Sempak Merah


Siang setelah jumatan, suasana pesantren tak berbeda dengan hari-hari sebelumnya.

Di dapur umum, santri-santri yang makan 3 kali sehari sedang mengantre untuk mengambil jatah makan mereka. Ruangan yang dindingnya kusam oleh jelaga dan bekas tangan-tangan kotor itu hampir tak sanggup meredam hiruk-pikuk mereka. Santri-santri yang sudah tak sabar mendorong antrean dari belakang, membuat teman-temannya yang ada di depan berteriak dan mengumpat.

Santri-santri lain yang hanya makan 2 kali sehari sibuk mengalihkan rasa laparnya dengan bercengkerama, melipat cucian kering, atau tidur. Udara panas menjadi cobaan yang melengkapi tirakat mereka. Santri yang punya uang melarikan diri ke kantin untuk mencari minuman dingin, sedang mereka yang bokek hanya bisa meminum air isi ulang.

Di tengah rutinitas yang berlangsung setiap siang itu, sebuah keributan kecil terdengar. Salah seorang santri memanggil-manggil nama Ustadz Fuad sambil keluar-masuk kamar-kamar santri putra. Santri-santri lain turun tangan membantunya begitu tahu bahwa yang mencari ustadz mereka adalah Kyai Tamim, sang pengasuh pesantren.

Ustadz Fuad yang tengah menikmati makan siang terhenyak sebelum membalas panggilan itu. Begitu diberitahu bahwa Kyai mencarinya, buru-buru ia menelan nasi yang belum lumat betul di mulutnya dan mencuci tangan ala kadarnya. Sejurus kemudian, beliau melompat keluar kamar dan berlari kecil menghampiri sang Kyai.

Di samping kantin, Kyai Tamim mematung sambil memandangi langit-langitnya yang bocor akibat hujan deras malam sebelumnya. Setelah melihat kedatangan Ustadz Fuad, beliau langsung melempar isyarat ke tanaman puring yang tumbuh bersisian dengan dinding kantin. Sesaat setelah mengikuti isyarat Kyai Tamim, Ustadz Fuad kaget bukan kepalang.

“Itu tanaman apa, kok bunganya seperti itu?” Kyai Tamim pura-pura tidak tahu.

Semua penghuni pesantren Nurul Huda, termasuk Kyai Tamim sendiri tentunya, tahu bahwa itu puring. Kalau kemudian beliau memberi isyarat dan seakan bertanya tentang tanaman yang daunnya hijau kekuningan itu, itu karena beliau melihat sebuah benda tak bertuan yang mengering di atasnya, yang mungkin sudah sepanjang siang sengaja dijemur di sana.

Melihat tatapan Kyai Tamim yang tampak tak berkenan dengan pemandangan itu, Ustadz Fuad segera mendekati benda yang dimaksud, mengambilnya dengan tangan yang masih bau sayur, dan cepat-cepat menyembunyikannya di balik punggung. Kyai Tamim lalu beringsut pergi tanpa mengubah raut wajahnya, meninggalkan sang ustadz yang salah tingkah dan menahan malu.

***

Bersambung…

Umar dan Seekor Burung Pipit


Cinta memang tak selalu mudah dimengerti.

Bahkan setelah para pujangga, pencipta lagu, dan budak-budak cinta menyempitkannya hanya terhadap lawan jenis, cinta tetap rumit, kompleks, atau mbulet.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Oh, tentu, cinta tak sebatas pada gadis pujaan atau mantan yang tiba-tiba menyapa di beranda media sosial. Cinta itu liar, menjangkau lebih banyak hal dari apa yang bisa dipahami oleh pikiran sempit kita. Bahkan cinta sebenarnya bisa menjangkau segalanya. Maksudku, ya, segalanya.

Mau benda hidup atau mati, mau manusia, anjing, janda bolong (sedang trending saat ini, heran … ), mobil idaman, buku kenang-kenangan, baju lebaran, dan bahkan Tuhan. Ya, tak adil rasanya bicara cinta seakan-akan itu hanyalah rasa di antara manusia, sementara Tuhan kita anggap bukan siapa-siapa untuk dicintai dan sebaliknya, “tunaasmara”.

