Sempak Merah


Siang setelah jumatan, suasana pesantren tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

Di dapur umum, santri-santri yang makan 3 kali sehari sedang mengantre untuk mengambil jatah makan mereka. Ruangan yang dindingnya kusam oleh jelaga dan bekas tangan-tangan kotor itu hampir tak sanggup meredam hiruk-pikuk mereka. Santri-santri yang sudah tak sabar mendorong antrean dari belakang, membuat teman-temannya yang ada di depan berteriak dan mengumpat.

Santri-santri lain yang hanya makan 2 kali sehari sibuk mengalihkan rasa laparnya dengan bercengkerama, melipat cucian kering, atau tidur. Udara panas menjadi cobaan yang melengkapi tirakat mereka. Santri yang punya uang melarikan diri ke kantin untuk mencari minuman dingin, sedang mereka yang bokek hanya bisa meminum air isi ulang.

Di tengah rutinitas yang berlangsung setiap siang itu, sebuah keributan kecil terdengar. Salah seorang santri memanggil-manggil nama Ustadz Fuad sambil keluar-masuk kamar-kamar santri putra. Santri-santri lain turun tangan membantunya begitu tahu bahwa yang mencari ustadz mereka adalah Kyai Tamim, sang pengasuh pesantren.

Ustadz Fuad yang tengah menikmati makan siang terhenyak sebelum membalas panggilan itu. Begitu diberitahu bahwa Kyai mencarinya, buru-buru ia menelan nasi yang belum lumat betul di mulutnya dan mencuci tangan ala kadarnya. Sejurus kemudian, beliau melompat keluar kamar dan berlari kecil menghampiri sang Kyai.

Di samping kantin, Kyai Tamim mematung sambil memandangi langit-langitnya yang bocor akibat hujan deras malam sebelumnya. Setelah melihat kedatangan Ustadz Fuad, beliau langsung melempar isyarat ke tanaman puring yang tumbuh bersisian dengan dinding kantin. Sesaat setelah mengikuti isyarat Kyai Tamim, Ustadz Fuad kaget bukan kepalang.

“Itu tanaman apa, kok bunganya seperti itu?” Kyai Tamim pura-pura tidak tahu.

Semua penghuni pesantren Nurul Huda, termasuk Kyai Tamim sendiri tentunya, tahu bahwa itu puring. Kalau kemudian beliau memberi isyarat dan seakan bertanya tentang tanaman yang daunnya hijau kekuningan itu, itu karena beliau melihat sebuah benda tak bertuan yang mengering di atasnya, yang mungkin sudah sepanjang siang sengaja dijemur di sana.

Melihat tatapan Kyai Tamim yang tampak tak berkenan dengan pemandangan itu, Ustadz Fuad segera mendekati benda yang dimaksud, mengambilnya dengan tangan yang masih bau sayur, dan cepat-cepat menyembunyikannya di balik punggung. Kyai Tamim lalu beringsut pergi tanpa mengubah raut wajahnya, meninggalkan sang ustadz yang salah tingkah dan menahan malu.

***

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s