Manuscript Found in Accra

“Kalah dalam suatu pertempuran atau kehilangan apa yang kita sangka merupakan milik kita akan menyeret pada momen yang penuh kesedihan. Tapi ketika momen itu berlalu, kita akan menemukan kekuatan tersembunyi di dalam diri, sebuah kekuatan yang mengejutkan dan meningkatkan harga diri kita.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Kita akan melihat sekeliling dan berkata pada diri sendiri, “Aku selamat.” Kita pun terhibur dengan kata-kata itu.

Hanya mereka yang tak mampu mengenali kekuatannya yang terpendam yang akan berkata, “Aku kalah,” dan bersedih.

Orang lain, meski kalah dan merasa dipermalukan oleh kata-kata mereka yang menang, akan mengizinkan dirinya menitikkan air mata tapi menolak untuk mengasihani diri sendiri. Mereka mengerti bahwa itu hanyalah jeda di tengah pertempuran dan bahwa, untuk sementara, mereka sedang tidak beruntung.

Mereka mendengarkan detak jantungnya sendiri. Sadar sedang khawatir, takut. Akan tetapi, mereka kemudian memperhatikan hidup dan menyadari, di balik ketakutan yang mereka rasakan, keyakinan mereka masih menyala di dalam jiwa, mendorong dirinya untuk terus bergerak ke depan.”

Paulo Coelho, Manuscript Found in Accra, 17-8

Quote: The Holiday

the_holiday04

“I suppose I think about love more than anyone really should. I am constantly amazed by its sheer power to alter and define our lives. It was Shakespeare who also said “love is blind”. Now that is something I know to be true. For some quite inexplicably, love fades; for others love is simply lost. But then of course love can also be found, even if just for the night. And then, there’s another kind of love: the cruelest kind. The one that almost kills its victims. Its called unrequited love. Of that I am an expert. Most love stories are about people who fall in love with each other. But what about the rest of us? What about our stories, those of us who fall in love alone? We are the victims of the one sided affair. We are the cursed of the loved ones. We are the unloved ones, the walking wounded. The handicapped without the advantage of a great parking space!” ~The Holiday, Nancy Meyers

Review: Silence

Silence adalah film besutan sutradara Martin Scorsese. Pemeran utamanya Andrew Garfield (Father Rodrigues) dan Liam Neeson (Father Ferreira).

Film tersebut mengisahkan petualangan dua orang penginjil yang menjalankan misi di Jepang pada abad ke-17. Tujuan utama mereka, selain memberikan pelayanan ruhani kepada umat, juga untuk menemukan Father Ferreira. Diceritakan bahwa Father Ferreira, guru Father Rodrigues, hilang tanpa kabar di Jepang. Sesuatu yang membuat semua pihak cemas.

Baca juga:
Spotlight: Ironi dan Kengerian di Balik Dinding Gereja
Dan Suatu Saat Dia Akan Memanggil Kita

Kala itu penduduk Jepang beragama Budha. Meski Katolik berkembang luas di pedesaan, Pemerintah mencoba menekan pengaruhnya. Alasannya? Agama tersebut “berbahaya”. Sepanjang film, itulah alasan satu-satunya mengapa gubernur yang merangkap inquisitor menyiksa umat Katolik dan menjadikan para penginjil tak ubahnya binatang buruan.

Drama hidup dan mati Father Rodrigues sudah menegangkan sejak ia menginjakkan kaki di Jepang. Ia disambut baik oleh umat tapi tak bisa berbuat banyak untuk mereka. Alih-alih, ia malah menyebabkan beberapa penganut Katolik terancam bahkan disiksa di tiang salib. Jangankan menemukan Father Ferreira, untuk menyelamatkan diri saja ia kesulitan.

silence-main
Sumber gambar: denofgeek.com (https://goo.gl/ofno5c)

Dalam situasi yang dilematis antara menyelamatkan nyawa penduduk yang beragama Katolik dan menemukan gurunya yang hilang, drama kehidupan Father Rodrigues menjadi cerita utama film ini. Nyawanya memang terselamatkan, tapi gak demikian dengan pengikutnya. Meski iman mereka serapi mungkin ditutupi, telik sandi Pemerintah Jepang cerdik melihat kebenarannya.

