Mimpi Tsabit Al-Bunani


Cerita ini saya tulis ulang dari buku Syarh Al-Mawa’izh Al-‘Ushfuriyyah karya Syekh Muhammad bin Abu Bakr. Diterbitkan oleh Maktabah At-Turmusi Lit Turas dalam bahasa Arab.

Suatu malam Tsabit Al-Bunani berziarah ke pemakaman. Seperti kebiasaannya, di tempat tersebut ia berzikir, berdoa, dan melakukan ibadah apa saja yang bisa mendekatkan dirinya pada Allah. Namun malam itu Tsabit merasakan sesuatu yang membuat matanya mengantuk luar biasa, sampai-sampai karena tak sanggup menahan, ia tertidur.

Dalam tidurnya Tsabit melihat sejumlah ahli kubur keluar dari makam mereka. Wajah mereka putih bersinar dan pakaian mereka sangat indah. Tsabit melihat orang-orang itu disuguhi nampan yang isinya berbagai macam makanan lezat.

Baca juga: Yang Haram Aja Susah
Ilustrasi makanan, diposting pertama kali di http://www.barakabits.com

Di antara orang-orang yang terlihat bahagia itu, Tsabit melihat seorang anak muda yang tertunduk lesu. Wajahnya kusam, rambutnya kusut, airmata berlinang membasahi pipinya. Berbeda dengan orang-orang di sekitarnya, anak muda itu tidak disuguhi makanan, sama sekali.

Hal tersebut menumbuhkan pertanyaan di hati Tsabit. Ia hampiri pemuda itu, lalu ia tanya siapa dirinya dan orang-orang itu. Pemuda tersebut menjawab bahwa dirinya adalah orang yang kebaikan-kebaikannya semasa hidup dilupakan dan tidak ada seorang pun dari keluarganya yang mau mendoakannya. Sementara orang-orang yang disuguhi makanan itu memiliki saudara, keluarga, dan kerabat yang mau mengingat kebaikan mereka, mendoakan mereka, dan bersedekah atas nama mereka di setiap malam Jumat. Berkat kebaikan keluarganya mereka dianugerahi pahala dan kebahagiaan di alam kubur.

Baca juga: Paradoks Agama

Anak muda itu lalu mengisahkan sepenggal kisah hidupnya. Bahwa dirinya memiliki seorang ibu. Suatu waktu, karena ingin menunaikan haji ia meninggalkan sang ibunda. Malang tak dapat dihindari, di suatu kota dalam perjalanannya menuju Mekah, ajal menjemput pemuda tersebut.

Jenazahnya lalu dikirim kepada sang ibunda, dan dikuburkan di pemakaman yang dikunjungi oleh Tsabit. Tak ingin larut dalam kesedihan, ibunda anak muda itu menikah lagi dan membangun rumah tangga yang baru; sayangnya sambil melupakan anaknya yang telah wafat. Ia tidak pernah mengingat kebaikan sang anak, mendoakannya, atau bersedekah atas namanya.

“Karena itulah aku kecewa dan bersedih setiap waktu,” ujar pemuda itu.

Tsabit tersentuh oleh cerita anak muda itu. Ia lalu meminta alamat ibundanya, yang dijawab beserta hal lain yang tak kalah penting: Bahwa sang ibunda menyimpan harta warisan suaminya atau ayah anak muda itu, yang sebagian merupakan haknya.

Ketika Tsabit berhasil menemui ibu yang dimaksud dan menyampaikan pesan dari anaknya, ibu tersebut memberikan 100 mitsqal perak (setara 425gram, atau senilai Rp5.193.075) kepada Tsabit dan memintanya untuk menyedekahkan harta itu, atas nama putra tercintanya. Mendapat kepercayaan itu Tsabit tidak bisa melakukan hal lain kecuali menunaikan kewajibannya.