Mungkin karena itu, Nabi Muhammad saw berpesan pada sahabat-sahabatnya, “Para pencinta akan dicintai oleh Sang Mahacinta, karenanya cintailah makhluk-Nya yang ada di bumi, niscaya makhluk-Nya yang ada di langit akan mencintaimu.”

***

Suatu hari Umar bin Khathab melintas di salah satu ruas jalan di Madinah. Secara tak sengaja, dia melihat seorang anak sedang menggenggam burung pipit dan asyik memainkannya. Jatuh kasihan melihat burung itu, Umar membelinya dan membebaskannya.

Beberapa lama kemudian setelah kematiannya, sejumlah orang mengaku bertemu Umar di dalam mimpi, lalu bertanya tentang keadaannya.

“Apa yang sudah Allah lakukan padamu?” tanya mereka.
“Allah mengampuniku,” jawab Umar, singkat.
“Karena apa? Kebaikanmu, keadilanmu, atau kebersahajaanmu?”

“Setelah kalian memasukkanku ke liang kubur,” jawab Umar, “menutupnya dengan tanah, kemudian meninggalkanku seorang diri, dua malaikat yang sangat berwibawa menemuiku. Saat itu, pikiranku buntu dan sendi-sendi tulangku seperti mau lepas.

“Mereka kemudian memegangku, mendudukkanku, dan tampak ingin mengajukan pertanyaan padaku. Tapi, tiba-tiba aku mendengar entah suara siapa, ‘Tinggalkan hambaku dan jangan membuatnya ketakutan! Aku mencintainya dan telah mengampuninya. Sebab, dulu dia mencintai seekor burung di dunia, dan kini giliranku mencintainya di akhirat’.”

Coba lihat, hanya karena membebaskan seekor burung pipit, Umar bin Khathab mendapat kemuliaan sedemikian rupa di alam kubur. Kita tahu, Umar adalah salah satu pembela Rasulullah saw yang paling berani dan setia. Kita juga tahu, dia adalah pengganti/khalifah beliau yang membuat Islam menyebar dengan pesat ke berbagai penjuru, bahkan hingga ke luar tanah Arab.

Namun, yang membuatnya selamat di alam kubur ternyata bukan semua itu, tapi kebaikannya yang lain, sesuatu yang mungkin dianggap sepele oleh orang-orang, mungkin juga oleh Umar sendiri saat melakukannya. Ya, besar kemungkinan dia tak mengira bahwa melepaskan seekor burung pipit yang tak berharga itu membuka jalan bagi keselamatannya di alam kubur.

Oh ya, satu lagi. Cerita ini juga menjelaskan pada kita bahwa pertanyaan di alam kubur ternyata tak disampaikan kepada semua orang. Umar mungkin bisa menjawab pertanyaan kedua malaikat itu, seandainya tetap ditanyakan (sebuah formalitas belaka, jika demikian). Yang pasti, dia tak sampai ketakutan, karena toh ada suara yang membelanya dan menyuruh mereka pergi.

Bayangkan seandainya saat itu Umar ketakutan …

*Cerita 1, Kitab Al-Mawa’izh Al-‘Ushfuriyyah, karya Syekh bin Muhammad bin Abi Bakr, hal. 7.

Para Pemelihara


Tak banyak yang tahu bahwa dunia berputar sebagaimana mestinya berkat sentuhan mereka.

Source: Frederick Goodall, https://www.pinterest.com.au/pin/463730092860021899/?d=t&mt=login

Siang dan malam mereka menjaganya, tak peduli angin bertiup ke arah mana dan bintang jatuh mengirimkan pertanda apa. “Selama panggilan itu masih berkumandang, kami tak akan beranjak dari tempat di mana kami seharusnya berada,” kata mereka.

