Masalah

Saya yakin ada penjelasan yang masuk akal mengapa saat-saat sulit itu datang. Ini bukan hanya kesulitan yang disebabkan oleh keteledoran kita tapi juga kesulitan yang datang murni akibat kesialan.

Source: pixabay.com

Bisa karena kondisi psikologis kita, turunnya stamina berpikir, beban kerja yang memecah konsentrasi, dan lain-lain.

Tapi, memahami alasan mengapa masalah-masalah itu datang tentu menyita perhatian. Merespon masalah itu dan berusaha menyelesaikannya saja sudah jadi beban tersendiri, apalagi harus memikirkan alasan kedatangannya.

Kalau bukan gabut, apa namanya?

Yang pasti, begitu quote yang pernah saya baca, masalah itu seperti angin kencang. Gak semua datang untuk mengacaukan hidup, ada juga yang datang untuk membersihkan jalan kita.

Masih Ada Waktu

Setelah menikah, saya belajar satu hal. Di antaranya, mencintai itu gak melulu tentang ucapan “I love you”. Kadang, melakukan perbuatan-perbuatan kecil untuk istri jauh lebih nyaring dibanding sekadar menyatakan bahwa saya mencintainya.

Source: pixabay.com

Kalau saya ingat-ingat, entah kapan terakhir kali saya mengatakan “I love you”. Lupa. Dulu, saya pikir itu semacam “declaration of truth”, belakangan saya malu kalau harus mengucapkannya. Gak tahu kalau istri saya.

Menurut saya, cinta lebih tulus jika diungkapkan dengan melakukan sesuatu. Entah menggantung bajunya yang belum sempat ia rapikan, memasangkan kaus kakinya saat mau keluar rumah, atau sekadar membantunya meraih bantal saat hendak tidur.

Saya bisa melakukan hal-hal kecil itu. Kapan pun dia mau. Sebab, saya tahu saya belum bisa melakukan hal besar. Semoga masih banyak waktu untuk belajar.

7 Lagu Lawas yang Paling Menyentuh

Saya punya teman yang malu-malu mendengarkan dangdut. Ada juga yang malu-malu mendengarkan lagu mellow. “Cengeng,” katanya. Mungkin demi menjaga gengsi kelelakiannya, ia gak mau terlihat sedang menikmati lagu mellow di depan teman yang lain.

Photo by Burst on Pexels.com

Saya sih sabodo teuing mau dengar lagu apa pun, asal nyetelnya gak kenceng-kenceng. Hehe.

Dulu saat SMP, saya sering dengar kakak saya menyanyikan lagu-lagu mellow. Beberapa kali juga saya melihat klip lagu-lagu itu di layar kaca. Mungkin karena sering gak sengaja mendengar, lama-lama saya ikutan suka. Padahal, anak SMP zaman itu umumnya suka lagu-lagu Dewa 19, Slank, atau lagu Malaysia.

Menurut saya, lagu-lagu mellow itu bukan hanya enak didengar tapi juga perlu direnungkan maknanya. Biasanya, mungkin supaya pendengar gak mudah bosan, lagu-lagu mellow punya kekuatan dalam kata-katanya. Diksinya unik, jarang digunakan, dan seringkali memberikan tekanan makna pada sebuah kalimat.

Baca juga: Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Nah, Teman-teman, berikut lagu-lagu mellow dan menyentuh yang menurut saya perlu kalian dengar sebelum ajal menjemput (!). Sebagian saya kenal saat anak-anak, sebagian lagi baru beberapa tahun yang lalu. Enjoy!

1. Tika Bisono, Melati Suci

Saya mendengar lagu ini, untuk pertama kalinya, sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu. Seperti sering terjadi, saya menemukannya saat mencari lagu lain di Youtube, alias gak sengaja.

Kesan pertama saat mendengar lagu ini luar biasa. Iramanya sangat syahdu. Bukan saja romantic tapi juga nostalgic (seriyes ini, tolong, ya!). Entah kenapa, saya sendiri gak bisa memastikan. Mungkin karena suara penyanyinya, orkestra yang mengiringinya, atau nada-nada rendahnya. Yang pasti, lirik lagu ini membuatnya terkesan mewah.

