Paradoks Agama


“Kalau kau mengira kita baik-baik saja, kau mungkin butuh waktu untuk berpikir lebih seksama.” Ramadan tampak kecewa dengan tanggapanku. Matanya melirik, lalu memalingkan wajah ke trotoar tempat orang berlalu-lalang.

Photo by Noelle Otto on Pexels.com

“Coba perhatikan. Dua ulama di Iraq saling memaki di hadapan jamaah masing-masing. Sekelompok pemuda di Mesir mencegat dan mengancam arak-arakan pemuda lain yang akan berdemo. Kampanye sektarian menjadi trending topic di media sosial. Lalu, ibu-ibu pengajian menjadi malas ke masjid karena menonton infotainmen.”

“Bukankah itu soal biasa? Maksudku, kita sudah sering mendengar semua itu, kan?” Aku hati-hati bertanya. Kopi yang kupesan kubiarkan begitu saja di atas meja.

“Biasa? Kau pernah membayangkan akibat paling buruk dari semua itu? Seorang wanita Sunni di Najaf meratapi jenazah anaknya yang tinggal separuh karena menginjak ranjau yang ditanam oleh pemberontak Syi’ah. Di Kairo, sekelompok pemuda membakar hidup-hidup temannya sendiri karena mencurigainya sebagai mata-mata Ikhwanul Muslimin.

Akhir tahun lalu, sejumlah massa di Sampang membakar sebuah masjid karena dicurigai menyebarkan ajaran Syi’ah. Di komplek tempat tinggalku, majelis taklim ibu-ibu buyar gara-gara ada yang membicarakan gosip tentang seorang ustaz seleb sementara yang lainnya tak terima.”

“Wah … Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang salah dengan kita?”

“Itulah. Jangan-jangan selama ini kita merasa baik-baik saja. Orang-orang yang mengaku teman pun mengatakan kita tak sedang dalam masalah.

“Segala kemungkinan buruk seakan berdiri jauh dari tempat kita berpijak. Seolah ada laut lepas yang memisahkan kita dengannya. Padahal, diam-diam sel kanker sudah menyebar di tubuh kita dan terus menggerogotinya.”

“Maksudmu?” Aku tak paham dengan kata-kata Ramadan.

“Kebodohan adalah sel kanker yang menciptakan permusuhan di antara kita. Jika tak menyadarinya, apalagi jika kita merasa sehat dan terbebas darinya, penyakit itu akan cepat menyebar dan menggerogoti tubuh kita. Kalaupun tak mati, kita mungkin seperti mayat hidup yang bergantung pada berbagai macam obat.”

Ramadan menatap langit, lalu menumpukan pandangannya pada sebuah kubah masjid yang seluruh bangunannya nyaris tertutup ruko dan perkantoran.

“Kau lihat kubah masjid itu?”

Aku mengangguk. Sinar matahari yang menghantam permukaannya menciptakan warna keperakan yang menyilaukan mata.

“Bentuk kubah memang tak selalu sama. Kadang berbentuk limas, kadang umbi bawang. Yang pasti, keduanya sama-sama memiliki puncak yang runcing. Ilmu dan kebijaksanaan itu luas, seperti dasar kubah yang lebar. Tapi, setiap tetes ilmu dan kebijaksanaan akan membawa kita pada satu realitas puncak: Tuhan.”

“Aku suka perumpamaanmu. Tapi …. terus terang aku masih bingung dengan yang kau bicarakan.”

Seperti biasa, aku ngos-ngosan mengikuti jalan pikiran sahabatku itu. Konflik sesama umat Islam, sel kanker, kebodohan, dan kubah masjid. Ini seperti sobekan-sobekan kertas yang tak beraturan, apalagi bermanfaat. Aku harap, kali ini Ramadan tak sedang membicarakan diriku. Berbincang dengan orang tua itu seperti berjalan di hutan yang penuh jebakan.

“Seandainya kita mengerti bahwa ilmu yang Tuhan turunkan ke dunia ini sangat banyak dan masing-masing bisa membuat mereka yang mempelajarinya tampak berbeda, api permusuhan tak akan pernah menyala. Sebab, kita juga akan memahami bahwa ilmu-ilmu tersebut akan mengantarkan kita pada kesimpulan yang sama tentang hakikat semesta raya.

“Seandainya pula kita tak sanggup memahami hal itu, selama kita tetap merendahkan hati dan mau terus dan terus belajar, pertikaian juga tak akan pernah terjadi. Orang yang rendah hati tak akan memandang dirinya yang paling benar, paling baik, atau paling suci. Sementara itu, orang dengan benih kesombongan di dalam dadanya akan cenderung merendahkan sesamanya.

“Manusia adalah makhluk mulia yang tercipta karena cinta dan kerinduan Sang Pencipta. Kalau Dia memuliakan mereka, bagaimana mungkin kita mengaku hamba-Nya, jika pada saat yang sama kita merendahkan mereka? Tapi, aku kira kau mengerti, kesombongan memang musuh bebuyutan ilmu dan kebijaksanaan.”

Ramadan menutup kata-katanya sambil menyunggingkan senyum. Matanya masih menatap tajam. Tak lama, azan maghrib terdengar dari masjid yang terletak beberapa blok dari tempat kami berbincang. Semburat merah di ufuk barat mengingatkanku pada sisa waktu yang masih tersedia.

Ciganjur, 26 Juni 2014

One thought on “Paradoks Agama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s