Mengapa Kita Berbeda?


Apa yang membuat seseorang berbeda dari yang lainnya?

Tampang dan penampilan memang memberikan ciri khas, tapi apakah itu jawaban utamanya? Dalam kondisi tertentu, misalnya di tengah kerumunan para model yang sedang mengikuti audisi, teman kita yang terkenal cantik gak akan terlihat berbeda.

Ia menjadi rata-rata, sebab peserta audisi yang lain juga cantik-cantik.

Photo by Min An on Pexels.com

Uang yang banyak, jabatan yang mentereng, bahkan pendidikan yang tinggi juga gak selalu bisa menjadi pembeda. Tentu rumah seorang konglomerat akan tampak berbeda jika berada di antara rumah-rumah petak yang mengelilinginya, tapi bagaimana jika ia berada di tengah perumahan mewah milik orang-orang kaya yang lain?

Hal yang sama berlaku pada seorang karyawan yang punya jabatan bergengsi dan akademisi di sebuah kampus ternama. Di luar kelompoknya, mereka tampak berbeda. Tapi di antara teman-temannya, mereka tenggelam. Apa yang kita anggap sebagai faktor pembeda sering bersifat sementara, parsial, dan nisbi.

Saya sendiri belum punya jawaban pasti untuk pertanyaan di atas, tapi sementara ini saya melihat hati sebagai “dunia” yang bisa membuat pemiliknya menjadi sangat berbeda dengan orang lain.

Seseorang mungkin punya kesamaan dengan temannya dalam satu hal, misalnya rasa suka pada seorang gadis, tapi itu gak berlaku untuk hal lain.

Kesamaan rasa yang tumbuh dalam hati seseorang dan temannya bukan hal yang aneh, tapi terlalu berlebihan jika digunakan untuk mengidentikkan keduanya dalam hal yang lebih luas, misalnya dengan mengatakan bahwa keduanya adalah laki-laki yang “sama saja”, sebab mengabaikan adanya perbedaan di antara mereka.

Karena hati adalah tempat berbagai perbedaan ditemukan maka boleh jadi sesuatu yang sangat membedakan seseorang dengan temannya juga berada di dalamnya. Itu gak melulu sifat bawaan, tapi boleh jadi perilaku sehari-hari yang sudah menjadi kebiasaan.

Takabur misalnya, atau hasud, ikhlas, sabar, dan sifat-sifat sejenisnya.

Namun, “berbeda” dan “terlihat berbeda” adalah dua hal yang gak sama. Untuk terlihat berbeda, penampilan, jabatan, dan jenjang pendidikan sangat menentukan.

Untuk “terlihat”, bagaimanapun, butuh sesuatu yang kasat mata. Sedang untuk berbeda, sikap hati yang menentukan, dan gak ada kaitannya dengan apa yang tampak.

Jangan Mau Dibodohi


Kebencian bisa sangat merusak.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Kalau kita baca berita di koran-koran terbitan luar negeri, khususnya negara-negara Barat, kita akan mudah menemukan baik liputan ataupun artikel tentang islamophobia. Sebagian tulisan itu menunjukkan gejala islamophobia yang terus meruyak, sementara sebagian yang lain, meski gak seimbang, mencoba menetralisirnya.

Kecenderungan phobia yang hampir sama juga bisa kita temukan di Indonesia. Tentu bukan islamophobia, sebab di sini Islam adalah agama yang dipeluk oleh mayoritas masyarakat, melainkan non-muslimphobia. Saya gak tahu apa istilah yang tepat untuk menyebutnya, tapi sementara mari gunakan istilah ini.

Non-muslimphobia adalah sikap yang menunjukkan kekhawatiran berlebih terhadap keberadaan non-muslim, yang didasarkan pada asumsi bahwa mereka akan mendominasi kehidupan bernegara di Indonesia. Mereka khawatir non-muslim menguasai pemerintahan, memonopoli perekonomian, dan sebuah klise: memurtadkan umat Islam*.

***

Kebencian adalah komoditas yang kini marak diternakkan di masyarakat. Masih ingat bagaimana Donald Trump, capres kontroversial dari Partai Republik, memenangkan Pemilu Amerika, atau Ahok, seheboh apa pun para pendukungnya membanggakan prestasinya, yang harus menerima kekalahan dalam Pilkada Jakarta?