Pengikut-pengikut setia Father Rodrigues yang ditangkap dan disiksa sampai mati tentu membuat sang pastor terpukul, lebih-lebih di antara mereka ada seorang kakek yang biasa menggantikan peran para pastor selama ketiadaan mereka. Tapi bagaimanapun, demikian hemat Father Rodrigues, perjuangan untuk menemukan gurunya harus tetap dilanjutkan.

Alangkah kecewa sang pastor muda itu ketika mendapati Father Ferreira, di ujung usahanya menemukan sang guru, ternyata sudah berada di pihak Pemerintah dan, ini yang lebih mengejutkan, mengganti imannya. Bak kiamat, segala yang diperjuangkannya, termasuk menyerahkan penduduk desa yang beragama Katolik pada inquisitor, seakan sia-sia.

“Tak ada yang bisa kau lakukan di sini,” ujar Father Ferreira kepada muridnya itu. “Ketika datang kemari, aku pun sepertimu. Tapi, semua sia-sia saat kau harus berhadapan dengan konsekuensi perbuatanmu.” Ada nada putus asa dan kelelahan dalam kata-kata Father Ferreira, sesuatu yang membuat Father Rodrigues gak habis pikir.

Tapi sebagaimana terjadi pada diri sang guru, pengalaman sang murid pun ternyata gak jauh berbeda. Ia menyesal gak bisa menuntaskan misinya, lebih menyesal lagi karena mau gak mau ia pun harus mengganti imannya, menjadi seorang Budhis. Menjalani laku hidup sebagai Budhis, dan di akhir hayatnya, disemayamkan juga sebagai seorang Budhis.

Katolik kemudian tak lebih sebuah kenangan dari masa lalunya, begitu yang orang lain lihat. Termasuk apa yang disaksikan oleh seorang penduduk desa yang menolong tapi kemudian mencelakakannya, Kichijiro (Yosuke Kubozuka), yang sepanjang cerita tampil membingungkan (karena bertingkah persis seperti orang gila) tapi bisa kita tafsirkan sebagai mata-mata Pemerintah.

Dalam kekalutannya akibat merasa gagal, sia-sia, dan takut, Father Rodrigues akhirnya bertekuk lutut di depan inquisitor dan memutuskan hidup sebagai orang Jepang. Ia mengganti namanya menjadi Okada San’emon dan menikah dengan seorang wanita Jepang. Misi-misinya dan masa lalunya ia lupakan, termasuk identitas agama dan peribadatannya …

… meski diam-diam ia masih merawat dengan baik imannya dan tetap menyucikan Tuhannya.

Review: Spotlight

Beberapa minggu terakhir tanpa sengaja saya menonton dua film yang temanya mirip. Bukan temanya sih, tapi latar sosialnya.

Film pertama berjudul Spotlight, yang diangkat dari kejadian nyata, film kedua berjudul Silence, sebuah fiksi drama yang gak kalah menarik. Keduanya bercerita seputar pergulatan iman dan lika-liku hidup penganut Katolik. Untuk postingan kali ini, saya akan mencoba menceritakan ulang tentang Spotlight. Silence akan saya ceritakan juga, tapi dalam postingan berikutnya. Nyicil.

Oh ya, sebagai informasi, saya hanya menceritakan ulang film tersebut. Dan saya yakin, apa yang dilakukan oleh sejumlah oknum dalam film itu gak menggambarkan perilaku para pemuka Gereja secara umum.

Spotlight berkisah tentang tim jurnalis investigatif di The Boston Globe, sebuah harian yang sangat berpengaruh di Boston, Massachusett, pimpinan Walter Robinson (Michael Keaton). Dalam sebuah edisi, harian tersebut menurunkan kolom yang menyoroti perilaku seks menyimpang oknum pastor di kota yang mayoritas penduduknya beragama Katolik itu. Karena dianggap skandal besar, berita tersebut ditindaklanjuti.

spotlight
Sumber gambar: bob-the-movie-man.com (https://goo.gl/89sBRT)

Setelah tim Spotlight melakukan penyelidikan, sebuah fakta terungkap: pelaku pelecehan seksual itu mencapai belasan oknum pastor. Terdorong mencari informasi lebih dalam dan valid, tim itu mewawancarai sejumlah pihak yang diyakini terkait dengan kasus yang selama lebih dari tiga dasawarsa tertutup rapi itu. Mulai pengacara, para korban, bahkan otoritas Gereja sendiri.

