Kamu


Aku masih terus mencarimu,
di gelapnya lorong-lorong masa lalu,
di tengah sepinya malam-malamku.

Dan kau masih seperti dulu,
yang tak henti menyembunyikan diri
di balik kabut masa depan
dan selimut takdir yang begitu tebal.

Teka-Teki Mahadahsyat


Hampir satu jam kita berkeliling kota, menelusuri ruas-ruas jalan yang memanjang dari depan rumah kosmu sampai entah ke mana. Menghabiskan sisa waktu kebersamaan kita yang tinggal setarikan nafas.

Angin malam yang berembus selepas hujan tak kita pedulikan. Gemuruh yang masih terdengar dari langit kita anggap nyanyi sunyi yang tak bermakna apa-apa. Lampu-lampu jalan yang kesepian tampak meremang karena kabut yang turun dengan tergesa.

Entah berapa kali kautanya kapan aku akan pulang. Yang pasti, sebanyak itu pula kujawab bahwa kepergianku hanya sementara.

Aku bisa melihat wajahmu dari kaca spion di motorku, menahan tanya sekaligus rasa takut. Bagaimanapun aku menyadari, dari sekian banyak pertanyaan yang saat itu kausampaikan, ada yang tak mampu kujawab. Selain bingung mengungkapkannya, sebagian aku sendiri tak tahu jawabannya.

Sebuah teka-teki, seperti dirimu.

Baca juga: Kerinduan Itu

Kadang aku marah pada diriku saat melihatmu kecewa. Kaubilang aku kurang peka, tak mengerti isi hati wanita. Jangan kaupikir aku tak terbebani dengan kata-katamu itu. Sangat menjengkelkan rasanya ketika tahu apa yang kaumaksud (termasuk diammu) tak mampu kupahami. Sebab, bagaimana mungkin aku mencintaimu kalau memahamimu saja aku tak mampu?

Setelah sekian lama, aku mencoba berdamai dengan kegagalanku itu, dan mengalihkan perhatian pada sesuatu yang lebih penting: teka-teki itu sendiri. Jangan-jangan teka-teki itulah, bukan jawabannya, yang sebenarnya kubutuhkan. Sesuatu yang membuatku terus bertanya, terus mencari jawabannya. Dan dalam kaitan dengan cinta-cinta kita, teka-teki itulah yang memaksaku terus berbenah.

Mungkin kalimatku sedikit mengecewakanmu. Tapi, kalau kau setuju dengan premis ini, maka selama aku mencintaimu, selama itu pula aku tak akan bisa memahamimu. Paradoks yang baik (tentu, tentu, kita bisa berdebat tentang ini), sebab dengan begitu aku akan terus bertanya, mencari, berproses, berbenah menjadi lebih baik. Dan dengan begitu, sejatinya aku sedang membuktikan sesuatu yang dituntut oleh setiap kekasih pada pencintanya: bukti.

Namun, aku ingin kau lebih percaya padaku. Bahwa kesediaanku untuk terus mencari jawaban bagi teka-teki mahadahsyat itu (maksudku, kamu) adalah bukti kesungguhan cintaku padamu. Sebab dalam pencarianku, tak ragu kukorbankan waktuku, sesuatu yang tak mungkin bisa kaubeli, untuk hal lain yang selamanya tak bisa kupahami. Sesuatu yang kalau terus kuselami arusnya akan membawaku pada sebuah muara di kehidupanku: kamu.

Baca juga: Tentang Kita

***

Mei 2021. Tak terasa, sebelas tahun sudah sejak malam penuh kenangan itu. Waktu yang lebih dari cukup untuk membuktikan segala yang dulu pernah kita yakini. Dan kalau kini semua tak seperti angan-angan kita malam itu, Malang yang dingin tetap akan hidup dalam ingatan kita. Dengan ruas-ruas jalannya yang basah, kerlip lampunya yang meremang, dan titik-titik air yang jatuh di dedaunan pohonnya.

Malang yang indah. Kota yang setiap ruas jalannya menyimpan lembar-lembar kenangan tentang kita.

And so I’m sailing through the sea
To an island where we’ll meet
You’ll hear the music fill the air
I’ll put a flower in your hair

Though the breezes through the trees
Move so pretty you’re all I see
As the world keeps spinning round
You hold me right here right now

–Jason Mraz, Lucky

Ketidakpastian Tak Semenakutkan Itu


Kalau mau jujur, sebenarnya kita sudah terbiasa menghadapi hal-hal yang tak pasti.

Saat duduk di bangku Sekolah Dasar, kita tak tahu hukuman apa yang sudah disiapkan oleh guru matematika jika kita gagal mengerjakan soal darinya. Setelah remaja dan mulai berani mendekati lawan jenis, kita sering bertanya-tanya isi hati orang yang kita sukai. Apakah dia punya perasaan yang sama atau biasa-biasa saja, sebab kita “terlalu baik untuknya”.