Pada malam Jumat berikutnya, Tsabit mengunjungi salah seorang saudaranya. Ketika tanpa sengaja tertidur di kediaman saudaranya, ia bermimpi melihat anak muda itu dalam keadaan yang jauh lebih baik: Wajahnya berseri, pakaiannya indah, dan hatinya tampak bahagia.

Anak muda itu berkata pada Tsabit, “Semoga Allah merahmatimu, sebagaimana Dia merahmatiku.”

Sugeng Tindak, Mas Aziz


Rabu, 14 Juli 2021. Sejak pagi mendung bergelayut di langit Depok. Bulan ini sudah separuh jalan, tapi hujan sesekali masih datang.

Hari-hari ini kematian rasanya semakin dekat dengan siapa pun. Ambulans berlalu-lalang di jalanan. Masjid-masjid berlomba mengumumkan kabar duka, bahkan tak lama setelah orang-orang baru membuka mata. Mendengar berita kematian bukan lagi barang yang ganjil, kecuali menyangkut orang-orang yang kita kenal sehat.

Kemarin jam 6 pagi kabar duka juga terdengar, sayup-sayup berasal dari mushala yang entah masih mengadakan shalat jamaah atau tidak. Isi beritanya sama, kabar duka. Yang membuat saya terkejut adalah nama yang disebut sesudahnya: Mas Aziz.

Nama lengkapnya Abdul Aziz. Beliau saya kenal tak lama setelah saya pindah ke Kukusan. Mungkin karena sama-sama dari Malang (kampung saya dan kampungnya hanya berjarak 15-an menit naik motor), kami jadi cepat akrab. Setiap mendengar suara khas dari speaker gerobak motornya, saya melompat keluar rumah untuk menyetopnya.

Baksonya menjadi santap siang favorit anak saya. Kata istri, kuahnya enak. Tapi saya duga, selain soal kuahnya yang sedap, istri saya berlangganan karena Mas Aziz sangat royal padanya. Setiap istri saya membeli bakso, tak lupa ia memberinya gratisan. “Buat si kecil,” ujarnya, singkat.

Ketika istri saya beritahu kabar lelayu itu, matanya berkaca-kaca. Saya mengerti. Dibanding saya, istri saya lebih sering bertemu Mas Aziz. Siang-siang saat ia berkeliling menjajakan baksonya, istri saya akan memanggilnya, menyampaikan pesanan sambil berbincang alakadarnya, membayar, lalu saling mengucapkan terima kasih.

Sesederhana itu, seperti kebiasaan antara penjual dan pembeli. Tapi, sepertinya keramahan dan ketulusan beliau menyentuh hati kami berdua.

Di tempat yang jauh dari kampung halaman, kami menemukan seorang saudara. Orang biasa, tapi berhati mulia.

Mulai hari ini dan seterusnya, kami tak akan lagi melihatnya keluar-masuk gang-gang kecil di Kukusan, tak akan lagi kami menemuinya mangkal di depan masjid selepas jamaah, tak akan lagi kami mendengar sapaan hangatnya saat berpapasan entah di mana.

Dia hanya orang biasa yang kami kenal, bukan saudara, bukan pula orang yang kami anggap “penting”. Tapi, kebaikannya betul-betul membahagiakan kami sekeluarga.

Mas Aziz, maturnuwun untuk kebaikannya selama ini. Kelak ketika Nabil sudah bisa memahami, akan aku ceritakan semua kebaikan Sampeyan padanya. Selamat jalan dan sampai jumpa, pulanglah dengan hati yang penuh ridha dan ketenangan.

Para Penjaga


Tak banyak yang tahu bahwa dunia berputar sebagaimana mestinya berkat sentuhan mereka.

Source: Frederick Goodall, https://www.pinterest.com.au/pin/463730092860021899/?d=t&mt=login

Siang dan malam mereka menjaganya, tak peduli angin bertiup ke arah mana dan bintang jatuh mengirimkan pertanda apa. “Selama panggilan itu masih berkumandang, kami tak akan beranjak dari tempat di mana kami seharusnya berada,” kata mereka.