Para pemelihara adalah manusia-manusia yang setia berpegang pada kitab warisan. Hari demi hari, entah sudah berapa abad sejak mulai membaca dan menyelami isinya, mereka amati segala yang terjadi di berbagai belahan dunia, mereka artikan gerak-geriknya, dan mereka perkirakan bagaimana akhirnya dengan berpedoman pada kitab warisan itu.

Aku pernah bertemu dengan mereka, kalau kau mau tahu. Lebih dari itu, aku pernah melewatkan masa-masa remajaku yang membosankan bersama mereka. Menitipkan bukan hanya masa depanku tapi bahkan hidup dan matiku. Orang-orang yang penampilannya sangat bersahaja tapi hatinya kaya-raya.

Namun, Teman, jangan membayangkan mereka sebagai orang-orang yang di sakunya penuh dengan uang dan kepentingan, apalagi kekuasaan. Sejak lama mereka adalah orang-orang yang dipinggirkan, dipandang sebelah mata, bahkan pada periode masa yang lama keberadaannya tak diinginkan.

Bagi orang-orang yang rongga perutnya seperti ruang antara bumi dan bulan, mereka yang menjaga roda dunia ini tetap berputar tak ubahnya kucing liar yang hanya pantas dilempar sandal.

Ada memang segelintir orang yang menganggap para pemelihara itu penting. Mereka adalah orang-orang yang wajahnya bersih karena rajin perawatan, pakaiannya licin dan mewah, dan baunya wangi. Mereka datang lima tahun sekali, yaitu pada momen pemilihan bupati atau anggota dewan. Mereka menyapa orang-orang desa itu dan dengan berbuih-buih menjanjikan karpet, semen, besi cor, genteng, meja-kursi, dan komputer, sembari menyampaikan maksud kedatangan mereka: meminta restu.

Meski begitu, jangan pula membayangkan para pemelihara itu adalah orang-orang akademis yang bicaranya rumit dan melangit, yang membuat para pendengarnya terkagum-kagum meskipun tak mengerti. Mereka memiliki ilmu yang menyamudera, tapi sehari-hari mereka tinggal di sudut desa yang terpencil. Bertetangga dengan belut dan ular sawah, berteman jangkrik dan burung hantu.

Mungkin karena itulah mereka juga dicap bodoh, kolot, terbelakang, dan berbagai stereotip negatif lainnya. Dianggap tak mengerti perkembangan dan tak tersentuh kemajuan. Orang-orang Jakarta yang rajin ikut seminar dan sering tampil di layarkaca pasti sulit percaya bahwa di tangan merekalah masa depan umat manusia digenggam. Lebih dari itu, berkat sentuhan tangan merekalah dunia yang kita tempati hingga kini baik-baik saja.

Sejak masih sangat belia mereka telah mempelajari kitab warisan. Mengakrabi huruf demi hurufnya, mengeja indah kata-katanya, membaca kalimat-kalimatnya yang bertuah, dan menggali makna terdalamnya. Dengan kitab itulah mereka bercermin, dan dengan kitab itu pulalah mereka menunjukkan jembatan bagi siapa saja yang ingin menyeberang.

Curhat Singkat Tentang Pesantren


Minggu-minggu ini sepuluh tahun yang lalu adalah saat yang paling saya syukuri dalam hidup.

Setelah menunggu berbulan-bulan, akhirnya saya diterima bekerja di tempat yang saya idam-idamkan: menjadi editor di sebuah penerbit buku.

Saat kuliah, saya gak pernah menargetkan diri saya harus menjadi apa atau bekerja di bidang apa. Doktrin orangtua dan kyai-kyai membentuk mindset saya bahwa belajar ya belajar, gak usah menjadikannya sebagai modal untuk mencari uang.

Ketika lulus kuliah, baru saya kelimpungan. Kerja apa, ya? Saya memang bingung, tapi rasa-rasanya saat itu keluarga lebih bingung. Saya punya prinsip yang bisa dipegang, yaitu nasihat kyai-kyai saya, tapi mereka gak punya.

Alhasil, ketika berhasil diterima bekerja di sebuah penerbit, saya dan keluarga lega.

