Jakarta

“Aku kadang bosan hidup di Jakarta,” ujarku pada Ramadan, sahabat lama yang setia menemaniku berbincang dan kadang berbagi keluhan.

Source: pixabay.com

Sudah beberapa menit sejak kami duduk di kedai itu kata-kata tersebut aku tahan. Khawatir merusak pagi harinya.

Ramadan terdiam lama. Matanya menerawang ke pucuk-pucuk bangunan tua di seberang jalan.

Ketika pelayan mengantarkan kopi hitam pesanan kami, tatapannya beralih pada seorang gadis yang duduk di sudut ruangan. Rambutnya yang legam ia ikat ala kadarnya ke belakang, menyisakan beberapa helai yang menjuntai di pipinya.

“Indah.” Ramadan meliriknya sambil tersenyum. Meski usianya sudah kepala enam, tak jarang kata-kata seperti itu meluncur dari mulutnya.

“Hmm…” Aku mengiyakan. “Tapi, aku lebih suka buku yang sedang ia baca.”

Ramadan beralih menatapku, dan setelah beberapa saat memerhatikan pengunjung yang lalu-lalang di pintu kedai itu, ia berkata, “Kau masih belum mengerti juga rupanya … ”

“Maksudmu?”

“Cobalah sesekali memperlakukan keindahan dengan terhormat. Keindahan bukan hanya paras yang cantik tapi sebuah hubungan; hubungan antara kecantikan itu sendiri dengan segala yang ada di sekitarnya: ruang, warna, gerak, dan momentum …

Kadang gadis cantik terlihat biasa-biasa saja hanya karena ia berada di tempat dan waktu yang tak tepat. Kau mungkin tahu dia cantik tapi kau sendiri mungkin enggan bahkan untuk sekadar meliriknya.”

“Terserah. Tapi, dia memang cantik,” ujarku, tak sabar.

“Kekagumanmu pada kecantikan gadis itu akan menguap andai kau tahu seperti apa parasnya tiga puluh tahun dari sekarang.

Keindahan yang sedang kubicarakan bertahan lebih lama. Ia memang akan menua, tapi keindahan itu tetap di sana, bersamanya. Segala yang ada di sekitarnya seperti mempunyai cara untuk memancarkan keindahan itu.

Dalam ruang, warna, gerak, dan momentum.”

Aku menarik napas dalam-dalam.

“Dan, mungkin seperti itu juga seharusnya kau melihat Jakarta. Ia bukan hanya sebuah kota tapi juga ruang … ”

“Warna, gerak, dan momentum. Kau mulai berfilsafat lagi?” sergahku.

Ramadan tertawa …

Masih Tentang Cinta

Bulan puasa tahun ini sepertinya tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Cuaca mendung, hujan di sore hari, dan kubangan air di jalan-jalan yang terkelupas aspalnya. Musim hujan harusnya sudah berakhir Maret lalu. Tapi, hingga kini, hujan masih enggan berhenti.

Photo by Kaique Rocha on Pexels.com

Aku dan Ramadan diam-diam memperhatikan sekumpulan anak yang sedang bermain petasan di seberang kedai kopi tempat kami biasa menghabiskan waktu. Sesekali ia tersenyum melihat tawa anak-anak itu pecah, lalu melempar pandang saat ada orang menangkap basah senyumannya yang tak diundang.

“Kau tahu … ” Aku mengawali percakapan setelah seorang pelayan mengantar kopi yang kami pesan, “anak-anak itu lebih bisa menikmati hidup daripada orang dewasa seperti kita.”

Ramadan hanya tersenyum. Bukan karena kata-kataku, tapi karena gelak tawa mereka.

“Masa kanak-kanak memang menyenangkan. Tapi, aku yakin tak ada orang yang tak ingin dewasa.” Ia mengimbangi kata-kataku, lalu meraih kopi pesanannya yang masih panas dan menyesapnya sekali.