Unsplash.com

Soal pendidikan tinggi dan karier juga sama, begitu pula tempat tinggal, kedekatan dengan orangtua, pertemanan, bahkan sekadar memastikan apa yang akan terjadi esok hari pun kita tak mampu. Kita hanya bisa menebak-nebak dan memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya.

Namun, berkali-kali menghadapi ketidakpastian ternyata tak membuat kita terbiasa dengannya. Kita masih sering terkejut, khawatir, kadang bahkan pesimistis.

Mekanisme Emosi

Kita sepakat bahwa itu sesuatu yang wajar, apalagi jika yang kita khawatirkan nyata dan masuk akal. Tapi, berkaca pada pengalaman saya selama ini, munculnya perasaan tidak nyaman seperti itu sebenarnya adalah bagian dari mekanisme emosi kita saat menghadapi sesuatu yang tak bisa kita kendalikan.

Coba ingat, kita sering merasa nervous, cemas, atau stres tatkala kita tidak bisa mengendalikan sesuatu, lebih-lebih memastikannya berjalan sesuai harapan kita. Kalau kita bisa mengendalikannya, apalagi memastikan bahwa semuanya “aman”, sedikit kemungkinan kita terpikir yang tidak-tidak.

Artinya, dalam menghadapi ketidakpastian, pengalaman kita yang bejibun bukanlah tolok ukur yang relevan dan bisa menjamin bahwa kita tidak kebingungan menghadapinya. Meski mungkin pengalaman tersebut bermanfaat karena membuat kita sedikit lebih tenang.

Bagaimanapun grogi saat pertama kali naik pesawat tentu lebih dahsyat rasanya dibandingkan kali kedua, ketiga, dan seterusnya.

Ketika saya nervous, pikiran saya kacau. Saya sulit berpikir jernih, apalagi jika pada saat-saat genting itu saya melupakan sesuatu yang seharusnya saya ingat di luar kepala. Saya pernah menonton video seorang pengantin pria menjadi bahan tertawaan karena lupa bagaimana mengucapkan kalimat akad.

Ketika puluhan pasang mata secara bersamaan melihat diri kita, kita akan mudah terserang nervous. Ketika nervous, kita kehilangan kendali. Kita pun merasa bahwa semua seperti berjalan tanpa aturan, termasuk diri kita sendiri.

Itu sebabnya, dalam video yang menunjukkan bahwa dirinya sedang dikelilingi oleh tamu undangan, mempelai pria itu lupa kalimat yang harus ia lafalkan. Mungkin lebih buruk lagi. Ia ingat, tapi lidahnya kelu, sehingga kata-kata yang ia ucapkan seperti igauan yang tak jelas.

Contoh lain yang lebih sering kita alami adalah saat selip lidah, yang sekian detik kemudian membuat kita khawatir dengan akibatnya. Saya pernah berbincang-bincang dengan ibu mertua di halaman rumahnya, sembari memandang tanaman dan bunga-bunga miliknya. Saat membahas topik tertentu saya mengucapkan kata-kata yang membuat percakapan kami terhenti beberapa lama: “Itu lidah mertua dibuang saja, Bu, biar agak rapi!”

Hanya Sementara

Setelah tumbuh dewasa dan berkali-kali muka kita ditempeleng oleh kenyataan pahit, kita sadar bahwa momen-momen seperti itu akan selalu menghampiri kita; bahwa kita tidak selalu bisa mengendalikan diri kita sendiri –apalagi mengendalikan hidup dan memastikan semuanya baik-baik saja. Dan ini adalah sesuatu yang harus dihadapi oleh siapa pun.

Baca juga: Khawatir Ini, Khawatir Itu

Kabar baiknya, sebagai bagian dari mekanisme emosi, khawatir hanyalah sementara. Ketika apa yang kita khawatirkan tidak terbukti, atau terbukti tapi tidak semengerikan yang kita khawatirkan, perlahan-lahan ia akan surut. Hati menjadi lega, pikiran berangsur jernih, dan kita merasa memegang kendali lagi.

Saya ingat betul, ketika dicekam ketakutan akan terjadinya sesuatu yang mengerikan, badan saya lemas dan keringat dingin bercucuran. Perasaan saya sangat tidak nyaman. Tapi, karena situasi tersebut di kemudian hari saya temui lagi, lagi, dan lagi, lama-lama saya merasakannya sebagai sesuatu yang biasa. Memang tetap mengkhawatirkan, tapi hati saya tahu itu tidak semenakutkan yang sebenarnya.

Bulan-bulan ini kita memasuki tahun kedua pandemi Covid-19. Tahun-tahun berjalan sangat lambat. Masker menutup wajah hampir semua orang, menyembunyikan kebosanan mereka akibat terkurung di rumah masing-masing dan terisolasi dari sanak keluarga. Bukan hanya peluang dan kesempatan yang entah ke mana perginya, hal-hal yang pada tahun-tahun sebelumnya adalah keniscayaan, sekarang menjadi ketidakmenentuan.

