Topeng-topeng yang Menipu

Beberapa hari yang lalu teman saya iseng bertanya, “Kenapa ya kalau mau ngelakuin sesuatu yang baik kadang kita nyelipin maksud-maksud yang nggak baik juga?”

Source: pexel.com

Mungkin yang dimaksud teman saya itu bukan maksud-maksud yang nggak baik, tapi maksud-maksud yang nggak tulus, yang awalnya hanya ditujukan untuk Allah Ta’ala menjadi bercabang untuk yang lain juga, entah mertua, bos, atau fans *meh.

Menurut saya, ini bukan pertanyaan sepele. Alasannya, dari sikap yang boleh dikata sudah jadi kelumrahan inilah macam-macam skandal yang menyeret orang besar bermula, dari pulisi, hakim, kepala daerah, sampai anggota dewan yang “terhormat”.

Eh sebelumnya, nggak apa-apa ya kali ini saya sok serius …

Ketika masih memikirkan jawabannya, pertanyaan lain muncul di kepala saya: Benar nggak sih pertanyaan itu? Apa jangan-jangan kita sebenarnya punya maksud nggak baik/tulus tapi kemudian kita bungkus dengan kemasan yang baik/tulus?

Kita sih menyebutnya “karena Allah Ta’ala”, “untuk mengikuti sunah Rasulullah”, dan macam-macam kalimat surgawi yang sebenarnya nggak lebih dari cara untuk menyembunyikan motif terdalam kita: popularitas, duit, atau gengsi.

***

Kebaikan apa pun yang kita lakukan sebenarnya adalah raga (ajsad, asybah) yang menjadi tempat untuk nyawa (arwah) bersemayam. Yang dimaksud nyawa di sini adalah ikhlas, atau ketulusan.* Seperti raga yang nggak bisa hidup sehat karena ketularan penyakit, amal juga nggak bakal bisa sempurna gara-gara ikhlas yang tercampur maksud-maksud selain Allah.

Itu masih mending. Ada lho kebaikan yang bahkan dilakukan bukan karena niat lillahi ta’ala, sama sekali, tapi niat-niat yang lain, yang ujungnya adalah sebuah klise, yakni kesenangan diri sendiri. Kesalehan yang tampak oleh mata, yang ditampilkan di panggung-panggung sandiwara dan bikin orang lain kagum, nggak lebih sekadar topeng untuk tipu-tipu.

Ibarat makhluk hidup, amal-amal itu adalah raga yang nggak bernyawa. Nggak berbeda dengan bangkai. Dan seperti bangkai, amal-amal itu nggak bakalan ngasih manfaat sedikit pun, yang ada malah menguarkan bau busuk dan mengundang lalat. Hanya mereka yang baru mengalami guncangan hebat dalam hidup yang mau meletakkan bangkai di meja makannya.

Jadi sebenarnya, amal baik yang diselipi niat selain lillahi ta’ala itu bisa kita pahami dari dua sudut pandang. Pertama, itu tetap perbuatan baik, yang mungkin memberi manfaat bagi penerimanya. Kedua, itu adalah perbuatan, sebesar apa pun manfaatnya bagi orang lain, yang muncul dari hati yang tertipu (ghaflah). Tertipu oleh diri sendiri.

***

Karena orang lain sudah dikintilin malaikat Raqib dan Atid untuk mencatat amal mereka, kita nggak usah deh ikut campur mengawasi mereka. Biar itu jadi urusan malaikat. Kita mending fokus sama diri sendiri. Dan sesuai omong kosong kali ini, enaknya kita sekarang berkaca, kira-kira sudah bisa ikhlas apa belum.

Kalau belum, kita bisa mulai memperbaiki hati dengan berterus terang pada diri sendiri. Kalau kita mau melakukan sesuatu bukan untuk Allah atau Rasulullah, nggak usah bawa-bawa Allah atau Rasulullah. Bilang saja apa adanya. Nggak perlu jaga imej dengan bermulut manis, kalau mau melakukan sesuatu cuma buat enaknya sendiri.

