Life, So Far


Saya menulis catatan pendek ini setelah sadar bahwa saya semakin jarang menulis, sementara dalam rentang waktu yang panjang ini banyak hal yang sebenarnya perlu saya tuangkan. Sekadar curhat atau demi bahan nostalgia di kemudian hari.

Tentang teman

Sudah agak lama sahabat saya di pesantren mengajak belajar bersama. Bukan membahas kitab-kitab tentunya –saya lupa hampir semua cara membaca buku berbahasa Arab, di samping tentu saja dia sudah jauh meninggalkan saya, tapi teknis menulis.

Setelah berjibaku dengan pekerjaan dan urusan rumah, akhirnya saya bisa meluangkan (kosakata yang menunjukkan su’ul adab untuk orang yang mengaku jebolan pesantren) waktu untuk mengisi materi di kelas menulis di almamater saya.

Dari sekitar 40 santri yang ikut kelas tersebut, cukup banyak yang antusias mengikuti pelajaran. Tugas-tugas yang saya berikan mereka kerjakan dengan baik, dan beberapa pertanyaan yang mereka ajukan menunjukkan bahwa mereka memang serius.

***

Tentang Nabil

Dua minggu lalu saya pergi ke Jalan Kartini untuk melihat-lihat sepeda. Agaknya Nabil sudah cukup umur untuk belajar bersepeda. Setelah survei produk dan harga di marketplace, saya memutuskan membeli sebuah push-bike berwarna biru muda.

Tetangga saya mengira butuh 1 minggu bagi Nabil untuk lancar mengendarai benda mungil itu. Nyatanya cukup 1 hari saja baginya untuk meluncur, berbelok, dan mundur. Tinggal mendudukkan pantatnya di sadel yang masih butuh pegangan.

Kemarin pagi saya harus ngos-ngosan mengejarnya, karena bersepeda kelewat kencang. Istri saya pun akhir-akhir ini sering berteriak menyuruhnya pelan-pelan. Lucunya, kemarin anak-anak tetangga mengajaknya bersepeda bersama. Padahal mereka sudah TK semua.

Sementara Nabil baru dua tahun setengah.

***

Tentang pekerjaan

Ini bulan ketujuh pandemi menghantam Indonesia. Jadwal kerja saya masih dua hari sekali, gaji saya juga masih dikurangi. Industri perbukuan benar-benar kelimpungan dibuatnya. Tak ada buku yang kami terbitkan, tak ada duit yang masuk ke perusahaan.

Positivity rate di Indonesia terus menanjak. Semua orang tahu pandemi ini akan lama dan berat. Mungkin itu sebabnya beberapa teman bersiap-siap. Agar jika kemungkinan terburuk yang terjadi, mereka tahu harus melakukan apa.

Teman-teman lain yang sejak enam bulan lalu dirumahkan jelas yang paling kesusahan. Gaji tak ada, THR pun tak diterima. Mereka lalu melakukan entah apa saja untuk bertahan hidup. Ada yang berjualan pecel lele, kue kering, ada juga yang bakulan buku.

***

Tentang hidup

Beberapa bulan lalu saya dan istri masih semangat mencari rumah, tapi tidak setelah keadaan berubah. Saya tetap akan berusaha. Tapi yang namanya usaha harus mengukur keadaan juga, kan? Saat ini, sehari-hari bisa makan saja alhamdulillah.

Seorang teman bercerita bahwa sejumlah sales di perusahaannya harus dirumahkan. Mereka pun mendadak tak berpenghasilan. Mungkin karena terdesak tanggung jawab, salah seorang sales sampai rela memancing demi mencari lauk untuk keluarganya.

Saya dengar pandemi baru berakhir dua atau tiga tahun lagi, dan celakanya industri penerbitan hanya bisa bertahan sampai akhir tahun ini. Itu artinya tinggal empat bulan lagi. Rasanya aneh menghitung “ajal” yang terus mendekat.

Tak ada yang tak bingung sepanjang bulan-bulan ini. Tak apa, bingung masih boleh kok. Saya pun bingung, tapi semoga masih ingat cara bertawakal.

After all, we’re only servants of The Master. And no master will neglect and forget to feed his servants.

***

2 thoughts on “Life, So Far

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s