Para penjaga adalah manusia-manusia yang setia berpegang pada kitab warisan. Hari demi hari, entah berapa abad sejak mulai membaca dan menyelami isinya, mereka amati segala yang terjadi di berbagai belahan dunia, mereka artikan gerak-geriknya, dan mereka perkirakan bagaimana akhirnya dengan berpedoman pada kitab warisan itu.

Aku pernah bertemu dengan mereka, kalau kau mau tahu. Lebih dari itu, aku pernah melewatkan masa-masa remajaku yang membosankan bersama mereka. Menitipkan bukan hanya masa depanku tapi bahkan hidup dan matiku. Orang-orang yang penampilannya sangat bersahaja tapi hatinya kaya-raya.

Namun, Teman, jangan membayangkan mereka sebagai orang-orang yang di sakunya penuh dengan uang dan kepentingan, apalagi kekuasaan. Sejak lama mereka adalah orang-orang yang dipinggirkan, dipandang sebelah mata, bahkan pada periode masa yang lama keberadaannya tak diinginkan.

Bagi orang-orang yang rongga perutnya seperti ruang antara bumi dan bulan, mereka yang menjaga roda dunia ini tetap berputar tak ubahnya kucing liar yang hanya pantas dilempar sandal.

Ada memang segelintir orang yang menganggap para penjaga itu penting. Mereka adalah orang-orang yang wajahnya bersih karena rajin perawatan, pakaiannya licin dan mewah, dan baunya wangi. Mereka datang lima tahun sekali, yaitu pada momen pemilihan kepala daerah. Mereka menyapa orang-orang desa itu dan dengan berbuih-buih menjanjikan karpet, semen, genteng, meja-kursi, dan komputer, sembari menyampaikan maksud kedatangan mereka: meminta restu.

Meski begitu, jangan pula membayangkan para penjaga itu adalah orang-orang akademis yang bicaranya rumit dan melangit, yang membuat para pendengarnya terkagum-kagum meskipun tak mengerti. Mereka memiliki ilmu yang menyamudera, tapi sehari-hari mereka tinggal di sudut desa yang terpencil. Bertetangga dengan belut dan ular sawah, berteman jangkrik dan burung hantu.

Mungkin karena itulah mereka juga dicap bodoh, kolot, terbelakang, dan berbagai stereotip negatif lainnya. Dianggap tak mengerti perkembangan dan tak tersentuh kemajuan. Orang-orang Jakarta yang rajin ikut seminar dan sering tampil di layarkaca pasti sulit percaya bahwa di tangan merekalah masa depan umat manusia digenggam. Lebih dari itu, berkat sentuhan tangan merekalah dunia yang kita tempati hingga kini baik-baik saja.

Sejak masih sangat belia mereka telah mempelajari kitab warisan. Mengakrabi huruf demi hurufnya, mengeja indah kata-katanya, membaca kalimat-kalimatnya yang bertuah, dan menggali makna terdalamnya. Dengan kitab itulah mereka bercermin, dan dengan kitab itu pulalah mereka menunjukkan jembatan bagi siapa saja yang ingin menyeberang.

Sebuah Ajakan


Aku tepekur saat kau menitipkannya padaku. Bukan tak percaya dengan keputusanmu yang tiba-tiba. Aku hanya bingung –mau kuapakan benda itu?

Sore berjalan lambat di tengah hujan deras hari itu, tapi kata-kata telah kehabisan makna mengungkapkan maksud pertemuan kita. Wajahmu kosong menatap daun-daun yang bergoyang oleh siraman air langit. Sedang aku hanya bisa memandang secangkir kopi yang telah membeku.

“Akan ada yang terluka,” ujarku.
“Usah dibahas, kita sama-sama tahu.” Kau menukas.

Ya, kita sama-sama dewasa. Dan mungkin karena itu kita jadi punya keberanian, atau kebodohan, yang sama.