Kita akan menemukan contoh yang banyak selain dari kedua tokoh itu, tentang betapa kebencian bisa sangat mempengaruhi persepsi masyarakat berkenaan dengan pribadi seseorang, mengkristalkannya menjadi fanatisme dan antipati, dan ujung-ujungnya membuat orang tersebut berhasil atau malah gagal dalam sebuah kompetisi.

Apa yang ingin saya share di sini adalah bahwa kebencian, atau secara umum emosi, bisa jauh lebih kuat dalam membentuk persepsi kita tentang sesuatu dibandingkan rasionalitas.

Rasionalitas meniscayakan pengetahuan yang cukup tentang sebuah obyek sekaligus kemampuan berpikir yang baik untuk menganalisisnya, sebelum seseorang bisa menyimpulkannya. Ini tentu kelewat rumit bagi mereka yang hidupnya sudah kadung ruwet dengan istri yang bawel dan uang belanjanya yang selalu kurang.

Di sisi lain, emosi gak membutuhkan tahap-tahap njelimet itu. Siapa pun punya kemampuan dan kebebasan untuk suka atau gak suka terhadap seseorang, tanpa merasa perlu mengenalinya terlebih dulu. Bahkan bisa saja ia suka atau gak suka pada orang lain tanpa alasan, apalagi alasan yang rasional.

***

Emosi kadang bisa sangat mengkhawatirkan, dan dampaknya bisa sangat merusak. Dalam konteks hukum, Surat Al-Maidah ayat 8 mewanti-wanti kita tentang hal ini.

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi yang adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil. Berbuatadillah, karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Dalam membuat keputusan apa pun, ada baiknya kita kendalikan betul yang namanya emosi. Jangan sampai urusan yang mestinya diputus melalui pertimbangan akal sehat disabotase oleh emosi, yang seharusnya kita kunci di luar kamar.

Emosi sangat subyektif, ia bisa muncul tanpa mempertimbangkan apa pun. Seseorang bisa jatuh cinta tanpa perlu membuat pertimbangan terlebih dulu. Kalau mau jatuh cinta, ya jatuh cinta saja. Artifisial namanya kalau pakai pertimbangan segala.

Nah, Manteman, menghadapi tahun Pemilu ini, yuk pastikan segala yang akan kita ucapkan, ceramahkan, tulis di media sosial, atau share di grup-grup messanger adalah kenyataan, bukan hoax, fitnah, apalagi hasutan dan ujaran kebencian!

Pastikan pula bahwa kenyataan yang mau kita bagikan itu memberikan manfaat bagi sebanyak-banyaknya orang. Kalau ternyata hanya menumbuhkan sentimen yang negatif, apalagi sampai mengobarkan kebencian, lupakan. Unfaedah itu.

Gak cuma berdosa, emosi yang biasa dilepas liar, tanpa tali pengikat yang kita sebut akal sehat, mudah terpancing olehnya. Kalau sudah seperti itu, jangankan pemimpin yang amanah, proses pemilihannya saja bisa-bisa amburadul.

Satu lagi. Kalau kita tahu ada pulitisi yang menggunakan cara-cara yang tampaknya simpatik tapi sebenarnya agitatif, hanya karena mereka sedang memperjuangkan kepentingan yang kita sulit memastikan, apakah itu demi rakyat atau gak, jauhi!

Sudah berkali-kali kita dibodohi, kali ini jangan hanya diam!

*Klise bukan berarti gak pernah terjadi, ya 🙂

Bukan Mesin


Inisiatif gak bisa muncul begitu saja.

Photo by rawpixel.com on Pexels.com

Butuh latihan, dan latihannya itu gak sebentar. Kalau kita menyuruh seseorang untuk punya inisiatif, lalu saat itu juga mengharapkannya berinisiatif melakukan sesuatu, paling-paling kita akan kecewa.

Kenapa? Sulit, kalau gak mustahil.

Inisiatif gak cuma kesadaran tapi juga kebiasaan, habitus. Banyak orang yang tahu harus melakukan apa dalam situasi tertentu tapi dia lebih suka diam, sebab mengira gak akan terdampak olehnya, alias masabodoh dengan situasinya itu.

Inisiatiflah yang membedakan antara manusia dengan mesin. Kalau mereka gak memilikinya, ya sama saja. Bergerak hanya saat di-on-kan, dan berhenti hanya jika dipaksa demikian. Makhluk yang dibekali akal sehat seharusnya gak begitu.

Lantas, kenapa ada orang yang seperti itu? Selain karena gak terbiasa berinisiatif, mungkin dia cari aman. Inisiatif itu, bagaimanapun, punya konsekuensi. Kalau gagal, mereka bisa dipersalahkan. Kalau berhasil, belum tentu diapresiasi.

