Gak Cuma Soal Uang

Saya gak berencana mudik ke Malang lebaran tahun ini.

Selain soal budget, belum tega rasanya membawa anak saya yang baru satu tahun naik kereta berjam-jam ke sana. Jadi, saya akan merayakan lebaran di kampung istri saya di Jogja. Lagipula di Jogja apa-apa, kan, relatif murah. Jadi, meski sedang libur, insya Allah dompet gak sampai jebol. Semoga saja.

Source: pixabay.com

Cuman, mungkin saya gak akan menghabiskan liburan di rumah orangtua istri. Saya ingin banyak-banyak ziarah dan silaturahmi. Ke rumah-rumah saudara, teman, juga yang gak boleh dilewatkan ke kediaman para kyai.

Bismillah, saya ingin anak saya nanti jadi orang saleh. Syukur nanti dia mau tinggal di pesantren dan mendalami agama.

Saya sadar, saya tinggal di lingkungan perkotaan. Teman-teman saya sekarang, kecuali hanya segelintir saja, berpikir dengan pola pikir orang kota. Saya kurang lebih sama, kecuali soal pendidikan anak.

Biar deh dibilang kolot, saya tetap ingin anak saya nanti menghabiskan waktu remajanya di pesantren. Seperti saya, istri, bapak, mertua, dan kakek saya dulu.

Karena menyekolahkan anak di pesantren beda dengan mendidiknya di sekolah umum, maka saya perlu mempersiapkan segala sesuatunya dari sekarang. Ini bukan soal finansial atau persiapan materiil yang lain, tapi tentang mental-spiritual.

Satu di antara persiapan-persiapan itu, menurut saya, adalah meminta doa para kyai. Biar kelak anak saya berkenan mondok seperti beliau-beliau itu, diberi kesungguhan menaati pengasuh dan ustadznya, dan diberi kemudahan memahami pelajaran sekaligus mengamalkannya.

Saya boleh berharap apa saja pada anak saya. Menjadi seorang bintang kelas, berprestasi dalam kegiatan non-akademik, lalu mendapatkan pekerjaan yang bagus dan punya harta yang berlimpah. Tapi saya pikir, kita diciptakan Tuhan, kan, gak sebatas untuk hidup di sini.

Jalan kita panjang, gak sebatas hidup enak di dunia, apalagi hanya soal uang, uang, uang. Seperti kata Mr. Crab.

Rasa-rasanya, hari tua saya akan jauh lebih bermakna saat melihat anak saya menjadi orang yang luas ilmu agamanya dan hidupnya tertata dengannya, ketimbang sekadar kaya atau punya jabatan tinggi.

Semoga Allah mengabulkan. Amin.

Dulu Brengsek, Sekarang Sok Suci*

Rasanya gak ada kubangan yang cukup dangkal untuk menggambarkan pemahaman kita tentang agama. Terutama tahun-tahun terakhir ini.

Source: pixabay.com

Saya gak paham, sejauh mana pulitik memengaruhi cara kita menghayati agama. Tapi sejak pilpres lalu, banyak hal-hal berbau agama yang menyeruak.

Memenuhi ruang publik. Menjadi polemik.

Baca juga: Islam yang Terus Diperalat

Dulu kita heboh saat Al-Quran dibacakan dengan langgam Jawa, marah saat Ahok menistakan firman Allah, dan tak terima saat Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dilarang.

Belum lama ini kita mengritik pelafalan Al-Fatihah yang medok dan pembakaran bendera tauhid. Juga bendera ISIS yang entah bagaimana bisa nempel di dinding rumah Habib Rizieq.

Tapi, memang, semua itu gak akan jadi masalah kalau gak digoreng sebagai tindakan anti-Islam. Oleh pihak-pihak tertentu. Entah orang pulitik, atau orang baik yang ngamukan.

Saya mungkin gak akan menulis ini andai teman-teman saya masih seperti dulu. Lugu dan bodoh. Gak pintar-pintar seperti sekarang.

Apalagi kalau sudah bicara pulitik. Dan Tuhan.

Mereka sekarang juga kagum dengan dirinya. Karena sudah hijrah. Merasa sudah lebih baik. Dulu suka teler, sekarang setop. Dulu pacaran, sekarang putus.