Gak perlu kaget, penciptanya Guruh Soekarno Putra.

Berikut refrain lagu ini.

Tajuk bak permata
Siratan bintang kejora
‘Kan kupersembahkan
Bagimu pahlawan bangsa
Putiknya pesona
Rama-rama ‘neka warna
‘Kan kupersembahkan
Bagi pandu Indonesia

Ada kosakata yang membingungkan? Haha, begitulah lirik lagu-lagu Guruh Soekarno Putra, penuh diksi yang gak biasa. Tajuk, kejora, putik (serbuk sari dan putik?), rama-rama, pandu. Saya persilakan buka KBBI, deh 🙂

Sampai sekarang saya belum menemukan klip asli lagu ini. Pengunggah di Youtube menjadikan pemandangan alam sebagai latar videonya. Jadi, gak usah fokus sama videonya, cukup audionya saja, ya. Ini link-nya.

2. Chrisye, Untukku

Saya pertama kali mendengarkan lagu ini saat SD. Kakak saya memperkenalkannya saat televisi di rumah kami masih hitam-putih. Sama dengan lagu sebelumnya, lagu ini sangat indah dari segi aransemen dan liriknya.

Walau ke ujung dunia, pasti akan kunanti
Meski ke tujuh samudera, pasti ku ‘kan menunggu
Karena kuyakin, kau hanya untukku

Begitu refrain lagu ini. Jangankan orang dewasa yang waktu itu sudah pernah jatuh cinta, anak SD seusia saya yang masih gak ngerti apa-apa soal cinta rasanya sudah suka dengan lagu ini.

Menurut saya, lagu ini menciptakan sebuah kesan tentang ketulusan. Boleh jadi itu disebabkan liriknya, yang menurut saya sangat kuat. Apalagi pada kalimat, “Karena kuyakin, kau hanya untukku”. Boleh jadi juga karena dibawakan oleh Chrisye, yang membuat semua lagu yang dinyanyikannya bernuansa magis (ya gak, sih?).

Berikut link lagu ini.

3. Chrisye, Merepih Alam

Dari semua lagu-lagu Chrisye, ini adalah yang paling saya suka. Sangat teduh, sangat syahdu. Dibandingkan Untukku, lagu ini rasanya lebih menenteramkan.

Lagu ini pertama kali diputar sebagai soundtrack film Badai Pasti Berlalu (1977). Gak lama setelah kesuksesan film tersebut, pihak Irama Mas sebagai major label mengajak Eros Djarot (sebagai music director dalam film itu) dan Chrisye untuk merilis soundtrack film ini menjadi sebuah album.

Sekitar awal tahun 2000-an versi remake lagu Merepih Alam dirilis. Klipnya sangat cocok dengan lirik lagunya: teduh, damai, dan seperti menyeret pemirsa untuk merasakan suasana di dalam video. Model dalam klip tersebut adalah Catherine Wilson (cantik, euy!).

Kalau kita cermati diksinya, lagu ini lebih sederhana dibandingkan Untukku atau lagu-lagu ciptaan Guruh Soekarno Putra yang lain yang dinyanyikan oleh Chrisye. Berikut refrainnya.

Kunanti fajar
berkawan angin malam
merindukan belaianmu
Oh asmara, oh asmara
Insanmu menanggung rindu

Untuk melihat video klipnya, klik link berikut.

4. Once, Simfoni yang Indah

Lagu ini diperkenalkan oleh seorang teman yang kebetulan usianya sudah kepala empat. Katanya, ini versi terbaru dari lagu lama yang pernah ia sukai. Dan menurutnya, entah kenapa versi terbaru ini lebih bagus.

Saya pribadi suka dengan lagu ini, tapi kesulitan kalau harus menirukan. Maklum, Once menggunakan nada-nada tinggi, bahkan pada kalimat-kalimat awal liriknya. Batal deh karaoke …

Meski begitu, lagu ini tetap menjadi favorit saya. Nada-nadanya memang tinggi, tapi tetap enak didengar. Liriknya pun sederhana, seperti sedang berbicara. Maksud saya, gak membuat dahi berkerut. Jauh beda, misalnya, dengan lagu-lagu Guruh Soekarno Putra.