Setelah melalui wawancara yang sangat rahasia dengan korban-korban yang masih trauma (sebagian mereka sudah menikah dan punya anak), pengacara yang bersekongkol dengan Gereja untuk menutupi kasus itu (karena ada imbalan tertentu), dan mencermati arsip Gereja yang mencatat pastor-pastor bermasalah, tim menemukan fakta baru yang sangat mencengangkan.

Pastor-pastor yang teridentifikasi melakukan penyimpangan itu ternyata mencapai 90 orang. Sementara korbannya mencapai dua ribuan orang. Sebuah angka yang fantastis. Kasus itu konon terjadi sejak tahun 70-an hingga awal 2000-an. Seorang psikiater yang pernah menangani perilaku seks menyimpang pastor-pastor itu bahkan menyebutnya “psiciatric phenomena“, atau fenomena psikiatris.

Sebutan ini menyimpan kengerian tersendiri. Sebuah perilaku disebut “fenomena” jika ia sudah jamak terjadi, dan dalam kasus ini ada indikasi perilaku tersebut diam-diam dimaklumi oleh sesama pastor. Gak berlebihan, sebab Kardinal Law, uskup Boston saat itu, ternyata mengetahui penyimpangan seksual para bawahannya tersebut, dan gak melakukan tindakan yang semestinya.

Ironis, sebab perilaku amoral tersebut justru dilakukan oleh pemuka Gereja, orang-orang yang biasanya berkhotbah tentang kasih sayang dan moralitas.

Dalam film berdurasi 128 menit itu diceritakan juga bahwa sejak tahun 70-an Pastor Law harus turun tangan menyelesaikan kasus-kasus yuniornya yang ketahuan melakukan pelecehan terhadap anak-anak. Ia berurusan dengan polisi, jaksa, dan pengacara, dan semuanya bisa “diselesaikan”. Anehnya, sejak tahun itu hingga awal 2000-an gak ada satu orang pun yang berani bicara kepada publik.

Sebagian malu, sebagian lagi karena sudah mendapatkan kompensasi.

Buku: The Art of Thinking Clearly

“Itu tema jelek. Gak menarik. Kita pernah nerbitin buku kayak gitu. Gak laku!”

Source: https://www.wandersmurf.com/book-review-the-art-of-thinking-clearly/

Saya selalu menganggap masukan dari para senior di tempat kerja sebagai pertimbangan wajib dalam mencari tema buku. Dan, setiap kali tema yang saya temukan dikomentari demikian, saya urung menindaklanjutinya.

Tapi, itu dulu.

Belakangan, saya berpikir ulang. Apa benar naskah dengan tema tertentu tak layak diterbitkan hanya karena pernah ada buku bertema sama yang gagal di pasaran?

Saya tak sedang mempertimbangkan selling point sebuah tema. Itu terlalu teknis untuk kita bincangkan di sini. Yang saya kritisi adalah cara berpikir kita terkait sebab kegagalan itu.

Sebuah buku bisa sangat laris di pasaran. Bisa pula gagal segagal-gagalnya. Ada faktor X yang bermain di sana. Tapi, ada juga faktor-faktor yang bisa dibaca bahkan saat ia masih berupa gagasan mentah.

Faktor kegagalan sebuah buku bisa tunggal, bisa pula kompleks. Bisa berhubungan dengan tema, fokus bahasan, sudut pandang, konsep penulisan, gaya tutur, strategi promosi, dan pola distribusinya.

Beberapa hari ini saya sedang membaca sebuah buku bestseller internasional. Judulnya The Art of Thinking Clearly (Harper, 2013). Penulisnya Rolf Dobelli. Buku ini menguraikan kesalahan-kesalahan berpikir yang pernah, sering, atau biasa kita lakukan.

Salah satu kesalahan berpikir yang mungkin tak sekali-dua kali kita lakukan adalah availability bias. Availability bias terjadi ketika sebuah peristiwa, baik yang dialami sendiri maupun orang lain, begitu membekas di benak kita.