“Apa maksudmu?” Aku tertantang dengan kalimatnya, “Tentu saja ada. Seandainya bisa, aku ingin selamanya seperti mereka.”

“Semua orang akan bahagia dalam setiap fase hidupnya jika ia bisa melihat permata di dalamnya. Kau tak perlu melompat mundur ke masa lalu. Itu hanya menjauhkanmu dari permata-permata yang seharusnya bisa kau temukan di masa depan.”

Hampir tiga puluh tahun aku mengenal Ramadan. Kawan lama yang setia mengunjungiku setiap tahun itu memang tipikal orang tua yang bijak, termasuk dalam menyampaikan nasihat. Tapi, petuahnya kali ini entah mengapa terdengar seperti khutbah Jumat yang membosankan.

Tawa anak-anak di seberang semakin nyaring ketika salah seorang di antara mereka terkejut dengan petasan yang meletus di tangannya. Ramadan tertawa geli melihatnya. Ia tak mempedulikan pengunjung lain yang ikut terkejut oleh bunyi petasan itu.

“Saat masih seusiamu, aku juga berpikir begitu, sampai aku sadar bahwa anak-anak tak pernah memiliki perasaan yang memang hanya dimiliki oleh orang dewasa.”

“Perasaan apa?” Aku bertanya.

“Cinta,” jawabnya singkat.

“Kau mengajakku berbincang tentang masa lalumu yang suram? Tentang cinta-cintamu yang tak berbalas atau berakhir di tengah jalan?” Aku menggodanya.

“Beberapa kali aku merasakan manisnya cinta. Dan setiap kali jatuh cinta, aku sadar perasaan itu bisa saja hanya sementara –atau lebih buruk lagi, suatu saat menjelma kebencian. Tapi, seperti umumnya orang yang sedang dimabuk asmara, aku malas berpikir panjang. Kau masih muda. Kau pasti setuju denganku.”

Aku tergelak mendengar orang seusia Ramadan masih lihai bicara tentang cinta. “Kau pernah kecewa dengan cinta-cintamu?” Aku bertanya.

“Ya, beberapa kali.” Ia menjawab tanpa beban. Mungkin, karena semua tinggal kenangan.

“Tapi, jika saat menempuh suatu perjalanan kau berkali-kali jatuh, lalu sebanyak itu pula kau mengumpat batu, kerikil, jalan yang tidak rata, atau bahkan dirimu sendiri, itu artinya kau tak mendapat apa-apa dari perjalananmu,” lanjutnya.

“Maksudmu?”

“Ketika pertama kali menjalin hubungan dengan seorang gadis dan bertemu masalah demi masalah yang akhirnya membuat kami memutuskan untuk berpisah, aku merasa sangat kecewa. Namun, ketika aku jatuh cinta lagi, menjalin hubungan dengan gadis lain, dan kemudian berpisah, lagi dan lagi, aku sadar bahwa masalah sama dengan batu atau kerikil tajam yang aku temukan di tengah perjalanan.

“Bukan hal aneh jika ada batu di tengah jalan. Setiap orang yang melalui sebuah jalan pasti akan menemuinya. Jika awas, mereka selamat. Tapi kalaupun tidak, mereka tak perlu sampai meratapi nasib hanya karena tersandung sebuah batu. Yang perlu mereka lakukan hanyalah bangkit dan melanjutkan perjalanan.”

“Kau membandingkan kebahagiaan anak-anak itu dengan kesedihan akibat putus cinta?”

“Tidak, tidak … ” Ramadan tersenyum mendengar kesalahpahamanku.

“Aku membandingkannya dengan kebahagiaan orang yang bisa bangkit dari suatu masalah dan berhasil menyelamatkan cintanya –permata hidupnya.” Ia melanjutkan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya saat sedang berbincang dengannya, telingaku cukup sensitif jika sahabatku itu ingin menyampaikan sesuatu yang serius.

“Kebahagiaan anak-anak itu hanya sebentar, sebab mereka tidak benar-benar menyukai mainannya itu. Mereka bermain petasan karena semua orang bermain petasan.