Berbagai ketidakpastian menghantui malam-malam kita, menjelma bayang-bayang yang mengerikan dan mengganggu waktu istirahat. Pandangan mata kita menyiratkan ketakutan akan hari-hari yang berat di depan. Kadang saat lapar (sekarang Ramadan 2021!) saya melamunkan masa depan dan menggambarkannya secara dramatis dengan trotoar, ransel yang berisi pakaian lusuh, dan dompet yang entah apa isinya: hidup menggelandang.

Namun, seperti saya bilang, sebagai sebuah mekanisme, kekhawatiran hanyalah sementara. Dan sebagaimana kekhawatiran-kekhawatiran yang telah lalu, apa pun yang kita hadapi di hari esok tak mungkin semenakutkan bayangan kita. Mungkin karena perasaan kita yang berlebihan menggambarkannya.

Namanya juga perasaan.

Para Penjaga


Tak banyak yang tahu bahwa dunia berputar sebagaimana mestinya berkat sentuhan mereka.

Source: Frederick Goodall, https://www.pinterest.com.au/pin/463730092860021899/?d=t&mt=login

Siang dan malam mereka menjaganya, tak peduli angin bertiup ke arah mana dan bintang jatuh mengirimkan pertanda apa. “Selama panggilan itu masih berkumandang, kami tak akan beranjak dari tempat di mana kami seharusnya berada,” kata mereka.

Para penjaga adalah manusia-manusia yang setia berpegang pada kitab warisan. Hari demi hari, entah berapa abad sejak mulai membaca dan menyelami isinya, mereka amati segala yang terjadi di berbagai belahan dunia, mereka artikan gerak-geriknya, dan mereka perkirakan bagaimana akhirnya dengan berpedoman pada kitab warisan itu.

Aku pernah bertemu dengan mereka, kalau kau mau tahu. Lebih dari itu, aku pernah melewatkan masa-masa remajaku yang membosankan bersama mereka. Menitipkan bukan hanya masa depanku tapi bahkan hidup dan matiku. Orang-orang yang penampilannya sangat bersahaja tapi hatinya kaya-raya.

Namun, Teman, jangan membayangkan mereka sebagai orang-orang yang di sakunya penuh dengan uang dan kepentingan, apalagi kekuasaan. Sejak lama mereka adalah orang-orang yang dipinggirkan, dipandang sebelah mata, bahkan pada periode masa yang lama keberadaannya tak diinginkan.

Bagi orang-orang yang rongga perutnya seperti ruang antara bumi dan bulan, mereka yang menjaga roda dunia ini tetap berputar tak ubahnya kucing liar yang hanya pantas dilempar sandal.

Ada memang segelintir orang yang menganggap para penjaga itu penting. Mereka adalah orang-orang yang wajahnya bersih karena rajin perawatan, pakaiannya licin dan mewah, dan baunya wangi. Mereka datang lima tahun sekali, yaitu pada momen pemilihan kepala daerah. Mereka menyapa orang-orang desa itu dan dengan berbuih-buih menjanjikan karpet, semen, genteng, meja-kursi, dan komputer, sembari menyampaikan maksud kedatangan mereka: meminta restu.

Meski begitu, jangan pula membayangkan para penjaga itu adalah orang-orang akademis yang bicaranya rumit dan melangit, yang membuat para pendengarnya terkagum-kagum meskipun tak mengerti. Mereka memiliki ilmu yang menyamudera, tapi sehari-hari mereka tinggal di sudut desa yang terpencil. Bertetangga dengan belut dan ular sawah, berteman jangkrik dan burung hantu.

Mungkin karena itulah mereka juga dicap bodoh, kolot, terbelakang, dan berbagai stereotip negatif lainnya. Dianggap tak mengerti perkembangan dan tak tersentuh kemajuan. Orang-orang Jakarta yang rajin ikut seminar dan sering tampil di layarkaca pasti sulit percaya bahwa di tangan merekalah masa depan umat manusia digenggam. Lebih dari itu, berkat sentuhan tangan merekalah dunia yang kita tempati hingga kini baik-baik saja.

Sejak masih sangat belia mereka telah mempelajari kitab warisan. Mengakrabi huruf demi hurufnya, mengeja indah kata-katanya, membaca kalimat-kalimatnya yang bertuah, dan menggali makna terdalamnya. Dengan kitab itulah mereka bercermin, dan dengan kitab itu pulalah mereka menunjukkan jembatan bagi siapa saja yang ingin menyeberang.

Sebuah Fantasi yang Nyata


Sejak menonton About Time, film-film bertema travel in time adalah favorit saya.

Saya sempat berburu film bertema sama, tapi ternyata gak banyak. Film lokal bertema travel in time sebenarnya ada, cuman sampai sekarang belum ada yang digarap secara apik dan bernas. Dan satu-satunya yang masih saya ingat: Lorong Waktu.

