Curhat Singkat Tentang Pesantren


Minggu-minggu ini sepuluh tahun yang lalu adalah saat yang paling saya syukuri dalam hidup.

Setelah menunggu berbulan-bulan, akhirnya saya diterima bekerja di tempat yang saya idam-idamkan: menjadi editor di sebuah penerbit buku.

Saat kuliah, saya gak pernah menargetkan diri saya harus menjadi apa atau bekerja di bidang apa. Doktrin orangtua dan kyai-kyai membentuk mindset saya bahwa belajar ya belajar, gak usah menjadikannya sebagai modal untuk mencari uang.

Ketika lulus kuliah, baru saya kelimpungan. Kerja apa, ya? Saya memang bingung, tapi rasa-rasanya saat itu keluarga lebih bingung. Saya punya prinsip yang bisa dipegang, yaitu nasihat kyai-kyai saya, tapi mereka gak punya.

Alhasil, ketika berhasil diterima bekerja di sebuah penerbit, saya dan keluarga lega.

***

Ada banyak hal yang saya pelajari di tempat kerja saya selama ini. Di luar masalah teknis penerbitan buku, saya bisa mengasah keterampilan komunikasi dan manajemen. Masih jauh dari sempurna, tapi minimal saya sudah memulai.

Pondok Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, didirikan 2,5 abad yang lalu.

Menurut saya, salah satu pelajaran yang perlu dikejar oleh anak-anak pesantren adalah kedua hal itu. Mereka memang sudah dibekali keterampilan berkomunikasi, dalam kaitan dengan dakwah dan syiar agama. Tapi sepengalaman saya, biasanya itu sesuai dengan konteks di mana pesantren mereka berada. Karena lokasinya di pedesaan (kebanyakan pesantren ada di desa-desa), maka cara mereka berkomunikasi ya banyak terpengaruh oleh masyarakat desa.

Artinya, dalam hal satu ini, mereka tinggal melakukan penyesuaian saja, seandainya di kemudian hari tinggal di kota besar atau hidup di lingkungan urban. Tentang manajemen, menurut saya anak–anak pesantren perlu banyak belajar.

Bukan rahasia kalau soal yang satu ini institusi pesantren banyak ketinggalan. Itu sebabnya, berkiprah di lembaga lain dalam kurun tertentu akan memberikan banyak pelajaran bagi mereka tentang manajemen. Bagaimana mengelola SDM, keuangan, kegiatan produksi, dan lain-lain.

Mungkin masalah ini gak berpengaruh langsung terhadap dakwah atau syiar yang mereka lakukan, tapi gak bisa dipungkiri bahwa tugas mulia tersebut akan lebih mudah dengan bekal manajemen yang baik. Mau bangun TPQ atau madrasah gak perlu repot bikin proposal, mau mengelola pesantren gak perlu bingung mencari tenaga pendidiknya.

Di atas semua itu, niat yang lurus, kebersihan hati, dan tawakal lillahi Ta’ala bagaimanapun gak bisa digantikan. Menurut saya, sampai kapan pun ini adalah kekhasan sekaligus kekuatan terbesar masyarakat pesantren.

Sekian tahun bergaul dengan orang-orang Jakarta sedikit-banyak membuat saya paham bahwa di mata mereka mengurus sebuah institusi agama (termasuk pesantren) gak ada bedanya dengan mengelola sebuah lembaga bimbingan belajar (bimbel). Modal utamanya ya manajemen. Gak heran banyak orang yang latar belakang pendidikannya non-agama kemudian mendirikan madrasah atau pesantren.

Mau ngajinya cuma streaming Youtube dan pemahaman keislamannya sangat terbatas, asal punya kemampuan manajerial yang bagus, cukup bagi mereka untuk “berjihad fi sabilillah dengan mendirikan pesantren. Gak tanggung-tanggung, bahkan pesantren tahfizh, seperti sekarang sedang merebak di mana-mana.

Ini jauh berbeda dengan lulusan pesantren. Mendirikan sebuah pesantren bukan hanya tentang bagaimana agar generasi muda melek agama (piawai berpidato, misalnya), lebih dari itu juga harus berkarakter mulia. Dan karakter mulia itu gak cukup hanya dibangun melalui manajemen kurikulum “yang memadukan iptek dan imtak”.

Perlu riyadhah atau ikhtiar batin yang cukup, yang bukan hanya merapalkan doa selamat setiap bakda shalat, tapi juga laku hidup sehari-hari yang disesuaikan dengan Al-Quran, sunah Rasulullah saw, juga kebiasaan para ulama dan shalihin. Lulusan pesantren yang alim-alim, yang kalau membahas masalah fikih gak perlu lagi membuka kitab, sepakat bahwa ini adalah tantangan mereka yang sebenarnya.

Tradisi dan alam pikiran masyarakat pesantren membentuk pola pikir santri-santri sedemikian rupa. Jika dilihat dari kacamata masyarakat non-pesantren, itu mungkin dianggap kolot. Tapi bagi santri-santri, itu adalah jalan yang memang harus ditempuh. Toh, gak ada satu pun kyai atau pesantren yang mewajibkan alumninya untuk membangun pesantren. Kalau mengharuskan mereka mendidik masyarakat, dengan cara yang mereka mampu, mungkin iya.

Saya jadi ingat pesan KH. Maimun Zubair. Banyak orang salah paham. Mengira pesantren itu urusan akhirat. Kalau ta’lim (belajar-mengajar)-nya memang akhirat, tapi kalau pesantrennya itu dunia.

Nah, sekarang saya bertanya dalam hati. Setelah sepuluh tahun melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sebuah perusahaan dimenej sedemikian rupa, apa yang bisa saya lakukan untuk masyarakat atau pesantren? Rasa-rasanya kok belum ada. Lantas, kalau sekarang saya menulis panjang lebar tentang niat lurus dan bagaimana sebuah pesantren itu seharusnya dimenej, semua itu gak lain karena saya gabut.

Sekian dan wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s