“Itu berbeda dengan cinta. Kita tak perlu mencari-cari orang untuk kita cintai hanya karena orang-orang di sekeliling kita menjalin cinta dengan seseorang, atau berhenti mencintai seseorang karena tak seorang pun teman kita menjalin cinta dengan seseorang.

“Orang yang hidup bersama karena cinta akan selamanya bahagia. Mereka mungkin menemui banyak masalah yang membuat kecewa, marah, atau sedih. Tapi, jauh di dasar hati mereka, nyala kebahagiaan tak pernah padam. Hati mereka hanya sedang mengumpulkan energi untuk suatu saat mengubahnya menjadi nyala yang lebih terang.”

Aku terdiam dengan kata-kata sahabatku itu. Tak ada celah bagiku bahkan untuk menanggapinya.

Anak-anak yang kami bicarakan sudah pulang ke rumah mereka, mungkin karena malam yang semakin larut, mungkin pula karena petasan mereka sudah tak tersisa. Saat pelayan kedai menawarkan ekstra-kopi untuk kami, kami menolak.

Kami pikir, percakapan malam ini cukup sampai di sini.

Ciganjur, 1 Ramadan 1434 H

Paradoks Agama

“Kalau kau mengira kita baik-baik saja, kau mungkin butuh waktu untuk berpikir lebih seksama.” Ramadan tampak kecewa dengan tanggapanku. Matanya melirik, lalu memalingkan wajah ke trotoar tempat orang berlalu-lalang.

Photo by Noelle Otto on Pexels.com

“Coba perhatikan. Dua ulama di Iraq saling memaki di hadapan jamaah masing-masing. Sekelompok pemuda di Mesir mencegat dan mengancam arak-arakan pemuda lain yang akan berdemo. Kampanye sektarian menjadi trending topic di media sosial. Lalu, ibu-ibu pengajian menjadi malas ke masjid karena menonton infotainmen.”

“Bukankah itu soal biasa? Maksudku, kita sudah sering mendengar semua itu, kan?” Aku hati-hati bertanya. Kopi yang kupesan kubiarkan begitu saja di atas meja.

“Biasa? Kau pernah membayangkan akibat paling buruk dari semua itu? Seorang wanita Sunni di Najaf meratapi jenazah anaknya yang tinggal separuh karena menginjak ranjau yang ditanam oleh pemberontak Syi’ah. Di Kairo, sekelompok pemuda membakar hidup-hidup temannya sendiri karena mencurigainya sebagai mata-mata Ikhwanul Muslimin.

Akhir tahun lalu, sejumlah massa di Sampang membakar sebuah masjid karena dicurigai menyebarkan ajaran Syi’ah. Di komplek tempat tinggalku, majelis taklim ibu-ibu buyar gara-gara ada yang membicarakan gosip tentang seorang ustaz seleb sementara yang lainnya tak terima.”

“Wah … Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang salah dengan kita?”

“Itulah. Jangan-jangan selama ini kita merasa baik-baik saja. Orang-orang yang mengaku teman pun mengatakan kita tak sedang dalam masalah.

“Segala kemungkinan buruk seakan berdiri jauh dari tempat kita berpijak. Seolah ada laut lepas yang memisahkan kita dengannya. Padahal, diam-diam sel kanker sudah menyebar di tubuh kita dan terus menggerogotinya.”

“Maksudmu?” Aku tak paham dengan kata-kata Ramadan.

“Kebodohan adalah sel kanker yang menciptakan permusuhan di antara kita. Jika tak menyadarinya, apalagi jika kita merasa sehat dan terbebas darinya, penyakit itu akan cepat menyebar dan menggerogoti tubuh kita. Kalaupun tak mati, kita mungkin seperti mayat hidup yang bergantung pada berbagai macam obat.”

Ramadan menatap langit, lalu menumpukan pandangannya pada sebuah kubah masjid yang seluruh bangunannya nyaris tertutup ruko dan perkantoran.