Sederhananya, kalau melakukan sesuatu bikin kita kena masalah atau minimal jadi obyek semprotan dan kalau gak melakukannya bakal aman-aman saja, ya ngapain ambil risiko dengan sok-sokan inisiatif? Cari penyakit, Masbro!

Ini cara pandang alien, atau penduduk non-bumi, menurut saya. Sebab nenek moyang kita punya inisiatif melakukan banyak hal untuk bertahan hidup, dan inisiatif mereka itu berhasil. Buktinya, primata yang bisa berpikir ini survive, sampai sekarang.

Cara pandang alien itu, entah bagaimana mulanya, menurun pada sebagian orang. Kita lantas mengenal mereka dengan sebutan pengecut, gak cuma karena mereka ogah mengambil risiko tapi juga karena mereka sudah kalah sebelum naik ring.

Saya bikin tulisan ini bukan karena selalu berani berinisiatif lho, tapi karena butuh meyakinkan diri bahwa berinisiatif melakukan sesuatu itu perlu, dan kadang wajib. Jangan menunggu disuruh atau terancam oleh sebuah konsekuensi.

Lagipula, kalau kepentingan kita cari aman, seperti saya bilang di atas, sebenarnya diam dan mematung itu gak aman-aman banget. Coba deh ingat, betapa banyak cemoohan yang juga dialamatkan pada mereka yang bisanya cuma diam.

Topeng-topeng yang Menipu


Beberapa hari yang lalu teman saya iseng bertanya, “Kenapa ya kalau mau ngelakuin sesuatu yang baik kadang kita nyelipin maksud-maksud yang gak baik juga?”

Source: pexel.com

Mungkin yang dimaksud teman saya itu bukan maksud-maksud yang gak baik, tapi maksud-maksud yang gak tulus, yang awalnya hanya ditujukan untuk Allah Ta’ala menjadi bercabang untuk yang lain juga, entah mertua, bos, atau fans *meh.

Menurut saya, ini bukan pertanyaan sepele. Alasannya, dari sikap yang boleh dikata sudah jadi kelumrahan inilah macam-macam skandal yang menyeret orang besar bermula, dari pulisi, hakim, kepala daerah, sampai anggota dewan yang “terhormat”.

Eh sebelumnya, gak apa-apa ya kali ini saya sok serius …

Ketika masih memikirkan jawabannya, pertanyaan lain muncul di kepala saya: Benar gak sih pertanyaan itu? Apa jangan-jangan kita sebenarnya punya maksud gak baik/tulus tapi kemudian kita bungkus dengan kemasan yang baik/tulus?

Kita sih menyebutnya “karena Allah Ta’ala”, “untuk mengikuti sunah Rasulullah”, dan macam-macam kalimat surgawi yang sebenarnya gak lebih dari cara untuk menyembunyikan motif terdalam kita: popularitas, duit, atau gengsi.

***

Kebaikan apa pun yang kita lakukan sebenarnya adalah raga (ajsad, asybah) yang menjadi tempat untuk nyawa (arwah) bersemayam. Yang dimaksud nyawa di sini adalah ikhlas, atau ketulusan.* Seperti raga yang gak bisa hidup sehat karena ketularan penyakit, amal juga gak bakal bisa sempurna gara-gara ikhlas yang tercampur maksud-maksud selain Allah.

Itu masih mending. Ada lho kebaikan yang bahkan dilakukan bukan karena niat lillahi ta’ala, sama sekali, tapi niat-niat yang lain, yang ujungnya adalah sebuah klise, yakni kesenangan diri sendiri. Kesalehan yang tampak oleh mata, yang ditampilkan di panggung-panggung sandiwara dan bikin orang lain kagum, gak lebih sekadar topeng untuk tipu-tipu.

Ibarat makhluk hidup, amal-amal itu adalah raga yang gak bernyawa. Gak berbeda dengan bangkai. Dan seperti bangkai, amal-amal itu gak bakalan ngasih manfaat sedikit pun, yang ada malah menguarkan bau busuk dan mengundang lalat. Hanya mereka yang baru mengalami guncangan hebat dalam hidup yang mau meletakkan bangkai di meja makannya.

Jadi sebenarnya, amal baik yang diselipi niat selain lillahi ta’ala itu bisa kita pahami dari dua sudut pandang. Pertama, itu tetap perbuatan baik, yang mungkin memberi manfaat bagi penerimanya. Kedua, itu adalah perbuatan, sebesar apa pun manfaatnya bagi orang lain, yang muncul dari hati yang tertipu (ghaflah). Tertipu oleh diri sendiri.