Bermain-main dengan api. Memang ada riang saat merasakan hangatnya, tapi terlalu asyik memainkannya akan membuat kita lengah. Panasnya akan membakar kulit kita dan mendidihkan darahnya –orang yang sekarang kautitipi benda yang sama.

Aku sendiri sulit menyembunyikan ketidakpercayaanku. Dudukku tak bisa tenang, kata-kataku tak beraturan. Orang-orang terkejut dengan gemuruh guntur yang saling susul, tapi hanya aku seorang yang mendengar ledakan bom nuklir di suatu tempat.

Kau tak pernah berhenti mengejutkanku. Seperti sore itu, juga hari-hari yang telah lalu. Tapi, aku tak lagi seperti dulu. Yang bisa kautitipi benda-benda sesukamu, dan bisa kauambil kapan pun kaumau.

Apalagi jika yang kautitipkan itu hati, dengan cinta yang penuh pura-pura dan satu ruang yang berisi nama-nama.

Segalanya, Untukku


Aku tahu, tak baik mengungkit-ungkit sesuatu yang telah lalu.

Membiarkannya tenang di alam baka aku yakin pilihan yang tepat. Lebih baik melanjutkan hidup dan berkonsentrasi dengan sesuatu yang takdir sudah pilihkan untuk kita. Buang jauh-jauh ingatan tentang “kita”. Dengan begitu, rasanya hidup akan sederhana, bukan?

Tak banyak drama, juga air mata.

Calm place. Prepared desk waiting for food and visitors. Evening time.

Aku mungkin naif, tapi yang membuat beban hidup bertumpuk-tumpuk sebenarnya bukan apa yang kini datang menghampiri, tapi sesuatu dari masa lalu yang entah kenapa datang kembali.

Mungkin itu terdengar adil, mungkin juga tidak. Bagaimanapun yang kita kubur di liang itu bukan sebuah prasasti, tapi isi hati. Kau mungkin akan berkata itu sama saja. Setelah sekian lama, prasasti atau isi hati sama-sama akan membatu. Seperti fosil binatang purba.

Diam dan mati.

Tapi, menurutku itu kesimpulan yang terlalu simplistis. Itu sama artinya kita menyamakan hidup dengan mati. Seakan hidup dengan gemerlap keindahannya tak ada beda dengan kematian yang gelap dan penuh teka-teki.

Bukankah benih yang dulu kita harapkan tumbuh dan berbuah itu pernah memiliki hidup?

Kau tak bisa mengingkari itu. Kau mungkin sangat ingin melupakannya. Tapi, kecuali kau sudah mulai pikun, melupakan itu sulit. Jadi, saranku, terima saja. Lagipula, dengan menerimanya kau tak harus melupakannya.

Ah, aku terlalu lama berputar-putar membicarakan omong kosong ini. Maaf.

***

Begini.

Aku pernah berpikir, kalau akhirnya seperti ini, mengapa dulu kita coba-coba memetik bunga itu, memecah benihnya, lalu menanamnya di tanah subur hati kita. Kenapa tak kita abaikan saja? Tak ada harapan juga, kan?

Ada malam-malam hatiku terasa penuh dengan kenangan masa lalu kita. Ujung jilbabmu terus berkelebat di depan mataku. Kerling cahaya dari tatap indahmu membias di dinding-dinding hatiku. Caramu memanggil namaku serupa orkestra yang memainkan nyanyian surga.

Tapi, setiap kali ingatan membawaku terbang ke masa-masa itu, bukan hanya kegembiraan yang menggelayuti hatiku, tapi juga trauma. Kau tak perlu bertanya mengapa. Yang jelas, ketidakberanianku adalah biang keladi terbangnya mimpi-mimpi itu.

Mimpi-mimpi menggenggam tanganmu, juga hatimu …

Aku sudah memaafkan diriku sendiri. Tak apa, tak apa. Bagaimanapun kau adalah matahari yang terlalu menyilaukan untuk kutatap. Bintang kejora yang terlalu indah untuk kucuri. Langit yang terlalu tinggi untuk kuraih.

