Sibuk Berdalih


Saya kadang merasa gagal mewujudkan cita-cita. Saya pikir, hanya dengan memilikinya, saya punya persediaan semangat yang membuncah-buncah.

Ternyata, saya salah.

Dulu saat masih duduk di bangku Aliyah, saya ingin sekali melanjutkan ngaji di sebuah institusi pendidikan tinggi yang ada di pesantren saya kala itu. Namanya Sekolah Tinggi Ilmu Kitab Kuning, disingkat STIKK. Di mata saya saat itu, mahasantri STIKK itu keren, karena terampil memahami literatur Islam klasik yang bejibun itu.

Impian tersebut ambyar hanya dalam hitungan bulan setelah saya mendaftar dan diterima di lembaga tersebut. Alasannya sepele: saya gak betah setiap hari dikejar-kejar target hafalan Alfiyah (sebuah kitab pedoman gramatika bahasa Arab dalam bentuk syair sebanyak 1.002 bait). Padahal, sejak kelas 1 Aliyah saya sudah mencicil hafalan.

Saat kuliah, saya juga pernah punya impian, yaitu melanjutkan studi magister dan doktoral di luar negeri. Agak muluk sih, memang. Untuk impian yang satu ini, saya bahkan pernah menyampaikan secara panjang-lebar kepada salah seorang dosen, yang karena saking lamanya saya bicara, beliau sampai bete. Sampai sekarang, saya masih ingat bagaimana wajah beliau ngempet emosi. Hehe.

Lagi-lagi, impian tersebut gak terealisasi. Saya punya banyak dalih, yang kalau saya ringkas dalam sebuah kalimat, semuanya bersumber dari “ledakan energi di dalam jiwa saya yang berimplikasi pada menurunnya semangat (!) dan membuat saya betah terus-menerus rebahan (?!)”, atau singkatnya males. Padahal, kalau serius mau lanjut kuliah, saya punya banyak pilihan: UI, UIN, LIPIA, PTIQ, dan lain-lain.

Tapi, seiring berjalannya waktu saya gak terlalu menyesali keputusan untuk berhenti mengejar cita-cita. Bagaimanapun memiliki ilmu yang luas dan “efek sampingnya” berupa pengaruh di masyarakat bukan sesuatu yang ringan. Sama seperti orang-orang dengan nama besar, melakukan sedikit saja ketidakpantasan bisa jadi gunjingan manusia-manusia seperti Bu Tedjo dkk bahkan sampai H-1 kiamat.

Lagipula, mencari ilmu ‘kan gak harus dengan masuk ke lembaga-lembaga formal, bisa dengan menjadi santri kalong, santri freelance, atau apalah namanya. Ini mungkin “pelarian” saya saja, tapi melihat bagaimana Gus Baha’ begitu digandrungi saat ini, dengan pengajian-pengajiannya yang sangat berbobot tapi pada waktu yang sama ringan (?!), saya jadi seperti punya justifikasi untuk ngeles.

Ngeles dari kejaran rasa sesal akibat gagal mewujudkan impian.

“Gus Baha’ yang gak sekolah tinggi-tinggi aja bisa seperti itu, kok.”

Tentu saja siapa pun bisa dengan mudah membantah kata-kata saya itu.

‘Kan Gus Baha’ memang dari sononya cerdas!
‘Kan beliau ngajinya khatam!
‘Kan kamu bukan Gus Baha’!

Iya, iya. Tapi, apa Sampeyan gak pernah mendengar yang namanya Ibnu Athaillah? Beliau pernah lho berpetuah seperti ini:

“Kadang Dia mengabulkan doamu dengan cara menolaknya, dan kadang Dia menolak doamu dengan cara mengabulkannya. Ketika pintu pemahaman tentang arti sebuah penolakan itu terbuka untukmu, maka penolakan itu hakikatnya adalah pengabulan doa.”

Hmm, saya senang mendapati kata-kata beliau mudah terbaca (gak seperti quote-quote beliau yang lain di dalam Al-Hikam, tumben), di samping akhirnya bisa saya terjemahkan.

Tapi, iya sih, mungkin ini dalih saya saja untuk lari dari cita-cita dan rasa malu menanggung kegagalan. Tapi, gak apa. Kalau semuanya jadi ulama, MUI bisa-bisa overload.*

*Masih berdalih 🙂

Note #1


Jangan menunggu saat-saat sulit untuk mensyukuri keadaanmu yang sekarang. Bagaimanapun, apa yang kaumiliki saat ini lebih berharga daripada semua yang telah berlalu, lebih-lebih jika itu bukan milikmu, tapi milik orang lain.

Kau mungkin mengharapkan anugerah yang mereka miliki, dan merasa bahwa apa yang ada dalam genggamanmu sekarang tak lebih berharga darinya. Tapi, satu hal perlu kauingat: sejak dulu bulan tampak indah hanya jika kita melihatnya dari jauh.

