Para Pemelihara


Tak banyak yang tahu bahwa dunia berputar sebagaimana mestinya berkat sentuhan mereka.

Source: Frederick Goodall, https://www.pinterest.com.au/pin/463730092860021899/?d=t&mt=login

Siang dan malam mereka menjaganya, tak peduli angin bertiup ke arah mana dan bintang jatuh mengirimkan pertanda apa. “Selama panggilan itu masih berkumandang, kami tak akan beranjak dari tempat di mana kami seharusnya berada,” kata mereka.

Para pemelihara adalah manusia-manusia yang setia berpegang pada kitab warisan. Hari demi hari, entah sudah berapa abad sejak mulai membaca dan menyelami isinya, mereka amati segala yang terjadi di berbagai belahan dunia, mereka artikan gerak-geriknya, dan mereka perkirakan bagaimana akhirnya dengan berpedoman pada kitab warisan itu.

Aku pernah bertemu dengan mereka, kalau kau mau tahu. Lebih dari itu, aku pernah melewatkan masa-masa remajaku yang membosankan bersama mereka. Menitipkan bukan hanya masa depanku tapi bahkan hidup dan matiku. Orang-orang yang penampilannya sangat bersahaja tapi hatinya kaya-raya.

Namun, Teman, jangan membayangkan mereka sebagai orang-orang yang di sakunya penuh dengan uang dan kepentingan, apalagi kekuasaan. Sejak lama mereka adalah orang-orang yang dipinggirkan, dipandang sebelah mata, bahkan pada periode masa yang lama keberadaannya tak diinginkan.

Bagi orang-orang yang rongga perutnya seperti ruang antara bumi dan bulan, mereka yang menjaga roda dunia ini tetap berputar tak ubahnya kucing liar yang hanya pantas dilempar sandal.

Ada memang segelintir orang yang menganggap para pemelihara itu penting. Mereka adalah orang-orang yang wajahnya bersih karena rajin perawatan, pakaiannya licin dan mewah, dan baunya wangi. Mereka datang lima tahun sekali, yaitu pada momen pemilihan bupati atau anggota dewan. Mereka menyapa orang-orang desa itu dan dengan berbuih-buih menjanjikan karpet, semen, besi cor, genteng, meja-kursi, dan komputer, sembari menyampaikan maksud kedatangan mereka: meminta restu.

Meski begitu, jangan pula membayangkan para pemelihara itu adalah orang-orang akademis yang bicaranya rumit dan melangit, yang membuat para pendengarnya terkagum-kagum meskipun tak mengerti. Mereka memiliki ilmu yang menyamudera, tapi sehari-hari mereka tinggal di sudut desa yang terpencil. Bertetangga dengan belut dan ular sawah, berteman jangkrik dan burung hantu.

Mungkin karena itulah mereka juga dicap bodoh, kolot, terbelakang, dan berbagai stereotip negatif lainnya. Dianggap tak mengerti perkembangan dan tak tersentuh kemajuan. Orang-orang Jakarta yang rajin ikut seminar dan sering tampil di layarkaca pasti sulit percaya bahwa di tangan merekalah masa depan umat manusia digenggam. Lebih dari itu, berkat sentuhan tangan merekalah dunia yang kita tempati hingga kini baik-baik saja.

Sejak masih sangat belia mereka telah mempelajari kitab warisan. Mengakrabi huruf demi hurufnya, mengeja indah kata-katanya, membaca kalimat-kalimatnya yang bertuah, dan menggali makna terdalamnya. Dengan kitab itulah mereka bercermin, dan dengan kitab itu pulalah mereka menunjukkan jembatan bagi siapa saja yang ingin menyeberang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s