Sebuah Fantasi yang Nyata


Sejak menonton About Time, film-film bertema travel in time adalah favorit saya.

Saya sempat berburu film bertema sama, tapi ternyata gak banyak. Film lokal bertema travel in time sebenarnya ada, cuman sampai sekarang belum ada yang digarap secara apik dan bernas. Dan satu-satunya yang masih saya ingat: Lorong Waktu.

Agaknya sulit mengharapkan insan perfilman Indonesia menggarap tema ini. Bukan karena minim talenta, tapi film bertema travel in time rasanya lebih bagus kalau diperankan oleh orang luar (?) dan lokasi pengambilan gambarnya di negara-negara Barat.

Baca juga: Teleporter

Ini mungkin subyektif. Menurut saya, film-film fantasi lebih sempurna kalau semua unsur dalam ceritanya juga fantasi, atau seenggaknya bukan sesuatu yang dekat dengan keseharian kita. Sehingga kita gak disibukkan dengan usaha untuk mengonfirmasi atau mengoreksi hal-hal yang kita anggap gak pas dengan kenyataan.

Sejauh ini, film tentang travel in time yang paling saya suka adalah About Time (2013). Yang lain adalah The Time Traveler’s Wife (2009), Interstellar (2014), dan tentu saja Back to the Future (1985). Age of Adeline (2015) bagus, tapi bisa gak ya disebut film travel in time? Kayaknya sih gak.

Director: Richard Curtis
Writer: Richard Curtis
Stars: Domhnall GleesonRachel McAdamsBill Nighy

Dalam film-film bertema travel in time, kita sepenuhnya diajak berfantasi. Melompat ke masa lalu atau masa depan tentu hanya bisa dilakukan dalam khayalan. Nah, film-film tersebut membantu menghidupkan alam khayal kita menjadi serupa kenyataan.

Tentu menarik melihat seseorang kembali ke masa lalunya, lalu memperbaiki sesuatu yang menurutnya salah atau menjadi sebab masa depannya berantakan. Tapi, menghayati peran tokoh-tokoh dalam film tersebut memunculkan kegelisahan di benak kita: Apa menariknya seandainya hidup bisa direkayasa seperti itu?

Bukankah hidup menjadi layak dijalani sebab apa yang akan terjadi tak selalu bisa ditebak dan apa yang telah terjadi tak bisa dianulir? Kenyataan memang tak selalu sesuai harapan dan kesalahan mungkin berakibat buruk, tapi justru di situ menariknya: kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dengan belajar darinya.

Mungkin karena itu, dalam About Time, Tim sampai pada sebuah kesimpulan tentang hidup –setelah puas melompat-lompat ke masa lalunya:

“No one can ever prepare you for what happens when you have a child. When you see the baby in your arms and you know that it’s your job now.

No one can prepare you for the love and the fear. No one can prepare you for the love people you love can feel for them. And nothing can prepare you for the indifference of friends you don’t have babies.

And it’s a shock how quickly you have to move to a new place you completely can’t afford. Suddenly, time travel seems almost unnecessary, because every detail of life is so delightful.”

About Time menjadi film favorit saya karena isinya romance (semua orang suka, kan?) dan alurnya sederhana. Kesan pertama saat selesai menonton film itu: ringan, hangat, dan indah. Alurnya gak serumit The Time Traveler’s Wife dan jalinan ceritanya lebih mudah dimengerti.

Selain itu, saya memang suka dengan drama Inggris. Kadang ceritanya memang cetek, tapi ini adalah satu-satunya kekurangan yang bisa kita kritisi. Siapa pun yang pernah nonton Love Actually (2003), The Holiday (2006), atau Me Before You (2016, buset, ini film cewek semua ya, hehe) mungkin punya komentar sama tentang jalan ceritanya: ringan, atau dalam cibiran para kritikus film: dangkal.

Ada banyak klise, bahkan cringe, dalam dialog atau adegan tokoh-tokohnya. Coba ingat Love Actually, bagaimana Natalie (Martine McCutcheon) yang berkali-kali salah ngomong di hadapan David, sang Perdana Menteri yang baru dilantik, yang diperankan oleh Hugh Grant.

Baca juga: 5 OS Film Paling Keren

Kalau kita nonton The Holiday, kita juga menemukan adegan yang sama. Salah satunya saat Amanda (Cameron Diaz) bertemu Graham (Jude Law) untuk pertama kalinya. Percakapan keduanya terdengar artifisial, adegan mereka lebih-lebih, gak natural.

Alhasil, film-film yang mengangkat tema travel in time, terlebih yang diproduksi di Inggris, memiliki ciri khasnya sendiri. Terlepas dari berbagai kekurangannya. Dan meski film-film ini menghidupkan khayalan kita tentang travel in time, pesan utamanya identik: bahwa manusia harus mensyukuri apa yang mereka miliki hari ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s