Lagu Lawas: Mengapa Masih Banyak yang Menyukai?


Lagu lawas membuat penggemarnya sepakat dengan satu hal: mendengarkannya akan mengingatkan mereka tentang suatu masa.

Photo by Burst on Pexels.com

Sesuatu yang kini menjadi kenangan. Bisa peristiwa yang dialami oleh orang lain, bisa juga pengalaman sendiri.

Itu bukan isapan jempol. Siapa pun yang mendengarkan suara emas Pance Pondaag, Vina Panduwinata, Broery Marantika, Iis Sugianto, Chrisye, Ebiet G. Ade, dan sederet nama tenar lainnya akan terkenang entah peristiwa apa ketika mereka masih remaja, mungkin juga anak-anak.

Tak Sekadar Kenangan

Namun, lagu lawas sebenarnya bukan hanya tentang kenangan. Memutar kembali lagu-lagu tersebut dan mencermati lirik, musik, dan video klipnya akan membuka mata kita tentang roda zaman yang terus bergerak, yang setiap penggalnya menunggu untuk dikuak.

Baca juga:
5 Lagu Jadul Paling Romantis
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Ibarat pita film sebelum tersentuh digitalisasi, lagu-lagu itu merekam bagaimana mereka yang hidup di zaman itu memaknai berbagai hal di sekitar mereka, mungkin juga di dalam diri mereka. Tentang cinta, perpisahan, pengkhianatan, kekecewaan, dan lain sebagainya.

Zaman berubah. Apa yang penting bagi orang sekarang belum tentu disikapi sama oleh mereka yang hidup di zaman dahulu. Demikian pula sesuatu yang pantas atau tidak. Coba saja lihat video klip lagu-lagu itu, jika bukan keheranan, minimal rasa penasaran akan muncul di hati kita.

Cinta, tema abadi yang diangkat dalam berbagai lagu, memiliki nilai transenden tertentu kala itu. Dulu bukan era remaja-remaja memaknai cinta dengan jalinan yang hampir sama dengan hubungan suami-istri, seperti biasa kita temui sekarang.

Gambaran Situasi

Perubahan yang lebih konkret bisa kita lihat, misalnya, dalam cara berbusana model klip lagu-lagu zaman dulu. Dalam klip lagu Pance Pondaag yang berjudul “Kucoba Hidup Sendiri”, tampak seorang model melakukan serangkaian adegan.

Sesuai lirik lagunya, model wanita tersebut beradegan bak seorang yang sedang bimbang, atau istilah populer zaman sekarang “galau”. Ia berjalan di sebuah tempat wisata, mungkin Bali atau TMII, seorang diri. Di sekelilingnya sepi, tak ada seorang pun yang terlihat.

Gadis cantik itu hanya mengenakan minidress: lengan terbuka, belahan dada terlihat, dan rok di atas lutut. Untuk alas kaki ia mengenakan sepatu boot tinggi. Meski mode busana tersebut tak mencerminkan gaya berpakaian gadis-gadis saat itu, toh klip tersebut tak dipersoalkan.

Ketika video klip tersebut masih sering ditayangkan di layar kaca, masyarakat Indonesia mungkin tak terlalu memusingkannya. Boleh jadi karena saat itu standar moral yang berlaku tak mempermasalahkannya. Selama tak ada adegan erotis, no problem.

Baca juga:
7 Lagu Lawas yang Paling Menyentuh
5 Original Soundtrack Paling Keren

Namun, bagaimana jika sekarang ada stasiun televisi yang menayangkannya? Jika bukan KPI menyurati mereka, mungkin ormas-ormas keagamaan berdemo di depan kantor mereka. Masyarakat yang menonton mungkin juga gerah, dan menganggapnya tayangan maksiat.

Apa yang sebenarnya terjadi? Zaman berubah. Banyak hal yang memengaruhi. Dalam hal ini, orientasi keberagamaan masyarakat yang semakin ketat mungkin penyebabnya. Itu bisa terjadi karena banyak faktor, salah satunya: gerakan dakwah yang massif.

Diakui atau tidak, pengaruh tersebut telah membentuk cara pandang yang baru di masyarakat. Bahwa fenomena itu muncul sebagai konsekuensi logis dari suatu peristiwa yang lain, mungkin saja. Dalam konteks Indonesia, kolapsnya Orde Baru mungkin merupakan titik mula.

Jika kita ingat, ambrolnya benteng pertahanan Orde Baru akibat meletusnya reformasi telah membuka keran berbagai corak pemikiran keagamaan. Tampilnya ormas dan orpol bercorak keagamaan merupakan gejala yang menunjukkan apa yang sekarang kita lihat di masyarakat.

