Kerinduan Itu


Adakah yang lebih menyiksa dari kerinduan?

Lelaki perkasa tersungkur karena menahan rindu kekasihnya. Raja-raja kehilangan malu karena menahan gejolaknya. Para bijak bestari kehabisan kata-kata lantaran tenggelam dalam perasaan yang sama.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Sejak lama orang-orang mengagungkan cinta. Seakan cinta adalah kenyataan paling absolut yang tak terbantahkan.

Siapa pun yang merasakannya mungkin akan berpendapat sama, sampai mereka terpisah dengan sang kekasih dan terpaksa menahan diri untuk tak bertemu.

Saya sepakat cinta adalah jawaban untuk semua persoalan, tapi rindu boleh jadi akar dari segala permasalahan.

Apakah kemudian klop? Masalah apa pun yang muncul sebab kerinduan akan terjawab dan selesai begitu saja dengan hadirnya cinta?

Belum tentu.

Nyatanya, seorang perindu bisa jadi malah kehilangan cinta terhadap kekasihnya. Waktu membenamkannya dalam samudera kekaguman tak bertepi, dan ruang yang tanpa batas seakan membuatnya menggenggam erat hati sang kekasih.

Lantas, mana yang absolut?

Yang lebih menarik, justru dalam derita menahan rindu itu, seseorang menyatu dengan kekasihnya. Raga mungkin terpisah, tapi jiwa mereka bercumbu setiap saat, sepanjang waktu.

Cinta yang dulu kenyataan paling agung menjadi tanpa makna, sebab dalam penyatuan segala rasa tak lagi punya kuasa.

3 thoughts on “Kerinduan Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s