Saat itu, kau adalah segalanya untukku, tapi aku tak punya cukup kepercayaan diri untuk menawarkan masa depan padamu.

Aku menulis surat ini dengan sedikit emosi. Ya, aku marah oleh ketidakmampuanku, atau tepatnya ketidakyakinanku. Harusnya kusampaikan saja apa yang ingin kusampaikan, dan kulupakan saja apa yang seharusnya kulupakan. Bukan sebaliknya.

Kadang saat terjaga dari lelapnya tidur, bukan siapa-siapa yang kuingat, tapi kau. Itu agak aneh. Kau tak pernah benar-benar kudekati, apalagi kumiliki, tapi tahun-tahun ini kaulah yang rajin datang mengunjungiku. Entah kenapa.

Kadang ketika hadirmu semakin mengganggu, kulangkahkan kaki keluar rumah. Kulayangkan pandang ke tempat yang jauh, dan dalam gelapnya malam itu, kubisikkan namamu. Aku tak pernah berharap bisa memilikimu, tapi semoga di kejauhan sana kau mendengar bisikanku.

Maafkan kejujuranku (atau kau lebih suka kata “kekurangajaranku”?). Aku tak ingin terlalu lama menyimpan bom waktu. Kalau ternyata akan meledak juga, lebih baik kunyalakan pemicunya sekarang. Dengan begitu, aku harap tempat, waktu, dan sasarannya tepat.

Tak ada korban-korban berjatuhan. Kalau sekadar keriuhan kecil di hati kita, semoga sang malam bisa memakluminya.

Life, So Far


Saya menulis catatan pendek ini setelah sadar bahwa saya semakin jarang menulis, sementara dalam rentang waktu yang panjang ini banyak hal yang sebenarnya perlu saya tuangkan. Sekadar curhat atau demi bahan nostalgia di kemudian hari.

Tentang teman

Sudah agak lama sahabat saya di pesantren mengajak belajar bersama. Bukan membahas kitab-kitab tentunya –saya lupa hampir semua cara membaca buku berbahasa Arab, di samping tentu saja dia sudah jauh meninggalkan saya, tapi teknis menulis.

Setelah berjibaku dengan pekerjaan dan urusan rumah, akhirnya saya bisa meluangkan (kosakata yang menunjukkan su’ul adab untuk orang yang mengaku jebolan pesantren) waktu untuk mengisi materi di kelas menulis di almamater saya.

Dari sekitar 40 santri yang ikut kelas tersebut, cukup banyak yang antusias mengikuti pelajaran. Tugas-tugas yang saya berikan mereka kerjakan dengan baik, dan beberapa pertanyaan yang mereka ajukan menunjukkan bahwa mereka memang serius.

***

Tentang Nabil

Dua minggu lalu saya pergi ke Jalan Kartini untuk melihat-lihat sepeda. Agaknya Nabil sudah cukup umur untuk belajar bersepeda. Setelah survei produk dan harga di marketplace, saya memutuskan membeli sebuah push-bike berwarna biru muda.

Tetangga saya mengira butuh 1 minggu bagi Nabil untuk lancar mengendarai benda mungil itu. Nyatanya cukup 1 hari saja baginya untuk meluncur, berbelok, dan mundur. Tinggal mendudukkan pantatnya di sadel yang masih butuh pegangan.

Kemarin pagi saya harus ngos-ngosan mengejarnya, karena bersepeda kelewat kencang. Istri saya pun akhir-akhir ini sering berteriak menyuruhnya pelan-pelan. Lucunya, kemarin anak-anak tetangga mengajaknya bersepeda bersama. Padahal mereka sudah TK semua.

Sementara Nabil baru dua tahun setengah.

***

Tentang pekerjaan

Ini bulan ketujuh pandemi menghantam Indonesia. Jadwal kerja saya masih dua hari sekali, gaji saya juga masih dikurangi. Industri perbukuan benar-benar kelimpungan dibuatnya. Tak ada buku yang kami terbitkan, tak ada duit yang masuk ke perusahaan.