***

Ada banyak hal yang saya pelajari di tempat kerja saya selama ini. Di luar masalah teknis penerbitan buku, saya bisa mengasah keterampilan komunikasi dan manajemen. Masih jauh dari sempurna, tapi minimal saya sudah memulai.

Pondok Pesantren Siwalan Panji, Sidoarjo, didirikan 2,5 abad yang lalu.

Menurut saya, salah satu pelajaran yang perlu dikejar oleh anak-anak pesantren adalah kedua hal itu. Mereka memang sudah dibekali keterampilan berkomunikasi, dalam kaitan dengan dakwah dan syiar agama. Tapi sepengalaman saya, biasanya itu sesuai dengan konteks di mana pesantren mereka berada. Karena lokasinya di pedesaan (kebanyakan pesantren ada di desa-desa), maka cara mereka berkomunikasi ya banyak terpengaruh oleh masyarakat desa.

Artinya, dalam hal satu ini, mereka tinggal melakukan penyesuaian saja, seandainya di kemudian hari tinggal di kota besar atau hidup di lingkungan urban. Tentang manajemen, menurut saya anak–anak pesantren perlu banyak belajar.

Bukan rahasia kalau soal yang satu ini institusi pesantren banyak ketinggalan. Itu sebabnya, berkiprah di lembaga lain dalam kurun tertentu akan memberikan banyak pelajaran bagi mereka tentang manajemen. Bagaimana mengelola SDM, keuangan, kegiatan produksi, dan lain-lain.

Mungkin masalah ini gak berpengaruh langsung terhadap dakwah atau syiar yang mereka lakukan, tapi gak bisa dipungkiri bahwa tugas mulia tersebut akan lebih mudah dengan bekal manajemen yang baik. Mau bangun TPQ atau madrasah gak perlu repot bikin proposal, mau mengelola pesantren gak perlu bingung mencari tenaga pendidiknya.

Di atas semua itu, niat yang lurus, kebersihan hati, dan tawakal lillahi Ta’ala bagaimanapun gak bisa digantikan. Menurut saya, sampai kapan pun ini adalah kekhasan sekaligus kekuatan terbesar masyarakat pesantren.

Sekian tahun bergaul dengan orang-orang Jakarta sedikit-banyak membuat saya paham bahwa di mata mereka mengurus sebuah institusi agama (termasuk pesantren) gak ada bedanya dengan mengelola sebuah lembaga bimbingan belajar (bimbel). Modal utamanya ya manajemen. Gak heran banyak orang yang latar belakang pendidikannya non-agama kemudian mendirikan madrasah atau pesantren.

Mau ngajinya cuma streaming Youtube dan pemahaman keislamannya sangat terbatas, asal punya kemampuan manajerial yang bagus, cukup bagi mereka untuk “berjihad fi sabilillah dengan mendirikan pesantren. Gak tanggung-tanggung, bahkan pesantren tahfizh, seperti sekarang sedang merebak di mana-mana.

Ini jauh berbeda dengan lulusan pesantren. Mendirikan sebuah pesantren bukan hanya tentang bagaimana agar generasi muda melek agama (piawai berpidato, misalnya), lebih dari itu juga harus berkarakter mulia. Dan karakter mulia itu gak cukup hanya dibangun melalui manajemen kurikulum “yang memadukan iptek dan imtak”.

Perlu riyadhah atau ikhtiar batin yang cukup, yang bukan hanya merapalkan doa selamat setiap bakda shalat, tapi juga laku hidup sehari-hari yang disesuaikan dengan Al-Quran, sunah Rasulullah saw, juga kebiasaan para ulama dan shalihin. Lulusan pesantren yang alim-alim, yang kalau membahas masalah fikih gak perlu lagi membuka kitab, sepakat bahwa ini adalah tantangan mereka yang sebenarnya.

Tradisi dan alam pikiran masyarakat pesantren membentuk pola pikir santri-santri sedemikian rupa. Jika dilihat dari kacamata masyarakat non-pesantren, itu mungkin dianggap kolot. Tapi bagi santri-santri, itu adalah jalan yang memang harus ditempuh. Toh, gak ada satu pun kyai atau pesantren yang mewajibkan alumninya untuk membangun pesantren. Kalau mengharuskan mereka mendidik masyarakat, dengan cara yang mereka mampu, mungkin iya.

