Hari Baru


Assalamualaikum, Nabil.

Kau sehat-sehat saja, Nak? Alhamdulillah, Ayah dan Ibu sehat-sehat selalu. Bagaimana ngajimu? Sudah berapa bait Alfiyyah yang kauhafalkan? Jangan lupa, kau harus mulai mencicilnya dari sekarang. Fathul Qarib bagaimana, apa ada masalah? Sharaf? Tafsir?

Maaf, maaf, bukan maksudku menginterogasimu. Aku cuma ingin tahu perkembangan belajarmu. Jawab saja apa adanya, tak perlu takut. Aku dan ibumu juga pernah ada di posisimu, dan kami tak selalu baik-baik saja.

Kalau kau tak menemui masalah dalam belajarmu, bersyukurlah, sebab artinya Allah telah memudahkannya. Kalau kau menemuinya, bersabarlah, itu juga bentuk lain dari cinta kasih-Nya. Kau boleh tertinggal untuk urusan pelajaran (jangan terlalu dipikirkan!), tapi aku harap kau selalu menjaga adab pada guru-gurumu. Kata Kyaiku, adab itu nomor satu. Pandai kira-kira nomor dua puluh tujuh.

Sekarang hari Kamis, 9 September 2021. Hari yang cerah setelah sore hingga malam kemarin hujan deras mengguyur Jakarta.

Sewaktu aku melintas di jalanan pagi tadi, genangan masih terlihat di mana-mana. Daun-daun terlihat segar, rumput-rumput seperti bergembira menyambut pagi yang hangat.

***

Dua hari kemarin aku kembali berbincang dengan ibumu. Setelah sepuluh tahun menyunting naskah, mengoreksi, mem-proof, membuat konsep desain, merancang judul buku, sampai mempromosikan dan membantu memasarkan buku, kini tiba saatnya aku berpikir tentang kemungkinan melanjutkan perjalanan. Sebuah pilihan yang tidak mudah.

Hari ini setelah jam makan siang, aku akhirnya duduk di ruang yang biasanya kugunakan untuk meeting bersama teman-teman. Hanya kali ini aku berbincang empat mata dengan atasanku. Detik demi detik terasa sangat lambat.

Baca juga: Ketidakpastian Tak Semenakutkan Itu

Ada banyak yang kami bicarakan. Mulai tugas harianku, hambatan-hambatan yang sedang kuhadapi, sampai rencana ke depan. Kujawab semua apa adanya, termasuk kenekatanku meninggalkan pekerjaan yang dulu pernah kuidam-idamkan ini: editor.

Ya, kalau kau belum pernah mendengar, aku pernah sangat mendambakan diriku menjadi editor buku. Sebuah pekerjaan yang menurutku keren tapi pada saat yang sama “gelap”, sebab tak banyak yang kutahu dan hanya sedikit orang yang bisa kutanya-tanya tentangnya. Aku tak ragu mengatakan bahwa dari sekian banyak pengalaman, menjalani pekerjaan ini adalah salah satu yang paling kusyukuri.

Sepuluh tahun menjadi editor, banyak asam-garam yang sudah kukecap. Setidaknya sebelum dua tahun yang lalu, aku tak menyangka akan tiba hari ketika aku memikirkan kembali kesibukanku, mencermati kemungkinan yang lain, dan bukan mustahil memilihnya.

Berat rasanya meninggalkan sesuatu yang bukan hanya kaucintai tapi juga kaujaga kesetiaanmu padanya. Entah sama atau tidak, tapi melirik pekerjaan baru sama berbahayanya dengan melirik seorang wanita yang baru kaulihat.

Ini hanya ibarat. Ibumu tak perlu tahu.

***

Aku tak tahu apa yang akan mengejutkanku di depan nanti. Tapi dalam hidup kita, selain jalan menanjak juga ada jalan menurun, bukan?

Aku mungkin akan mengkhawatirkan banyak hal, tapi seperti yang sudah-sudah, Anakku, aku akan percaya pada-Nya. Bukan hanya kali ini aku berada dalam situasi yang tak bisa kurekayasa. Jadi, untuk urusan berpasrah pada-Nya, aku sudah punya pengalaman.

Aku jadi ingat, dulu sewaktu masih tinggal di pesantren sering aku menemui situasi yang tak menyenangkan dan celakanya tak bisa kuhindari. Kau mungkin sudah beberapa kali ada dalam situasi seperti itu, jadi tak perlu kujelaskan panjang-lebar.