Berikut refrain lagu ini.

Burung-burung pun bernyanyi
Bunga-bunga pun tersenyum
Melihat kau hibur hatiku
Hatiku mekar kembali
Terhibur simfoni
Pasti hidupku kan bahagia

Berikut link video klipnya.

5. Ruth Sahanaya, Ingin Kumiliki

Saya suka suara Ruth Sahanaya karena lembut dan jernih, meski sedikit berat. Terlebih ketika ia menyanyikan lagu-lagu bernada rendah. Ingin Kumiliki ini salah satunya. Berikut refrainnya.

Ingin kumiliki dengan sepenuh hati
Walau ku harus setengah terluka mengharap cintamu
Ingin kusayangi tanpa terbagi lagi
Apakah mungkin menjalin kasih bila aku tak tahu
Bagaimana kau mencintai diriku

Ruth Sahanaya merupakan satu dari tiga diva pop Indonesia, selain Krisdayanti dan Titi DJ. Di samping suaranya yang merdu saya rasa pembawaan penyanyinya juga menarik. Sedikit berbeda dengan dua temannya itu, Ruth terlihat lebih humble dan, dalam kehidupan sehari-hari, jauh dari gosip.

Ingin melihat video klip lagu ini? Ini dia link-nya.

6. Titi DJ, Sang Dewi

Ini adalah lagu yang liriknya superromantis, kelas dewa deh pokoknya. Coba baca komentar netizen di video klipnya di Youtube. Meski dirilis 18 tahun lalu, anak-anak muda milenial banyak yang suka lagu ini.

Suara Titi DJ yang berat, liriknya yang romantis, dan tentu saja irama musiknya yang berkelas menjadi kekuatan utama lagu ini.

Sang Dewi dibuka dengan irama yang menggetarkan, dengan nada rendah penyanyinya dan tempo yang gak terlalu pelan. Selanjutnya, suara orkestra mendominasi, beriringan dengan nada-nada tinggi, menciptakan kesan megah, eksklusif, dan sangat artistik.

Menurut saya, lirik dalam refrain lagu ini adalah yang paling indah dibandingkan lagu-lagu sebelumnya.

Walaupun dirimu tak bersayap
Ku akan percaya
Kau mampu terbang bawa diriku
Tanpa takut dan ragu
Walaupun kau bukan titisan dewa
Ku takkan kecewa
Karna kau jadikanku sang dewi
Dalam taman surgawi

Berikut link video klip lagu ini.

7. Rossa, Nada-nada Cinta

Dulu, hampir tiap malam, saya menunggu lagu ini diputar di radio-radio swasta di Malang. Saya sebenarnya gak banyak tahu tentangnya. Kalau saya ingat, gak ada yang istimewa pada liriknya. Saya hanya suka iramanya.

Waktu itu mungkin akhir tahun 90-an atau awal 2000-an. Rossa belum seterkenal sekarang. Kalau gak salah, saat itu justru lagu inilah yang melambungkan namanya.

Nada-nadanya gak terlalu tinggi, temponya pelan, di telinga terasa ringan. Berikut refrainnya.

Nada cinta
Semakin indah dunia
Membuka mata hati
Getar-getar cinta
Semakin dalam kurasa
Bagai sebuah simfoni dalam jiwa

Berikut link untuk video klipnya.

Paradoks Ibukota

Ada satu kota di Indonesia di mana komedi dan tragedi datang silih-berganti. Meramaikan sudut-sudutnya yang sesak. Mengajak siapa pun yang tinggal di dalamnya menangis lalu tertawa.

Dan sebaliknya.

Source: pixabay.com

Orang-orang yang berhasil mewujudkan impiannya menyebutnya kota masa depan. Tapi mereka yang berkali-kali dikecewakannya memanggilnya kota tanpa perikemanusiaan.

Kota itu memang sebuah paradoks; memberikan harapan sekaligus menabur ancaman.

Kota itu: Jakarta. Ibukota tercinta.

