Satu Yang Tersisa


Ya, saya tahu, kapan pun dan di mana pun kita bisa kehilangan apa pun yang kita miliki.

Kehilangan pekerjaan yang kita idamkan, kehilangan kesempatan untuk bersua dengan keluarga, mungkin juga kehilangan hidup dan cerita-cerita bahagianya.

Saya membuat tulisan ini ketika kasus infeksi Covid-19 di Indonesia sedang berada di puncak. Cerita tentang pasien isolasi mandiri yang meninggal kesepian di kamarnya berseliweran di beranda media sosial, demikian pula kisah pilu pasien-pasien yang tak tertolong karena kehabisan tabung oksigen.

Bencana ini benar-benar membuat kita tak berjarak dengan kematian, sekaligus memaksa kita terus mendekat pada Tuhan.

Kadang saat terjaga dari tidur pikiran saya berkeliaran membayangkan hal-hal buruk. Tentang istri saya yang sedang mengandung anak kedua kami, tentang Nabil, juga tentang saudara-saudara dekat saya. Sering saya bergidik dan buru-buru memalingkan pikiran pada hal lain yang menyenangkan.

Baca juga: Ketidakpastian Tak Semenakutkan Itu

Jika pandemi ini terus memburuk dan memporakporandakan impian yang ditata berjuta-juta orang di muka bumi ini, mungkin hal baik yang tersisa dalam hidup tiap orang hanya itu: pikiran tentang sesuatu yang menyenangkan.

Entah dalam bentuk kenangan atau keyakinan.

Yaa amaanal khooifiiin, aaminnaa mimmaa nakhoof.
Yaa amaanal khooifiin, sallimnaa mimmaa nakhoof.
Yaa amaanal khoo’ifiin, najjinaa mimmaa nakhoof.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s