“Kau lihat kubah masjid itu?”

Aku mengangguk. Sinar matahari yang menghantam permukaannya menciptakan warna keperakan yang menyilaukan mata.

“Bentuk kubah memang tak selalu sama. Kadang berbentuk limas, kadang umbi bawang. Yang pasti, keduanya sama-sama memiliki puncak yang runcing. Ilmu dan kebijaksanaan itu luas, seperti dasar kubah yang lebar. Tapi, setiap tetes ilmu dan kebijaksanaan akan membawa kita pada satu realitas puncak: Tuhan.”

“Aku suka perumpamaanmu. Tapi …. terus terang aku masih bingung dengan yang kau bicarakan.”

Seperti biasa, aku ngos-ngosan mengikuti jalan pikiran sahabatku itu. Konflik sesama umat Islam, sel kanker, kebodohan, dan kubah masjid. Ini seperti sobekan-sobekan kertas yang tak beraturan, apalagi bermanfaat. Aku harap, kali ini Ramadan tak sedang membicarakan diriku. Berbincang dengan orang tua itu seperti berjalan di hutan yang penuh jebakan.

“Seandainya kita mengerti bahwa ilmu yang Tuhan turunkan ke dunia ini sangat banyak dan masing-masing bisa membuat mereka yang mempelajarinya tampak berbeda, api permusuhan tak akan pernah menyala. Sebab, kita juga akan memahami bahwa ilmu-ilmu tersebut akan mengantarkan kita pada kesimpulan yang sama tentang hakikat semesta raya.

“Seandainya pula kita tak sanggup memahami hal itu, selama kita tetap merendahkan hati dan mau terus dan terus belajar, pertikaian juga tak akan pernah terjadi. Orang yang rendah hati tak akan memandang dirinya yang paling benar, paling baik, atau paling suci. Sementara itu, orang dengan benih kesombongan di dalam dadanya akan cenderung merendahkan sesamanya.

“Manusia adalah makhluk mulia yang tercipta karena cinta dan kerinduan Sang Pencipta. Kalau Dia memuliakan mereka, bagaimana mungkin kita mengaku hamba-Nya, jika pada saat yang sama kita merendahkan mereka? Tapi, aku kira kau mengerti, kesombongan memang musuh bebuyutan ilmu dan kebijaksanaan.”

Ramadan menutup kata-katanya sambil menyunggingkan senyum. Matanya masih menatap tajam. Tak lama, azan maghrib terdengar dari masjid yang terletak beberapa blok dari tempat kami berbincang. Semburat merah di ufuk barat mengingatkanku pada sisa waktu yang masih tersedia.

Ciganjur, 26 Juni 2014

Di Taman Kota

Aku mencari-cari kacamataku setelah tersentak dari tidur siangku.

Weker yang kuletakkan di atas meja tak berhenti berdering. Sekuat tenaga aku meraihnya dan mencari tombol pengatur untuk mematikannya. Cukup sulit ternyata menghentikan alarm dalam keadaan setengah sadar.

Source: pixabay.com

Sinar matahari yang menerobos melalui jendela kamarku berangsur redup. Aku ingat, sore itu aku ada janji bertemu Ramadan di taman kota.

Weker yang masih kupegang menunjukkan pukul dua siang. Aku punya waktu satu jam untuk mandi dan bersiap-siap. Untung jarak rumahku dan taman kota tak begitu jauh. Cukup berjalan kaki sepuluh menit, rimbun pepohonan taman itu sudah bisa kulihat.

Saat tiba di sana, kulihat Ramadan sedang bermain dengan sekawanan merpati. Tangan kirinya memegang kantong plastik berwarna hitam, tangan kanannya menebarkan biji jagung ke arah burung-burung itu. Senyumnya mengembang saat melihatku datang.

“Mereka menyukaimu,” ujarku, sembari mengambil duduk di sebelahnya.

