Ngaji Online


Saya pernah sangat menyesal, mengapa dulu gak menuntaskan pendidikan saat masih di pesantren.

Menamatkan Alfiyah Ibnu Malik, lalu Fathul Mu’in, dan kitab-kitab lain. Memang gak ada jaminan bahwa lulus akan membuat saya mahir membaca kitab, tapi paling gak kemampuan saya pasti lebih baik, dan mungkin mendapat keberkahan yang lebih banyak.

Sampai saat ini, penyesalan itu kadang masih menghampiri. Tapi, seperti kata banyak motivator yang nyambi jadi ustadz seleb (demi menyesuaikan target market), “Hidup harus terus berjalan”. Menyesal gak apa, tapi jangan lupa untuk terus melangkah.

Meleng karena terlalu lama melihat masa lalu akan membuat kaki kita tersandung batu atau terpeleset tahi ayam.

BTW, saya gak percaya-percaya amat sih sama motivator. Cuman kali ini mereka ada benarnya.

***

Beberapa minggu yang lalu salah seorang teman di pondok dulu menegur saya melalui Watsapp. Dia menyampaikan keinginan sekaligus usulan agar alumni seangkatan kami mengadakan pengajian. Hari dan jam bisa didiskusikan.

“Materinya kalau bisa tasawuf yang ringan-ringan saja.” Dia mengusulkan. “Kayak Al-Hikam itu lho,” ujarnya menawar. Saya mendengarkan saja, sambil menahan kecut.

Al-Hikam dibilang ringan …

Apa pun itu, saya senang dengan keinginannya, di samping heran. Saat di pondok dulu, teman saya itu bukan tipikal santri yang manut-manut banget. Cenderung bandel kalau boleh saya bilang. Entah berapa kali dia kabur dari pondok gara-gara menonton konser Slank atau sekadar memuaskan hasratnya makan nasi lalapan. Bahwa sekarang dia punya keinginan mulia nan luhur seperti itu, saya masih gak habis pikir.

Tentu saja itu sesuatu yang positif. Selain ngaji, kami ‘kan bisa menyambung silaturahmi. Masalahnya, mengumpulkan sekian banyak alumni seangkatan dalam sebuah forum pengajian online jelas bukan persoalan mudah. Kalau makan-makan atau sekadar ngopi, semua pasti mau. Ngaji? Apalagi diadakan secara online. Bukan su’uzhon, tapi apa iya beberapa teman (gak semuanya sih) yang dulu saya kenal gaptek itu bisa dengan mudah join di forum online?

Memang, semuanya ’kan harus dicoba. Dengan begitu kita akan tahu sejauh mana keberhasilan usaha kita sekaligus sekuat apa semangat kita. Tapi, benar lho, masalah seperti ini jangan sampai membuat kita terlalu berharap. Daripada meringis sendiri melihat antusiasme yang naik-turun.

Sore ini saya akan menyusun langkah-langkah teknis untuk memastikan pengajian bisa diadakan dengan lancar. Pematerinya sudah ada, yaitu Gus Helmi, yang tak lain adalah teman kami sendiri, kitabnya Al-Mawaa’izh Al-‘Ushfuuriyyah, waktunya Minggu jam 20.00, dan aplikasi yang digunakan Zoom (atau Google Meet, belum disepakati).

Saya sih, terus terang, terbayang-bayang bahwa pengajiannya nanti sunyi-senyap, karena gak banyak yang ikut. Tapi, mengaji ‘kan memang gak cuma bisa dilakukan di satu tempat. Lagipula, aynamaa tuwalluu fatsamma wajhullaah (ke mana pun kalian menghadap, maka di sanalah Allah berada).

Jadi, ya nothing to lose. Mau banyak atau sedikit yang ikut, yang penting dimulai saja dulu. Bismillah.

*Gambar salah satu sudut pesantren saya, An-Nur 2 Al-Murtadlo, saya pinjam dari https://fahrurrozhy.wordpress.com/about/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s