Baca juga: Menyederhanakan Kebahagiaan

Yang pasti, serumit apa pun masalah yang kita hadapi, seburuk apa pun situasi itu membekap kesadaran kita, jika sudah waktunya selesai, akan selesai. Sama dengan angin puyuh, jika saatnya tiba ia akan memporak-porandakan segala yang ada di jalur lintasannya. Tapi jika sudah saatnya reda, ia akan tenang dengan sendirinya.

Lama-lama aku jadi ingat Gus Dur. Katanya, kalau kau menghadapi masalah yang masih bisa kauatasi, ya atasi saja, nanti akan selesai. Jika kau menemui kesulitan yang tak bisa kauatasi, biarkan saja, nanti akan selesai sendiri.

Hidup kita pendek, Nak. Jangan habiskan untuk terus-terusan mengkhawatirkan sesuatu. Apalagi sesuatu yang Allah sudah mengatur dan menjaminnya, seperti urusan rezeki.

Kita mengaku percaya pada Allah, tapi pada saat yang sama masih khawatir besok kita makan apa. Kata Mbah Tedjo, itu sama saja dengan menghina Tuhan.

Sudah ya, aku pulang dulu. Mendung terlihat semakin tebal, aku takut hujan segera turun.

Cinta Ayah


Sudah 2 tahun ini saya asyik bermain Twitter. Banyak hal baik saya dapatkan darinya, mulai informasi hingga pertemanan. Saya mengenal orang dari berbagai latar belakang sosial dan pendidikan. Beberapa di antara mereka tak henti mengetuk-ngetuk hati saya dengan perjuangan hidupnya.

Ada seorang pengemudi Gojek (atau Grabbike, saya lupa) yang menghabiskan berjam-jam waktunya mencari nafkah di jalanan. Menembus terik siang dan derasnya hujan demi keluarga tercintanya, terutama untuk anak laki-lakinya yang mengidap lupus.

Teman yang lain tak ketinggalan mencuit perjuangan para ayah yang tak mengenal lelah mencari uang untuk keluarganya. Ada yang menjadi sopir truk, ada juga yang berjualan nasi goreng, kue kering, katering kecil-kecilan, hingga bumbu dapur. Di tengah kondisi sulit seperti sekarang, apa saja mereka lakoni demi menghidupi istri dan anak-anak mereka.

Baca juga: Untuk Anakku (1)

Sepintas lalu apa yang mereka lakukan tampak biasa saja. Semacam naluri bertahan hidup untuk diri dan anggota keluarganya. Tapi dalam agama kita, pengorbanan yang bersifat naluriah ini sangat diapresiasi.

Suatu ketika seseorang menghadap Rasulullah saw. Orang itu berkata bahwa dirinya telah melakukan dosa kepada Allah dan ingin disucikan oleh Rasulullah, maksudnya dimohonkan ampunan kepada Allah. Mendengar permintaan itu, Rasulullah bertanya dosa apa yang telah dilakukannya.

“Saya malu mengatakannya,” jawab orang itu.

Rasulullah kecewa mendengarnya, lalu berkata kalau dia malu kepada beliau, mengapa dia tidak malu kepada Allah, padahal Allah selalu melihatnya.

“Pergi kamu, jangan sampai neraka diturunkan kepada kami akibat dosamu itu!” sabda Nabi.

Remuk hati orang tersebut mendengar perintah Rasulullah itu. Dia pun beringsut dengan perasaan kecewa, putus asa, dan bercucuran airmata.

Saat itulah malaikat Jibril menghadap Rasulullah dan bertanya, mengapa beliau membuat putus asa orang yang memiliki penghapus dosa-dosa.

“Apa penghapus dosa-dosanya?” tanya Nabi.

Malaikat Jibril menjawab, “Anak kecil.”

Baca juga: Untuk Anakku (2)

Ketika orang itu pulang ke rumahnya, seorang anak kecil menyambutnya. Orang itu lantas memberikan makanan atau benda lain yang sekiranya bisa membahagiakan hatinya.

“Ketika anak kecil itu bahagia, saat itulah dosa-dosa orang tersebut dihapuskan,” lanjut malaikat Jibril.

Cerita itu saya baca dalam buku Al-Mawa’izh Al-‘Ushfuriyyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakr, sebuah kumpulan hadis dengan penjelasan berupa cerita-cerita inspiratif dari Rasulullah, sahabat, dan orang saleh.