Jadi, selain menjadi bahan nostalgia, lagu-lagu lawas juga menarik karena merekam sesuatu yang berbeda. Dan adanya perbedaan yang terperangkap dalam lagu-lagu itu dengan kondisi sekarang telah menyadarkan kita tentang arti sebuah perubahan.

Kerinduan Itu


Adakah sesuatu yang lebih menyiksa dari kerinduan?

Lelaki perkasa tersungkur akibat menahan rindu kekasihnya. Raja-raja kehilangan malu karena menahan gejolaknya. Para bijak bestari kehabisan kata-kata lantaran tenggelam dalam perasaan yang sama.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Sejak lama orang-orang mengagungkan cinta. Seakan cinta adalah kenyataan paling absolut yang tak terbantahkan.

Siapa pun yang merasakan cinta mungkin akan berpendapat sama, sampai mereka terpisah dengan sang kekasih dan terpaksa menahan diri untuk tak bertemu.

Saya sepakat cinta adalah jawaban untuk semua persoalan, tapi rindu boleh jadi akar dari segala permasalahan.

Apakah kemudian klop? Masalah apa pun yang muncul sebab kerinduan akan terjawab dan selesai begitu saja dengan hadirnya cinta?

Belum tentu.

Nyatanya, seorang perindu bisa jadi malah kehilangan cinta terhadap kekasihnya. Waktu membenamkannya dalam samudera kekaguman tak bertepi, dan ruang yang tanpa batas seakan membuatnya menggenggam erat hati sang kekasih.

Jadi, mana yang absolut?

Yang lebih menarik, justru dalam derita menahan rindu itu, seseorang menyatu dengan kekasihnya. Raga mungkin terpisah, tapi jiwa mereka bercumbu setiap saat, sepanjang waktu.

Cinta yang dulu kenyataan paling agung menjadi tanpa makna, sebab dalam penyatuan segala rasa tak lagi punya kuasa.

5 Original Soundtrack Paling Keren


Teman saya, yang dua tahun belakangan mengerjakan tugas-tugas freelance di kantor, heran dengan kebiasaan aneh saya: menonton film yang sama hingga berkali-kali.

“Apa gak bosan?” ujarnya. Itu adalah pertanyaan standar dari teman-teman lain yang juga baru tahu kebiasaan saya tersebut. “Apa asyiknya? Kan sudah tahu alur ceritanya?” buru mereka.

Iya, sih. Menonton film yang sama sampai berkali-kali pasti membuat bosan, apalagi kalau filmnya bukan film favorit kita. Tapi, itu kalau kita sekadar menonton, apalagi cuma killing time. Kalau kita punya maksud lain, yang kita rasakan pasti beda.

Tak Hanya Menonton

Saya suka romance dan action movie. Gak tahu deh berapa banyak film romance atau action yang saya tonton. Tapi, saya gak sekadar menonton. Saya juga suka mencari dialog, adegan, latar tempat dan waktu, serta alur cerita yang menarik di dalamnya.

Akibat kebiasaan menonton film yang sama berulang-ulang itu, saya jadi hafal dengan unsur-unsur yang ada dalam film tersebut. Tuntas dengan dialog, adegan, latar tempat dan waktu, serta alur cerita yang menarik, saya jatuh cinta pada soundtrack-nya.

Baca juga:
7 Lagu Lawas yang Paling Menyentuh
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Berkali-kali menonton film gak cuma membuat hafal dengan visual yang kita lihat, tapi juga akrab dengan audionya. Nah, dalam tulisan kali ini saya ingin sharing lagu apa saja yang paling saya sukai dalam film-film yang pernah saya tonton.

Mungkin ini sangat subyektif, tapi lagu-lagu yang melekat di telinga saya ini benar-benar bisa menghadirkan sebuah “dunia” yang unik, jauh, dan berbeda.

1. Ma L’Amore No (Malena)

Malena adalah film tentang istri seorang tentara Italia. Setelah bertahun-tahun menunggu kabar sang suami yang hilang di medan perang, ia akhirnya jatuh miskin. Meski sempat tertolong oleh kebaikan mertuanya, ia tak bisa menghindari jebakan nasib berikutnya, yang memaksanya menjadi seorang pelacur.

Tak tanggung-tanggung, pelanggannya adalah tentara asing yang berganti-ganti menguasai negaranya. Tentara Nazi Jerman, lalu tentara Sekutu. Profesinya sebagai wanita penghibur jelas menuai cibiran masyarakat, terutama dari kaum hawa, yang jengkel melihat laki-laki mereka kepincut.

Ma L’Amore No adalah lagu gubahan Giovanni D’Anzi. Liriknya ditulis oleh Michele Galdieri. Lagu ini pertama kali tayang dalam sebuah gambar bergerak yang berjudul Stasera Niente di Nuovo, pada 23 Desember 1942. Penyanyi aslinya bernama Alida Valli.