Saya sih senang mereka berubah.

Cuman kadang mereka terlalu bersemangat. Merasa nyaman dengan perubahan yang sudah dilakukan, lalu memandang rendah orang lain.

Kadang saya sampai kesal. Mereka mengaku hijrah tapi merendahkan orang-orang yang menurutnya belum hijrah. Itu hijrah dari mana ke mana?

Abu Yazid Al-Busthami pernah suatu saat berjalan di gang sempit. Di tengah gang seekor anjing mendekatinya. Ia pun mengangkat jubahnya, khawatir terkena najis anjing itu.

Saat itulah Allah menurunkan ilham-Nya, sehingga sufi agung itu mengerti kata hati anjing tersebut (atau ini hanya dialog imajiner saja, wallahu a’lam).

Melihat sikap Abu Yazid, anjing itu menggerutu, “Andai mengenai bajumu, najisku ini akan hilang setelah kau membasuhnya dengan tujuh basuhan air dan tanah.

Tapi najis di hatimu yang muncul karena merasa lebih mulia dariku, wahai Abu Yazid, tak akan musnah meski kau basuh dengan air sebanyak tujuh samudera!”

Saya jadi ingat. Dulu iblis diusir dari surga bukan karena bodoh, tapi sombong. Orang yang sombong sulit diapa-apakan. Sebab hatinya tertutup.

Kata Syekh al-Utsaimin, orang bodoh bisa dididik. Tapi orang yang sudah tertutup hatinya, tak ada yang bisa kita lakukan untuk membantunya.

Jadi, poin saya, kalau ketaatan yang kita lakukan membuat kita merasa lebih suci dibandingkan orang lain, itu sebenarnya bukan hijrah. Itu hanya sebuah tanda.

Bahwa kita sedang dikadalin syaithon.

Mereka paling jago kalau soal ini. Membuat kita merasa saleh, suci, dekat dengan Allah, lalu meyakinkan bahwa yang kita lakukan itu bukan sebuah tipu daya.

Tapi hijrah.

*Judul saya olah dari tulisan seorang selebtwit (yang saya lupa nama akunnya)

Namanya Berandai-andai …

Teman-teman yang baik …

Ini adalah tulisan pertama saya setelah beberapa bulan tidak memposting apa pun di blog ini. Awalnya saya sengaja ngempet menulis. Tapi ternyata keterusan.

Source: pixabay.com

Kebetulan pekerjaan saya tiga bulan ini sangat menyita perhatian. Sampai-sampai saya tak punya waktu bahkan untuk ingat blog sendiri.

Tapi, mulai minggu ini saya ingin kembali menulis. Hanya mungkin ada sedikit perubahan. Dalam tema dan cara saya bertutur.

Saat pertama membuat blog ini saya memang ingin menjadikannya ruang belajar. Selain untuk menumpahkan kegelisahan –maksud saya, untuk mengisi waktu luang.

Tapi setelah postingan banyak, saya baru sadar. Selama ini ternyata saya tidak sedang menulis. Tapi nyampah.

Anggap itu olok-olok untuk blog ini. Tapi, itu tak seberapa dibanding kata-kata Mochtar Lubis kepada Pram. Entah berapa puluh tahun yang lalu.

“Kau tak sedang menulis, Pram” bentak Mochtar, “Kau berak!”

Pram marah. Lalu menumpahkan segala daya kreatifnya ke lembar-lembar kertas. Hingga terbitlah Tetralogi Pulau Buru. Yang membuat mata dunia terbelalak.

Baca juga: Buku: The Art of Thinking Clearly

Seperti Pram sebelum menulis karya besarnya, saya pun punya impian. Mungkin semua orang juga. Bahwa suatu saat akan ada karya bermutu yang saya hasilkan.

Entah kapan …

Charles Dickens sukses sejak usia 24 tahun. Melalui karyanya yang berjudul The Pickwick Papers. Belakangan saat berusia 31 tahun lahir karya-karyanya yang hingga kini masih dibaca, di antaranya A Christmas Carrol, Oliver Twist, dan Great Expectations.