Saya jadi ingat pesan KH. Maimun Zubair. Banyak orang salah paham. Mengira pesantren itu urusan akhirat. Kalau ta’lim (belajar-mengajar)-nya memang akhirat, tapi kalau pesantrennya itu dunia.

Nah, sekarang saya bertanya dalam hati. Setelah sepuluh tahun melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana sebuah perusahaan dimenej sedemikian rupa, apa yang bisa saya lakukan untuk masyarakat atau pesantren? Rasa-rasanya kok belum ada. Lantas, kalau sekarang saya menulis panjang lebar tentang niat lurus dan bagaimana sebuah pesantren itu seharusnya dimenej, semua itu gak lain karena saya gabut.

Sekian dan wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segalanya, Untukku


Aku tahu, tak baik mengungkit-ungkit sesuatu yang telah lalu. Membiarkannya tenang di alam baka aku yakin pilihan yang tepat.

Lebih baik melanjutkan hidup dan berkonsentrasi dengan sesuatu yang takdir sudah pilihkan untuk kita. Buang jauh-jauh ingatan tentang “kita”. Dengan begitu, rasanya hidup akan sederhana, bukan?

Tak banyak drama, juga air mata.

Aku mungkin naif, tapi yang membuat beban hidup bertumpuk-tumpuk sebenarnya bukan apa yang kini datang mengampiri, tapi sesuatu dari masa lalu yang entah kenapa datang kembali.

Mungkin itu terdengar adil, mungkin juga tidak. Bagaimanapun yang kita kubur di liang itu bukan sebuah prasasti, tapi isi hati. Ya, kau akan berkata itu sama saja. Setelah sekian lama, prasasti atau isi hati sama-sama akan membatu. Seperti fosil binatang purba.

Diam dan mati.

Tapi, menurutku itu kesimpulan yang terlalu simplistis. Sebab, itu sama artinya kita menyamakan hidup dengan mati. Seakan hidup dengan gemerlap keindahannya tak ada beda dengan kematian yang gelap dan penuh teka-teki.

Bukankah benih yang dulu kita harapkan tumbuh dan berbuah itu pernah memiliki hidup?

Kau tak bisa mengingkari itu. Kau mungkin sangat ingin melupakannya. Tapi, melupakan itu sulit. Jadi, saranku, terima saja. Lagipula, dengan menerimanya kau tak harus melupakannya.

Ah, aku terlalu lama berputar-putar membicarakan omong kosong ini. Maaf.

***

Begini.

Aku pernah berpikir, kalau akhirnya seperti ini, mengapa dulu kita coba-coba memetik bunga itu, memecah benihnya, lalu menanamnya di tanah gembur hati kita. Kenapa tak kita abaikan saja? Tak ada harapan juga, kan?

Ada malam-malam hatiku terasa penuh dengan kenangan masa lalu kita. Ujung jilbabmu terus berkelebat di depan mataku. Kerling cahaya dari tatap indahmu membias di dinding-dinding hatiku. Caramu memanggil namaku serupa orkestra yang memainkan nyanyian surga.

Tapi, setiap kali ingatan membawaku terbang ke masa-masa itu, bukan hanya kegembiraan yang menggelayuti hatiku, tapi juga trauma. Kau tak perlu bertanya mengapa. Yang jelas, ketidakberanianku adalah biang keladi terbangnya mimpi-mimpi itu.

Mimpi-mimpi menggenggam tanganmu, juga hatimu …

Aku sudah memaafkan diriku sendiri. Tak apa, tak apa. Bagaimanapun kau adalah matahari yang terlalu menyilaukan untuk kutatap. Bintang kejora yang terlalu indah untuk kucuri. Langit yang terlalu tinggi untuk kuraih.