Membaca hikayat itu, saya merasa terlibat dengan perasaan orang yang diceritakan –saya juga seorang ayah. Betapa indah perjuangan seorang kepala rumah tangga dan betapa besar cintanya pada sang buah hati. Sekeras apa pun hidup menempanya, dengan berbagai dosa atau kesalahan yang mungkin dilakukannya, ia tak lupa membuat gembira anak-anaknya sewaktu pulang dan bertemu mereka.

Dan siapa sangka, perbuatan kecil yang menutup harinya itu menjadi pelebur dosa-dosanya.

Satu Yang Tersisa


Ya, saya tahu, kapan pun dan di mana pun kita bisa kehilangan apa pun yang kita miliki.

Kehilangan pekerjaan yang kita idamkan, kehilangan kesempatan untuk bersua dengan keluarga, mungkin juga kehilangan hidup dan cerita-cerita bahagianya.

Saya membuat tulisan ini ketika kasus infeksi Covid-19 di Indonesia sedang berada di puncak. Cerita tentang pasien isolasi mandiri yang meninggal kesepian di kamarnya berseliweran di beranda media sosial, demikian pula kisah pilu pasien-pasien yang tak tertolong karena kehabisan tabung oksigen.

Bencana ini benar-benar membuat kita tak berjarak dengan kematian, sekaligus memaksa kita terus mendekat pada Tuhan.

Kadang saat terjaga dari tidur pikiran saya berkeliaran membayangkan hal-hal buruk. Tentang istri saya yang sedang mengandung anak kedua kami, tentang Nabil, juga tentang saudara-saudara dekat saya. Sering saya bergidik dan buru-buru memalingkan pikiran pada hal lain yang menyenangkan.

Baca juga: Ketidakpastian Tak Semenakutkan Itu

Jika pandemi ini terus memburuk dan memporakporandakan impian yang ditata berjuta-juta orang di muka bumi ini, mungkin hal baik yang tersisa dalam hidup tiap orang hanya itu: pikiran tentang sesuatu yang menyenangkan.

Entah dalam bentuk kenangan atau keyakinan.

Yaa amaanal khooifiiin, aaminnaa mimmaa nakhoof.
Yaa amaanal khooifiin, sallimnaa mimmaa nakhoof.
Yaa amaanal khoo’ifiin, najjinaa mimmaa nakhoof.

Mimpi Tsabit Al-Bunani


Cerita ini saya tulis ulang dari buku Syarh Al-Mawa’izh Al-‘Ushfuriyyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakr. Diterbitkan oleh Maktabah At-Turmusi Lit Turas dalam bahasa Arab.

Suatu malam Tsabit Al-Bunani berziarah ke pemakaman. Seperti kebiasaannya, di tempat tersebut ia berzikir, berdoa, dan melakukan ibadah apa saja yang bisa mendekatkan dirinya pada Allah. Namun malam itu Tsabit merasakan sesuatu yang membuat matanya mengantuk luar biasa, sampai-sampai karena tak sanggup menahan, ia tertidur.

Dalam tidurnya Tsabit melihat sejumlah ahli kubur keluar dari makam mereka. Wajah mereka putih bersinar dan pakaian mereka sangat indah. Tsabit melihat orang-orang itu disuguhi nampan yang isinya berbagai macam makanan lezat.

Baca juga: Yang Haram Aja Susah
Ilustrasi makanan, diposting pertama kali di http://www.barakabits.com

Di antara orang-orang yang terlihat bahagia itu, Tsabit melihat seorang anak muda yang tertunduk lesu. Wajahnya kusam, rambutnya kusut, airmata berlinang membasahi pipinya. Berbeda dengan orang-orang di sekitarnya, anak muda itu tidak disuguhi makanan, sama sekali.

Hal tersebut menumbuhkan pertanyaan di hati Tsabit. Ia hampiri pemuda itu, lalu ia tanya siapa dirinya dan orang-orang itu. Pemuda tersebut menjawab bahwa dirinya adalah orang yang kebaikan-kebaikannya semasa hidup dilupakan dan tidak ada seorang pun dari keluarganya yang mau mendoakannya. Sementara orang-orang yang disuguhi makanan itu memiliki saudara, keluarga, dan kerabat yang mau mengingat kebaikan mereka, mendoakan mereka, dan bersedekah atas nama mereka di setiap malam Jumat. Berkat kebaikan keluarganya mereka dianugerahi pahala dan kebahagiaan di alam kubur.

Baca juga: Paradoks Agama

Anak muda itu lalu mengisahkan sepenggal kisah hidupnya. Bahwa dirinya memiliki seorang ibu. Suatu waktu, karena ingin menunaikan haji ia meninggalkan sang ibunda. Malang tak dapat dihindari, di suatu kota dalam perjalanannya menuju Mekah, ajal menjemput pemuda tersebut.