***

Karena orang lain sudah dikintilin malaikat Raqib dan Atid untuk mencatat amal mereka, kita gak usah deh ikut campur mengawasi mereka. Biar itu jadi urusan malaikat. Kita mending fokus sama diri sendiri. Dan sesuai omong kosong kali ini, enaknya kita sekarang berkaca, kira-kira sudah bisa ikhlas apa belum.

Kalau belum, kita bisa mulai memperbaiki hati dengan berterus terang pada diri sendiri. Kalau kita mau melakukan sesuatu bukan untuk Allah atau Rasulullah, gak usah bawa-bawa Allah atau Rasulullah. Bilang saja apa adanya. Gak perlu jaga imej dengan bermulut manis, kalau mau melakukan sesuatu cuma buat enaknya sendiri.

Kalau mau selingkuh, bilang aja pengin selingkuh. Kalau mau nambah istri, gak usah ngemeng mau mengikuti sunah Rasul segala. Kalau mau bisnis dan mencari uang, gak usah ngaku-ngaku dakwah atau syiar. Orang-orang udah banyak yang pinter. Malu kalau mereka tahu apa sebenarnya maksud kita.

Alhasil, kenapa kalau mau melakukan sesuatu yang baik kita suka menyelipkan maksud-maksud yang gak baik?

Kenapa pula kalau mau melakukan sesuatu yang gak baik kita suka membungkusnya dengan kata-kata yang baik?

Karena kita kalah sama ego sendiri. Kita gak sanggup mengontrol ego/nafsu supaya gak mengotori keikhlasan saat kita mau melakukan kebaikan. Kita juga gak sanggup menerima konsekuensi dari perbuatan buruk yang mau kita kerjakan.

Tahun-tahun ini, ketika sebagian masyarakat merasa lebih beriman ketimbang sebelumnya dan mendadak merasa lebih paham Islam dibandingkan tetangga mereka, ego/nafsu tetap berjaya. Gak terkalahkan, sebab cenderung manipulatif.

Jadi, benar ya apa yang dibilang Rasulullah, “Berapa banyak amal yang terlihat sebagai amal duniawi berubah, disebabkan niat yang baik, menjadi amal ukhrawi. Dan berapa banyak amal yang tampak sebagai amal ukhrawi berubah menjadi amal duniawi, karena niat yang buruk.”

Apa yang gak islami kita bilang islami, dan apa yang islami kita tuduh gak islami. Yang enak-enak kita bilang islami, sunah, syar’i, atau sebutan lain yang seakan-akan direstui oleh Allah, sementara yang gak enak kita bilang anti-Islam, sekuler, kapir.

*Lihat: Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajibah al-Hasani, Iyqazhul Himam, h. 49.

Khawatir Ini, Khawatir Itu


Ada banyak ketidakpastian di masa depan. Dengannya, kita sebenarnya dididik untuk lebih percaya. Pada diri sendiri, pada kehidupan, dan tentu saja pada Yang Mahakuasa.

Wajar kok mengkhawatirkan berbagai hal yang akan kita temui. Mungkin terlintas di benak kita bagaimana perkembangan penyakit yang sekarang kita derita, persoalan utang yang menggunung, atau perpisahan dengan orang yang kita cintai. Tapi, kita gak sendiri.

Orang lain juga punya kekhawatiran. Kita mungkin melihat mereka baik-baik saja, tapi seperti kita tahu, apa yang tampak kadang berbeda dengan yang tersembunyi. Yang perlu kita ingat, hanya karena kita gak tahu masalah mereka, bukan berarti mereka gak punya masalah.

Baca juga:
Belum Berakhir
Tak Pernah Mudah

Kekhawatiran terhadap masa depan gak selalu buruk. Kalau kita bilang kesuksesan dalam hidup bermula dari keberhasilan mengatasi kekhawatiran, saya rasa itu kurang tepat. Seringkali justru dari kekhawatiran kita tergugah untuk mempersiapkan diri menghadapi yang terburuk.

Karena khawatir kehabisan waktu shalat, kita mencari masjid untuk singgah. Karena khawatir dengan uang tunai yang tinggal sedikit, kita menyempatkan diri mampir ke ATM. Dan karena khawatir terjadi apa-apa dengan kesehatan anak kita, kita segera melarikannya ke rumah sakit.

