Islam Populer: Antara Passion dan Prasangka


Hampir sepuluh tahun saya kerja di penerbit buku. Entah sudah berapa banyak naskah yang saya sunting. Kalau setahun saja saya menangani 12 naskah maka total hampir 120 naskah yang sudah saya baca, teliti, dan edit.

Sayangnya, dari sekian banyak naskah itu sebagian besar temanya kurang sesuai dengan minat saya.

Dulu saya berpikir bahwa kerja di perbukuan itu cocok dengan apa yang saya minati. Benar, sih. Tapi, semakin ke sini semakin saya sadari bahwa itu hanya berlaku kalau tema buku yang diterbitkan memang sesuai minat. Kalau gak?

Ini cerita sedih. Tapi, bagaimanapun pekerjaan saya gak melulu tentang air mata. Artinya, ada juga kok cerita senangnya. Salah satunya ini: meski buku-buku yang saya sunting gak sesuai minat, paling gak buku-buku itu masih dalam jangkauan keilmuan saya.

Dulu saya pengin dapat pekerjaan yang benar-benar cocok dengan minat, tapi apa daya kebutuhan hidup terus mendesak. Go hell with passion! Mending nafkah tercukupi daripada ngurusi passion yang mengawang-awang.

Saya mungkin terlalu pragmatis. Tapi, gak mudah memang memegang teguh idealisme sambil terus-terusan digebuki kenyataan.

Lagipula, lama-lama saya bisa menikmati rutinitas menyunting naskah-naskah itu. Selain menambah wawasan, juga membuka mata saya tentang kelompok masyarakat yang dulu jarang saya perhatikan: anak-anak muda yang baru belajar agama.

Saya jadi bisa membaca kemauan mereka dan isu-isu apa saja yang menarik perhatian mereka. Ini penting, sebab bidang keilmuan yang pernah saya geluti meniscayakan pemahaman terhadap kelompok masyarakat yang berbeda-beda.

And since we do not know who they are, it’s better to get ready for whoever they are.

Seorang teman pernah mencibir buku-buku yang saya sunting. Menurutnya, buku-buku itu berdampak negatif, sebab bisa mendangkalkan diskursus tema-tema yang ada di dalamnya.

Saya terbata-bata mengikuti argumentasinya. FYI, buku yang kami terbitkan banyak mengangkat tema Islam populer. Sementara teman saya adalah peminat filsafat Islam dan sufisme.

Dia memandang buku-buku yang saya sunting dari satu sisi, dan saya melihatnya dari sisi yang lain. Dia melihat dampak negatif darinya, saya melihat dampak positifnya.

Menurut saya, dia terlalu jauh saat bicara tentang diskursus keislaman; terlalu abstrak, elitis, dan eksklusif. Dia berdiri di puncak menara gading. Padahal, realita ada di bawah sana dan menunggu untuk dijawab.

Pendapat teman saya mungkin hanya berdasar pengamatannya yang sepintas lalu. Tapi, melihat kenyataan sejumlah teman lain yang juga menunjukkan gejala emoh menulis tema keislaman yang remeh-temeh, saya khawatir itu mencerminkan kenyataan sebagian santri yang menekuni diskursus keislaman saat ini: mereka elitis, kalau gak mau disebut egois.

Mereka sibuk menekuni kuliah dalam bidang keislaman, gak sedikit yang merupakan disiplin ilmu yang rumit: filsafat, filologi, politik, tafsir, hadis, dll. Mereka sangat menikmati studinya. Tapi banyak di antara mereka yang menempuh jalan itu hanya demi memuaskan egonya.

Motivasi mereka? Ya, karena sesuai minat. Apa yang mereka tekuni memang cocok dengan passion mereka. Mereka merasa menjadi diri-sendiri dengan bertungkus-lumus dengannya. Mereka tercerahkan oleh pilihan itu.

Tapi, jangan bilang itu karena perintah agama. Wong di benak mereka gak ada keinginan untuk kembali ke masyarakat dan berkontribusi nyata dengan memanfaatkan ilmu-ilmu yang sudah mereka pelajari kok. Menjadi dosen di kampus-kampus Islam ternama jelas pilihan yang menarik. Pekerjaan mulia nan prestisius, juga membanggakan orangtua.

After all, life is about choice. We are free to choose whatever we want.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s