Jenazahnya lalu dikirim kepada sang ibunda, dan dikuburkan di pemakaman yang dikunjungi oleh Tsabit. Tak ingin larut dalam kesedihan, ibunda anak muda itu menikah lagi dan membangun rumah tangga yang baru; sayangnya sambil melupakan anaknya yang telah wafat. Ia tidak pernah mengingat kebaikan sang anak, mendoakannya, atau bersedekah atas namanya.

“Karena itulah aku kecewa dan bersedih setiap waktu,” ujar pemuda itu.

Tsabit tersentuh oleh cerita anak muda itu. Ia lalu meminta alamat ibundanya, yang dijawab beserta hal lain yang tak kalah penting: Bahwa sang ibunda menyimpan harta warisan suaminya atau ayah anak muda itu, yang sebagian merupakan haknya.

Ketika Tsabit berhasil menemui ibu yang dimaksud dan menyampaikan pesan dari anaknya, ibu tersebut memberikan 100 mitsqal perak (setara 425gram, atau senilai Rp5.193.075) kepada Tsabit dan memintanya untuk menyedekahkan harta itu, atas nama putra tercintanya. Mendapat kepercayaan itu Tsabit tidak bisa melakukan hal lain kecuali menunaikan kewajibannya.

Pada malam Jumat berikutnya, Tsabit mengunjungi salah seorang saudaranya. Ketika tanpa sengaja tertidur di kediaman saudaranya, ia bermimpi melihat anak muda itu dalam keadaan yang jauh lebih baik: Wajahnya berseri, pakaiannya indah, dan hatinya tampak bahagia.

Anak muda itu berkata pada Tsabit, “Semoga Allah merahmatimu, sebagaimana Dia merahmatiku.”

Sugeng Tindak, Mas Aziz


Rabu, 14 Juli 2021. Sejak pagi mendung bergelayut di langit Depok. Bulan ini sudah separuh jalan, tapi hujan sesekali masih datang.

Hari-hari ini kematian rasanya semakin dekat dengan siapa pun. Ambulans berlalu-lalang di jalanan. Masjid-masjid berlomba mengumumkan kabar duka, bahkan tak lama setelah orang-orang baru membuka mata. Mendengar berita kematian bukan lagi barang yang ganjil, kecuali menyangkut orang-orang yang kita kenal sehat.

Kemarin jam 6 pagi kabar duka juga terdengar, sayup-sayup berasal dari mushala yang entah masih mengadakan shalat jamaah atau tidak. Isi beritanya sama, kabar duka. Yang membuat saya terkejut adalah nama yang disebut sesudahnya: Mas Aziz.

Nama lengkapnya Abdul Aziz. Beliau saya kenal tak lama setelah saya pindah ke Kukusan. Mungkin karena sama-sama dari Malang (kampung saya dan kampungnya hanya berjarak 15-an menit naik motor), kami jadi cepat akrab. Setiap mendengar suara khas dari speaker gerobak motornya, saya melompat keluar rumah untuk menyetopnya.

Baksonya menjadi santap siang favorit anak saya. Kata istri, kuahnya enak. Tapi saya duga, selain soal kuahnya yang sedap, istri saya berlangganan karena Mas Aziz sangat royal padanya. Setiap istri saya membeli bakso, tak lupa ia memberinya gratisan. “Buat si kecil,” ujarnya, singkat.

Ketika istri saya beritahu kabar lelayu itu, matanya berkaca-kaca. Saya mengerti. Dibanding saya, istri saya lebih sering bertemu Mas Aziz. Siang-siang saat ia berkeliling menjajakan baksonya, istri saya akan memanggilnya, menyampaikan pesanan sambil berbincang alakadarnya, membayar, lalu saling mengucapkan terima kasih.

Sesederhana itu, seperti kebiasaan antara penjual dan pembeli. Tapi, sepertinya keramahan dan ketulusan beliau menyentuh hati kami berdua.

Di tempat yang jauh dari kampung halaman, kami menemukan seorang saudara. Orang biasa, tapi berhati mulia.

Mulai hari ini dan seterusnya, kami tak akan lagi melihatnya keluar-masuk gang-gang kecil di Kukusan, tak akan lagi kami menemuinya mangkal di depan masjid selepas jamaah, tak akan lagi kami mendengar sapaan hangatnya saat berpapasan entah di mana.

