Teleporter


Kau pernah bermimpi menjadi teleporter?

Aku baru saja selesai menonton About Time, sebuah film tentang para penjelajah waktu yang meski jalan ceritanya flat seperti kisah cintaku tapi lumayan berguna untuk mengisi waktu luangku. Ya, ya … malam minggu yang sama dan hiburan yang itu-itu saja.

Photo by Sindre Stru00f8m on Pexels.com

Seandainya aku seorang teleporter, aku mungkin tak pernah melewatkan satu hari pun di dalam hidup tanpa berkunjung ke masa-masa yang berbeda. Bisa masa lalu, atau masa depan. Sesuai keinginanku. Aku juga akan pergi ke tempat-tempat impianku. Mekah, Kordoba, Kasablanka, atau London.

Setiap Sabtu sore (ini waktu favoritku), aku akan menghilang dan muncul di salah satu sudut kota London. Aku akan mencari sebuah kafe tua yang sepi dan mengambil tempat di dekat jendela. Dua sampai tiga jam berikutnya akan kuhabiskan untuk membaca cerpen-cerpen Guy de Maupassant atau Eka Kurniawan.

Aku belum pernah ke London. Tapi, aku harap tempat yang kupilih itu tak keliru. Membaca cerpen di sebuah kafe tua ditemani secangkir kopi dan alunan In A Manner of Speaking-nya Nouvelle Vogue pasti menyenangkan. Apalagi jika sinar matahari sore menabrak kaca jendela dan menimpa wajahku.

Ketika senja datang, aku harap cerpen-cerpen yang kubawa sudah selesai kubaca. Minimal separuhnya. Sehingga, menit-menit berikutnya bisa kuhabiskan untuk memerhatikan keramaian yang tengah berlangsung di sekitarku. Kau tahu, kadang aku merasa berdiam diri di tengah keriuhan yang sedang terjadi itu magical.

***

Masa lalu menyimpan penjelasan yang masuk akal tentang masalah yang sedang kau hadapi saat ini, sementara masa depan punya segudang jawaban bagi teka-teki yang sekarang ingin kau pecahkan. Kau bisa saja berkunjung ke masa-masa itu untuk menyelesaikan urusanmu. Tapi, mungkin lebih baik kau biarkan dirimu memahami semua itu seiring berjalannya waktu.

Buat apa terburu-buru?

Sekarang bagaimana, kau mau ikut? Tak perlu khawatir. Selesai dengan urusanmu, kau bisa kembali ke tempatmu saat ini. Kalau kau memutuskan ikut, pegang erat tanganku dan pejamkan matamu. Jangan bergerak sampai hitunganku mencapai angka sepuluh!

Kau siap? Satu, dua, tiga …

6 Juli 2014, 9.50

One thought on “Teleporter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s