku tak sedang meromantisasi, sebab tentu saja mereka selalu ada, karena kami tinggal di tempat yang sama.

Satu kamar, satu kelas mengaji, satu kelas sekolah, satu kamar mandi. Satu tempat untuk semua. Dua puluh empat jam sehari, tiga tahun lamanya.

Sering saat membuka-buka catatan masa lalu, aku menemukan kenangan tentang mereka. Tentang satu atau dua nama yang membuatku tertegun, tersenyum, kadang juga menitikkan air mata.

Bagaimana kabar mereka sekarang?

***

Aku ingat, pernah saat mengaji aku marah pada teman-temanku.

Saat itu guruku menugaskanku untuk menemani mereka belajar. Kami disatukan ke dalam suatu kelompok. Dan tanggung jawabku adalah memastikan (ya, memastikan!) mereka memahami pelajaran.

Kau harus mengerti keadaanku saat itu, Nak. Aku marah, karena meski berkali-kali kujelaskan kembali pelajaran yang telah disampaikan oleh guruku, mereka tak juga paham.

Itu masalah, tentu. Kalau sampai guruku melempar pertanyaan pada mereka dan mereka tak bisa menjawab, aku yang akan kena hukuman.

Aku merasa dicurangi. Sebab dari lima orang temanku di kelompok tersebut, lima-limanya manusia ajaib. Maaf kalau aku bersikap kasar; mereka biang onar semua.

Kau tahu apa artinya? Artinya, dengan menjadi ketua kelompok, dijamin aku sering ketiban sial, karena kebebalan mereka.

Saat itu aku merasa guruku berlaku tidak adil padaku …

***

Bertahun-tahun kemudian, setelah lama berpisah dengan guru dan teman-temanku, aku baru mengerti. Bahwa menemani mereka di ‘grup neraka’ itu ternyata membawa pemahaman yang sepenuhnya baru dalam hidupku.

Bukan hanya bagaimana membantu mereka memahami pelajaran, tapi yang jauh lebih penting adalah membuatku tergerak untuk mengerti, merasakan, dan terlibat dalam pengalaman ‘menjadi’ diri mereka.

Dan pelan-pelan, aku sampai pada sebuah sudut pandang.

Kelak setelah lulus dari pesantren dan bergaul dengan bermacam-macam orang, aku sangat berterima kasih karena pengalaman ini. Dan kepada guru yang telah memasukkanku ke dalam situasi serba tak nyaman itu, aku benar-benar berutang budi.

Menemani mereka di kelompok itu adalah sebuah latihan menempatkan diri. Latihan menghadapi orang. Latihan sabar dan telaten. Latihan berlaku bijak dan tawadhu’.

Latihan memberi manfaat pada sesama.

Apa pun keadaannya.

Aku pun kemudian sadar. Bahwa pandai dalam pelajaran ternyata bukan segala-galanya. Itu mungkin bawaan seseorang sehingga ia mudah menangkap penjelasan gurunya. Di pesantren, seperti kata kyaiku, itu nomor 27. Yang jauh lebih penting dari itu adalah adab. Bagaimana sikap yang baik terhadap gurumu, temanmu, benda-benda di sekitarmu.

Selama itu aku ternyata salah paham. Merasa lebih hebat dari teman-temanku, hanya karena mudah memahami pelajaran dan piawai menjelaskan ulang.

Aku menyesal. Sebab, mereka yang lebih santun tutur katanya dan lebih sopan tindak-tanduknya sangat mungkin lebih bermanfaat dan berkah ilmunya.

Nanti, Anakku, kalau gurumu memberikan tugas padamu, laksanakanlah dengan riang-gembira. Jangan hanya taati, tapi nikmati. Nikmatilah tugas itu seakan kau tahu kebaikan apa yang akan kau terima setelah melaksanakannya.

Aku mengirimmu ke tempat yang jauh bukan agar kau pandai dalam pelajaranmu. Bukan agar kau piawai memuntahkan dalil-dalil. Aku ingin, Anakku, kau memungut lembar demi lembar keberkahan dari orang-orang alim dan ikhlas yang ada di sekitarmu.

Nah, Nak, sampai di sini dulu perbincangan kita. Kapan-kapan, jika aku belum juga punya waktu untuk mengunjungimu, surat yang lain akan kukirimkan untukmu.

Tamu-tamuku sudah menunggu.

Ingat, hormati gurumu. Kalau kau tak bisa menyenangkan hati mereka, setidaknya jangan membuat mereka marah padamu.

Salam.


3 thoughts on “Untuk Anakku (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s