Hari Baru


Assalamualaikum, Nabil.

Kau sehat-sehat saja, Nak? Alhamdulillah, Ayah dan Ibu sehat-sehat selalu. Bagaimana ngajimu? Sudah berapa bait Alfiyyah yang kauhafalkan? Jangan lupa, kau harus mulai mencicilnya dari sekarang. Fathul Qarib bagaimana, apa ada masalah? Sharaf? Tafsir?

Maaf, maaf, bukan maksudku menginterogasimu. Aku cuma ingin tahu perkembangan belajarmu. Jawab saja apa adanya, tak perlu takut. Aku dan ibumu juga pernah ada di posisimu, dan kami tak selalu baik-baik saja.

Kalau kau tak menemui masalah dalam belajarmu, bersyukurlah, sebab artinya Allah telah memudahkannya. Kalau kau menemuinya, bersabarlah, itu juga bentuk lain dari cinta kasih-Nya. Kau boleh tertinggal untuk urusan pelajaran (jangan terlalu dipikirkan!), tapi aku harap kau selalu menjaga adab pada guru-gurumu. Kata Kyaiku, adab itu nomor satu. Pandai kira-kira nomor dua puluh tujuh.

Sekarang hari Kamis, 9 September 2021. Hari yang cerah setelah sore hingga malam kemarin hujan deras mengguyur Jakarta.

Sewaktu aku melintas di jalanan pagi tadi, genangan masih terlihat di mana-mana. Daun-daun terlihat segar, rumput-rumput seperti bergembira menyambut pagi yang hangat.

***

Dua hari kemarin aku kembali berbincang dengan ibumu. Setelah sepuluh tahun menyunting naskah, mengoreksi, mem-proof, membuat konsep desain, merancang judul buku, sampai mempromosikan dan membantu memasarkan buku, kini tiba saatnya aku berpikir tentang kemungkinan melanjutkan perjalanan. Sebuah pilihan yang tidak mudah.

Hari ini setelah jam makan siang, aku akhirnya duduk di ruang yang biasanya kugunakan untuk meeting bersama teman-teman. Hanya kali ini aku berbincang empat mata dengan atasanku. Detik demi detik terasa sangat lambat.

Baca juga: Ketidakpastian Tak Semenakutkan Itu

Ada banyak yang kami bicarakan. Mulai tugas harianku, hambatan-hambatan yang sedang kuhadapi, sampai rencana ke depan. Kujawab semua apa adanya, termasuk kenekatanku meninggalkan pekerjaan yang dulu pernah kuidam-idamkan ini: editor.

Ya, kalau kau belum pernah mendengar, aku pernah sangat mendambakan diriku menjadi editor buku. Sebuah pekerjaan yang menurutku keren tapi pada saat yang sama “gelap”, sebab tak banyak yang kutahu dan hanya sedikit orang yang bisa kutanya-tanya tentangnya. Aku tak ragu mengatakan bahwa dari sekian banyak pengalaman, menjalani pekerjaan ini adalah salah satu yang paling kusyukuri.

Sepuluh tahun menjadi editor, banyak asam-garam yang sudah kukecap. Setidaknya sebelum dua tahun yang lalu, aku tak menyangka akan tiba hari ketika aku memikirkan kembali kesibukanku, mencermati kemungkinan yang lain, dan bukan mustahil memilihnya.

Berat rasanya meninggalkan sesuatu yang bukan hanya kaucintai tapi juga kaujaga kesetiaanmu padanya. Entah sama atau tidak, tapi melirik pekerjaan baru sama berbahayanya dengan melirik seorang wanita yang baru kaulihat.

Ini hanya ibarat. Ibumu tak perlu tahu.

***

Aku tak tahu apa yang akan mengejutkanku di depan nanti. Tapi dalam hidup kita, selain jalan menanjak juga ada jalan menurun, bukan?

Aku mungkin akan mengkhawatirkan banyak hal, tapi seperti yang sudah-sudah, Anakku, aku akan percaya pada-Nya. Bukan hanya kali ini aku berada dalam situasi yang tak bisa kurekayasa. Jadi, untuk urusan berpasrah pada-Nya, aku sudah punya pengalaman.

Aku jadi ingat, dulu sewaktu masih tinggal di pesantren sering aku menemui situasi yang tak menyenangkan dan celakanya tak bisa kuhindari. Kau mungkin sudah beberapa kali ada dalam situasi seperti itu, jadi tak perlu kujelaskan panjang-lebar.