Kalau mau selingkuh, bilang aja pengin selingkuh. Kalau mau nambah istri, nggak usah ngemeng mau mengikuti sunah Rasul segala. Kalau mau bisnis dan mencari uang, nggak usah ngaku-ngaku dakwah atau syiar. Orang-orang udah banyak yang pinter. Malu kalau mereka tahu apa sebenarnya maksud kita.

Alhasil, kenapa kalau mau melakukan sesuatu yang baik kita suka menyelipkan maksud-maksud yang nggak baik?

Kenapa pula kalau mau melakukan sesuatu yang nggak baik kita suka membungkusnya dengan kata-kata yang baik?

Karena kita kalah sama ego sendiri. Kita nggak sanggup mengontrol ego/nafsu supaya nggak mengotori keikhlasan saat kita mau melakukan kebaikan. Kita juga nggak sanggup menerima konsekuensi dari perbuatan buruk yang mau kita kerjakan.

Tahun-tahun ini, ketika sebagian masyarakat merasa lebih beriman ketimbang sebelumnya dan mendadak merasa lebih paham Islam dibandingkan tetangga mereka, ego/nafsu tetap berjaya. Nggak terkalahkan, sebab cenderung manipulatif.

Jadi, benar ya apa yang dibilang Rasulullah, “Berapa banyak amal yang terlihat sebagai amal duniawi berubah, disebabkan niat yang baik, menjadi amal ukhrawi. Dan berapa banyak amal yang tampak sebagai amal ukhrawi berubah menjadi amal duniawi, karena niat yang buruk.”

Apa yang nggak islami kita bilang islami, dan apa yang islami kita tuduh nggak islami. Yang enak-enak kita bilang islami, sunah, syar’i, atau sebutan lain yang seakan-akan direstui oleh Allah, sementara yang nggak enak kita bilang anti-Islam, sekuler, kapir.

*Lihat: Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajibah al-Hasani, Iyqazhul Himam, h. 49.

Lebih Baik Tertawa

Kita kadang kurang bisa bersabar saat menghadapi seorang teman yang nyinyir atau menyalah-nyalahkan sikap keberagamaan kita. Sehingga yang kita lakukan terhadapnya adalah yang paling mudah, yaitu membalas nyinyirannya dengan nyinyiran yang sama.

Mungkin karena emosi, jadi kita lepas kontrol.

Baca juga:
Pokoknya Jangan Mau!
Onde-onde dan Buih Air

Photo by Jeswin Thomas on Pexels.com

Padahal, seseorang nyinyir itu boleh jadi karena dia gak punya sudut pandang yang sama dengan kita, yang mungkin gak akan nyinyir lagi ketika diberi pengertian secara baik-baik.

Menurut saya, cara yang tepat untuk menyikapi orang nyinyir itu bukan dengan menjauhi tapi justru mendekatinya.

Berteman dengan mereka, menjalin hubungan yang baik dan tulus, dan pelan-pelan memberi pengertian mengapa orang lain bisa sangat berbeda dengan mereka, bahkan terlihat “sangat keliru” dalam memahami Islam, lebih bermanfaat dan lebih bijaksana, ketimbang meluapkan emosi dengan membalas sikap nyinyirnya.

Tentu cara seperti ini butuh kesabaran. Tapi menurut saya, ini adalah salah satu jihad di zaman serba hoax dan orang mudah salah paham seperti sekarang.

Buat mereka yang gak sanggup melakukannya maka tertawa adalah pilihan yang lebih baik ketimbang memperkeruh keadaan dengan ikut-ikut nyinyir.

Kalau tertawa saja gak bisa, mungkin mereka perlu mempertimbangkan hidup di sebuah goa yang banyak ditemukan di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa.

Tanpa televisi, internet, apalagi bisik-bisik orang yang sok ngerti pulitik. Sehari-hari mereka cukup beribadah dan menanti datangnya wangsit.