Atas Nama Kepentingan

Gak ada satu pun makhluk Tuhan yang gak pernah berubah. Kadang perubahan itu terjadi begitu saja, kadang melalui proses yang berliku. Kadang menyangkut urusan remeh-temeh, kadang berkenaan dengan hal-hal yang sangat prinsipil.

Baca juga:
Teman yang Paling Beruntung
Mengapa Kita Berbeda?

Kata Nabi Muhammad, iman pun begitu. Adakalanya bertambah, lain waktu berkurang; yaziidu wa yanqush. Seseorang mungkin khusyuk bermunajat di malam hari, lalu seperti gak punya rasa berdosa, menggarong uang rakyat di siang hari.

Teman saya yang dulu dikenal sangar dan tukang demo belakangan menjadi guyonan teman-teman lain di grup Watsapp. Itu karena kebiasaan barunya yang suka menggubah puisi. Ya, puisi. Mungkin itu caranya menumpahkan tekanan batin karena sering ditanya, “Kamu kapan?”.

Source: pexel.com

Teman saya yang lain rajin sekali men-share informasi seputar kegiatan kampusnya. Tentang kapan semester baru dimulai, matakuliah apa yang diampunya, juga judul-judul diktat yang akan ia gunakan untuk mengajar. Teman saya itu memang seorang dosen. Padahal dulu …

Saya gak tega mau menceritakan semuanya. Tapi, dulu dia memang bukan orang yang sekarang dikenal oleh para mahasiswanya: tukang titip absen, tukang titip nama dalam tugas kelompok, tukang nyontek, dan biang berbagai masalah dengan beberapa dosen.

Perubahan bisa terjadi karena kesadaran seseorang: bahwa ia perlu dan harus berubah. Gak bisa ditawar. Ada harapan dirinya berhasil meraih sesuatu, mungkin juga kekhawatiran terhadap kondisi tertentu, yang membuatnya gak boleh “gitu-gitu aja”.

Namun, perubahan juga bisa terjadi tanpa kita sadari. Kita merasa seakan menjalani hari-hari seperti biasa, tapi orang-orang di sekitar kita melihat sebaliknya. “Kamu berubah,” atau “Kamu udah gak kayak dulu,” adalah ungkapan yang sering kita dengar.

Ingat gak sama Bule (Gary Iskak), salah satu personel D’Bijis? Setelah band-nya bubar akibat sang vokalis (Bonny, diperankan oleh Darius Sinathrya) OD, Bule menjelma Yanti, banci kaleng yang membuka lapak di pinggir jalan. Padahal badannya gede dan penuh tato.

Ketika hijab menjadi tren baru dalam dunia mode, gak sedikit masyarakat perkotaan yang ikut-ikut mengenakannya. Harga yang mahal dan ketepatan memilih model, warna, dan bahan diabaikan, semua demi bisa tampil seperti hijaber idola mereka di televisi.

Kita juga menyaksikan sejumlah kalangan yang dulu nyinyir terhadap presiden, sekarang mulai melunak, beberapa bahkan berbalik mendukungnya. Gak perlu menyebutkan nama (banyak soalnya, Sis). Yang pasti, itu wajar belaka, apalagi ini urusan pulitik.

Meski perubahan bisa terjadi secara drastis, gak ada jaminan itu akan berlangsung dalam waktu yang lama, apalagi selamanya. Seseorang yang kemarin berubah, karena faktor tren busana misalnya, bisa kembali pada keadaan semula, karena faktor yang sama.

Dulu setelah umrah, seorang selebriti mengaku gak bisa jauh-jauh dari hijab dan busana yang “islami”. Tapi, beberapa minggu kemudian, dia pikun dan dengan santai menerima tawaran untuk membintangi iklan sebuah merek shampo. Tanpa hijab, tentu saja.

Tahun lalu, seorang pulitisi tampak setia pada Mas Bowo. Namanya pun masuk dalam calon presiden alternatif 212. Di sana-sini orang menyebutnya “kuda hitam”. Tapi, belakangan ia menyatakan bahwa Mas Joko perlu diberi kesempatan untuk melanjutkan pekerjaannya.