Dia hanya orang biasa yang kami kenal, bukan saudara, bukan pula orang yang kami anggap “penting”. Tapi, kebaikannya betul-betul membahagiakan kami sekeluarga.

Mas Aziz, maturnuwun untuk kebaikannya selama ini. Kelak ketika Nabil sudah bisa memahami, akan aku ceritakan semua kebaikan Sampeyan padanya. Selamat jalan dan sampai jumpa, pulanglah dengan hati yang penuh ridha dan ketenangan.

Nabil Belajar Mellow ;)


Sudah masuk bulan Juli, tapi hujan masih terus mengguyur. Sesekali panas memang menyengat, tapi sore atau malamnya limpahan air seperti dicurahkan dari langit.

Lumut di halaman rumah seperti berpesta-pora karena tak jadi sekarat, pohon-pohon alpukat milik para tetangga seakan terus merapal syukur, mungkin karena baru kali ini berbuah sambil terus diguyur hujan.

Nabil sudah memasuki usia 3 tahun (lebih 2 bulan). Meski bulan lalu ia berada dalam fase marah-marah gak jelas alias tantrum, beberapa minggu ini keadaannya sudah lebih baik. Saya perhatikan kosakatanya semakin banyak, nafsu makannya meningkat, dan yang tak kalah penting ia semakin terlatih mengungkapkan emosinya: bahagia, sedih, dan tentu saja marah.

Saat vidcall dengan bude dan pakdenya kemarin malam, ia sempat berkaca-kaca karena tahu bahwa pakde ada di rumah sakit. Dan anak seusia itu, tahunya rumah sakit memang untuk orang sakit. Yang gak ia tahu, pakdenya akan menjalani operasi jantung. Apa pun itu, wajahnya yang di awal ceria langsung mendung mendengar kakak ipar saya itu berada di rumah sakit.

Baca juga: Untuk Anakku (1)

Itu bukan pertama kali wajahnya muram karena sesuatu yang menyedihkan. Saya masih ingat, satu tahun lalu saat menonton sebuah film anak-anak di Youtube, ia tiba-tiba menangis (dan menangisnya itu langsung mangap, bukan mimbik-mimbik dulu, hihi). Karena heran, saya coba tonton film yang ia putar di tab-nya. Dan benar, ada adegan sedih di dalam film itu.

Saya sempat tercenung: Anak sekecil itu sudah bisa tersentuh oleh cerita sedih?

Namun setelah baca-baca, begitulah. Bahkan saat masih berada di tahun-tahun pertama kehidupan, seorang anak bisa tersentuh. Ya gak apa, itu normal, dan itu berarti emosinya berkembang dengan baik.

Sebagaimana ia bisa tersentuh, lain waktu ia juga bisa kecewa, ingin, menyesal, antusias, dan bahagia. Kalau ini saya renungkan, saya semakin mafhum, sekaligus bersyukur. Namanya manusia ‘kan punya emosi, dan karena emosi itu terlihat dalam sikap, maka wajar kalau saat menonton film sedih Nabil tersentuh dan mewek.

Mungkin karena pertama kali melihat, saya agak heran, kaget, dan…bingung mau bagaimana.

Baca juga: Untuk Anakku (2)

Untungnya karena ada pengalaman itu, kemarin saat dia seperti mau menangis karena tahu pakdenya berada di rumah sakit, saya langsung memberi penjelasan bahwa pakdenya gak sedang sakit.

“Pakde cuma mau periksa, kok,” kata saya.

Saya awalnya merasa berbohong, tapi perasaan itu saya tepis, karena kakak ipar saya memang gak sedang sakit. Hanya berdasarkan observasi dokter, ia perlu menjalani operasi.

Sakitnya sih sudah beberapa minggu yang lalu 😦

Kamu


Aku masih terus mencarimu,
di gelapnya lorong-lorong masa lalu,
di tengah sepinya malam-malamku.

Dan kau masih seperti dulu,
tak bosan bersembunyi
di balik kabut masa depan
dan selimut takdir yang begitu tebal.

Teka-Teki Mahadahsyat


Hampir satu jam kita berkeliling kota, menelusuri ruas-ruas jalan yang memanjang dari depan rumah kosmu sampai entah ke mana. Menghabiskan sisa waktu kebersamaan kita yang tinggal setarikan nafas.

Angin malam yang berembus selepas hujan tak kita pedulikan. Gemuruh yang masih terdengar dari langit kita anggap nyanyi sunyi yang tak bermakna apa-apa. Lampu-lampu jalan yang kesepian tampak meremang karena kabut yang turun dengan tergesa.