Benci Karena Benar

Ada banyak alasan seseorang membenci sesamanya. Hanya karena Atmo memilih soto dan Hamid lebih suka rawon, mereka berhenti saling menyapa. Di koran yang saya baca kemarin, sepasang suami-istri bercerai gara-gara si suami mendukung Messi, sementara istrinya lebih menyukai Ronaldo. Kiamat makin dekat, memang.

Baca juga:
Pokoknya Jangan Mau!
Merangkul, Bukan Memukul

Alasan membenci orang lain kadang bisa sangat rasional tapi kadang gak, dan pelakunya gak akan mempermasalahkannya. Ada semacam rasa lega ketika ia menuruti kata hatinya untuk membenci, apalagi jika ia menyimpan prasangka dan kecurigaan. Mungkin juga ia merasa sedang memperjuangkan agama.

Membenci seolah mengonfirmasi isi hatinya, dan itu melegakan.

Source: pexel.com

Memasuki tahun-tahun pulitik ini ujaran, kebencian mudah kita temukan di media, terutama media sosial. Pemerintah memang sudah tanggap dengan hal tersebut, tapi saya rasa itu soal lain. Yang membuat kita gak habis pikir adalah ternyata para pembenci itu, dengan atau tanpa alasan, gak sedikit jumlahnya.

“Ironis, sebab selama ini orang Indonesia dikenal ramah dan santun,” kata seorang host di salah satu stasiun tivi.

Mungkin benar itu ironis, tapi sebenarnya gak terlalu membingungkan. Apa susahnya ramah dan sopan di satu waktu, lalu membenci pada waktu yang lain? Masalah datang dan pergi. Kalau sedang ada masalah sama orang lain mudah bagi siapa pun untuk membenci, tapi kalau sedang baik-baik saja bisalah dia ramah dan santun.

Orang lain ramah, santun, dan kadang-kadang membenci menurut saya bukan hal yang aneh. Semua orang menyimpan potensi keburukan di dalam dirinya. Siapa pun. Yang aneh itu ketika ada tangan-tangan syaithon yang memantik potensi itu untuk menciptakan kebencian yang normalnya gak tersulut, dengan berbagai muslihat.

Yang membuat beberapa teman gondok beberapa hari terakhir ini adalah keberadaan what so called Muslim Cyber Army, yang menyamakan dirinya dengan mujahid perang lalu menghalalkan berbagai cara untuk menghasut, memfitnah, dan membenturkan masyarakat, hanya karena mereka gak puas sama kinerja Pemerintah.

Sulit rasanya otak kita memahami, bagaimana bisa mereka berani mengatasnamakan “muslim” untuk melakukan pekerjaan kotor seperti itu, yang entah atas dasar kepentingan pribadi atau pesanan pihak tertentu. Celakanya, banyak orang, baik terdidik atau gak, baik ngerti agama atau gak, yang termakan hasutan mereka.

Membebek saja setiap ada fitnah yang dibuat.

Buih Air

Saya senang dengan semangat teman-teman untuk mengaji. Minimal itu menyalurkan gairah keberislaman mereka yang belakangan ini meluap-luap.

Baca juga:
Kita Bukan Mesin
Pokoknya Jangan Mau!

Seorang teman pernah berkata bahwa dirinya bingung bagaimana menjadi muslim yang baik. Saya gak tahu, apakah dia memang bingung atau itu hanya caranya mengajak saya berbincang tentang agama. Yang pasti, dalam beberapa kali perbincangan dengannya, kebingungan tersebut tampak sering menjadi latar belakang pertanyaan-pertanyaannya.

Photo by Sebastian Voortman on Pexels.com

Kita tentu tahu, di tengah berbagai kemudahan yang kita rasakan akibat berkembangnya teknologi informasi belakangan ini, banyak tokoh agama tampil di layar kaca dan men-share ceramahnya di social media. Tapi, ceramah-ceramah mereka gak jarang membingungkan, gak cuma berbeda tapi satu sama lain juga bertentangan.

