Sebuah Ajakan


Aku tepekur saat kau menitipkannya padaku. Bukan tak percaya dengan keputusanmu yang tiba-tiba. Aku hanya bingung –mau kuapakan benda itu?

Sore berjalan lambat di tengah hujan deras hari itu, tapi kata-kata telah kehabisan makna mengungkapkan maksud pertemuan kita. Wajahmu kosong menatap daun-daun yang bergoyang oleh siraman air langit. Sedang aku hanya bisa memandang secangkir kopi yang telah membeku.

“Akan ada yang terluka,” ujarku.
“Usah dibahas, kita sama-sama tahu.” Kau menukas.

Ya, kita sama-sama dewasa. Dan mungkin karena itu kita jadi punya keberanian, atau kebodohan, yang sama.

Bermain-main dengan api. Memang ada riang saat merasakan hangatnya, tapi terlalu asyik memainkannya akan membuat kita lengah. Panasnya akan membakar kulit kita dan mendidihkan darahnya –orang yang sekarang kautitipi benda yang sama.

Aku sendiri sulit menyembunyikan ketidakpercayaanku. Dudukku tak bisa tenang, kata-kataku tak beraturan. Orang-orang terkejut dengan gemuruh guntur yang saling susul, tapi hanya aku seorang yang mendengar ledakan bom nuklir di suatu tempat.

Kau tak pernah berhenti mengejutkanku. Seperti sore itu, juga hari-hari yang telah lalu. Tapi, aku tak lagi seperti dulu. Yang bisa kautitipi benda-benda sesukamu, dan bisa kauambil kapan pun kaumau.

Apalagi jika yang kautitipkan itu hati, dengan cinta yang penuh pura-pura dan satu ruang yang berisi nama-nama.

One thought on “Sebuah Ajakan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s