Agaknya sulit mengharapkan insan perfilman Indonesia menggarap tema ini. Bukan karena minim talenta, tapi film bertema travel in time rasanya lebih bagus kalau diperankan oleh orang luar (?) dan lokasi pengambilan gambarnya di negara-negara Barat.

Baca juga: Teleporter

Ini mungkin subyektif. Menurut saya, film-film fantasi lebih sempurna kalau semua unsur dalam ceritanya juga fantasi, atau seenggaknya bukan sesuatu yang dekat dengan keseharian kita. Sehingga kita gak disibukkan dengan usaha untuk mengonfirmasi atau mengoreksi hal-hal yang kita anggap gak pas dengan kenyataan.

Sejauh ini, film tentang travel in time yang paling saya suka adalah About Time (2013). Yang lain adalah The Time Traveler’s Wife (2009), Interstellar (2014), dan tentu saja Back to the Future (1985). Age of Adeline (2015) bagus, tapi bisa gak ya disebut film travel in time? Kayaknya sih gak.

Director: Richard Curtis
Writer: Richard Curtis
Stars: Domhnall GleesonRachel McAdamsBill Nighy

Dalam film-film bertema travel in time, kita sepenuhnya diajak berfantasi. Melompat ke masa lalu atau masa depan tentu hanya bisa dilakukan dalam khayalan. Nah, film-film tersebut membantu menghidupkan alam khayal kita menjadi serupa kenyataan.

Tentu menarik melihat seseorang kembali ke masa lalunya, lalu memperbaiki sesuatu yang menurutnya salah atau menjadi sebab masa depannya berantakan. Tapi, menghayati peran tokoh-tokoh dalam film tersebut memunculkan kegelisahan di benak kita: Apa menariknya seandainya hidup bisa direkayasa seperti itu?

Bukankah hidup menjadi layak dijalani sebab apa yang akan terjadi tak selalu bisa ditebak dan apa yang telah terjadi tak bisa dianulir? Kenyataan memang tak selalu sesuai harapan dan kesalahan mungkin berakibat buruk, tapi justru di situ menariknya: kita bisa menjadi manusia yang lebih baik dengan belajar darinya.

Mungkin karena itu, dalam About Time, Tim sampai pada sebuah kesimpulan tentang hidup –setelah puas melompat-lompat ke masa lalunya:

“No one can ever prepare you for what happens when you have a child. When you see the baby in your arms and you know that it’s your job now.

No one can prepare you for the love and the fear. No one can prepare you for the love people you love can feel for them. And nothing can prepare you for the indifference of friends you don’t have babies.

And it’s a shock how quickly you have to move to a new place you completely can’t afford. Suddenly, time travel seems almost unnecessary, because every detail of life is so delightful.”

About Time menjadi film favorit saya karena isinya romance (semua orang suka, kan?) dan alurnya sederhana. Kesan pertama saat selesai menonton film itu: ringan, hangat, dan indah. Alurnya gak serumit The Time Traveler’s Wife dan jalinan ceritanya lebih mudah dimengerti.

Selain itu, saya memang suka dengan drama Inggris. Kadang ceritanya memang cetek, tapi ini adalah satu-satunya kekurangan yang bisa kita kritisi. Siapa pun yang pernah nonton Love Actually (2003), The Holiday (2006), atau Me Before You (2016, buset, ini film cewek semua ya, hehe) mungkin punya komentar sama tentang jalan ceritanya: ringan, atau dalam cibiran para kritikus film: dangkal.

Ada banyak klise, bahkan cringe, dalam dialog atau adegan tokoh-tokohnya. Coba ingat Love Actually, bagaimana Natalie (Martine McCutcheon) yang berkali-kali salah ngomong di hadapan David, sang Perdana Menteri yang baru dilantik, yang diperankan oleh Hugh Grant.

Baca juga: 5 OS Film Paling Keren

Kalau kita nonton The Holiday, kita juga menemukan adegan yang sama. Salah satunya saat Amanda (Cameron Diaz) bertemu Graham (Jude Law) untuk pertama kalinya. Percakapan keduanya terdengar artifisial, adegan mereka lebih-lebih, gak natural.

Alhasil, film-film yang mengangkat tema travel in time, terlebih yang diproduksi di Inggris, memiliki ciri khasnya sendiri. Terlepas dari berbagai kekurangannya. Dan meski film-film ini menghidupkan khayalan kita tentang travel in time, pesan utamanya identik: bahwa manusia harus mensyukuri apa yang mereka miliki hari ini.

Sebuah Ajakan


Aku tepekur saat kau menitipkannya padaku. Bukan tak percaya dengan keputusanmu yang tiba-tiba. Aku hanya bingung –mau kuapakan benda itu?