Bukan rahasia malah kalau ada seorang ustadz yang mengolok-olok ustadz yang lain, hanya karena berbeda pendapat keagamaannya atau gak sama pilihan politiknya. Sayangnya, sering pendapat-pendapat mereka, tanpa melalui proses editing yang semestinya, disebarluaskan begitu saja oleh para pengagumnya.

Di benak orang awam seperti saya, Islam itu isinya ya shalat, puasa, naik haji, hukum Islam, syariat, dan jihad. Ternyata, itu hanyalah bagian kecil saja darinya. Ada aspek lain, seperti bisnis dan ekonomi. Belum lagi akidah dan akhlak, yang keduanya gak kalah penting untuk dipelajari dibandingkan fikih.

Celakanya, aktivitas keberislaman yang menggebu-gebu itu ternyata punya ironi. Gairahnya memang semakin tampak di masyarakat, tapi jiwanya gak ada. Kopong, persis onde-onde tanpa isi. Apa yang kita lihat sebagai demontrasi simbol dan identitas keislaman gak lebih dari refleksi kedangkalan pemahaman terhadapnya.

Meski prosesnya gak instan, kesediaan teman-teman untuk datang ke majelis taklim, gak cuma mencari wifi gratisan lalu streaming ceramah agama yang dipotong-potong, saya yakin akan memberi dampak positif bagi pemahaman keislaman mereka. Harapannya, Islam gak hanya mereka hayati sebagai simbol atau identitas belaka.

Ada kesadaran yang hakiki untuk mengamalkannya, meski berada di ruangan yang paling sepi, tanpa ada yang melihat dan tahu. Ini yang menurut saya masih jarang. Kalau tampil saleh dan kaffah di panggung seminar atau menjadi ustadz tiban di social media sih gampang. Modal kata-kata bijak dan ikut pelatihan online marketing sudah cukup.

Banyak tipuan licik yang bisa kita temukan dalam hidup sehari-hari, tapi menurut saya hasrat untuk mempertontonkan simbol dan identitas keislaman yang lahir dari dorongan nafsu adalah yang paling buruk. Ia mengendap tanpa kita sadari, seperti semut hitam yang merayap di atas batu kelam, di tengah malam yang sangat gulita.

Ibarat buih air, gairah keberislaman yang meluap-luap tapi lahir dari dorongan nafsu memang tampak banyak, tapi hanya soal waktu untuk melihatnya hilang digulung ombak yang baru. Dan sebagaimana buih, mereka yang berisik menonjolkan simbol dan identitas keislamannya gak sadar dirinya sedang diombang-ambing oleh gelombang.

Semoga kita bukan salah satunya.

Bid’ah dan Standar Ganda

“Ya Allah, laknatlah Abu Turab (julukan Rasulullah terhadap menantunya, Ali bin Abi Thalib). Dia telah menentang agama dan jalan-Mu. Laknat dia dan hukum dia di neraka!”

Kalau kita mendengar langsung seseorang mengucapkan kata-kata di atas, presiden atau ketua DPR sekalipun, kita pasti akan tersinggung dan marah. Kita mungkin juga akan menuduh pelakunya telah mencemarkan agama. Ali bin Abi Thalib adalah salah satu tokoh penting dan sangat dihormati dalam sejarah umat Islam. Gak cuma itu, ia salah satu orang yang paling dekat dengan Rasulullah. Ia sepupu, menantu, sahabat, juru tulis, dan panglima perang beliau.

Baca juga:
Merangkul, Bukan Memukul
Islam yang Terus Diperalat

Saat usianya masih sangat belia, Ali sudah beriman pada Rasulullah. Bersama Abu Bakar dan Khadijah, ia termasuk golongan pertama (As-Sabiqun al-Awwalun) yang membenarkan kenabian beliau, saat hampir semua masyarakat Mekah mendustakan beliau. Ia dijuluki Bab al-‘Ilmi (Pintu Ilmu) oleh Rasulullah karena kedalaman ilmu dan keluasan pengetahuannya. Namanya konon masuk dalam daftar sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga.