Kekhawatiran yang kita bicarakan bukan kekhawatiran yang membuat plonga-plongo dan terduduk di sudut ruangan sambil pasrah pada keadaan. Kita punya ide, keberanian, atau minimal naluri untuk menyelamatkan diri, yang kadang muncul saat kita khawatir.

Kekhawatiran seperti inilah yang bisa memberikan kontribusi positif bagi mental dan tindakan kita, asal kita bisa mengelolanya. Sebab, apa pun itu kalau kita gak bisa mengelolanya, kekayaan yang gak habis dimakan tujuh turunan pun akan gagal memberikan manfaat.

Lantas, bagaimana kalau kekhawatiran itu, yang menumbuhkan kesiapan dalam diri kita untuk menghadapinya, menjadi kenyataan dan ternyata membuat kita kewalahan? Dalam batas-batas tertentu, boleh kok kita kecewa dan menyesalinya. Tapi yakin deh, semua akan baik-baik saja.

Kekhawatiran kita terhadap sesuatu kadang gak proporsional. Apa yang akan kita hadapi di masa depan kadang gak semengerikan yang kita bayangkan. Bisa jadi memang gak semengerikan itu, bisa jadi juga seiring bertambahnya umur, kita lebih siap menghadapinya.

Di tengah menulis omong kosong ini, sebuah poster melintas di timeline Facebook saya. Bunyinya, “Not all storms come to disrupt your life. Some come to clear your path”. Memang, bangunan cita-cita kita kadang perlu diruntuhkan agar kita tahu pondasinya perlu diperkuat.

Sekali lagi, ini hanya omong kosong. Gak usah diresavi, ya 🙂

Gak Bisa Salah


Kalau kita selalu (merasa) benar maka gak ada satu pun pelajaran dalam hidup yang bisa kita ambil. Itu sebabnya, gak apa kok sesekali berbuat salah, atau merasa dan mengaku berbuat salah, asal kita punya hati yang lapang … untuk dikritik.

Source: pexel.com

Kritik hanya akan datang jika kita berbuat salah. Kalau kita selalu benar, kita gak akan pernah dikritik. Itu mungkin keren, tapi akibatnya proses belajar kita sebagai manusia berjalan lambat. Sebab, seringkali kritik memaksa kita untuk banyak belajar.

Kita tentu tahu, belajar gak hanya tentang membaca, mengamati, atau aktivitas individualistik lainnya tapi juga berinteraksi, menjalin hubungan dengan ‘dunia luar’, yaitu orang lain. Dan, kritik memungkinkan kita untuk belajar melalui proses ini.

Nabi Muhammad juga pernah ditegur (ini semacam kritik juga, kan?) oleh Allah. Ada banyak contohnya di dalam Al-Quran, surah Abasa, misalnya. Bayangkan, seorang rasul saja ditegur, karena melakukan (let’s say) ketidakpatutan laiknya seorang rasul.

Benar nih Nabi Muhammad pernah berbuat salah? Beliau ‘kan terjaga dari kesalahan? Kalau kita ragu sama fakta ini, coba deh pikirkan: mana mungkin beliau ditegur kalau gak melakukan sesuatu yang membuat Allah menegurnya?

Tul?

Tapi, itu wajar belaka, sebab Nabi Muhammad juga manusia. Manusia ‘kan memang tempatnya salah dan lupa. “Innamaa anaa basyar, sesungguhnya aku adalah manusia,” kata beliau. Justru kalau beliau malaikat, itu yang gak wajar.

Ya bagaimana, masak kita diwajibkan meneladani makhluk yang gak bisa salah? Gak fair, dong?

Kritik, saran, masukan, atau apa pun namanya bukan dimaksudkan untuk menjatuhkan kita, asal niatnya memang baik dan disampaikan dengan cara yang juga baik. Itu adalah bukti perhatian orang lain pada kita. Dan pastinya, kritik beda sama cemoohan.

Kalau kritik dimaksudkan agar kita sadar dengan kekurangan, sehingga kita tahu apa yang perlu diperbaiki, cemoohan ditujukan semata-mata untuk merendahkan kita. Kritik menjadikan kita lebih baik, cemoohan membuat kita terhina.

Mengakui bahwa diri kita bisa salah juga merupakan konsekuensi kita sebagai makhluk –yang memang diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan. Kalau kita merasa perfect sebenarnya saat itulah akidah dan akhlak kita dipertanyakan.