Guy de Mauppasant menulis karya terbesarnya berjudul Boule de Suif saat berumur 30 tahun. Lalu La Parure pada usia 34 tahun. Meski usianya pendek, Mauppasant adalah penulis prolifik. Total 300 cerpen ia tulis sebelum kematiannya di usia 43 tahun.

Leo Tolstoy menjadi terkenal karena karyanya yang berjudul War and Peace. Sebuah novel dengan 580 karakter. Ia menyelesaikan novel tersebut saat berusia 41 tahun. Delapan tahun kemudian novelnya yang tak kalah tenar, Anna Karenina, lahir.

Terakhir Paulo Coelho. Karya perdananya berjudul The Pilgrimage. Ia menulisnya pada usia 39 tahun. Novel selanjutnya berjudul The Alchemist. Pertama terbit pada dekade 80-an, tapi baru menjadi bestseller internasional pada tahun 1994. Saat usianya 47 tahun.

Saya sudah 33 tahun. Dan belum ada tanda-tanda sedang menulis karya yang kelak bisa saya banggakan. Tapi paling tidak saya bisa berandai-andai menjadi “Mochtar Lubis” di satu sisi dan “Pram” di sisi lain. Dengan begitu saya bisa membayangkan menjadi penulis serius.

Sesekali saya menulis, sesekali saya mengkritisi. Sesekali juga saya mencaci-maki karya sendiri. Namanya berandai-andai, apa pun boleh, kan?

Bahagia Perlu Alasan?

Ini tulisan gak penting berikutnya di blog ini.

Saya ingin mengingatkan Teman-teman kalau apa yang ingin saya sampaikan di bawah ini adalah bagian dari cara saya untuk menunaikan rutinitas di dunia maya: nyampah. Hehe … Buat yang masih sayang sama kornea matanya, mending stalking IG mantannya saja, ya. Lebih berfaedah.

Source: pexel.com

Banyak orang, termasuk saya, yang pernah membayangkan suatu kebahagiaan dengan mempunyai ini dan itu atau bisa melakukan ini dan itu. Punya apartemen, mobil bagus, traveling ke luar negeri, atau ketemu orang-orang tenar. Tapi, seperti orang lain yang pernah membayangkan kebahagiaan tersebut, pada akhirnya mereka sadar …

… bahwa mereka gak pernah bisa mewujudkannya.

Memang menyenangkan bisa memenuhi segala yang kita inginkan, tapi di balik kemampuan orang lain yang bisa memenuhi keinginannya, ada hal-hal yang harus ia korbankan. Entah keakraban dengan seorang teman, kebersamaan dengan anak-istri, atau paling gak kepuasan bisa melakukan sesuatu dalam kondisi sedang pas-pasan.

Ada yang bilang kalau mewujudkan kebahagiaan dengan cara memuaskan keinginan-keinginan itu mirip menghapus dahaga dengan mereguk air laut. Bukannya puas, kita malah akan semakin haus. Memuaskan keinginan juga sama. Semakin dimanja dan dituruti, semakin keinginan-keinginan itu ngelunjak, merembet ke mana-mana.

Coba deh ingat-ingat kalau lagi belanja lebaran. Dari rumah, isi kepala kita paling-paling cuman baju dan celana buat Salat Id atau silaturahmi, tapi begitu sampai di Pojok Busana, eh Centro atau apalah, mata kita suuusah minta ampun untuk gak kepincut sama yang lain-lain. Ya sandal, sepatu, gesper, sempak, kolor, muacem-macem.

Celakanya, selalu ada bisikan di hati kita, bahwa … yup, kita memang butuh semua itu.

Klise kalau ada yang bilang kebahagiaan itu gak mahal, asal kita bisa qana’ah. Apa boleh buat, menurut saya, itu kuncinya. Orang yang qana’ah bukan hanya mau menerima apa pun yang Allah berikan padanya tapi juga bahagia saat menerimanya. Dia mungkin tahu itu kurang, tapi hatinya terlalu lapang untuk gak menerimanya.

Dagang es kelapa cuman untung 30 ribu sehari, bahagia. Jual gorengan untungnya cuman bisa buat makan besok, bahagia. Ngojek dapat penumpang seadanya karena musim hujan, bahagia. Mereka itu, orang-orang yang sering kita pandang sebelah mata, terkadang lebih mudah bahagia ketimbang kita yang mungkin bernasib lebih baik.

