Mimpi Tsabit Al-Bunani


Cerita ini saya tulis ulang dari buku Syarh Al-Mawa’izh Al-‘Ushfuriyyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakr. Diterbitkan oleh Maktabah At-Turmusi Lit Turas dalam bahasa Arab.

Suatu malam Tsabit Al-Bunani berziarah ke pemakaman. Seperti kebiasaannya, di tempat tersebut ia berzikir, berdoa, dan melakukan ibadah apa saja yang bisa mendekatkan dirinya pada Allah. Namun malam itu Tsabit merasakan sesuatu yang membuat matanya mengantuk luar biasa, sampai-sampai karena tak sanggup menahan, ia tertidur.

Dalam tidurnya Tsabit melihat sejumlah ahli kubur keluar dari makam mereka. Wajah mereka putih bersinar dan pakaian mereka sangat indah. Tsabit melihat orang-orang itu disuguhi nampan yang isinya berbagai macam makanan lezat.

Baca juga: Yang Haram Aja Susah
Ilustrasi makanan, diposting pertama kali di http://www.barakabits.com

Di antara orang-orang yang terlihat bahagia itu, Tsabit melihat seorang anak muda yang tertunduk lesu. Wajahnya kusam, rambutnya kusut, airmata berlinang membasahi pipinya. Berbeda dengan orang-orang di sekitarnya, anak muda itu tidak disuguhi makanan, sama sekali.

Hal tersebut menumbuhkan pertanyaan di hati Tsabit. Ia hampiri pemuda itu, lalu ia tanya siapa dirinya dan orang-orang itu. Pemuda tersebut menjawab bahwa dirinya adalah orang yang kebaikan-kebaikannya semasa hidup dilupakan dan tidak ada seorang pun dari keluarganya yang mau mendoakannya. Sementara orang-orang yang disuguhi makanan itu memiliki saudara, keluarga, dan kerabat yang mau mengingat kebaikan mereka, mendoakan mereka, dan bersedekah atas nama mereka di setiap malam Jumat. Berkat kebaikan keluarganya mereka dianugerahi pahala dan kebahagiaan di alam kubur.

Baca juga: Paradoks Agama

Anak muda itu lalu mengisahkan sepenggal kisah hidupnya. Bahwa dirinya memiliki seorang ibu. Suatu waktu, karena ingin menunaikan haji ia meninggalkan sang ibunda. Malang tak dapat dihindari, di suatu kota dalam perjalanannya menuju Mekah, ajal menjemput pemuda tersebut.

Jenazahnya lalu dikirim kepada sang ibunda, dan dikuburkan di pemakaman yang dikunjungi oleh Tsabit. Tak ingin larut dalam kesedihan, ibunda anak muda itu menikah lagi dan membangun rumah tangga yang baru; sayangnya sambil melupakan anaknya yang telah wafat. Ia tidak pernah mengingat kebaikan sang anak, mendoakannya, atau bersedekah atas namanya.

“Karena itulah aku kecewa dan bersedih setiap waktu,” ujar pemuda itu.

Tsabit tersentuh oleh cerita anak muda itu. Ia lalu meminta alamat ibundanya, yang dijawab beserta hal lain yang tak kalah penting: Bahwa sang ibunda menyimpan harta warisan suaminya atau ayah anak muda itu, yang sebagian merupakan haknya.

Ketika Tsabit berhasil menemui ibu yang dimaksud dan menyampaikan pesan dari anaknya, ibu tersebut memberikan 100 mitsqal perak (setara 425gram, atau senilai Rp5.193.075) kepada Tsabit dan memintanya untuk menyedekahkan harta itu, atas nama putra tercintanya. Mendapat kepercayaan itu Tsabit tidak bisa melakukan hal lain kecuali menunaikan kewajibannya.

Pada malam Jumat berikutnya, Tsabit mengunjungi salah seorang saudaranya. Ketika tanpa sengaja tertidur di kediaman saudaranya, ia bermimpi melihat anak muda itu dalam keadaan yang jauh lebih baik: Wajahnya berseri, pakaiannya indah, dan hatinya tampak bahagia.

Anak muda itu berkata pada Tsabit, “Semoga Allah merahmatimu, sebagaimana Dia merahmatiku.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s