Namun, sejarah mencatat bahwa ketika kepemimpinan berada di tangan Dinasti Umayyah, caci-maki seperti di atas biasa terdengar. Bukan di tempat-tempat rahasia, bukan pula di kalangan segelintir orang yang kecewa terhadap Ali, tapi di masjid-masjid. Ya, saat itu Muawiyyah bin Abi Sufyan, khalifah pertama Dinasti Umayyah (yang ironisnya juga sahabat Rasulullah), mewajibkan semua khatib untuk merapal caci-maki di atas sebelum mengakhiri khutbah Jumat mereka.

Muawiyyah mengeluarkan perintah itu untuk menanamkan kebencian di benak masyarakat terhadap Ali dan keluarganya. Ia sengaja menodai nama baik mereka untuk mengekalkan kekuasaan politiknya. Dengan membuat citra buruk terhadap Ali dan keluarganya, ia berharap bisa membunuh simpati masyarakat terhadap mereka. Seperti kita tahu, keluarga Ali adalah bahaya laten yang sewaktu-waktu bisa mengancam kekuasaan Muawiyyah karena pendukungnya yang banyak dan sangat fanatik.

Tradisi mencaci-maki Ali bin Abi Thalib baru berakhir ketika Umar bin Abdul Aziz, khalifah kedelapan Dinasti Umayyah yang dikenal saleh, naik tahta pada tahun 99 H/717 M. Sebagai orang yang gak hanya paham politik tapi juga agama, Umar melarang kebiasaan tersebut dilanjutkan, karena ia nilai sebagai perbuatan kurang ajar dan bid’ah yang keterlaluan. Sebagai gantinya, ia memerintahkan para khatib Jumat membaca Surat An-Nahl (16) ayat 90 berikut.

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian berbuat adil dan ihsan, murah hati terhadap kerabat, dan melarang kalian melakukan perbuatan keji dan mungkar, serta pembangkangan. Demikianlah Allah berpesan agar kalian dapat mengambil pelajaran.”

Entah apa alasan Umar memilih ayat tersebut. Yang jelas, kebiasaan membaca ayat di atas dalam khutbah Jumat terus dipertahankan di negara-negara berpenduduk mayoritas muslim, termasuk Indonesia, hingga hari ini. Termasuk di masjid-masjid yang getol melarang jamaahnya tahlilan dan ziarah kubur. Menariknya, khatib di masjid-masjid tersebut biasanya juga membaca sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Ahmad ini.

“Perkara yang paling buruk adalah hal-hal baru yang diciptakan tanpa preseden yang otoritatif. Setiap hal baru yang seperti itu adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah sesat. Dan, setiap kesesatan ada di dalam neraka.”

Standar ganda?

Islam Diperalat Lagi

Kenapa belakangan ini orang-orang mudah tersinggung setiap melihat tulisan, gambar, atau video yang mencoba menampilkan wajah mereka saat tanpa make up?

Source: pexel.com

Bukannya berterima kasih, sebab dengan begitu mereka bisa berkaca, malah menyebutnya fitnah atau penistaan, bahkan mencurigainya sebagai perang terhadap Islam. Sumpah serapah pun berhamburan di media.

Apakah ini tanda bahwa kesadaran beragama dan ketakwaan kita pada Tuhan sedang meningkat? Apakah ini bukti keberhasilan dakwah ustadz-ustadz sosmed?

Apakah ini awal bagi kebangkitan Islam di dunia, setelah sekian lama mati suri akibat kolonialisme, komunisme, liberalisme, sekularisme, kapitalisme, korupsi, dan perang sesama muslim akibat diadu domba oleh Yahudi dan Freemason?

Atau, ini hanya fenomena sementara saja, seturut tren yang sedang nge-hits karena Islam diperalat (lagi) untuk kepentingan bisnis dan pulitik?

Baca juga:
Islam yang Terus Diperalat
Apakah Islam Harus Rasional?