Saat itu, kau adalah segalanya untukku, tapi aku tak punya cukup kepercayaan diri untuk menawarkan masa depan padamu.

Aku menulis surat ini dengan sedikit emosi. Ya, aku marah oleh ketidakmampuanku, atau tepatnya ketidakyakinanku. Harusnya kusampaikan saja apa yang ingin kusampaikan, dan kulupakan saja apa yang seharusnya kulupakan. Bukan sebaliknya.

Kadang saat terbangun dari lelapnya tidur, bukan siapa-siapa yang kuingat, tapi kau. Itu agak aneh. Kau tak pernah benar-benar kudekati, apalagi kumiliki, tapi tahun-tahun ini kaulah yang rajin datang mengunjungiku. Entah kenapa.

Kadang ketika hadirmu semakin mengganggu, kulangkahkan kaki ke luar rumah. Kulayangkan pandang ke tempat yang jauh, dan dalam gelapnya malam itu, kubisikkan namamu. Aku tak pernah berharap bisa memilikimu, tapi semoga di kejauhan sana kau mendengar bisikanku.

Maafkan kejujuranku (atau kau lebih suka kata “kekurangajaranku”?). Aku tak ingin terlalu lama menyimpan bom waktu. Kalau ternyata akan meledak juga, lebih baik kunyalakan saja pemicunya sekarang. Dengan begitu, aku harap tempat, waktu, dan sasarannya tepat.

Tak ada korban-korban berjatuhan. Kalau sekadar keriuhan kecil di hati kita, semoga sang malam bisa memakluminya.

You Are Important


Some people think that their life is full of sorrow.

They have very bad relationship with their parents, dropped out from their school, and haven’t found a job they wish for.

There are times they feel that they are the most unfortunate human walking in the earth. They curse the destiny, they angry at God, and they question what kind of life do they have.

It’s like no need for them to continue their life. They think that the last day they live will be the day they are about to be independent.

I don’t know how to continue this, let alone finish it, but if you have the same feeling and think that your life has lost it’s meaning, remember this: you were born for a reason. It’s not only because your parents wanted you to be born, but also the world.

Yes, the world wanted you to be born. As a mercy of a mankind, or at least as a reason someone to smile.

You have to realize that you, even if people or even you yourself think that you are meaningless, in fact you are not.

You are important, the way you are.

Life, So Far


Saya menulis catatan pendek ini setelah sadar bahwa saya semakin jarang menulis, sementara dalam rentang waktu yang panjang ini banyak hal yang sebenarnya perlu saya tuangkan. Sekadar curhat atau demi bahan nostalgia di kemudian hari.

Tentang teman

Sudah agak lama sahabat saya di pesantren mengajak belajar bersama. Bukan membahas kitab-kitab tentunya –saya lupa hampir semua cara membaca buku berbahasa Arab, di samping tentu saja dia sudah jauh meninggalkan saya, tapi teknis menulis.

Setelah berjibaku dengan pekerjaan dan urusan rumah, akhirnya saya bisa meluangkan (kosakata yang menunjukkan su’ul adab untuk orang yang mengaku jebolan pesantren) waktu untuk mengisi materi di kelas menulis di almamater saya.

Dari sekitar 40 santri yang ikut kelas tersebut, cukup banyak yang antusias mengikuti pelajaran. Tugas-tugas yang saya berikan mereka kerjakan dengan baik, dan beberapa pertanyaan yang mereka ajukan menunjukkan bahwa mereka memang serius.

***

Tentang Nabil

Dua minggu lalu saya pergi ke Jalan Kartini untuk melihat-lihat sepeda. Agaknya Nabil sudah cukup umur untuk belajar bersepeda. Setelah survei produk dan harga di marketplace, saya memutuskan membeli sebuah push-bike berwarna biru muda.

Tetangga saya mengira butuh 1 minggu bagi Nabil untuk lancar mengendarai benda mungil itu. Nyatanya cukup 1 hari saja baginya untuk meluncur, berbelok, dan mundur. Tinggal mendudukkan pantatnya di sadel yang masih butuh pegangan.