Positivity rate di Indonesia terus menanjak. Semua orang tahu pandemi ini akan lama dan berat. Mungkin itu sebabnya beberapa teman bersiap-siap. Agar jika kemungkinan terburuk yang terjadi, mereka tahu harus melakukan apa.

Teman-teman lain yang sejak enam bulan lalu dirumahkan jelas yang paling kesusahan. Gaji tak ada, THR pun tak diterima. Mereka lalu melakukan entah apa saja untuk bertahan hidup. Ada yang berjualan pecel lele, kue kering, ada juga yang bakulan buku.

***

Tentang hidup

Beberapa bulan lalu saya dan istri masih semangat mencari rumah, tapi tidak setelah keadaan berubah. Saya tetap akan berusaha. Tapi yang namanya usaha harus mengukur keadaan juga, kan? Saat ini, sehari-hari bisa makan saja alhamdulillah.

Seorang teman bercerita bahwa sejumlah sales di perusahaannya harus dirumahkan. Mereka pun mendadak tak berpenghasilan. Mungkin karena terdesak tanggung jawab, salah seorang sales sampai rela memancing demi mencari lauk untuk keluarganya.

Saya dengar pandemi baru berakhir dua atau tiga tahun lagi, dan celakanya industri penerbitan hanya bisa bertahan sampai akhir tahun ini. Itu artinya tinggal empat bulan lagi. Rasanya aneh menghitung “ajal” yang terus mendekat.

Tak ada yang tak bingung sepanjang bulan-bulan ini. Tak apa, bingung masih boleh kok. Saya pun bingung, tapi semoga masih ingat cara bertawakal.

After all, we’re only servants of The Master. And no master will neglect and forget to feed his servants.

***

Hari Itu


Kau masih lekat menatap mataku, meski kata selamat tinggal sudah terlepas dari bibirmu.

Angin sore menderu dari pucuk-pucuk gunung di kejauhan. Warna keemasan pelan-pelan menyeruak di cakrawala.

Kita berdiri lama di ujung jalan itu. Tak percaya bahwa esok akan menjadi hari-hari yang panjang. Tak ada lagi cerita yang akan kita bagi, impian yang bisa kita yakini, atau cinta yang malu-malu kita tutupi.

Kita lalu melangkahkan kaki. Mata kita berat untuk saling melepaskan. Ada harapan, di detik-detik terakhir pertemuan itu, suatu saat kita akan kembali bertemu.

Menyatukan keping-keping kenangan yang masih tersisa. Membalut luka yang mungkin masih terasa.

Tapi, masa depan memang punya misterinya sendiri. Penuh teka-teki yang siapa pun tak sanggup menebaknya.

Kita sadar betul semua itu. Dan mungkin karena itu, kita membiarkan semua berjalan apa adanya. Kita pasrahkan hidup pada kejutan-kejutan yang mungkin tak terduga.

Maka, kita pun sibuk menenggelamkan diri. Dalam kabut kenyataan yang menutup cerita tentang rasa itu. Dalam ombak masa depan yang membuat kita hilang ingatan.

Hingga kemudian, kejutan itu datang.

Malam-malam kau kembali hadir dalam mimpiku. Memanggil-manggil namaku. Mengakhiri tidur panjangku.

Kau mengajakku melompat mundur ke masa lalu. Menelusuri jalan-jalan berliku di hatiku. Dan menikmati angin dari pucuk-pucuk gunung seperti sore itu.

Lalu, sayup-sayup lagu itu pun terngiang di telingaku.

Jangan datang lagi, Cinta
Bagaimana aku bisa lupa
Padahal kau tahu keadaaannya
Kau bukanlah untukku

Jangan lagi rindu, Cinta
Ku tak mau ada yang terluka
Bahagiakan dia
Aku tak apa
Biar aku yang pura-pura lupa

Ada Malam-malam


Ada malam-malam aku ingin pulang ke masa itu.