Ada orang yang bekerja sangat keras, mengorbankan banyak hal demi berburu rupiah. Dengan itu, ia berharap bisa memenuhi kebutuhan keluarganya. Membelikan pakaian, mengajak liburan. Membahagiakan mereka. Ada juga orang yang bekerja sambil tetap melihat batasan. Berapa pun yang didapatkannya, alhamdulillah.

Dan mereka, tanpa menunggu pundi-pundi uangnya meluap, sudah bisa bahagia.

Tulisan-tulisan Saya

Saya tahu tulisan-tulisan saya di blog membosankan. Beberapa hari ini saya memikirkan cara agar gak terus-terusan menyiksa pembaca dengannya. Saya belum menemukan jawaban, to be honest, tapi saya akan mencoba memperbaiki dari gagasan utama.

Source: pexel.com

Selama ini saya terobsesi untuk membuat tulisan baru. Celakanya, ide yang bagus gak selalu ada ketika saya ingin menulis. Akhirnya ya ide seadanya yang saya garap. Mungkin bukan sesuatu yang buruk, tapi bagaimanapun itu membuat keterampilan kita gak berkembang.

Saya juga pernah terobsesi dengan jumlah viewer dan like pada tiap tulisan yang saya posting. Tapi, lama-lama saya berpikir. Buat apa? Buat apa mendapatkan viewer dan like banyak, jika itu hanyalah “balas budi” dari beberapa follower yang tulisannya lebih dulu saya baca dan saya like?

Bukan karena mereka benar-benar menyukainya …

Disukai atau gak itu biasa. Kita gak bisa mengontrol orang lain untuk suka atau gak suka sama kita, termasuk sama tulisan kita. Jadi ya, let it be … Gak usah mencari-cari cara untuk disukai (baca: diberi like atau dipuji) jika memang tulisan kita gak pantas untuk disukai.

Entah dengan mem-follow sebuah akun, me-like, memberi komentar asal dengan harapan mendapat kunjungan balasan, dan lain-lain.

That’s not my purpose when first time I made this blog. It’s all about happiness, i think; happiness that comes from my ability to release and express my feeling and thought, not happiness that comes from being viewed, read, visited, followed, nor liked.

Saya jadi ingat kata orang-orang tua, bahwa orang yang dipuji itu ada tiga.

Pertama, mereka yang memang pantas dipuji. Ketika mendengar pujian itu, mereka sebaiknya bersyukur pada Yang Mahakuasa. Kedua, mereka yang memang hebat, tapi pujian terhadapnya keterlaluan. Golongan kedua ini perlu meningkatkan ikhtiarnya agar layak menerima pujian itu.

Nah, orang ketiga sebenarnya gak layak menerima pujian. Kelakuannya seharusnya membuat dia layak mendapat hinaan. Kalau orang tersebut bahagia mendengar pujian yang dia sebenarnya gak berhak terhadapnya, dia sejatinya orang yang gak tahu diri.

Mungkin ini klise ya, tapi pujian untuk sebuah perbuatan yang gak selayaknya dipuji itu hakikatnya adalah hinaan. Kalau seseorang mengatakan bahwa angin yang keluar dari pantat temannya beraroma cocopandan, dia sejatinya gak sedang memuji, tapi mencaci-maki.

Hanya saja, bukannya marah, kita kadang malah tersipu-sipu dan bangga saat mendengar hinaan itu. Aneh 😀

Rabun Dekat

Kita akui atau gak, mencari kekurangan orang lain itu lebih mudah dibanding mencari kekurangan diri sendiri. Mungkin karena itu, kita sering sibuk mengurusi aib mereka ketimbang memikirkan borok kita dan memikirkan cara menyembuhkannya.

Source: pexel.com

Kalau kita amati, orang yang diam belum tentu sudah selesai menunaikan kewajibannya, yaitu meningkatkan imannya atau memperbaiki akhlaknya. Dia diam mungkin karena gak menemukan sedikit pun kekurangan dalam dirinya. Seakan dirinya sudah sempurna.