Sore berjalan lambat di tengah hujan deras hari itu, tapi kata-kata telah kehabisan makna mengungkapkan maksud pertemuan kita. Wajahmu kosong menatap daun-daun yang bergoyang oleh siraman air langit. Sedang aku hanya bisa memandang secangkir kopi yang telah membeku.

“Akan ada yang terluka,” ujarku.
“Usah dibahas, kita sama-sama tahu.” Kau menukas.

Ya, kita sama-sama dewasa. Dan mungkin karena itu kita jadi punya keberanian, atau kebodohan, yang sama.

Bermain-main dengan api. Memang ada riang saat merasakan hangatnya, tapi terlalu asyik memainkannya akan membuat kita lengah. Panasnya akan membakar kulit kita dan mendidihkan darahnya –orang yang sekarang kautitipi benda yang sama.

Aku sendiri sulit menyembunyikan ketidakpercayaanku. Dudukku tak bisa tenang, kata-kataku tak beraturan. Orang-orang terkejut dengan gemuruh guntur yang saling susul, tapi hanya aku seorang yang mendengar ledakan bom nuklir di suatu tempat.

Kau tak pernah berhenti mengejutkanku. Seperti sore itu, juga hari-hari yang telah lalu. Tapi, aku tak lagi seperti dulu. Yang bisa kautitipi benda-benda sesukamu, dan bisa kauambil kapan pun kaumau.

Apalagi jika yang kautitipkan itu hati, dengan cinta yang penuh pura-pura dan satu ruang yang berisi nama-nama.

Yes, I Will Be There


Mungkin satu atau dua tahun yang lalu saya menemukan lagu Katie Melua ini. Kesan saya saat pertama mendengarnya: indah sekali. Suaranya dalam dan bergema, hampir mirip seriosa. Liriknya pun tak kalah bagus.

Sempat terlintas di benak saya untuk mengunduh audio lagu ini dan menyimpannya di playlist, sebab dari sedikit lagu yang saya suka, ini adalah salah satunya. Sayangnya, SPPD Jogja dan Liquid Star melalaikan saya darinya.

Sungguh sebuah kelalaian yang besar dan patut disesali. Eh, BTW, buat yang gak tahu apa itu SPPD Jogja dan Liquid Star, mending gak usah penasaran, ya. *wink

Untungnya, minggu lalu saya menemukan lagu ini kembali, seperti sebelumnya, secara tak sengaja. Di tengah tekanan batin akibat pandemi dan perjuangan untuk meraih “husnul khatimah“, lagu ini seperti mencoba menghibur dan menguatkan.

Meski sepertinya tak berhasil.

Baca juga: 5 OS Film Paling Keren

I Will Be There bercerita tentang seorang ibu; sebuah tema universal yang mengajak kita mengenang jasa-jasanya, merasakan perjuangan dan jatuh-bangunnya membesarkan kita, serta membalas budinya –seandainya bisa.

Dari sekian kata-kata indah dalam lirik lagu ini, barangkali bagian ini adalah favorit saya.

Don’t ever be lonely
Remember, I’ll always care
Wherever you may be
Remember I will be there

Berikut video klipnya. Selamat menikmati 🙂

Lagu Lawas: Mengapa Masih Banyak yang Menyukai?


Lagu lawas membuat penggemarnya sepakat dengan satu hal: mendengarkannya akan mengingatkan mereka tentang suatu masa.

Photo by Burst on Pexels.com

Sesuatu yang kini menjadi kenangan. Bisa peristiwa yang dialami oleh orang lain, bisa juga pengalaman sendiri.

Itu bukan isapan jempol. Siapa pun yang mendengarkan suara emas Pance Pondaag, Vina Panduwinata, Broery Marantika, Iis Sugianto, Chrisye, Ebiet G. Ade, dan sederet nama tenar lainnya akan terkenang entah peristiwa apa ketika mereka masih remaja, mungkin juga anak-anak.

Tak Sekadar Kenangan

Namun, lagu lawas sebenarnya bukan hanya tentang kenangan. Memutar kembali lagu-lagu tersebut dan mencermati lirik, musik, dan video klipnya akan membuka mata kita tentang roda zaman yang terus bergerak, yang setiap penggalnya menunggu untuk dikuak.

Baca juga:
5 Lagu Jadul Paling Romantis
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Ibarat pita film sebelum tersentuh digitalisasi, lagu-lagu itu merekam bagaimana mereka yang hidup di zaman itu memaknai berbagai hal di sekitar mereka, mungkin juga di dalam diri mereka. Tentang cinta, perpisahan, pengkhianatan, kekecewaan, dan lain sebagainya.

Zaman berubah. Apa yang penting bagi orang sekarang belum tentu disikapi sama oleh mereka yang hidup di zaman dahulu. Demikian pula sesuatu yang pantas atau tidak. Coba saja lihat video klip lagu-lagu itu, jika bukan keheranan, minimal rasa penasaran akan muncul di hati kita.

