Ketidakpastian Tak Semenakutkan Itu


Kalau mau jujur, sebenarnya kita sudah terbiasa menghadapi hal-hal yang tak pasti.

Saat duduk di bangku Sekolah Dasar, kita tak tahu hukuman apa yang sudah disiapkan oleh guru matematika jika kita gagal mengerjakan soal darinya. Setelah remaja dan mulai berani mendekati lawan jenis, kita sering bertanya-tanya isi hati orang yang kita sukai. Apakah dia punya perasaan yang sama atau biasa-biasa saja, sebab kita “terlalu baik untuknya”.

Unsplash.com

Soal pendidikan tinggi dan karier juga sama, begitu pula tempat tinggal, kedekatan dengan orangtua, pertemanan, bahkan sekadar memastikan apa yang akan terjadi esok hari pun kita tak mampu. Kita hanya bisa menebak-nebak dan memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya.

Namun, berkali-kali menghadapi ketidakpastian ternyata tak membuat kita terbiasa dengannya. Kita masih sering terkejut, khawatir, kadang bahkan pesimistis.

Mekanisme Emosi

Kita sepakat bahwa itu sesuatu yang wajar, apalagi jika yang kita khawatirkan nyata dan masuk akal. Tapi, berkaca pada pengalaman saya selama ini, munculnya perasaan tidak nyaman seperti itu sebenarnya adalah bagian dari mekanisme emosi kita saat menghadapi sesuatu yang tak bisa kita kendalikan.

Coba ingat, kita sering merasa nervous, cemas, atau stres tatkala kita tidak bisa mengendalikan sesuatu, lebih-lebih memastikannya berjalan sesuai harapan kita. Kalau kita bisa mengendalikannya, apalagi memastikan bahwa semuanya “aman”, sedikit kemungkinan kita terpikir yang tidak-tidak.

Artinya, dalam menghadapi ketidakpastian, pengalaman kita yang bejibun bukanlah tolok ukur yang relevan dan bisa menjamin bahwa kita tidak kebingungan menghadapinya. Meski mungkin pengalaman tersebut bermanfaat karena membuat kita sedikit lebih tenang.

Bagaimanapun grogi saat pertama kali naik pesawat tentu lebih dahsyat rasanya dibandingkan kali kedua, ketiga, dan seterusnya.

Ketika saya nervous, pikiran saya kacau. Saya sulit berpikir jernih, apalagi jika pada saat-saat genting itu saya melupakan sesuatu yang seharusnya saya ingat di luar kepala. Saya pernah menonton video seorang pengantin pria menjadi bahan tertawaan karena lupa bagaimana mengucapkan kalimat akad.

Ketika puluhan pasang mata secara bersamaan melihat diri kita, kita akan mudah terserang nervous. Ketika nervous, kita kehilangan kendali. Kita pun merasa bahwa semua seperti berjalan tanpa aturan, termasuk diri kita sendiri.

Itu sebabnya, dalam video yang menunjukkan bahwa dirinya sedang dikelilingi oleh tamu undangan, mempelai pria itu lupa kalimat yang harus ia lafalkan. Mungkin lebih buruk lagi. Ia ingat, tapi lidahnya kelu, sehingga kata-kata yang ia ucapkan seperti igauan yang tak jelas.

Contoh lain yang lebih sering kita alami adalah saat selip lidah, yang sekian detik kemudian membuat kita khawatir dengan akibatnya. Saya pernah berbincang-bincang dengan ibu mertua di halaman rumahnya, sembari memandang tanaman dan bunga-bunga miliknya. Saat membahas topik tertentu saya mengucapkan kata-kata yang membuat percakapan kami terhenti beberapa lama: “Itu lidah mertua dibuang saja, Bu, biar agak rapi!”

Hanya Sementara

Setelah tumbuh dewasa dan berkali-kali muka kita ditempeleng oleh kenyataan pahit, kita sadar bahwa momen-momen seperti itu akan selalu menghampiri kita; bahwa kita tidak selalu bisa mengendalikan diri kita sendiri –apalagi mengendalikan hidup dan memastikan semuanya baik-baik saja. Dan ini adalah sesuatu yang harus dihadapi oleh siapa pun.

Baca juga: Khawatir Ini, Khawatir Itu

Kabar baiknya, sebagai bagian dari mekanisme emosi, khawatir hanyalah sementara. Ketika apa yang kita khawatirkan tidak terbukti, atau terbukti tapi tidak semengerikan yang kita khawatirkan, perlahan-lahan ia akan surut. Hati menjadi lega, pikiran berangsur jernih, dan kita merasa memegang kendali lagi.

Saya ingat betul, ketika dicekam ketakutan akan terjadinya sesuatu yang mengerikan, badan saya lemas dan keringat dingin bercucuran. Perasaan saya sangat tidak nyaman. Tapi, karena situasi tersebut di kemudian hari saya temui lagi, lagi, dan lagi, lama-lama saya merasakannya sebagai sesuatu yang biasa. Memang tetap mengkhawatirkan, tapi hati saya tahu itu tidak semenakutkan yang sebenarnya.

Bulan-bulan ini kita memasuki tahun kedua pandemi Covid-19. Tahun-tahun berjalan sangat lambat. Masker menutup wajah hampir semua orang, menyembunyikan kebosanan mereka akibat terkurung di rumah masing-masing dan terisolasi dari sanak keluarga. Bukan hanya peluang dan kesempatan yang entah ke mana perginya, hal-hal yang pada tahun-tahun sebelumnya adalah keniscayaan, sekarang menjadi ketidakmenentuan.

Berbagai ketidakpastian menghantui malam-malam kita, menjelma bayang-bayang yang mengerikan dan mengganggu waktu istirahat. Pandangan mata kita menyiratkan ketakutan akan hari-hari yang berat di depan. Kadang saat lapar (sekarang Ramadan 2021!) saya melamunkan masa depan dan menggambarkannya secara dramatis dengan trotoar, ransel yang berisi pakaian lusuh, dan dompet yang entah apa isinya: hidup menggelandang.

Namun, seperti saya bilang, sebagai sebuah mekanisme, kekhawatiran hanyalah sementara. Dan sebagaimana kekhawatiran-kekhawatiran yang telah lalu, apa pun yang kita hadapi di hari esok tak mungkin semenakutkan bayangan kita. Mungkin karena perasaan kita yang berlebihan menggambarkannya.

Namanya juga perasaan.

4 thoughts on “Ketidakpastian Tak Semenakutkan Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s