Benarkah kita muslim yang baik, yang seharusnya percaya bahwa yang sempurna itu hanya Allah Taala, dan kita sebagai makhluk penuh kekurangan?

Benarkah kita muslim yang baik, yang seharusnya mampu menjaga kerendahan hati, sebab banyak orang lain yang kualitas personalnya lebih baik dibandingkan kita?

Singkat kata, kalau selama ini kita selalu (merasa) benar, cobalah berlapang dada untuk menerima kemungkinan kita melakukan kesalahan. Mengakui bahwa kita infallible itu gak cuma baik buat mental kita tapi juga demi menghindari murka Tuhan.

Ingat, Fir’aun dimurkai Tuhan gara-gara merasa gak pernah sakit, gak akan mati, dan gak bisa berbuat salah lho!

5 Lagu Klasik yang Enak Didengar


Saya sempat beberapa waktu belajar biola, tapi karena gak disiplin latihan, sampai bertahun-tahun biola saya gak lebih sekadar pajangan di kamar.

Ada sih beberapa lagu yang sempat bisa saya mainkan, Twinkle-twinkle Little Star (!) misalnya, tapi gara-gara jarang berlatih jadi lupa notnya.

Source: pexel.com

Hehe, gak ding. Jelek-jelek saya juga pernah bisa main Ode to Joy dan Canon yang terkenal itu. Tapi ya itu tadi, pernah …

Baca juga:
5 Lagu Jadul Paling Romantis
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Saya suka suara biola, karena menurut saya unik dan sangat menyentuh (meh!). Kesannya lebih merdu ketimbang suara alat musik yang lain, termasuk piano dan saksofon. Tapi kalau disuruh menyebutkan nama-nama pemain biola atau judul partitur lagu yang dimainkan menggunakan biola, saya gak hafal banyak.

Meski begitu, saya punya judul-judul favorit, yang betapapun sudah ratusan kali saya dengar tapi gak pernah bikin saya bosan. Beberapa lagu itu ada yang diciptakan satu atau dua abad yang lalu, ada juga yang diciptakan tahun-tahun belakangan. Ada sih perbedaannya, tapi buat pendengar awam seperti saya, semuanya sama-sama enak didengar.

Kali ini saya ingin mengenalkan lima lagu klasik favorit saya. Bukan sok classy, tapi teman-teman yang juga pernah mendengar sepakat kok kalau lima lagu ini memang bagus. Buat yang lagi jatuh cinta, digantungin, diduain, baru putus, atau suka tiba-tiba ingat mantan, minimal satu dari lima lagu ini pasti cocok didengarkan saat kamu sedang sendirian. Wkwk …

1. Canon in D Major, karya Johan Pachelbel

Sebenarnya sejak dulu lagu ini gak asing bagi saya, karena sering saya dengar sebagai soundtrack film. Tapi, waktu itu saya gak tahu judul dan penciptanya dan gak pernah berusaha mencari tahunya. Saya mulai ngeh dengannya ketika di kantor gabut lalu sok sibuk dengan mencari lagu klasik di Youtube. Kalau Teman-teman belum pernah mendengar lagu ini, coba klik link berikut.

2. Ode to Joy, karya Ludwig van Beethoven

Saya pertama kali tahu lagu ini dari sebuah iklan yang di-share di media sosial. Kalau gak salah itu adalah iklan sebuah bank di Swiss. Lagu ciptaan Beethoven ini dimainkan oleh sekelompok orang yang tiba-tiba berkumpul di sebuah pusat keramaian dengan maksud membuat kejutan pada orang-orang yang ada di sana (flashmob). Ini link-nya.

3. Air on G String, karya Johan Sebastian Bach

Ini lagu klasik yang paling juara menurut saya, setelah Canon, hihi. Kalau gak salah ingat, ini adalah lagu klasik paling awal yang saya tahu dan saya hafal. Gak cuma merdu, lagu ini juga seakan mengajak kita berkunjung ke Eropa pada zaman dulu, cocoklah sebagai musik latarnya drama-drama yang dipentaskan di gedung opera (sok tahu). Berikut link-nya.

4. Suite for Solo Cello no. 1 in G Major – Prelude, karya Johan Sebastian Bach

Lagu ini gak dimainkan menggunakan biola tapi cello. Meski begitu, minimal buat telinga saya, itu gak jadi soal. Tetap merdu. Berbeda dengan lagu-lagu sebelumnya, lagu ini terdengar lebih “semangat” dan “dinamis” (alah!). Tempo lagunya lebih cepat dan suara yang dihasilkan lebih “dalam”, mungkin karena kebanyakan yang dimainkan nada-nada rendah. Ini link-nya.