Cinta, tema abadi yang diangkat dalam berbagai lagu, memiliki nilai transenden tertentu kala itu. Dulu bukan era remaja-remaja memaknai cinta dengan jalinan yang hampir sama dengan hubungan suami-istri, seperti biasa kita temui sekarang.

Gambaran Situasi

Perubahan yang lebih konkret bisa kita lihat, misalnya, dalam cara berbusana model klip lagu-lagu zaman dulu. Dalam klip lagu Pance Pondaag yang berjudul “Kucoba Hidup Sendiri”, tampak seorang model melakukan serangkaian adegan.

Sesuai lirik lagunya, model wanita tersebut beradegan bak seorang yang sedang bimbang, atau istilah populer zaman sekarang “galau”. Ia berjalan di sebuah tempat wisata, mungkin Bali atau TMII, seorang diri. Di sekelilingnya sepi, tak ada seorang pun yang terlihat.

Gadis cantik itu hanya mengenakan minidress: lengan terbuka, belahan dada terlihat, dan rok di atas lutut. Untuk alas kaki ia mengenakan sepatu boot tinggi. Meski mode busana tersebut tak mencerminkan gaya berpakaian gadis-gadis saat itu, toh klip tersebut tak dipersoalkan.

Ketika video klip tersebut masih sering ditayangkan di layar kaca, masyarakat Indonesia mungkin tak terlalu memusingkannya. Boleh jadi karena saat itu standar moral yang berlaku tak mempermasalahkannya. Selama tak ada adegan erotis, no problem.

Baca juga:
7 Lagu Lawas yang Paling Menyentuh
5 Original Soundtrack Paling Keren

Namun, bagaimana jika sekarang ada stasiun televisi yang menayangkannya? Jika bukan KPI menyurati mereka, mungkin ormas-ormas keagamaan berdemo di depan kantor mereka. Masyarakat yang menonton mungkin juga gerah, dan menganggapnya tayangan maksiat.

Apa yang sebenarnya terjadi? Zaman berubah. Banyak hal yang memengaruhi. Dalam hal ini, orientasi keberagamaan masyarakat yang semakin ketat mungkin penyebabnya. Itu bisa terjadi karena banyak faktor, salah satunya: gerakan dakwah yang massif.

Diakui atau tidak, pengaruh tersebut telah membentuk cara pandang yang baru di masyarakat. Bahwa fenomena itu muncul sebagai konsekuensi logis dari suatu peristiwa yang lain, mungkin saja. Dalam konteks Indonesia, kolapsnya Orde Baru mungkin merupakan titik mula.

Jika kita ingat, ambrolnya benteng pertahanan Orde Baru akibat meletusnya reformasi telah membuka keran berbagai corak pemikiran keagamaan. Tampilnya ormas dan orpol bercorak keagamaan merupakan gejala yang menunjukkan apa yang sekarang kita lihat di masyarakat.

Jadi, selain menjadi bahan nostalgia, lagu-lagu lawas juga menarik karena merekam sesuatu yang berbeda. Dan adanya perbedaan yang terperangkap dalam lagu-lagu itu dengan kondisi sekarang telah menyadarkan kita tentang arti sebuah perubahan.

Kerinduan Itu


Adakah yang lebih menyiksa dari kerinduan?

Lelaki perkasa tersungkur karena menahan rindu kekasihnya. Raja-raja kehilangan malu karena menahan gejolaknya. Para bijak bestari kehabisan kata-kata lantaran tenggelam dalam perasaan yang sama.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Sejak lama orang-orang mengagungkan cinta. Seakan cinta adalah kenyataan paling absolut yang tak terbantahkan.

Siapa pun yang merasakannya mungkin akan berpendapat sama, sampai mereka terpisah dengan sang kekasih dan terpaksa menahan diri untuk tak bertemu.

Saya sepakat cinta adalah jawaban untuk semua persoalan, tapi rindu boleh jadi akar dari segala permasalahan.

Apakah kemudian klop? Masalah apa pun yang muncul sebab kerinduan akan terjawab dan selesai begitu saja dengan hadirnya cinta?

Belum tentu.

Nyatanya, seorang perindu bisa jadi malah kehilangan cinta terhadap kekasihnya. Waktu membenamkannya dalam samudera kekaguman tak bertepi, dan ruang yang tanpa batas seakan membuatnya menggenggam erat hati sang kekasih.

Lantas, mana yang absolut?

Yang lebih menarik, justru dalam derita menahan rindu itu, seseorang menyatu dengan kekasihnya. Raga mungkin terpisah, tapi jiwa mereka bercumbu setiap saat, sepanjang waktu.

Cinta yang dulu kenyataan paling agung menjadi tanpa makna, sebab dalam penyatuan segala rasa tak lagi punya kuasa.

5 OS Film Paling Keren


Teman saya, yang dua tahun belakangan mengerjakan tugas-tugas freelance di kantor, heran dengan kebiasaan aneh saya: menonton film yang sama hingga berkali-kali.

