Sibuk Berdalih


Saya kadang merasa gagal mewujudkan cita-cita. Saya pikir, hanya dengan memilikinya, saya punya persediaan semangat yang membuncah-buncah.

Ternyata, saya salah.

Dulu saat masih duduk di bangku Aliyah, saya ingin sekali melanjutkan ngaji di sebuah institusi pendidikan tinggi yang ada di pesantren saya kala itu. Namanya Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning, disingkat STIKK. Di mata saya saat itu, mahasantri STIKK itu keren, karena terampil memahami literatur Islam klasik yang bejibun itu.

Impian tersebut ambyar hanya dalam hitungan bulan setelah saya mendaftar dan diterima di lembaga tersebut. Alasannya sepele: saya gak betah setiap hari dikejar-kejar target hafalan Alfiyah (sebuah kitab pedoman gramatika bahasa Arab dalam bentuk syair sebanyak 1.002 bait). Padahal, sejak kelas 1 Aliyah saya sudah mencicil hafalan.

Saat kuliah, saya juga pernah punya impian, yaitu melanjutkan studi magister dan doktoral di luar negeri. Agak muluk sih, memang. Untuk impian yang satu ini, saya bahkan pernah menyampaikan secara panjang-lebar kepada salah seorang dosen, yang karena saking lamanya saya bicara, beliau sampai bete. Sampai sekarang, saya masih ingat bagaimana wajah beliau ngempet emosi. Hehe.

Lagi-lagi, impian tersebut gak terealisasi. Saya punya banyak dalih, yang kalau saya ringkas dalam sebuah kalimat, semuanya bersumber dari “ledakan energi di dalam jiwa saya yang berimplikasi pada menurunnya semangat (!) dan membuat saya betah terus-menerus rebahan (?!)”, atau singkatnya males. Padahal, kalau serius mau lanjut kuliah, saya punya banyak pilihan: UI, UIN, LIPIA, PTIQ, dan lain-lain.

Tapi, seiring berjalannya waktu saya gak terlalu menyesali keputusan untuk berhenti mengejar cita-cita. Bagaimanapun memiliki ilmu yang luas dan “efek sampingnya” berupa pengaruh di masyarakat bukan sesuatu yang ringan. Sama seperti orang-orang dengan nama besar, melakukan sedikit saja ketidakpantasan bisa jadi gunjingan manusia-manusia seperti Bu Tedjo dkk bahkan sampai H-1 kiamat.

Lagipula, mencari ilmu ‘kan gak harus dengan masuk ke lembaga-lembaga formal, bisa dengan menjadi santri kalong, santri freelance, atau apalah namanya. Ini mungkin “pelarian” saya saja, tapi melihat bagaimana Gus Baha’ begitu digandrungi saat ini, dengan pengajian-pengajiannya yang sangat berbobot tapi pada waktu yang sama ringan (?!), saya jadi seperti punya justifikasi untuk ngeles.

Ngeles dari kejaran rasa sesal akibat gagal mewujudkan impian.

“Gus Baha’ yang gak sekolah tinggi-tinggi aja bisa seperti itu, kok.”

Tentu saja siapa pun bisa dengan mudah membantah kata-kata saya itu.

‘Kan Gus Baha’ memang dari sononya cerdas!
‘Kan beliau ngajinya khatam!
‘Kan kamu bukan Gus Baha’!

Iya, iya. Tapi, apa Sampeyan gak pernah mendengar yang namanya Ibnu Athaillah? Beliau pernah lho berpetuah seperti ini:

“Kadang Dia mengabulkan doamu dengan cara menolaknya, dan kadang Dia menolak doamu dengan cara mengabulkannya. Ketika pintu pemahaman tentang arti sebuah penolakan itu terbuka untukmu, maka penolakan itu hakikatnya adalah pengabulan doa.”

Hmm, saya senang mendapati kata-kata beliau mudah terbaca (gak seperti quote-quote beliau yang lain di dalam Al-Hikam, tumben), di samping akhirnya bisa saya terjemahkan.

Tapi, iya sih, mungkin ini dalih saya saja untuk lari dari cita-cita dan rasa malu menanggung kegagalan. Tapi, gak apa. Kalau semuanya jadi ulama, MUI bisa-bisa overload.*

*Masih berdalih 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s