5. Cinema Paradiso, karya Ennio Morricone

Lagu ini di-compose oleh Ennio Morricone sebagai soundtrack film dengan judul yang sama. Film tersebut digarap oleh Giuseppe Tornatore, seorang sutradara film asal Italia yang juga menggarap Malena, film favorit saya. Hehe … Dibanding lagu-lagu sebelumnya, lagu ini adalah yang paling baru. Ingin mendengar lagu keren ini? Klik link berikut.

Itu lima lagu klasik favorit saya, meski gak tahu ya yang terakhir itu bisa disebut klasik apa gak, karena dibuat pada akhir tahun 80-an. Berbeda sama lagu-lagu lainnya, menurut saya lagu klasik itu sangat bisa memainkan emosi pendengarnya. Sulit bagi kita untuk gak “terseret” ke dalam suasana batin pencipta atau pemainnya (wkwk, gak tahu ini saya ngemeng apa).

Emosi kita akan semakin menyatu dengan “dunia” yang tercipta dari lagu itu jika kita menonton permainannya secara live. Saya pernah mendapat kesempatan menonton konser musik klasik seperti itu di Goethe Huis (tiketnya Rp75000) dan Salihara (gratis, rezeki anak saleh). Kesan saya saat mendengarkan lagu-lagu klasik itu dimainkan: emejing!

Easy Come, Easy Go


Cinta seseorang bernilai jika diperjuangkan, bukan karena bisa ditukar dengan materi.

Source: pexel.com

Saya rasa membuktikan cinta itu gak perlu muluk-muluk. Gak harus menggunakan cara yang sulit agar terkesan romantis, yang kalau mau jujur sebenarnya adalah cara seseorang untuk membujuk atau memaksakan keyakinan tertentu pada orang yang disukainya: bahwa dia adalah orang yang baik hati, menyenangkan, dan cintanya layak diterima.

Baca juga:
Cinta yang Tak Muluk
Hati yang Menggugat

Bukan munafik, ya.

Wanita mana yang gak senang kalau laki-lakinya memberikan bunga atau hadiah lain sebagai kejutan ulang tahun? Itu gak masalah, selama orang tersebut gak memaksakan diri. Yang gak kalah penting, hadiah itu murni ungkapan cinta yang tulus dari sang lelaki, bukan bayang-bayang kepentingannya agar sang kekasih rela menjatuhkan diri ke dalam pelukannya.

Masak cinta yang gak ternilai, yang setiap detik dirawat dengan penuh perhatian, ditukarkan dengan barang yang bisa dibeli dan bisa usang bahkan rusak? Tapi begitulah, ada memang orang yang gak tahu betapa berharga cintanya, yang semestinya hanya untuk orang yang tepat tapi malah ia tukarkan dengan materi.

Untuk laki-laki yang sukses mendapatkan tipe wanita seperti itu, karena berbagai iming-iming yang ia berikan padanya, bersiaplah untuk kecewa. Sesuatu yang mudah didapatkan biasanya mudah juga perginya.

Bagi sang wanita juga sama. Karena cintanya bisa ditukar dengan uang, gak usah kaget jika suatu saat pasangannya mudah meninggalkannya. Sekali lagi, sesuatu yang bisa dibeli pasti saatnya nanti usang dan rusak. Selanjutnya, tentu saja dibuang.

Siapa coba yang mau meletakkan barang usang apalagi rusak di dalam kamar tidurnya?

Nah, sekarang saya berpikir. Apa saya gak salah memulai tulisan ini? Mari melangkah mundur. Benarkah cinta itu perlu dibuktikan? Bagaimana caranya? Bukankah cinta itu laku hati, yang keberadaan dan kualitasnya hanya Allah dan pemiliknya yang tahu?

Bukti adalah sesuatu yang terbatas dan parsial, seringkali hanya refleksi satu sisi saja dari apa yang mau dibuktikan. Kalau kita menganggapnya sebagai wujud cinta itu sendiri, tidakkah kita akan salah paham? Lantas, bagaimana?

Lebih Baik Tertawa


Kita kadang kurang bisa bersabar saat menghadapi seorang teman yang nyinyir atau menyalah-nyalahkan sikap keberagamaan kita. Sehingga yang kita lakukan terhadapnya adalah yang paling mudah, yaitu membalas nyinyirannya dengan nyinyiran yang sama.

Mungkin karena emosi, jadi kita lepas kontrol.