“Apa gak bosan?” ujarnya. Itu adalah pertanyaan standar dari teman-teman lain yang juga baru tahu kebiasaan saya tersebut. “Apa asyiknya? Kan sudah tahu alur ceritanya?” buru mereka.

Iya, sih. Menonton film yang sama sampai berkali-kali pasti membuat bosan, apalagi kalau filmnya bukan film favorit kita. Tapi, itu kalau kita sekadar menonton, apalagi cuma killing time. Kalau kita punya maksud lain, yang kita rasakan pasti beda.

Tak Hanya Menonton

Saya suka romance dan action movie. Gak tahu deh berapa banyak film romance atau action yang saya tonton. Tapi, saya gak sekadar menonton. Saya juga suka mencari dialog, adegan, latar tempat dan waktu, serta alur cerita yang menarik di dalamnya.

Akibat kebiasaan menonton film yang sama berulang-ulang itu, saya jadi hafal dengan unsur-unsur yang ada dalam film tersebut. Tuntas dengan dialog, adegan, latar tempat dan waktu, serta alur cerita yang menarik, saya jatuh cinta pada soundtrack-nya.

Baca juga:
7 Lagu Lawas yang Paling Menyentuh
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Berkali-kali menonton film gak cuma membuat hafal dengan visual yang kita lihat, tapi juga akrab dengan audionya. Nah, dalam tulisan kali ini saya ingin sharing lagu apa saja yang paling saya sukai dalam film-film yang pernah saya tonton.

Mungkin ini sangat subyektif, tapi lagu-lagu yang melekat di telinga saya ini benar-benar bisa menghadirkan sebuah “dunia” yang unik, jauh, dan berbeda.

1. Ma L’Amore No (Malena)

Malena adalah film tentang istri seorang tentara Italia. Setelah bertahun-tahun menunggu kabar sang suami yang hilang di medan perang, ia akhirnya jatuh miskin. Meski sempat tertolong oleh kebaikan mertuanya, ia tak bisa menghindari jebakan nasib berikutnya, yang memaksanya menjadi seorang pelacur.

Tak tanggung-tanggung, pelanggannya adalah tentara asing yang berganti-ganti menguasai negaranya. Tentara Nazi Jerman, lalu tentara Sekutu. Profesinya sebagai wanita penghibur jelas menuai cibiran masyarakat, terutama dari kaum hawa, yang jengkel melihat laki-laki mereka kepincut.

Ma L’Amore No adalah lagu gubahan Giovanni D’Anzi. Liriknya ditulis oleh Michele Galdieri. Lagu ini pertama kali tayang dalam sebuah gambar bergerak yang berjudul Stasera Niente di Nuovo, pada 23 Desember 1942. Penyanyi aslinya bernama Alida Valli.

Berikut sebagian lirik lagunya.

Ma l’amore no
L’amore mio non può
Dissolversi con l’oro dei capelli
Fin ch’io vivo sarà vivo in me
Solo per te

2. Now We Are Free (Gladiator)

Yang paling menarik dari lagu ini adalah maknanya: tak ada seorang pun yang tahu. Dari semua unsur yang ada di dalamnya, hanya judulnya saja yang bisa kita mengerti. Mengapa demikian? Karena sang penyanyi, Lisa Gerrard, menggunakan glosalalia.

Glosalalia adalah bahasa yang diciptakan sendiri oleh sang penyanyi. Cara ini mirip dengan nyanyian bayi yang belum bisa bicara atau sekelompok penganut Kristen Pantekosta ketika sedang memanjatkan doa.

Saya pertama menonton Gladiator (2000) dalam format VCD, dan langsung suka dengan original soundtrack-nya. Sejak saat itu saya bertanya-tanya dalam bahasa apa lirik lagu tersebut dinyanyikan. Dan entah kenapa baru sekarang saya browsing dan menemukan jawabannya.

Russell Crowe bermain sangat apik dalam film ini. Dari keseluruhan filmnya, mungkin Gladiator adalah filmnya yang paling sukses. Ada kutipan bagus dalam salah satu dialognya di film ini, yang mungkin akan saya tulis dalam postingan berikutnya.

Berikut kutipan lirik lagu ini.

Anol shalom
Anol sheh lay konnud de ne um
Flavum
Nom de leesh
Ham de nam um das
La um de
Flavne …

3. L’appuntamento (Ocean’s Twelve)

Ocean’s Twelve (2004) adalah action movie paling sepi yang pernah saya tonton. “Yang paling sepi” maksudnya gak banyak tembak-tembakannya. Saya lupa tepatnya, gak banyak atau gak ada sama sekali. Meski begitu, film ini gak membosankan, bagus malah.

L’appuntamento menjadi lagu pembuka dalam film ini. Dikisahkan bahwa seorang maling profesional bernama Robert “Rusty” Ryan (Brad Pitt) berhasil mengelabui agen Europol cantik bernama Isabel Lahiri (Catherine Zeta Jones). Ia bahkan juga memacarinya.