“Ya, aku memberi mereka makanan,” jawabnya, sambil tetap tersenyum.

Suasana sore di taman kota tampak lebih riuh dari biasanya. Bulan puasa, tentu saja. Sore hari di bulan puasa memang waktu yang tepat untuk jalan-jalan menunggu azan Maghrib, mencari kue dan minuman pembuka, atau sekadar menikmati suasana.

Aku jadi teringat masa kecilku. Saat bulan puasa, taman kota adalah tempat paling indah untuk dikunjungi. Melewatkan waktu bersama Ayah sambil menanti kumandang azan, lalu bergabung dengan orang-orang yang tak kami kenal di masjid agung. Lumayan, kami bisa mendapatkan kurma dan minuman gratis di sana.

Ayah tak mengajarkanku untuk mengiba. Ia hanya ingin membuka mataku tentang betapa indah rumah Tuhan di bulan puasa: ketika kita menjadi bagian dari kerumunan orang yang tak saling kenal tapi tiba-tiba merasa akrab, melupakan keakuan dan melebur menjadi satu dengan orang banyak.

Hingga beberapa lama, Ramadan masih asyik dengan burung-burung merpati itu. Aku melayangkan pandang ke penjuru taman. Ini membuatku sedikit kesal. Saat semua pria di tempat itu menghabiskan sore dengan pasangan mereka, aku malah duduk bersama lelaki tua.

“Kau suka binatang?” Ramadan tiba-tiba bertanya.

“Aku lebih suka wanita cantik,” ujarku, sambil melirik dua gadis yang melintas di dekat kami.

“Wanita cantik hanya akan membuat matamu katarak. Kau bisa buta dengan kekurangan mereka. Kalau matamu tak lekas bisa melihatnya, kau akan terkejut saat tahu kau terlambat menyadarinya.”

“Kau mau aku menikah dengan gorila?” Ramadan tertawa, dan menjawab bahwa ia tak keberatan, kalau aku mau.

“Aku lega kau masih suka wanita,” ujarnya, meledek. “Tapi, kalau kau lihat seisi taman ini, kau akan mudah menemukan gadis lain yang tak kalah menarik.”

“Oh, ya?” balasku.

“Ya, tapi aku berani bertaruh. Pelan-pelan kau akan menyadari sesuatu di dalam diri mereka yang bisa membuatmu lupa dengan daya tarik yang membuat matamu katarak itu.”

Aku mendengus. Kawan lamaku itu terkekeh.

“Aku serius. Itu berbeda kalau kau hanya suka dengan seekor binatang. Merpati, misalnya. Kalau kau bisa melihat keindahan pada seekor merpati, kau juga akan bisa melihat kekurangannya. Itu karena kau tak mengagumi merpati seperti kau mengagumi seorang wanita.

“Kekaguman kita terhadap wanita sering membuat kita lupa daratan dan mengira mereka tak punya kekurangan. Celakanya, begitu sadar akan hal itu, kita akan berbalik membenci mereka.”

“Apa sesuatu dalam diri wanita yang bisa membuat kita lupa dengan daya tarik mereka?” tanyaku.

“Kau belum tahu?“

Aku menggeleng.

“Kemampuan mereka untuk membuat seorang laki-laki kecewa.”

Ah, kawanku memberi jawaban di luar perkiraan. Tapi, aku tahu, akan ada yang setuju dengan kata-katanya: sekumpulan laki-laki sial yang ditinggalkan oleh kekasihnya.

Aku sering mendengar kalimat semacam itu di film-film, novel, dan lirik lagu. Dari mulut kawanku itu, baru kali ini aku mendengarnya.

“Kau tak sedang teringat masa lalumu, kan?” Aku menggoda Ramadan.

Ia tersenyum. Sembari berdiri, tangan kanannya meraih kantong dan menebarkan genggaman jagung terakhirnya ke tanah. Kawanan merpati yang terbang kian kemari pun kembali mendekat dan mengerumuninya.