Baca juga:
Mengapa Kita Berbeda?
Topeng-topeng yang Menipu

Tapi, orang yang tampak sibuk belum tentu juga sedang memperbaiki diri. Bisa jadi dia malah asyik mencela kekurangan orang lain, atau memancing supaya orang lain bertindak bodoh, agar bisa dia manfaatkan kebodohannya itu untuk menjatuhkan orang tersebut.

Jadi, semua memang serba mungkin, dan karenanya banyak yang gak mudah kita pastikan, kecuali dua hal: bahwa usia kita semakin berkurang dan kita perlu segera mengalihkan perhatian pada kekurangan yang ada pada diri sendiri.

Rasulullah saw berkali-kali mengajak kita untuk mawas diri. “Haasibuu qobla an tuhaasabuu, hitung-hitunglah kebaikan dan keburukan kalian, sebelum keduanya dihitung oleh Allah,” kata beliau. Maknanya, introspeksilah!

Jangan merasa seakan semua sudah baik-baik saja …

Kita malu sama diri sendiri. Kadang kita merasa sudah lebih baik dari orang lain, merasa lebih saleh, alim, dan dermawan, lalu meletakkan diri di atas mereka, seakan kita otomatis lebih suci, lebih disayang Allah, dan lebih pantas menghuni surga-Nya.

Padahal alasannya simpel: karena sudah berhijab, sudah hijrah (vret!), suka streaming tausiyah, rajin nge-share fitnah tentang para kyai, atau baru sedekah pakaian bekas.

Kesombongan memang nggapleki. Ego (nafs) gak pernah berhenti menjerumuskan kita ke jurang kehinaan, termasuk dengan mengelabui hati kita dengan membuatnya merasa sudah sempurna. Celakanya, kita menurut saja.

“Man zhonna anna lahu ‘aduwwan a’daa min nafsihi, qolla ma’rifatuhu binafsihi,” begitu kata seorang sufi*. Orang yang mengira dirinya punya musuh yang lebih tangguh ketimbang dirinya (ego atau nafs-nya) sendiri, sejatinya ia tak cukup mengenal dirinya sendiri.

Wallahu a’lam.

*Lihat: Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani Al-Jawi, Nashaihul ‘Ibad, h. 6.

Merdeka untuk Bahagia

Hanya dengan bermain, anak-anak bisa menemukan kebahagiaan.

Source: pexel.com

Cuma ketika masuk usia dewasa, ada dua jalan yang membuat mereka harus memilih salah satunya: pertama, jalan yang mudah, atau kedua, jalan yang sulit. Siapa pun diri mereka sekarang, mereka adalah bagian dari salah satu dari kedua jalan itu.

Baca juga:
Terancam Bahagia
Menyederhanakan Kebahagiaan

Sejak itu, mereka yang saat anak-anak bisa bahagia dengan cara yang sama, menjadi berbeda. Ada yang bisa bahagia hanya dengan sesuatu yang kecil, seperti menikmati pisang rebus, ada juga yang terobsesi dengan sesuatu yang besar, seperti menjadi presiden.

Hihi, gak, saya gak akan bahas pulitik …

Orang bijak berkata bahwa kebahagiaan gak memberi kualifikasi terhadap apa pun yang datang dari luar diri kita. Mau dagangan sepi, mau hidup kebanjiran hoax, bahkan mau Indonesia bubar bulan depan, kebahagiaan tetap bisa kita dapatkan.

Caranya gak rumit, tapi gak gampang dikerjakan: qana’ah sama apa pun yang Allah berikan. Merasa cukup, dan gak mempermasalahkan apa dan berapa rezeki yang kita terima. Qana’ah adalah hulu dari sikap sabar, syukur, dan beragam sikap mulia lainnya.

Orang yang qana’ah punya hidup yang tenang, karena gak pengin ini dan itu: ada iklan Tupperware pengin beli, ada promo IPhone terbaru pengin order. Dia mungkin gak punya uang banyak, tapi dia memang gak merasa ingin membeli barang banyak.

Orang-orang dengan sikap qana’ah juga gak gampang ‘kerasukan’ syaithon. Syaithon di sini bukan makhluk turunannya iblis yang durjana itu, tapi bisikan-bisikan lembut yang biasanya mengajak kita melakukan perbuatan-perbuatan rendah.