Berikut sebagian lirik lagunya.

Ma l’amore no
L’amore mio non può
Dissolversi con l’oro dei capelli
Fin ch’io vivo sarà vivo in me
Solo per te

2. Now We Are Free (Gladiator)

Yang paling menarik dari lagu ini adalah maknanya: tak ada seorang pun yang tahu. Dari semua unsur yang ada di dalamnya, hanya judulnya saja yang bisa kita mengerti. Mengapa demikian? Karena sang penyanyi, Lisa Gerrard, menggunakan glosalalia.

Glosalalia adalah bahasa yang diciptakan sendiri oleh sang penyanyi. Cara ini mirip dengan nyanyian bayi yang belum bisa bicara atau sekelompok penganut Kristen Pantekosta ketika sedang memanjatkan doa.

Saya pertama menonton Gladiator (2000) dalam format VCD, dan langsung suka dengan original soundtrack-nya. Sejak saat itu saya bertanya-tanya dalam bahasa apa lirik lagu tersebut dinyanyikan. Dan entah kenapa baru sekarang saya browsing dan menemukan jawabannya.

Russell Crowe bermain sangat apik dalam film ini. Dari keseluruhan filmnya, mungkin Gladiator adalah filmnya yang paling sukses. Ada kutipan bagus dalam salah satu dialognya di film ini, yang mungkin akan saya tulis dalam postingan berikutnya.

Berikut kutipan lirik lagu ini.

Anol shalom
Anol sheh lay konnud de ne um
Flavum
Nom de leesh
Ham de nam um das
La um de
Flavne …

3. L’appuntamento (Ocean’s Twelve)

Ocean’s Twelve (2004) adalah action movie paling sepi yang pernah saya tonton. “Yang paling sepi” maksudnya gak banyak tembak-tembakannya. Saya lupa tepatnya, gak banyak atau gak ada sama sekali. Meski begitu, film ini gak membosankan, bagus malah.

L’appuntamento menjadi lagu pembuka dalam film ini. Dikisahkan bahwa seorang maling profesional bernama Robert “Rusty” Ryan (Brad Pitt) berhasil mengelabui agen Europol cantik bernama Isabel Lahiri (Catherine Zeta Jones). Ia bahkan juga memacarinya.

Setelah menghabiskan waktu yang lama untuk menyelidiki pencurian sebuah koleksi langka, Isabel akhirnya menemukan sejumlah petunjuk tentang profil pelakunya: ukuran sepatu, rambut, dan selanjutnya DNA. Bagi Rusty, itu adalah petir di siang bolong.

Cerita kemudian berlanjut sangat menarik. Tentu jika kita bisa mengikuti ceritanya. Agar mudah memahami film ini, kita perlu menonton sekuel pertamanya: Ocean’s Eleven. Saya sendiri, meski sudah menonton film pertamanya, tetap saja harus mengulang-ulang film keduanya.

Nah, setelah mendengar sang kekasih menemukan titik terang pelaku pencurian itu, Rusty melarikan diri. Dalam adegan itulah (Rusty mengalirkan air bathtub agar berisik, lalu melompat jendela), L’appuntamento dimainkan.

Lagu ini pertama kali dipopulerkan oleh Ornella Vanoni, seorang penyanyi Italia, pada tahun 1970. L’appuntamento sendiri artinya the date atau kencan atau janji temu. Belakangan lagu ini juga dinyanyikan oleh Andrea Bocelli.

Berikut kutipan liriknya.

Sono triste tra la gente che mi sta passando accanto
Ma la nostalgia di rivedere te è forte più del pianto
Questo sole accende sul mio volto un segno di speranza
Sto aspettando, quando ad un tratto ti vedrò spuntare in lontananza

4. Let It Be Me (Flipped)

Let It Be Me populer saat dinyanyikan oleh Everly Brothers. Lagu ini mulanya dirilis tahun 1955 di Prancis dengan judul Je t’appartiens. Versi bahasa Inggrisnya diterjemahkan oleh Gilbert Becaud. Belakangan lagu ini juga dinyanyikan oleh duet Betty Everett dan Jerry Butler.

Namun, lagu Let It Be Me yang menjadi OST Flipped adalah versi yang lain lagi, yang dinyanyikan oleh Phil Everly. Seperti umumnya lagu-lagu keren yang menjadi OST sebuah film, lagu ini juga terletak di bagian akhir, mengiringi adegan penutup.

Let It Be Me sendiri merupakan film yang disutradarai oleh Rob Reiner hasil adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Wendeline Van Dranen. Novel ini terbit pada tahun 2010 di Amerika Serikat. Versi filmnya pertama kali tayang di tahun yang sama.