Foto saya pinjam dari: Pexel.com

Masa-masa jiwa kita tak ubahnya hutan rimba yang lebat. Yang tiap pohonnya menjulang, membuahkan cita-cita dan harapan.

Kita belum diracuni uang dan kemewahan, atau dipusingkan sewa rumah dan cicilan. Kita bahkan tak pernah sempat memikirkan hidup dan masa depan.

Ada malam-malam aku ingin berdua saja denganmu. Menghabiskan waktu di kantin penuh kenangan itu, menikmati secangkir sepi dan meredakan hiruk-pikuk di hati.

Hari-hari yang damai. Detik-detik yang berjalan lambat. Kita saling mendengar dan berkeluh kesah. Seakan hati kita selembar surat yang bisa dibaca dan dibolak-balik halamannya.

Tak terasa, hampir seabad sejak masa-masa itu. Tapi, aku masih bisa membayangkan rambut-rambut halus di keningmu, titik indah di dagumu, dan binar cahaya yang berloncatan di antara kerling matamu.

Masih segar dalam ingatanku bagaimana caramu bicara, menatap, membuat jantungku berderap-derap.

Tak cukup. Tak cukup kata-kata untuk menggambarkan betapa jauh kaumenyelam di dasar hatiku. Mengacak-acak diamku. Meluluhlantakkan sumpahku.

Tak sabar kuhitung hari yang memisahkan pertemuan kita. Habis sudah angka-angka untuk menghitung musim entah yang ke berapa. Abad-abad berlalu tanpa sempat aku membuka mata.

Ada malam-malam aku ingin kautahu. Bahwa hari-hari yang kita jalani bersama telah berlalu dengan penuh makna, berkat hadirmu. Tapi ruas-ruas masa yang kini kujalani tanpamu adalah kesia-siaan yang kusengaja, sebab terkenang dirimu.

Mengingatmu membuatku ingin bunuh diri. Berkali-kali.

Namamu


Aku tak pernah mengira, bahwa nama yang pertama kudengar berabad lalu hingga kini masih terngiang di telingaku yang mulai tuli ini.

Aneh, sebab tiap ingatanku menghadirkannya, bahkan caramu memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama itu juga tergambar jelas.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Aku tak tahu, ini anugerah atau musibah …

Yang pasti, nama itulah yang menemaniku pada hari-hari bahagiaku, juga pada saat-saat sedihku. Meski hanya sepenggal nama –sebab kau tak pernah menyebutkan nama panjangmu, kenangan membuatnya seakan abadi.

Seumpama orang, ia bisa berbisik, tertawa, menghibur, atau setidaknya membersamaiku. Ia yang selama ini menjelmakanmu di alam khayalku, menghadirkan sosokmu di antara kerinduanku padamu.

Kadang, aku bertanya-tanya di mana kau sekarang. Apa yang sedang kaulakukan. Apa yang tengah kauperjuangkan. Lalu, detik demi detik menyeretku pada kata seumpama.

Seumpama kita berjumpa, seumpama kita bersama.

Sayangnya, sering terjadi, cerita kita berhenti di situ. Tak pernah lebih jauh. Seperti tak terima aku melipir sejenak, duniaku selalu membuyarkan lamunan dan menggelandangku untuk kembali bergumul dengan kenyataan. Seperti yang sudah-sudah.

Dan aku pun melihatmu, untuk kesekian ribu kali, melambaikan tangan padaku.

Gumaman


Kau berbusa-busa bicara tentang kesetiaan, padahal cintamu dengannya kaubangun dengan sebuah pengkhianatan. Tidakkah kau pernah mendengar bahwa kutukan terbesar seorang pengkhianat adalah ketakutan yang berlebih bahwa kekasihnya akan berkhianat?

Jadi, selamat bersenang-senang!

Pict. source: pexel.com