Entah berapa kali kautanya kapan aku akan pulang. Yang pasti, sebanyak itu pula kujawab bahwa kepergianku hanya sementara.

Aku bisa melihat wajahmu dari kaca spion di motorku, menahan tanya sekaligus rasa takut. Bagaimanapun aku menyadari, dari sekian banyak pertanyaan yang saat itu kausampaikan, ada yang tak mampu kujawab. Selain bingung mengungkapkannya, sebagian aku sendiri tak tahu jawabannya.

Sebuah teka-teki, seperti dirimu.

Baca juga: Kerinduan Itu

Kadang aku marah pada diriku saat melihatmu kecewa. Kaubilang aku kurang peka, tak mengerti isi hati wanita. Jangan kaupikir aku tak terbebani dengan kata-katamu itu. Sangat menjengkelkan rasanya ketika tahu apa yang kaumaksud (termasuk diammu) tak mampu kupahami. Sebab, bagaimana mungkin aku mencintaimu kalau memahamimu saja aku tak mampu?

Setelah sekian lama, aku mencoba berdamai dengan kegagalanku itu, dan mengalihkan perhatian pada sesuatu yang lebih penting: teka-teki itu sendiri. Jangan-jangan teka-teki itulah, bukan jawabannya, yang sebenarnya kubutuhkan. Sesuatu yang membuatku terus bertanya, terus mencari jawabannya. Dan dalam kaitan dengan cinta-cinta kita, teka-teki itulah yang memaksaku terus berbenah.

Mungkin kalimatku sedikit mengecewakanmu. Tapi, kalau kau setuju dengan premis ini, maka selama aku mencintaimu, selama itu pula aku tak akan bisa memahamimu. Paradoks yang baik (tentu, tentu, kita bisa berdebat tentang ini), sebab dengan begitu aku akan terus bertanya, mencari, berproses, berbenah menjadi lebih baik. Dan dengan begitu, sejatinya aku sedang membuktikan sesuatu yang dituntut oleh setiap kekasih pada pencintanya: bukti.

Namun, aku ingin kau lebih percaya padaku. Bahwa kesediaanku untuk terus mencari jawaban bagi teka-teki mahadahsyat itu (maksudku, kamu) adalah bukti kesungguhan cintaku padamu. Sebab dalam pencarianku, tak ragu kukorbankan waktuku, sesuatu yang tak mungkin bisa kaubeli, untuk hal lain yang selamanya tak bisa kupahami. Sesuatu yang kalau terus kuselami arusnya akan membawaku pada sebuah muara di kehidupanku: kamu.

Baca juga: Tentang Kita

***

Mei 2021. Tak terasa, sebelas tahun sudah sejak malam penuh kenangan itu. Waktu yang lebih dari cukup untuk membuktikan segala yang dulu pernah kita yakini. Dan kalau kini semua tak seperti angan-angan kita malam itu, Malang yang dingin tetap akan hidup dalam ingatan kita. Dengan ruas-ruas jalannya yang basah, kerlip lampunya yang meremang, dan titik-titik air yang jatuh di dedaunan pohonnya.

Malang yang indah. Kota yang setiap ruas jalannya menyimpan lembar-lembar kenangan tentang kita.

And so I’m sailing through the sea
To an island where we’ll meet
You’ll hear the music fill the air
I’ll put a flower in your hair

Though the breezes through the trees
Move so pretty you’re all I see
As the world keeps spinning round
You hold me right here right now

–Jason Mraz, Lucky

Ketidakpastian Tak Semenakutkan Itu


Kalau mau jujur, sebenarnya kita sudah terbiasa menghadapi hal-hal yang tak pasti.

Saat duduk di bangku Sekolah Dasar, kita tak tahu hukuman apa yang sudah disiapkan oleh guru matematika jika kita gagal mengerjakan soal darinya. Setelah remaja dan mulai berani mendekati lawan jenis, kita sering bertanya-tanya isi hati orang yang kita sukai. Apakah dia punya perasaan yang sama atau biasa-biasa saja, sebab kita “terlalu baik untuknya”.

Unsplash.com

Soal pendidikan tinggi dan karier juga sama, begitu pula tempat tinggal, kedekatan dengan orangtua, pertemanan, bahkan sekadar memastikan apa yang akan terjadi esok hari pun kita tak mampu. Kita hanya bisa menebak-nebak dan memikirkan apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya.

Namun, berkali-kali menghadapi ketidakpastian ternyata tak membuat kita terbiasa dengannya. Kita masih sering terkejut, khawatir, kadang bahkan pesimistis.