Meski tema novel atau film ini klise, yakni cinta monyet anak-anak remaja, tapi pemilihan latar waktu yakni tahun 1950-an membuatnya istimewa. Kita diajak oleh penulis untuk merasakan suasana pemukiman serta pergaulan anak-anak remaja Amerika Serikat pada dekade itu.

Berikut cuplikan lirik lagu ini.

I bless the day I found you
I want to stay around you
And so I beg you, let it be me
Don’t take this heaven from one
If you must cling to someone
Now and forever, let it be me

5. Love Theme (Cinema Paradiso)

Ini adalah lagu favorit saya dibanding lagu-lagu sebelumnya. Meski belum pernah menonton filmnya (hehe, maaf), OST-nya terbaique.

Cinema Paradiso atau versi aslinya Nuovo Cinema Paradiso adalah film drama Italia karya Giuseppe Tornatore. Film ini pertama kali tayang pada tahun 1988. Oh ya, Giuseppe Tornatore juga merupakan sosok yang menyutradarai Malena.

Saya pertama kali menemukan lagu ini saat streaming lagu-lagunya Ann Akiko Meyers. Meski lagu-lagunya yang lain juga keren, Love Theme adalah juaranya. Apalagi sebagai violinis, Meyers terlihat sangat menjiwai saat membawakan lagu ini.

Saya sempat penasaran dengan pencipta masterpiece ini, tapi setelah mendengar nama Ennio Morricone, saya gak banyak berkomentar. Hanya kalimat, “Pantes … ” yang keluar dari bibir. Siapa yang gak kenal komposer gaek itu? Berbagai lagu keren lahir dari tangan dinginnya.

Morricone adalah sosok penting yang menjadi penata musik lebih dari 500 film dan acara televisi. Film-film yang menggunakan gubahannya sebagai OST antara lain A Fistful of Dollars (1964), For a Few Dollars More (1965), The Good, the Bad, and the Ugly (1966) dan Once Upon a Time in the West (1968). Keempatnya adalah film-film koboi Italia.

Film lainnya adalah The Thing (1982), Once Upon a Time in America (1984), The Mission (1986) Roland JoffeThe Untouchables (1987), Cinema Paradiso (1988), U Turn (1997), The Legend of 1900 (1998), Malena (2000), Mission to Mars (2000), Fateless (2005), Baaria-La porta del Vento (2009), dan tak ketinggalan Django Unchained (2012).

Islam Populer: Antara Passion dan Prasangka


Hampir sepuluh tahun saya kerja di penerbit buku. Entah sudah berapa banyak naskah yang saya sunting. Kalau setahun saja saya menangani 12 naskah maka total hampir 120 naskah yang sudah saya baca, teliti, dan edit.

Sayangnya, dari sekian banyak naskah itu sebagian besar temanya kurang sesuai dengan minat saya.

Dulu saya berpikir bahwa kerja di perbukuan itu cocok dengan apa yang saya minati. Benar, sih. Tapi, semakin ke sini semakin saya sadari bahwa itu hanya berlaku kalau tema buku yang diterbitkan memang sesuai minat. Kalau gak?

Ini cerita sedih. Tapi, bagaimanapun pekerjaan saya gak melulu tentang air mata. Artinya, ada juga kok cerita senangnya. Salah satunya ini: meski buku-buku yang saya sunting gak sesuai minat, paling gak buku-buku itu masih dalam jangkauan keilmuan saya.

Dulu saya pengin dapat pekerjaan yang benar-benar cocok dengan minat, tapi apa daya kebutuhan hidup terus mendesak. Go hell with passion! Mending nafkah tercukupi daripada ngurusi passion yang mengawang-awang.

Saya mungkin terlalu pragmatis. Tapi, gak mudah memang memegang teguh idealisme sambil terus-terusan digebuki kenyataan.

Lagipula, lama-lama saya bisa menikmati rutinitas menyunting naskah-naskah itu. Selain menambah wawasan, juga membuka mata saya tentang kelompok masyarakat yang dulu jarang saya perhatikan: anak-anak muda yang baru belajar agama.

Saya jadi bisa membaca kemauan mereka dan isu-isu apa saja yang menarik perhatian mereka. Ini penting, sebab bidang keilmuan yang pernah saya geluti meniscayakan pemahaman terhadap kelompok masyarakat yang berbeda-beda.

And since we do not know who they are, it’s better to get ready for whoever they are.

Seorang teman pernah mencibir buku-buku yang saya sunting. Menurutnya, buku-buku itu berdampak negatif, sebab bisa mendangkalkan diskursus tema-tema yang ada di dalamnya.

Saya terbata-bata mengikuti argumentasinya. FYI, buku yang kami terbitkan banyak mengangkat tema Islam populer. Sementara teman saya adalah peminat filsafat Islam dan sufisme.