Baca juga: Menyederhanakan Kebahagiaan

Yang pasti, serumit apa pun masalah yang kita hadapi, seburuk apa pun situasi itu membekap kesadaran kita, jika sudah waktunya selesai, akan selesai. Sama dengan angin puyuh, jika saatnya tiba ia akan memporak-porandakan segala yang ada di jalur lintasannya. Tapi jika sudah saatnya reda, ia akan tenang dengan sendirinya.

Lama-lama aku jadi ingat Gus Dur. Katanya, kalau kau menghadapi masalah yang masih bisa kauatasi, ya atasi saja, nanti akan selesai. Jika kau menemui kesulitan yang tak bisa kauatasi, biarkan saja, nanti akan selesai sendiri.

Hidup kita pendek, Nak. Jangan habiskan untuk terus-terusan mengkhawatirkan sesuatu. Apalagi sesuatu yang Allah sudah mengatur dan menjaminnya, seperti urusan rezeki.

Kita mengaku percaya pada Allah, tapi pada saat yang sama masih khawatir besok kita makan apa. Kata Mbah Tedjo, itu sama saja dengan menghina Tuhan.

Sudah ya, aku pulang dulu. Mendung terlihat semakin tebal, aku takut hujan segera turun.

Nabil Belajar Mellow ;)


Sudah masuk bulan Juli, tapi hujan masih terus mengguyur. Sesekali panas memang menyengat, tapi sore atau malamnya limpahan air seperti dicurahkan dari langit.

Lumut di halaman rumah seperti berpesta-pora karena tak jadi sekarat, pohon-pohon alpukat milik para tetangga seakan terus merapal syukur, mungkin karena baru kali ini berbuah sambil terus diguyur hujan.

Nabil sudah memasuki usia 3 tahun (lebih 2 bulan). Meski bulan lalu ia berada dalam fase marah-marah gak jelas alias tantrum, beberapa minggu ini keadaannya sudah lebih baik. Saya perhatikan kosakatanya semakin banyak, nafsu makannya meningkat, dan yang tak kalah penting ia semakin terlatih mengungkapkan emosinya: bahagia, sedih, dan tentu saja marah.

Saat vidcall dengan bude dan pakdenya kemarin malam, ia sempat berkaca-kaca karena tahu bahwa pakde ada di rumah sakit. Dan anak seusia itu, tahunya rumah sakit memang untuk orang sakit. Yang gak ia tahu, pakdenya akan menjalani operasi jantung. Apa pun itu, wajahnya yang di awal ceria langsung mendung mendengar kakak ipar saya itu berada di rumah sakit.

Baca juga: Untuk Anakku (1)

Itu bukan pertama kali wajahnya muram karena sesuatu yang menyedihkan. Saya masih ingat, satu tahun lalu saat menonton sebuah film anak-anak di Youtube, ia tiba-tiba menangis (dan menangisnya itu langsung mangap, bukan mimbik-mimbik dulu, hihi). Karena heran, saya coba tonton film yang ia putar di tab-nya. Dan benar, ada adegan sedih di dalam film itu.

Saya sempat tercenung: Anak sekecil itu sudah bisa tersentuh oleh cerita sedih?

Namun setelah baca-baca, begitulah. Bahkan saat masih berada di tahun-tahun pertama kehidupan, seorang anak bisa tersentuh. Ya gak apa, itu normal, dan itu berarti emosinya berkembang dengan baik.

Sebagaimana ia bisa tersentuh, lain waktu ia juga bisa kecewa, ingin, menyesal, antusias, dan bahagia. Kalau ini saya renungkan, saya semakin mafhum, sekaligus bersyukur. Namanya manusia ‘kan punya emosi, dan karena emosi itu terlihat dalam sikap, maka wajar kalau saat menonton film sedih Nabil tersentuh dan mewek.

Mungkin karena pertama kali melihat, saya agak heran, kaget, dan…bingung mau bagaimana.

Baca juga: Untuk Anakku (2)

Untungnya karena ada pengalaman itu, kemarin saat dia seperti mau menangis karena tahu pakdenya berada di rumah sakit, saya langsung memberi penjelasan bahwa pakdenya gak sedang sakit.

“Pakde cuma mau periksa, kok,” kata saya.

Saya awalnya merasa berbohong, tapi perasaan itu saya tepis, karena kakak ipar saya memang gak sedang sakit. Hanya berdasarkan observasi dokter, ia perlu menjalani operasi.

Sakitnya sih sudah beberapa minggu yang lalu 😦