Perubahan apa pun bisa terjadi, bahkan pada diri mereka yang sekarang sangat kita cintai. Bersimpati pada seorang tokoh gak terlarang, tapi gak perlu fanatik juga ya, apalagi sampai menyematkan atribut-atribut surgawi padanya: amanah, islami, bla-bla-bla …

Namanya manusia, kapan pun bisa berubah. Siapa sih di kolong langit ini yang gak punya kepentingan?

Mengapa Kita Berbeda?

Apa yang membuat seseorang tampak berbeda dari yang lainnya?

Tampang dan penampilan memang memberikan ciri khas, tapi apakah itu jawabannya? Dalam kondisi tertentu, misalnya di tengah kerumunan para model yang sedang mengikuti audisi, teman kita yang terkenal cantik gak akan terlihat berbeda. Ia menjadi rata-rata, sebab peserta audisi yang lain juga cantik-cantik.

Photo by Min An on Pexels.com

Uang yang banyak, jabatan yang mentereng, bahkan pendidikan yang tinggi juga gak selalu bisa menjadi pembeda. Tentu rumah seorang konglomerat akan tampak berbeda jika berada di antara rumah-rumah petak yang mengelilinginya, tapi bagaimana jika ia berada di tengah perumahan mewah milik orang-orang kaya yang lain?

Hal yang sama berlaku pada seorang karyawan yang punya jabatan bergengsi dan akademisi di sebuah kampus ternama. Di luar kelompoknya, mereka tampak berbeda. Tapi di antara teman-temannya, mereka tenggelam. Apa yang kita anggap sebagai faktor pembeda sering bersifat sementara, parsial, dan nisbi.

Saya sendiri belum punya jawaban pasti untuk pertanyaan di atas, tapi sementara ini saya melihat hati sebagai “dunia” yang bisa membuat pemiliknya menjadi sangat berbeda dengan orang lain. Seseorang mungkin punya kesamaan dengan temannya dalam satu hal, misalnya rasa suka pada seorang gadis, tapi itu gak berlaku untuk hal lain.

Kesamaan rasa yang tumbuh dalam hati seseorang dan temannya bukan hal yang aneh, tapi terlalu berlebihan jika digunakan untuk mengidentikkan keduanya dalam hal yang lebih luas, misalnya dengan mengatakan bahwa keduanya adalah laki-laki yang “sama saja”, sebab mengabaikan adanya perbedaan di antara mereka.

Karena hati adalah tempat berbagai perbedaan ditemukan maka boleh jadi sesuatu yang sangat membedakan seseorang dengan temannya juga berada di dalamnya. Itu gak melulu sifat bawaan tapi boleh jadi perilaku sehari-hari yang sudah menjadi kebiasaan. Takabur misalnya, atau hasud, ikhlas, sabar, dan sifat-sifat sejenisnya.

Namun, “berbeda” dan “terlihat berbeda” adalah dua hal yang gak sama. Untuk terlihat berbeda, penampilan, jabatan, dan jenjang pendidikan sangat menentukan. Untuk “terlihat”, bagaimanapun, butuh sesuatu yang kasat mata. Sedang untuk berbeda, sikap hati yang menentukan, gak ada kaitannya dengan apa yang tampak.

Jangan Mau Dibodohi

Kebencian bisa sangat merusak.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Kalau kita baca berita di koran-koran terbitan luar negeri, khususnya negara-negara Barat, kita akan mudah menemukan baik liputan ataupun artikel tentang islamophobia. Sebagian tulisan itu menunjukkan gejala islamophobia yang terus meruyak, sementara sebagian yang lain, meski nggak seimbang, mencoba menetralisirnya.

Kecenderungan phobia yang hampir sama juga bisa kita temukan di Indonesia. Tentu bukan islamophobia, sebab di sini Islam adalah agama yang dipeluk oleh mayoritas masyarakat, melainkan non-muslimphobia. Saya nggak tahu apa istilah yang tepat untuk menyebutnya, tapi sementara mari gunakan istilah ini.