Dia memandang buku-buku yang saya sunting dari satu sisi, dan saya melihatnya dari sisi yang lain. Dia melihat dampak negatif darinya, saya melihat dampak positifnya.

Menurut saya, dia terlalu jauh saat bicara tentang diskursus keislaman; terlalu abstrak, elitis, dan eksklusif. Dia berdiri di puncak menara gading. Padahal, realita ada di bawah sana dan menunggu untuk dijawab.

Pendapat teman saya mungkin hanya berdasar pengamatannya yang sepintas lalu. Tapi, melihat kenyataan sejumlah teman lain yang juga menunjukkan gejala emoh menulis tema keislaman yang remeh-temeh, saya khawatir itu mencerminkan kenyataan sebagian santri yang menekuni diskursus keislaman saat ini: mereka elitis, kalau gak mau disebut egois.

Mereka sibuk menekuni kuliah dalam bidang keislaman, gak sedikit yang merupakan disiplin ilmu yang rumit: filsafat, filologi, politik, tafsir, hadis, dll. Mereka sangat menikmati studinya. Tapi banyak di antara mereka yang menempuh jalan itu hanya demi memuaskan egonya.

Motivasi mereka? Ya, karena sesuai minat. Apa yang mereka tekuni memang cocok dengan passion mereka. Mereka merasa menjadi diri-sendiri dengan bertungkus-lumus dengannya. Mereka tercerahkan oleh pilihan itu.

Tapi, jangan bilang itu karena perintah agama. Wong di benak mereka gak ada keinginan untuk kembali ke masyarakat dan berkontribusi nyata dengan memanfaatkan ilmu-ilmu yang sudah mereka pelajari kok. Menjadi dosen di kampus-kampus Islam ternama jelas pilihan yang menarik. Pekerjaan mulia nan prestisius, juga membanggakan orangtua.

After all, life is about choice. We are free to choose whatever we want.

Masalah


Saya yakin ada penjelasan yang masuk akal mengapa saat-saat sulit itu datang. Ini bukan hanya kesulitan yang disebabkan oleh keteledoran kita tapi juga kesulitan yang datang murni akibat kesialan.

Source: pixabay.com

Bisa karena kondisi psikologis kita, turunnya stamina berpikir, beban kerja yang memecah konsentrasi, dan lain-lain.

Tapi, memahami alasan mengapa masalah-masalah itu datang tentu menyita perhatian. Merespon masalah itu dan berusaha menyelesaikannya saja sudah jadi beban tersendiri, apalagi harus memikirkan alasan kedatangannya.

Kalau bukan gabut, apa namanya?

Yang pasti, begitu quote yang pernah saya baca, masalah itu seperti angin kencang. Gak semua datang untuk mengacaukan hidup, ada juga yang datang untuk membersihkan jalan kita.

Masih Ada Waktu


Setelah menikah, saya belajar satu hal. Di antaranya, mencintai itu gak melulu tentang ucapan “I love you”. Kadang, melakukan perbuatan-perbuatan kecil untuk istri jauh lebih nyaring dibanding sekadar menyatakan bahwa saya mencintainya.

Source: pixabay.com

Kalau saya ingat-ingat, entah kapan terakhir kali saya mengatakan “I love you”. Lupa. Dulu, saya pikir itu semacam “declaration of truth”, belakangan saya malu kalau harus mengucapkannya. Gak tahu kalau istri saya.

Menurut saya, cinta lebih tulus jika diungkapkan dengan melakukan sesuatu. Entah menggantung bajunya yang belum sempat ia rapikan, memasangkan kaus kakinya saat mau keluar rumah, atau sekadar membantunya meraih bantal saat hendak tidur.

Saya bisa melakukan hal-hal kecil itu. Kapan pun dia mau. Sebab, saya tahu saya belum bisa melakukan hal besar. Semoga masih banyak waktu untuk belajar.

7 Lagu Lawas yang Paling Menyentuh


Saya punya teman yang malu-malu mendengarkan dangdut.

Ada juga yang malu-malu mendengarkan lagu mellow. “Cengeng,” katanya. Mungkin demi menjaga gengsi kelelakiannya, ia gak mau terlihat sedang menikmati lagu mellow di depan teman yang lain.

Photo by Burst on Pexels.com

Saya sih sabodo teuing mau dengar lagu apa pun, asal nyetelnya gak kenceng-kenceng. Hehe.

Dulu saat SMP, saya sering dengar kakak saya menyanyikan lagu-lagu mellow. Beberapa kali juga saya melihat klip lagu-lagu itu di layar kaca. Mungkin karena sering gak sengaja mendengar, lama-lama saya ikutan suka. Padahal, anak SMP zaman itu umumnya suka lagu-lagu Dewa 19, Slank, atau lagu Malaysia.