Kemarin pagi saya harus ngos-ngosan mengejarnya, karena bersepeda kelewat kencang. Istri saya pun akhir-akhir ini sering berteriak menyuruhnya pelan-pelan. Lucunya, kemarin anak-anak tetangga mengajaknya bersepeda bersama. Padahal mereka sudah TK semua.

Sementara Nabil baru dua tahun setengah.

***

Tentang pekerjaan

Ini bulan ketujuh pandemi menghantam Indonesia. Jadwal kerja saya masih dua hari sekali, gaji saya juga masih dikurangi. Industri perbukuan benar-benar kelimpungan dibuatnya. Tak ada buku yang kami terbitkan, tak ada duit yang masuk ke perusahaan.

Positivity rate di Indonesia terus menanjak. Semua orang tahu pandemi ini akan lama dan berat. Mungkin itu sebabnya beberapa teman bersiap-siap. Agar jika kemungkinan terburuk yang terjadi, mereka tahu harus melakukan apa.

Teman-teman lain yang sejak enam bulan lalu dirumahkan jelas yang paling kesusahan. Gaji tak ada, THR pun tak diterima. Mereka lalu melakukan entah apa saja untuk bertahan hidup. Ada yang berjualan pecel lele, kue kering, ada juga yang bakulan buku.

***

Tentang hidup

Beberapa bulan lalu saya dan istri masih semangat mencari rumah, tapi tidak setelah keadaan berubah. Saya tetap akan berusaha. Tapi yang namanya usaha harus mengukur keadaan juga, kan? Saat ini, sehari-hari bisa makan saja alhamdulillah.

Seorang teman bercerita bahwa sejumlah sales di perusahaannya harus dirumahkan. Mereka pun mendadak tak berpenghasilan. Mungkin karena terdesak tanggung jawab, salah seorang sales sampai rela memancing demi mencari lauk untuk keluarganya.

Saya dengar pandemi baru berakhir dua atau tiga tahun lagi, dan celakanya industri penerbitan hanya bisa bertahan sampai akhir tahun ini. Itu artinya tinggal empat bulan lagi. Rasanya aneh menghitung “ajal” yang terus mendekat.

Tak ada yang tak bingung sepanjang bulan-bulan ini. Tak apa, bingung masih boleh kok. Saya pun bingung, tapi semoga masih ingat cara bertawakal.

After all, we’re only servants of The Master. And no master will neglect and forget to feed his servants.

***

Hari Itu


Kau masih lekat menatap kedua mataku, meski kata selamat tinggal sudah terlepas dari bibirmu.

Sumber foto: pixabay.com

Angin sore menderu dari pucuk-pucuk gunung di kejauhan. Warna keemasan pelan-pelan menyeruak di cakrawala.

Kita berdiri lama di ujung jalan itu. Tak percaya bahwa esok akan menjadi hari-hari yang panjang. Tak ada lagi cerita yang akan kita bagi, impian yang bisa kita yakini, atau cinta yang malu-malu kita tutupi.

Kita mulai melangkahkan kaki. Mata kita berat untuk saling melepaskan. Ada harapan, di detik-detik terakhir pertemuan itu, bahwa suatu saat kita akan bertemu kembali.

Menyatukan keping-keping kenangan yang masih tersisa. Membalut luka yang mungkin masih terasa.

Tapi, masa depan memang memiliki misterinya sendiri. Penuh teka-teki yang siapa pun kewalahan menebaknya.

Kita sadar betul hal itu. Mungkin karena itu, kita lantas membiarkan semua berjalan apa adanya. Kita pasrahkan hidup pada kejutan-kejutan yang mungkin tak pernah kita duga.

Maka, kita pun sibuk menenggelamkan diri. Dalam kabut kenyataan yang menutup cerita tentang rasa itu. Dalam ombak masa depan yang membuat kita hilang ingatan.

Hingga kemudian, datanglah kejutan itu …

Malam-malam kau kembali hadir dalam mimpiku. Memanggil-manggil namaku. Mengakhiri tidur panjangku.