Non-muslimphobia adalah sikap yang menunjukkan kekhawatiran berlebih terhadap keberadaan non-muslim, yang didasarkan pada asumsi bahwa mereka akan mendominasi kehidupan bernegara di Indonesia. Mereka khawatir non-muslim menguasai pemerintahan, memonopoli perekonomian, dan sebuah klise: memurtadkan umat Islam*.

***

Kebencian adalah komoditas yang kini marak diternakkan di masyarakat. Masih ingat bagaimana Donald Trump, capres kontroversial dari Partai Republik, memenangkan Pemilu Amerika, atau Ahok, seheboh apa pun para pendukungnya membanggakan prestasinya, yang harus menerima kekalahan dalam Pilkada Jakarta?

Kita akan menemukan contoh yang banyak selain dari kedua tokoh itu, tentang betapa kebencian bisa sangat mempengaruhi persepsi masyarakat berkenaan dengan pribadi seseorang, mengkristalkannya menjadi fanatisme dan antipati, dan ujung-ujungnya membuat orang tersebut berhasil atau malah gagal dalam sebuah kompetisi.

Apa yang ingin saya share di sini adalah bahwa kebencian, atau secara umum emosi, bisa jauh lebih kuat dalam membentuk persepsi kita tentang sesuatu dibandingkan rasionalitas.

Rasionalitas meniscayakan pengetahuan yang cukup tentang sebuah obyek sekaligus kemampuan berpikir yang baik untuk menganalisisnya, sebelum seseorang bisa menyimpulkannya. Ini tentu kelewat rumit bagi mereka yang hidupnya sudah kadung ruwet dengan istri yang bawel dan uang belanjanya yang selalu kurang.

Di sisi lain, emosi nggak membutuhkan tahap-tahap njelimet itu. Siapa pun punya kemampuan dan kebebasan untuk suka atau nggak suka terhadap seseorang, tanpa merasa perlu mengenalinya terlebih dulu. Bahkan bisa saja ia suka atau nggak suka pada orang lain tanpa alasan, apalagi alasan yang rasional.

***

Emosi kadang bisa sangat mengkhawatirkan, dan dampaknya bisa sangat merusak. Dalam konteks hukum, Surat Al-Maidah ayat 8 mewanti-wanti kita tentang hal ini.

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi yang adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil. Berbuatadillah, karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dalam membuat keputusan apa pun, ada baiknya kita kendalikan betul yang namanya emosi. Jangan sampai urusan yang mestinya diputus melalui pertimbangan akal sehat disabotase oleh emosi, yang seharusnya kita kunci di luar kamar.

Emosi sangat subyektif, ia bisa muncul tanpa mempertimbangkan apa pun. Seseorang bisa jatuh cinta tanpa perlu membuat pertimbangan terlebih dulu. Kalau mau jatuh cinta, ya jatuh cinta saja. Artifisial namanya kalau pakai pertimbangan segala.

Nah, Manteman, menghadapi tahun Pemilu ini, yuk pastikan segala yang akan kita ucapkan, ceramahkan, tulis di media sosial, atau share di grup-grup messanger adalah kenyataan, bukan hoax, fitnah, apalagi hasutan dan ujaran kebencian!

Pastikan pula bahwa kenyataan yang mau kita bagikan itu memberikan manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. Kalau ternyata hanya menumbuhkan sentimen yang negatif, apalagi sampai mengobarkan kebencian, lupakan. Unfaedah itu.

Nggak cuma berdosa, emosi yang biasa dilepas liar, tanpa tali pengikat yang kita sebut akal sehat, mudah terpancing olehnya. Kalau sudah seperti itu, jangankan pemimpin yang amanah, proses pemilihannya saja bisa-bisa amburadul.

Satu lagi. Kalau kita tahu ada pulitisi yang menggunakan cara-cara yang tampaknya simpatik tapi sebenarnya agitatif, hanya karena mereka sedang memperjuangkan kepentingan yang kita sulit memastikan, apakah itu demi rakyat atau nggak, jauhi!

Sudah berkali-kali kita dibodohi, kali ini jangan hanya diam!

*Klise bukan berarti nggak pernah terjadi, ya 🙂