Menurut saya, lagu-lagu mellow itu bukan hanya enak didengar tapi juga perlu direnungkan maknanya. Biasanya, mungkin supaya pendengar gak mudah bosan, lagu-lagu mellow punya kekuatan dalam kata-katanya. Diksinya unik, jarang digunakan, dan seringkali memberikan tekanan makna pada sebuah kalimat.

Baca juga: Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Nah, Teman-teman, berikut lagu-lagu mellow dan menyentuh yang menurut saya perlu kalian dengar sebelum ajal menjemput (!). Sebagian saya kenal saat anak-anak, sebagian lagi baru beberapa tahun yang lalu. Enjoy!

1. Tika Bisono, Melati Suci

Saya mendengar lagu ini, untuk pertama kalinya, sekitar 2 atau 3 tahun yang lalu. Seperti sering terjadi, saya menemukannya saat mencari lagu lain di Youtube, alias gak sengaja.

Kesan pertama saat mendengar lagu ini luar biasa. Iramanya sangat syahdu. Bukan saja romantic tapi juga nostalgic (seriyes ini, tolong, ya!). Entah kenapa, saya sendiri gak bisa memastikan. Mungkin karena suara penyanyinya, orkestra yang mengiringinya, atau nada-nada rendahnya. Yang pasti, lirik lagu ini membuatnya terkesan mewah.

Gak perlu kaget, penciptanya Guruh Soekarno Putra.

Berikut refrain lagu ini.

Tajuk bak permata
Siratan bintang kejora
‘Kan kupersembahkan
Bagimu pahlawan bangsa
Putiknya pesona
Rama-rama ‘neka warna
‘Kan kupersembahkan
Bagi pandu Indonesia

Ada kosakata yang membingungkan? Haha, begitulah lirik lagu-lagu Guruh Soekarno Putra, penuh diksi yang gak biasa. Tajuk, kejora, putik (serbuk sari dan putik?), rama-rama, pandu. Saya persilakan buka KBBI, deh 🙂

Sampai sekarang saya belum menemukan klip asli lagu ini. Pengunggah di Youtube menjadikan pemandangan alam sebagai latar videonya. Jadi, gak usah fokus sama videonya, cukup audionya saja, ya. Ini link-nya.

2. Chrisye, Untukku

Saya pertama kali mendengarkan lagu ini saat SD. Kakak saya memperkenalkannya saat televisi di rumah kami masih hitam-putih. Sama dengan lagu sebelumnya, lagu ini sangat indah dari segi aransemen dan liriknya.

Walau ke ujung dunia, pasti akan kunanti
Meski ke tujuh samudera, pasti ku ‘kan menunggu
Karena kuyakin, kau hanya untukku

Begitu refrain lagu ini. Jangankan orang dewasa yang waktu itu sudah pernah jatuh cinta, anak SD seusia saya yang masih gak ngerti apa-apa soal cinta rasanya sudah suka dengan lagu ini.

Menurut saya, lagu ini menciptakan sebuah kesan tentang ketulusan. Boleh jadi itu disebabkan liriknya, yang menurut saya sangat kuat. Apalagi pada kalimat, “Karena kuyakin, kau hanya untukku”. Boleh jadi juga karena dibawakan oleh Chrisye, yang membuat semua lagu yang dinyanyikannya bernuansa magis (ya gak, sih?).

Berikut link lagu ini.

3. Chrisye, Merepih Alam

Dari semua lagu-lagu Chrisye, ini adalah yang paling saya suka. Sangat teduh, sangat syahdu. Dibandingkan Untukku, lagu ini rasanya lebih menenteramkan.

Lagu ini pertama kali diputar sebagai soundtrack film Badai Pasti Berlalu (1977). Gak lama setelah kesuksesan film tersebut, pihak Irama Mas sebagai major label mengajak Eros Djarot (sebagai music director dalam film itu) dan Chrisye untuk merilis soundtrack film ini menjadi sebuah album.

Sekitar awal tahun 2000-an versi remake lagu Merepih Alam dirilis. Klipnya sangat cocok dengan lirik lagunya: teduh, damai, dan seperti menyeret pemirsa untuk merasakan suasana di dalam video. Model dalam klip tersebut adalah Catherine Wilson (cantik, euy!).

Kalau kita cermati diksinya, lagu ini lebih sederhana dibandingkan Untukku atau lagu-lagu ciptaan Guruh Soekarno Putra yang lain yang dinyanyikan oleh Chrisye. Berikut refrainnya.

Kunanti fajar
berkawan angin malam
merindukan belaianmu
Oh asmara, oh asmara
Insanmu menanggung rindu

Untuk melihat video klipnya, klik link berikut.