Seperti iri, hasud (girang kalau temannya ada masalah, bete kalau temannya lagi hepi), namimah (manas-manasin orang lain biar melakukan sesuatu yang menguntungkan dirinya). Contohnya seperti di bawah ini, bayangin sendiri situasinya ya 🙂

“Alah, motor kredit aja dibangga-banggain!”
“Mentang-mentang cantik Ig-nya muka dia mulu!”
“Tas baru, ya? Gue tahu itu harganya …”

***

Sikap qana’ah membuat kita elegan, baik di hadapan Allah, lebih-lebih di hadapan manusia. Kita boleh pakai baju seadanya, tapi kalau pembawaan kita memang elegan, orang lain akan segan, hormat, memuliakan, di samping juga senang bergaul sama kita.

Untuk terlihat elegan kita bisa mengenakan baju yang mahal, tapi sebagaimana baju pada umumnya yang bisa koyak dan pudar warnanya, pada saatnya baju itu, semahal apa pun, akan kita tanggalkan. Kesan elegan yang dibuat-buat (fabricated) suatu saat akan pudar.*

Ini beda sama elegan yang lahir dari sikap qana’ah, atau merasa cukup dengan jatah Yang Mahakuasa. Kalau jerih payah kita mendatangkan rezeki yang melimpah, kita gak takabur, dan kalau sebaliknya, kita gak tamak apalagi meminta-minta.

Nah, qana’ah juga membantu kita untuk memusatkan harapan pada Allah Ta’ala, sehingga kita gak ngarep-ngarep sama makhluk. Orang yang sudah ‘putus asa’ mengharapkan uluran tangan makhluk sejatinya adalah orang yang merdeka.

“Barangsiapa yang menghamba pada Allah Ta’ala,” kata Syaikh Ibnu ‘Ajibah, “maka dia merdeka dari sesamanya.” ‘Sesamanya’ di sini bukan hanya sesama manusia tapi juga makhluk lainnya, ya termasuk apa yang dia harap-harapkan itu.

Mengharap-harapkan sesuatu meniscayakan cinta dan ketundukan, yang karena keduanya kita akan bersedia melakukan apa saja, demi mendapatkannya. Dan bukan barang baru kalau yang namanya cinta itu membuat kita buta dan tuli.

“Al-‘abdu hurrun maa qana’, wal hurru ‘abdun maa thama’ (Seorang hamba itu merdeka selama ia qana’ah, dan seorang yang merdeka itu hamba selama ia tamak).” (Iyqazhul Himam, h. 140)

***

Kita semua mungkin masih belajar untuk qana’ah, dan sampai sekarang masih belum bisa melakukannya dengan baik. Paham artinya mungkin sudah, tapi siap dengan segala konsekuensinya nanti dulu. Jangankan siap, insentif berkurang saja kepikiran terus.

Hihihi …

Semua memang mending disyukuri. Saya sendiri alhamdulillah bisa beraktivitas seperti biasanya, meski belakangan mondar-mandir Jakarta-Jogja. Istri makin sehat setelah melahirkan dan anak saya sudah pup buaaanyak setelah empat hari gak pup sama sekali 😀

Ya Allah, maafkan saya masih sering kurang ajar. Merengek-rengek minta ini dan itu, giliran dikasih lupa berterima kasih. Ingat hanya ketika ada perlu, mencari cuma kalau sedang butuh. Maaf sekali lagi, sebab memperlakukan Sampeyan seperti gunting kuku.

Ya wis lah, moga-moga kita dibantu oleh Allah agar bisa qana’ah. Apalah kita ini, sok mau mengandalkan ikhtiar sendiri, kayak bisa jamin saja semua bakal sesuai harapan.


*Ada sebuah syair di buku Iyqazhul Himam (h. 141) karya Syaikh Ibnu ‘Ajibah, tapi saya kesulitan menerjemahkannya dengan baik. Jadi, saya terjemahkan apa adanya saja ya.

Aku mengartikan qana’ah pangkal kekayaan
Jadi, aku tak merasa butuh dengan selebihnya
Kemuliaannya memberiku pakaian yang indah
Yang tak akan koyak seiring berlalunya masa
Aku kaya meski tak punya sepeser pun harta
Bangga di depan manusia laksana seorang raja