Saya ngeri jika apa yang berisik dan berjejalan di dunia nyata dan maya sekarang ini, yang dianggap sebagai suara kebangkitan Islam, ternyata gak lebih sekadar buih yang tampak banyak tapi sebenarnya gak penting dan gak bernilai.

Sayangnya, mata kita rabun dengan kekuatan tak-kasat-mata yang membuat kita terombang-ambing tapi pada saat yang sama merasa di jalur yang benar.

Seperti kita tahu, Islam kini gak melulu dipahami sebagai setumpuk nilai dan aturan, yang butuh waktu dan tenaga untuk memahami dan mengamalkannya, tapi identitas, simbol, atau yang lebih menyedihkan, bungkus. Sesuatu yang instan, praktis, atau bisa langsung dipakai oleh siapa pun tanpa perlu waktu lama atau pengorbanan apa pun, karena kata mereka Islam itu memang “cocok untuk segala situasi dan kondisi”.

Teman-teman kita, yang gak sadar telah mereduksi kesempurnaan Islam itu, cenderung menggunakannya sebagai baju, atau lebih miris lagi, sebatas asesoris yang sebenarnya gak penting-penting amat. Hanya buat pamer.

Gak heran, sebab mereka mendekatinya dengan sentimen dan ambisi, bukan ilmu dan cinta. Itu pun mereka lakukan dalam kajian di sela-sela kuliah atau streaming di Youtube.

Celakanya, mereka yang merasa seperti “hidup kembali” setelah ikut kajian keislaman itu gak diberi asupan yang cukup tentang adab. Mereka sudah merasa puas dengan itu.

Hasilnya, meski teriakannya terdengar islami tapi cara yang mereka pakai gak ubahnya cara-cara preman. Asal gak cocok dengan mereka, langsung disikat, dituding bidah, atau dibilang sesat. Al-Quran dan Sunah dipakai alat untuk mengganyang.

Sikap seperti itu mungkin watak pengajaran yang mereka terima dari ustadznya, lalu menular ke alam pikiran mereka. Padahal kalau disuruh baca kitab karangan ulama salaf sangat mungkin kedodoran, kalau gak ogah.

Sebab, mereka terbiasa mencari jawaban semua masalahnya “di dalam Al-Quran dan Sunah”. Fanatisme terhadap kitab klasik itu penyakit yang merusak akidah.

Belakangan saya paham, maksud dari kembali pada Al-Quran dan Sunah itu ternyata membaca terjemahan. Sebab mau baca Al-Quran masih terbatas-bata, mau memahami sunah masih belum bisa tatabahasa Arab, sementara mau belajar tafsir, ya tahu sendirilah, gak ada waktu.

Yang diandalkan apa lagi kalau bukan buku terjemahan, twit-twit ustadz pujaan, status provokatif, atau video anti-pemerintah.

Meski kadang kita mangkel sama teman-teman jenis ini, yang biasanya sok tahu dan merasa paling benar, semoga Allah gak menghapuskan kesabaran dan rasa sayang kita pada mereka.

Menurut saya, mereka gak boleh dijauhi, malah sebaiknya ditemani, diakrabi, dan sesekali diajak ngopi. Yang paling penting ‘kan akidahnya sama, ukhuwah terjaga, dan kalau ada hajat bisa saling membantu.

Gak perlu bermusuhan hanya karena beda pendapat atau ormas.

Buta

Wa dhoruurotu qoulil ‘aarifiina ay yakuuna dhohkatan lil jaahiliin, dan keniscayaan ucapan orang-orang yang mengerti (dengan hakikat Yang Mahakuasa) adalah menjadi bahan tertawaan bagi mereka yang bodoh.

