Umar dan Seekor Burung Pipit


Cinta memang tak selalu mudah dimengerti.

Bahkan setelah para pujangga, pencipta lagu, dan budak-budak cinta menyempitkannya hanya terhadap lawan jenis, cinta tetap rumit, kompleks, atau mbulet.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Oh, tentu, cinta tak sebatas pada gadis pujaan atau mantan yang tiba-tiba menyapa di beranda media sosial. Cinta itu liar, menjangkau lebih banyak hal dari apa yang bisa dipahami oleh pikiran sempit kita. Bahkan cinta sebenarnya bisa menjangkau segalanya. Maksudku, ya, segalanya.

Mau benda hidup atau mati, mau manusia, anjing, janda bolong (sedang trending saat ini, heran … ), mobil idaman, buku kenang-kenangan, baju lebaran, dan bahkan Tuhan. Ya, tak adil rasanya bicara cinta seakan-akan itu hanyalah rasa di antara manusia, sementara Tuhan kita anggap bukan siapa-siapa untuk dicintai dan sebaliknya, “tunaasmara”.

Mungkin karena itu, Nabi Muhammad saw berpesan pada sahabat-sahabatnya, “Para pencinta akan dicintai oleh Sang Mahacinta, karenanya cintailah makhluk-Nya yang ada di bumi, niscaya makhluk-Nya yang ada di langit akan mencintaimu.”

***

Suatu hari Umar bin Khathab melintas di salah satu ruas jalan di Madinah. Secara tak sengaja, dia melihat seorang anak sedang menggenggam burung pipit dan asyik memainkannya. Jatuh kasihan melihat burung itu, Umar membelinya dan membebaskannya.

Beberapa lama kemudian setelah kematiannya, sejumlah orang mengaku bertemu Umar di dalam mimpi, lalu bertanya tentang keadaannya.

“Apa yang sudah Allah lakukan padamu?” tanya mereka.
“Allah mengampuniku,” jawab Umar, singkat.
“Karena apa? Kebaikanmu, keadilanmu, atau kebersahajaanmu?”

“Setelah kalian memasukkanku ke liang kubur,” jawab Umar, “menutupnya dengan tanah, kemudian meninggalkanku seorang diri, dua malaikat yang sangat berwibawa menemuiku. Saat itu, pikiranku buntu dan sendi-sendi tulangku seperti mau lepas.

“Mereka kemudian memegangku, mendudukkanku, dan tampak ingin mengajukan pertanyaan padaku. Tapi, tiba-tiba aku mendengar entah suara siapa, ‘Tinggalkan hambaku dan jangan membuatnya ketakutan! Aku mencintainya dan telah mengampuninya. Sebab, dulu dia mencintai seekor burung di dunia, dan kini giliranku mencintainya di akhirat’.”

Coba lihat, hanya karena membebaskan seekor burung pipit, Umar bin Khathab mendapat kemuliaan sedemikian rupa di alam kubur. Kita tahu, Umar adalah salah satu pembela Rasulullah saw yang paling berani dan setia. Kita juga tahu, dia adalah pengganti/khalifah beliau yang membuat Islam menyebar dengan pesat ke berbagai penjuru, bahkan hingga ke luar tanah Arab.

Namun, yang membuatnya selamat di alam kubur ternyata bukan semua itu, tapi kebaikannya yang lain, sesuatu yang mungkin dianggap sepele oleh orang-orang, mungkin juga oleh Umar sendiri saat melakukannya. Ya, besar kemungkinan dia tak mengira bahwa melepaskan seekor burung pipit yang tak berharga itu membuka jalan bagi keselamatannya di alam kubur.

Oh ya, satu lagi. Cerita ini juga menjelaskan pada kita bahwa pertanyaan di alam kubur ternyata tak disampaikan kepada semua orang. Umar mungkin bisa menjawab pertanyaan kedua malaikat itu, seandainya tetap ditanyakan (sebuah formalitas belaka, jika demikian). Yang pasti, dia tak sampai ketakutan, karena toh ada suara yang membelanya dan menyuruh mereka pergi.

Bayangkan seandainya saat itu Umar ketakutan …

*Cerita 1, Kitab Al-Mawa’izh Al-‘Ushfuriyyah, karya Syekh bin Muhammad bin Abi Bakr, hal. 7.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s