Mekanisme Emosi

Kita sepakat bahwa itu sesuatu yang wajar, apalagi jika yang kita khawatirkan nyata dan masuk akal. Tapi, berkaca pada pengalaman saya selama ini, munculnya perasaan tidak nyaman seperti itu sebenarnya adalah bagian dari mekanisme emosi kita saat menghadapi sesuatu yang tak bisa kita kendalikan.

Coba ingat, kita sering merasa nervous, cemas, atau stres tatkala kita tidak bisa mengendalikan sesuatu, lebih-lebih memastikannya berjalan sesuai harapan kita. Kalau kita bisa mengendalikannya, apalagi memastikan bahwa semuanya “aman”, sedikit kemungkinan kita terpikir yang tidak-tidak.

Artinya, dalam menghadapi ketidakpastian, pengalaman kita yang bejibun bukanlah tolok ukur yang relevan dan bisa menjamin bahwa kita tidak kebingungan menghadapinya. Meski mungkin pengalaman tersebut bermanfaat karena membuat kita sedikit lebih tenang.

Bagaimanapun grogi saat pertama kali naik pesawat tentu lebih dahsyat rasanya dibandingkan kali kedua, ketiga, dan seterusnya.

Ketika saya nervous, pikiran saya kacau. Saya sulit berpikir jernih, apalagi jika pada saat-saat genting itu saya melupakan sesuatu yang seharusnya saya ingat di luar kepala. Saya pernah menonton video seorang pengantin pria menjadi bahan tertawaan karena lupa bagaimana mengucapkan kalimat akad.

Ketika puluhan pasang mata secara bersamaan melihat diri kita, kita akan mudah terserang nervous. Ketika nervous, kita kehilangan kendali. Kita pun merasa bahwa semua seperti berjalan tanpa aturan, termasuk diri kita sendiri.

Itu sebabnya, dalam video yang menunjukkan bahwa dirinya sedang dikelilingi oleh tamu undangan, mempelai pria itu lupa kalimat yang harus ia lafalkan. Mungkin lebih buruk lagi. Ia ingat, tapi lidahnya kelu, sehingga kata-kata yang ia ucapkan seperti igauan yang tak jelas.

Contoh lain yang lebih sering kita alami adalah saat selip lidah, yang sekian detik kemudian membuat kita khawatir dengan akibatnya. Saya pernah berbincang-bincang dengan ibu mertua di halaman rumahnya, sembari memandang tanaman dan bunga-bunga miliknya. Saat membahas topik tertentu saya mengucapkan kata-kata yang membuat percakapan kami terhenti beberapa lama: “Itu lidah mertua dibuang saja, Bu, biar agak rapi!”

Hanya Sementara

Setelah tumbuh dewasa dan berkali-kali muka kita ditempeleng oleh kenyataan pahit, kita sadar bahwa momen-momen seperti itu akan selalu menghampiri kita; bahwa kita tidak selalu bisa mengendalikan diri kita sendiri –apalagi mengendalikan hidup dan memastikan semuanya baik-baik saja. Dan ini adalah sesuatu yang harus dihadapi oleh siapa pun.

Baca juga: Khawatir Ini, Khawatir Itu

Kabar baiknya, sebagai bagian dari mekanisme emosi, khawatir hanyalah sementara. Ketika apa yang kita khawatirkan tidak terbukti, atau terbukti tapi tidak semengerikan yang kita khawatirkan, perlahan-lahan ia akan surut. Hati menjadi lega, pikiran berangsur jernih, dan kita merasa memegang kendali lagi.

Saya ingat betul, ketika dicekam ketakutan akan terjadinya sesuatu yang mengerikan, badan saya lemas dan keringat dingin bercucuran. Perasaan saya sangat tidak nyaman. Tapi, karena situasi tersebut di kemudian hari saya temui lagi, lagi, dan lagi, lama-lama saya merasakannya sebagai sesuatu yang biasa. Memang tetap mengkhawatirkan, tapi hati saya tahu itu tidak semenakutkan yang sebenarnya.

Bulan-bulan ini kita memasuki tahun kedua pandemi Covid-19. Tahun-tahun berjalan sangat lambat. Masker menutup wajah hampir semua orang, menyembunyikan kebosanan mereka akibat terkurung di rumah masing-masing dan terisolasi dari sanak keluarga. Bukan hanya peluang dan kesempatan yang entah ke mana perginya, hal-hal yang pada tahun-tahun sebelumnya adalah keniscayaan, sekarang menjadi ketidakmenentuan.