Ungkapan itu saya baca di buku Ihya’ ‘Ulumiddin, sebuah magnum opus karya Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. Abu Hamid, atau lebih populer disapa Imam Al-Ghazali, adalah cendekiawan muslim abad ke-11 yang karya-karyanya dipelajari oleh umat Islam di berbagai negara, termasuk Indonesia, sampai sekarang.*

Baca juga:
Kita dan Tuhan Yang Mahaasyik
Menghina Tuhan

Kalau kita perjelas, maksud kata-kata itu adalah orang yang telah tercerahkan hatinya akan mampu melihat dan memahami segala sesuatu yang orang awam buta terhadapnya. Bahagia di balik derita, tawa di balik air mata. Ibaratnya, mereka adalah alkemis kebahagiaan*, yang bisa mengubah kesedihan menjadi kebahagiaan.

Ini adalah karunia dan kemurahan dari Allah Taala untuk hamba-hamba-Nya yang terpilih.

Source: pexel.com

Karena orang-orang pilihan itu tahu apa yang kebanyakan orang gak tahu, maka apa yang mereka ucapkan sering terdengar ganjil, aneh, dan gak jarang melawan persepsi umum. Itu sebabnya, mereka yang mendengarnya akan mudah mengabaikan, menyalahpahami, atau menertawakannya.

Bukan karena ucapan orang-orang pilihan itu absurd, tapi karena orang-orang yang mendengarnya gagal paham. Kepala sama berambut, kecerdasan beda-beda. Kita mungkin sudah mencurahkan pikiran untuk memahami makna kata-katanya, tapi gak berhasil, karena keterbatasan akal kita.

Selain itu, seseorang memang cenderung memusuhi apa yang gak diketahuinya. Dalam pepatah Arab, al-mar’u ‘aduwwu maa jahilu. Kalau selama ini kita ke mana-mana naik ojek, lalu muncul alternatif lain yang namanya Gojek, Grab, atau Uber, kita gak akan langsung menggunakannya. Takut ada apa-apa.

Kalau dalam persalinan anak pertama dan kedua istri kita dibantu oleh Bidan Naning, lalu persalinan anak ketiga diserahkan pada bidan yang lain (apalagi yang masih kinyis-kinyis, karena baru lulus Akbid), kita pasti deg-degan. Antara tawakal dan ragu-ragu memasrahkan keselamatan istri dan bayi kita padanya.

Ada banyak orang alim yang punya keistimewaan seperti itu, dan sebagian memang menjadi bahan tertawaan. Celakanya, mereka yang bersikap hormat gak bisa membuktikan apakah orang-orang tersebut memang kekasih Allah atau bukan, kecuali mereka melihat sendiri kelebihan dalam diri orang-orang pilihan itu.

Yang paling menarik dari orang-orang pilihan ini adalah apa yang mereka ketahui tentang rahasia-rahasia. Bahkan apa yang terjadi di masa depan bisa mereka ketahui. Entah tentang keluarga seseorang, anugerah yang akan didapatnya, musibah yang kelak menimpanya, atau jalan keluar bagi masalah-masalahnya.

Bagaimana mereka bisa tahu itu semua? Syaikh Ibnu ‘Ajibah Al-Hasani, seorang ulama Malikiyah dari Maroko, menerangkan dalam kitabnya, Iyqoozhul Himam, bahwa pengetahuan tersebut mereka dapatkan melalui mata hatinya. Dalam literatur sufisme, mata hati itu disebut dengan bashiiroh.

Jika mata (bashor) melihat apa yang tampak, mata hati (bashiiroh) melihat apa yang gak kelihatan. Orang dengan mata hati yang tajam adalah mereka yang telah menempuh perjalanan spiritual yang gak mudah. Satu di antara tantangan terbesar mereka, jika bukan satu-satunya, adalah menundukkan dirinya sendiri.

Bagi sebagian orang, menundukkan diri sendiri (nafs) adalah pekerjaan abadi yang gak ada habisnya, yang mereka mulai ketika baligh hingga menjelang kematiannya.

*Imam Al-Ghazali konon menulis buku tentang itu, judulnya Kimyaa’us Sa’aadah, atau dalam bahasa Inggris The Alchemy of Happiness.
*Tentang profil Imam Al-Ghazali dan perjalanan spiritualnya, coba deh berkunjung ke blog keren ini https://goo.gl/2Rkcdk