Setelah menghabiskan waktu yang lama untuk menyelidiki pencurian sebuah koleksi langka, Isabel akhirnya menemukan sejumlah petunjuk tentang profil pelakunya: ukuran sepatu, rambut, dan selanjutnya DNA. Bagi Rusty, itu adalah petir di siang bolong.

Cerita kemudian berlanjut sangat menarik. Tentu jika kita bisa mengikuti ceritanya. Agar mudah memahami film ini, kita perlu menonton sekuel pertamanya: Ocean’s Eleven. Saya sendiri, meski sudah menonton film pertamanya, tetap saja harus mengulang-ulang film keduanya.

Nah, setelah mendengar sang kekasih menemukan titik terang pelaku pencurian itu, Rusty melarikan diri. Dalam adegan itulah (Rusty mengalirkan air bathtub agar berisik, lalu melompat jendela), L’appuntamento dimainkan.

Lagu ini pertama kali dipopulerkan oleh Ornella Vanoni, seorang penyanyi Italia, pada tahun 1970. L’appuntamento sendiri artinya the date atau kencan atau janji temu. Belakangan lagu ini juga dinyanyikan oleh Andrea Bocelli.

Berikut kutipan liriknya.

Sono triste tra la gente che mi sta passando accanto
Ma la nostalgia di rivedere te è forte più del pianto
Questo sole accende sul mio volto un segno di speranza
Sto aspettando, quando ad un tratto ti vedrò spuntare in lontananza

4. Let It Be Me (Flipped)

Let It Be Me populer saat dinyanyikan oleh Everly Brothers. Lagu ini mulanya dirilis tahun 1955 di Prancis dengan judul Je t’appartiens. Versi bahasa Inggrisnya diterjemahkan oleh Gilbert Becaud. Belakangan lagu ini juga dinyanyikan oleh duet Betty Everett dan Jerry Butler.

Namun, lagu Let It Be Me yang menjadi OST Flipped adalah versi yang lain lagi, yang dinyanyikan oleh Phil Everly. Seperti umumnya lagu-lagu keren yang menjadi OST sebuah film, lagu ini juga terletak di bagian akhir, mengiringi adegan penutup.

Let It Be Me sendiri merupakan film yang disutradarai oleh Rob Reiner hasil adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Wendeline Van Dranen. Novel ini terbit pada tahun 2010 di Amerika Serikat. Versi filmnya pertama kali tayang di tahun yang sama.

Meski tema novel atau film ini klise, yakni cinta monyet anak-anak remaja, tapi pemilihan latar waktu yakni tahun 1950-an membuatnya istimewa. Kita diajak oleh penulis untuk merasakan suasana pemukiman serta pergaulan anak-anak remaja Amerika Serikat pada dekade itu.

Berikut cuplikan lirik lagu ini.

I bless the day I found you
I want to stay around you
And so I beg you, let it be me
Don’t take this heaven from one
If you must cling to someone
Now and forever, let it be me

5. Love Theme (Cinema Paradiso)

Ini adalah lagu favorit saya dibanding lagu-lagu sebelumnya. Meski belum pernah menonton filmnya (hehe, maaf), OST-nya terbaique.

Cinema Paradiso atau versi aslinya Nuovo Cinema Paradiso adalah film drama Italia karya Giuseppe Tornatore. Film ini pertama kali tayang pada tahun 1988. Oh ya, Giuseppe Tornatore juga merupakan sosok yang menyutradarai Malena.

Saya pertama kali menemukan lagu ini saat streaming lagu-lagunya Ann Akiko Meyers. Meski lagu-lagunya yang lain juga keren, Love Theme adalah juaranya. Apalagi sebagai violinis, Meyers terlihat sangat menjiwai saat membawakan lagu ini.

Saya sempat penasaran dengan pencipta masterpiece ini, tapi setelah mendengar nama Ennio Morricone, saya gak banyak berkomentar. Hanya kalimat, “Pantes … ” yang keluar dari bibir. Siapa yang gak kenal komposer gaek itu? Berbagai lagu keren lahir dari tangan dinginnya.

Morricone adalah sosok penting yang menjadi penata musik lebih dari 500 film dan acara televisi. Film-film yang menggunakan gubahannya sebagai OST antara lain A Fistful of Dollars (1964), For a Few Dollars More (1965), The Good, the Bad, and the Ugly (1966) dan Once Upon a Time in the West (1968). Keempatnya adalah film-film koboi Italia.

Film lainnya adalah The Thing (1982), Once Upon a Time in America (1984), The Mission (1986) Roland JoffeThe Untouchables (1987), Cinema Paradiso (1988), U Turn (1997), The Legend of 1900 (1998), Malena (2000), Mission to Mars (2000), Fateless (2005), Baaria-La porta del Vento (2009), dan tak ketinggalan Django Unchained (2012).