Baca juga:
Pokoknya Jangan Mau!
Onde-onde dan Buih Air

Photo by Jeswin Thomas on Pexels.com

Padahal, seseorang nyinyir itu boleh jadi karena dia gak punya sudut pandang yang sama dengan kita, yang mungkin gak akan nyinyir lagi ketika diberi pengertian secara baik-baik.

Menurut saya, cara yang tepat untuk menyikapi orang nyinyir itu bukan dengan menjauhi tapi justru mendekatinya.

Berteman dengan mereka, menjalin hubungan yang baik dan tulus, dan pelan-pelan memberi pengertian mengapa orang lain bisa sangat berbeda dengan mereka, bahkan terlihat “sangat keliru” dalam memahami Islam, lebih bermanfaat dan lebih bijaksana, ketimbang meluapkan emosi dengan membalas sikap nyinyirnya.

Tentu cara seperti ini butuh kesabaran. Tapi menurut saya, ini adalah salah satu jihad di zaman serba hoax dan orang mudah salah paham seperti sekarang.

Buat mereka yang gak sanggup melakukannya maka tertawa adalah pilihan yang lebih baik ketimbang memperkeruh keadaan dengan ikut-ikut nyinyir.

Kalau tertawa saja gak bisa, mungkin mereka perlu mempertimbangkan hidup di sebuah goa yang banyak ditemukan di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa.

Tanpa televisi, internet, apalagi bisik-bisik orang yang sok ngerti pulitik. Sehari-hari mereka cukup beribadah dan menanti datangnya wangsit.

Benci Karena Benar


Ada banyak alasan seseorang membenci sesamanya. Hanya karena Atmo memilih soto dan Hamid lebih suka rawon, mereka berhenti saling menyapa. Di koran yang saya baca kemarin, sepasang suami-istri bercerai gara-gara si suami mendukung Messi, sementara istrinya lebih menyukai Ronaldo. Kiamat makin dekat, memang.

Baca juga:
Pokoknya Jangan Mau!
Merangkul, Bukan Memukul

Alasan membenci orang lain kadang bisa sangat rasional tapi kadang gak, dan pelakunya gak akan mempermasalahkannya. Ada semacam rasa lega ketika ia menuruti kata hatinya untuk membenci, apalagi jika ia menyimpan prasangka dan kecurigaan. Mungkin juga ia merasa sedang memperjuangkan agama.

Membenci seolah mengonfirmasi isi hatinya, dan itu melegakan.

Source: pexel.com

Memasuki tahun-tahun pulitik ini ujaran, kebencian mudah kita temukan di media, terutama media sosial. Pemerintah memang sudah tanggap dengan hal tersebut, tapi saya rasa itu soal lain. Yang membuat kita gak habis pikir adalah ternyata para pembenci itu, dengan atau tanpa alasan, gak sedikit jumlahnya.

“Ironis, sebab selama ini orang Indonesia dikenal ramah dan santun,” kata seorang host di salah satu stasiun tivi.

Mungkin benar itu ironis, tapi sebenarnya gak terlalu membingungkan. Apa susahnya ramah dan sopan di satu waktu, lalu membenci pada waktu yang lain? Masalah datang dan pergi. Kalau sedang ada masalah sama orang lain mudah bagi siapa pun untuk membenci, tapi kalau sedang baik-baik saja bisalah dia ramah dan santun.

Orang lain ramah, santun, dan kadang-kadang membenci menurut saya bukan hal yang aneh. Semua orang menyimpan potensi keburukan di dalam dirinya. Siapa pun. Yang aneh itu ketika ada tangan-tangan syaithon yang memantik potensi itu untuk menciptakan kebencian yang normalnya gak tersulut, dengan berbagai muslihat.

Yang membuat beberapa teman gondok beberapa hari terakhir ini adalah keberadaan what so called Muslim Cyber Army, yang menyamakan dirinya dengan mujahid perang lalu menghalalkan berbagai cara untuk menghasut, memfitnah, dan membenturkan masyarakat, hanya karena mereka gak puas sama kinerja Pemerintah.

Sulit rasanya otak kita memahami, bagaimana bisa mereka berani mengatasnamakan “muslim” untuk melakukan pekerjaan kotor seperti itu, yang entah atas dasar kepentingan pribadi atau pesanan pihak tertentu. Celakanya, banyak orang, baik terdidik atau gak, baik ngerti agama atau gak, yang termakan hasutan mereka.

Membebek saja setiap ada fitnah yang dibuat.