Kau mengajakku melompat mundur ke masa lalu. Menelusuri jalan-jalan berliku di hatiku. Dan menikmati angin dari pucuk-pucuk gunung seperti sore itu.

Lalu, sayup-sayup lagu itu pun terngiang di telingaku.

Jangan datang lagi, Cinta
Bagaimana aku bisa lupa
Padahal kau tahu keadaaannya
Kau bukanlah untukku

Jangan lagi rindu, Cinta
Ku tak mau ada yang terluka
Bahagiakan dia
Aku tak apa
Biar aku yang pura-pura lupa

Ada Malam-malam


Ada malam-malam aku ingin pulang ke masa itu. Masa-masa jiwa kita tak ubahnya rimba yang lebat. Yang tiap pohonnya menjulang, membuahkan cita-cita dan harapan.

Photo by Dmitry Zvolskiy from Pexels

Kita belum diracuni uang dan kemewahan atau dipusingkan sewa rumah dan cicilan. Kita bahkan tak pernah sempat memikirkan hidup dan masa depan.

Ada malam-malam aku ingin berdua saja denganmu. Menghabiskan waktu di kantin penuh kenangan itu, menikmati secangkir sepi dan meredakan hiruk-pikuk di hati.

Hari-hari yang damai. Detik-detik yang berjalan lambat. Kita saling mendengar dan berkeluh kesah. Seakan hati kita selembar surat yang bisa dibaca dan dibolak-balik halamannya.

Tak terasa, hampir seabad sejak masa-masa itu. Tapi, aku masih bisa membayangkan rambut-rambut halus di keningmu, titik indah di dagumu, dan binar cahaya yang berloncatan di antara kerling matamu.

Masih segar dalam ingatanku bagaimana caramu bicara, menatap, membuat jantungku berderap-derap.

Tak cukup. Tak cukup kata-kata untuk menggambarkan betapa jauh kaumenyelam di dasar hatiku. Mengacak-acak diamku. Meluluhlantakkan sumpahku.

Tak sabar kuhitung hari yang memisahkan pertemuan kita. Habis sudah angka-angka untuk menghitung musim entah yang ke berapa. Abad-abad berlalu tanpa sempat aku membuka mata.

Ada malam-malam aku ingin kautahu. Bahwa hari-hari yang kita jalani bersama telah berlalu dengan penuh makna, berkat hadirmu. Tapi ruas-ruas masa yang kini kujalani tanpamu adalah kesia-siaan yang kusengaja, sebab terkenang dirimu.

Mengingatmu membuatku ingin bunuh diri. Berkali-kali.

Namamu


Aku tak pernah mengira, bahwa nama yang pertama kali kudengar berabad lalu masih terngiang di telingaku yang mulai tuli ini.

Aneh, sebab tiap ingatanku menghadirkannya, bahkan caramu memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama itu juga tergambar jelas.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Aku tak tahu, ini anugerah atau musibah …

Yang pasti, nama itulah yang menemaniku pada hari-hari bahagiaku, juga pada saat-saat sedihku. Meski hanya sepenggal nama –sebab kau tak pernah menyebutkan nama panjangmu, kenangan membuatnya seakan abadi.

Seumpama orang, ia bisa berbisik, tertawa, menghibur, atau setidaknya membersamaiku. Ia yang selama ini menjelmakanmu di alam khayalku, menghadirkan sosokmu di antara kerinduanku padamu.

Kadang, aku bertanya-tanya di mana kau sekarang. Apa yang sedang kaulakukan. Apa yang tengah kauperjuangkan. Lalu, detik demi detik menyeretku pada kata seumpama.

Seumpama kita berjumpa, seumpama kita bersama. Indahnya …

Sayangnya, sering terjadi, cerita kita berhenti di situ. Tak pernah lebih jauh. Seperti tak terima aku melipir sejenak, duniaku selalu membuyarkan lamunan dan menggelandangku untuk kembali bergumul dengan kenyataan. Seperti yang sudah-sudah.

Dan aku pun melihatmu, untuk kesekian ribu kali, melambaikan tangan padaku.