Cinta Ayah


Sudah 2 tahun ini saya asyik bermain Twitter. Banyak hal baik saya dapatkan darinya, mulai informasi hingga pertemanan. Saya mengenal orang dari berbagai latar belakang sosial dan pendidikan. Beberapa di antara mereka tak henti mengetuk-ngetuk hati saya dengan perjuangan hidupnya.

Ada seorang pengemudi Gojek (atau Grabbike, saya lupa) yang menghabiskan berjam-jam waktunya mencari nafkah di jalanan. Menembus terik siang dan derasnya hujan demi keluarga tercintanya, terutama untuk anak laki-lakinya yang mengidap lupus.

Teman yang lain tak ketinggalan mencuit perjuangan para ayah yang tak mengenal lelah mencari uang untuk keluarganya. Ada yang menjadi sopir truk, ada juga yang berjualan nasi goreng, kue kering, katering kecil-kecilan, hingga bumbu dapur. Di tengah kondisi sulit seperti sekarang, apa saja mereka lakoni demi menghidupi istri dan anak-anak mereka.

Baca juga: Untuk Anakku (1)

Sepintas lalu apa yang mereka lakukan tampak biasa saja. Semacam naluri bertahan hidup untuk diri dan anggota keluarganya. Tapi dalam agama kita, pengorbanan yang bersifat naluriah ini sangat diapresiasi.

Suatu ketika seseorang menghadap Rasulullah saw. Orang itu berkata bahwa dirinya telah melakukan dosa kepada Allah dan ingin disucikan oleh Rasulullah, maksudnya dimohonkan ampunan kepada Allah. Mendengar permintaan itu, Rasulullah bertanya dosa apa yang telah dilakukannya.

“Saya malu mengatakannya,” jawab orang itu.

Rasulullah kecewa mendengarnya, lalu berkata kalau dia malu kepada beliau, mengapa dia tidak malu kepada Allah, padahal Allah selalu melihatnya.

“Pergi kamu, jangan sampai neraka diturunkan kepada kami akibat dosamu itu!” sabda Nabi.

Remuk hati orang tersebut mendengar perintah Rasulullah itu. Dia pun beringsut dengan perasaan kecewa, putus asa, dan bercucuran airmata.

Saat itulah malaikat Jibril menghadap Rasulullah dan bertanya, mengapa beliau membuat putus asa orang yang memiliki penghapus dosa-dosa.

“Apa penghapus dosa-dosanya?” tanya Nabi.

Malaikat Jibril menjawab, “Anak kecil.”

Baca juga: Untuk Anakku (2)

Ketika orang itu pulang ke rumahnya, seorang anak kecil menyambutnya. Orang itu lantas memberikan makanan atau benda lain yang sekiranya bisa membahagiakan hatinya.

“Ketika anak kecil itu bahagia, saat itulah dosa-dosa orang tersebut dihapuskan,” lanjut malaikat Jibril.

Cerita itu saya baca dalam buku Al-Mawa’izh Al-‘Ushfuriyyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakr, sebuah kumpulan hadis dengan penjelasan berupa cerita-cerita inspiratif dari Rasulullah, sahabat, dan orang saleh.

Membaca hikayat itu, saya merasa terlibat dengan perasaan orang yang diceritakan –saya juga seorang ayah. Betapa indah perjuangan seorang kepala rumah tangga dan betapa besar cintanya pada sang buah hati. Sekeras apa pun hidup menempanya, dengan berbagai dosa atau kesalahan yang mungkin dilakukannya, ia tak lupa membuat gembira anak-anaknya sewaktu pulang dan bertemu mereka.

Dan siapa sangka, perbuatan kecil yang menutup harinya itu menjadi pelebur dosa-dosanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s