4. Once, Simfoni yang Indah

Lagu ini diperkenalkan oleh seorang teman yang kebetulan usianya sudah kepala empat. Katanya, ini versi terbaru dari lagu lama yang pernah ia sukai. Dan menurutnya, entah kenapa versi terbaru ini lebih bagus.

Saya pribadi suka dengan lagu ini, tapi kesulitan kalau harus menirukan. Maklum, Once menggunakan nada-nada tinggi, bahkan pada kalimat-kalimat awal liriknya. Batal deh karaoke …

Meski begitu, lagu ini tetap menjadi favorit saya. Nada-nadanya memang tinggi, tapi tetap enak didengar. Liriknya pun sederhana, seperti sedang berbicara. Maksud saya, gak membuat dahi berkerut. Jauh beda, misalnya, dengan lagu-lagu Guruh Soekarno Putra.

Berikut refrain lagu ini.

Burung-burung pun bernyanyi
Bunga-bunga pun tersenyum
Melihat kau hibur hatiku
Hatiku mekar kembali
Terhibur simfoni
Pasti hidupku kan bahagia

Berikut link video klipnya.

5. Ruth Sahanaya, Ingin Kumiliki

Saya suka suara Ruth Sahanaya karena lembut dan jernih, meski sedikit berat. Terlebih ketika ia menyanyikan lagu-lagu bernada rendah. Ingin Kumiliki ini salah satunya. Berikut refrainnya.

Ingin kumiliki dengan sepenuh hati
Walau ku harus setengah terluka mengharap cintamu
Ingin kusayangi tanpa terbagi lagi
Apakah mungkin menjalin kasih bila aku tak tahu
Bagaimana kau mencintai diriku

Ruth Sahanaya merupakan satu dari tiga diva pop Indonesia, selain Krisdayanti dan Titi DJ. Di samping suaranya yang merdu saya rasa pembawaan penyanyinya juga menarik. Sedikit berbeda dengan dua temannya itu, Ruth terlihat lebih humble dan, dalam kehidupan sehari-hari, jauh dari gosip.

Ingin melihat video klip lagu ini? Ini dia link-nya.

6. Titi DJ, Sang Dewi

Ini adalah lagu yang liriknya superromantis, kelas dewa deh pokoknya. Coba baca komentar netizen di video klipnya di Youtube. Meski dirilis 18 tahun lalu, anak-anak muda milenial banyak yang suka lagu ini.

Suara Titi DJ yang berat, liriknya yang romantis, dan tentu saja irama musiknya yang berkelas menjadi kekuatan utama lagu ini.

Sang Dewi dibuka dengan irama yang menggetarkan, dengan nada rendah penyanyinya dan tempo yang gak terlalu pelan. Selanjutnya, suara orkestra mendominasi, beriringan dengan nada-nada tinggi, menciptakan kesan megah, eksklusif, dan sangat artistik.

Menurut saya, lirik dalam refrain lagu ini adalah yang paling indah dibandingkan lagu-lagu sebelumnya.

Walaupun dirimu tak bersayap
Ku akan percaya
Kau mampu terbang bawa diriku
Tanpa takut dan ragu
Walaupun kau bukan titisan dewa
Ku takkan kecewa
Karna kau jadikanku sang dewi
Dalam taman surgawi

Berikut link video klip lagu ini.

7. Rossa, Nada-nada Cinta

Dulu, hampir tiap malam, saya menunggu lagu ini diputar di radio-radio swasta di Malang. Saya sebenarnya gak banyak tahu tentangnya. Kalau saya ingat, gak ada yang istimewa pada liriknya. Saya hanya suka iramanya.

Waktu itu mungkin akhir tahun 90-an atau awal 2000-an. Rossa belum seterkenal sekarang. Kalau gak salah, saat itu justru lagu inilah yang melambungkan namanya.

Nada-nadanya gak terlalu tinggi, temponya pelan, di telinga terasa ringan. Berikut refrainnya.

Nada cinta
Semakin indah dunia
Membuka mata hati
Getar-getar cinta
Semakin dalam kurasa
Bagai sebuah simfoni dalam jiwa

Berikut link untuk video klipnya.

Paradoks Ibukota


Ada satu kota di Indonesia di mana komedi dan tragedi datang silih-berganti. Meramaikan sudut-sudutnya yang sesak. Mengajak siapa pun yang tinggal di dalamnya menangis lalu tertawa.

Dan sebaliknya.

Source: pixabay.com

Orang-orang yang berhasil mewujudkan impiannya menyebutnya kota masa depan. Tapi mereka yang berkali-kali dikecewakannya memanggilnya kota tanpa perikemanusiaan.

Kota itu memang sebuah paradoks; memberikan harapan sekaligus menabur ancaman.

Kota itu: Jakarta. Ibukota tercinta.