Berbagai ketidakpastian menghantui malam-malam kita, menjelma bayang-bayang yang mengerikan dan mengganggu waktu istirahat. Pandangan mata kita menyiratkan ketakutan akan hari-hari yang berat di depan. Kadang saat lapar (sekarang Ramadan 2021!) saya melamunkan masa depan dan menggambarkannya secara dramatis dengan trotoar, ransel yang berisi pakaian lusuh, dan dompet yang entah apa isinya: hidup menggelandang.

Namun, seperti saya bilang, sebagai sebuah mekanisme, kekhawatiran hanyalah sementara. Dan sebagaimana kekhawatiran-kekhawatiran yang telah lalu, apa pun yang kita hadapi di hari esok tak mungkin semenakutkan bayangan kita. Mungkin karena perasaan kita yang berlebihan menggambarkannya.

Namanya juga perasaan.

Para Penjaga


Tak banyak yang tahu bahwa dunia berputar sebagaimana mestinya berkat sentuhan mereka.

Source: Frederick Goodall, https://www.pinterest.com.au/pin/463730092860021899/?d=t&mt=login

Siang dan malam mereka menjaganya, tak peduli angin bertiup ke arah mana dan bintang jatuh mengirimkan pertanda apa. “Selama panggilan itu masih berkumandang, kami tak akan beranjak dari tempat di mana kami seharusnya berada,” kata mereka.

Para penjaga adalah manusia-manusia yang setia berpegang pada kitab warisan. Hari demi hari, entah berapa abad sejak mulai membaca dan menyelami isinya, mereka amati segala yang terjadi di berbagai belahan dunia, mereka artikan gerak-geriknya, dan mereka perkirakan bagaimana akhirnya dengan berpedoman pada kitab warisan itu.

Aku pernah bertemu dengan mereka, kalau kau mau tahu. Lebih dari itu, aku pernah melewatkan masa-masa remajaku yang membosankan bersama mereka. Menitipkan bukan hanya masa depanku tapi bahkan hidup dan matiku. Orang-orang yang penampilannya sangat bersahaja tapi hatinya kaya-raya.

Namun, Teman, jangan membayangkan mereka sebagai orang-orang yang di sakunya penuh dengan uang dan kepentingan, apalagi kekuasaan. Sejak lama mereka adalah orang-orang yang dipinggirkan, dipandang sebelah mata, bahkan pada periode masa yang lama keberadaannya tak diinginkan.

Bagi orang-orang yang rongga perutnya seperti ruang antara bumi dan bulan, mereka yang menjaga roda dunia ini tetap berputar tak ubahnya kucing liar yang hanya pantas dilempar sandal.

Ada memang segelintir orang yang menganggap para penjaga itu penting. Mereka adalah orang-orang yang wajahnya bersih karena rajin perawatan, pakaiannya licin dan mewah, dan baunya wangi. Mereka datang lima tahun sekali, yaitu pada momen pemilihan kepala daerah. Mereka menyapa orang-orang desa itu dan dengan berbuih-buih menjanjikan karpet, semen, genteng, meja-kursi, dan komputer, sembari menyampaikan maksud kedatangan mereka: meminta restu.

Meski begitu, jangan pula membayangkan para penjaga itu adalah orang-orang akademis yang bicaranya rumit dan melangit, yang membuat para pendengarnya terkagum-kagum meskipun tak mengerti. Mereka memiliki ilmu yang menyamudera, tapi sehari-hari mereka tinggal di sudut desa yang terpencil. Bertetangga dengan belut dan ular sawah, berteman jangkrik dan burung hantu.

Mungkin karena itulah mereka juga dicap bodoh, kolot, terbelakang, dan berbagai stereotip negatif lainnya. Dianggap tak mengerti perkembangan dan tak tersentuh kemajuan. Orang-orang Jakarta yang rajin ikut seminar dan sering tampil di layarkaca pasti sulit percaya bahwa di tangan merekalah masa depan umat manusia digenggam. Lebih dari itu, berkat sentuhan tangan merekalah dunia yang kita tempati hingga kini baik-baik saja.

Sejak masih sangat belia mereka telah mempelajari kitab warisan. Mengakrabi huruf demi hurufnya, mengeja indah kata-katanya, membaca kalimat-kalimatnya yang bertuah, dan menggali makna terdalamnya. Dengan kitab itulah mereka bercermin, dan dengan kitab itu pulalah mereka menunjukkan jembatan bagi siapa saja yang ingin menyeberang.