Peristiwa itu kemudian menjadi semacam parameter untuk menentukan layak-tidaknya sesuatu dilakukan. Memutuskan sesuatu berdasarkan parameter ini sering kali bersifat otomatis atau spontan.

Contoh kesalahan berpikir ini adalah ungkapan seseorang bahwa kampanye anti-rokok hanyalah omong kosong belaka. Ia beranggapan demikian sebab kakeknya, seorang perokok berat sejak usia muda, masih tetap sehat di usianya yang sudah kepala delapan.

Menurut orang tersebut, ketiadaan dampak negatif rokok bagi kesehatan telah dibuktikan oleh kakeknya. Alam bawah sadarnya menutup mata terhadap ratusan atau mungkin ribuan orang lain yang sistem pernapasannya terganggu akibat rokok.

Dalam availability bias, kita “menciptakan gambaran tentang dunia menggunakan contoh yang paling mudah terlintas di kepala” (Rolf Dobelli, 2013).

Terkait tema naskah di atas, senior saya mungkin memiliki pengalaman pribadi yang sangat membekas di benaknya. Dan, setiap kali ada usul untuk menerbitkan naskah dengan tema itu, secara spontan ia mengkritisinya –secara unfair.

Ia bersikap underestimate terhadap tema tersebut, lalu melakukan generalisasi yang tak perlu terhadap naskah-naskah yang mengangkat tema identik. Pada saat yang sama, ia menunjukkan gelagat overestimate terhadap tema-tema lain dan menganggap naskah dengan tema-tema itu layak dipertimbangkan.

Tema hanyalah satu di antara sejumlah unsur yang membuat sebuah naskah dinilai potensial atau tidak. Menyatakan sebuah naskah jelek hanya karena tema yang diangkat sama dengan produk yang dinyatakan gagal tentu menyesatkan.

Bisa jadi tema yang dianggap jelek itu sebenarnya bagus. Hanya saja ia disajikan dalam sebuah naskah yang fokus bahasan, sudut pandang, konsep penulisan, gaya tutur, strategi promosi, dan pola distribusinya tak tepat.

Buku: How to Win Friends

Nama Dale Carnegie pertama kali saya kenal saat duduk di bangku SMA. Saat itu saya membaca karyanya yang berjudul Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain (terjemah dari How to Win Friends and Influence People) di perpustakaan yang, seperti umumnya perpustakaan di negara kita, pengap dan sepi.

Ada sejumlah pertanyaan saat saya membaca tulisan “international bestseller” di cover buku itu. Apa sih menariknya buku yang kertasnya sudah kusam itu? Cara bertuturnya formal, pilihan katanya jadul, dan tak ada satu pun halamannya yang bergambar. Maklum saja, kala itu saya sedang suka-sukanya membaca komik Kungfu Boy, Dragon Ball, atau semacamnya.

Judulnya juga tak menunjukkan sesuatu yang unik. Mencari kawan? Saya tak pernah kekurangan kawan. Mempengaruhi orang lain? Buat apa?

Namun, membaca poin-poin penting buku itu di sampul belakangnya, saya punya firasat itu adalah buku yang bagus.

Baca juga:
Saatnya Berhenti Membaca
Numpuk Buku

Benar, ternyata. Saat membaca kisah-kisah di dalamnya, saya mulai menemukan daya tarik buku itu. Penulis, yang juga seorang trainer, menggunakan banyak kisah nyata untuk meyakinkan pembaca terhadap gagasan-gagasannya, baik itu berdasar pengalamannya sendiri, kawan, tetangga, atau mantan kliennya.

Meski hanya potongan-potongan cerita, Penulis tampak lihai menyampaikannya: alurnya ringan, logikanya rapi, dan konflik-konfliknya berbobot. Untuk saya yang masih SMA, bukan hal yang sulit untuk memahami gagasan Penulis di buku itu.

Beberapa kalimat indah di dalamnya lalu saya tulis di buku catatan. Sebagian malah ada yang saya hafalkan.

Aktivitas mengaji dan selanjutnya kuliah membuat saya, selama beberapa tahun setelah perkenalan dengan buku itu, melupakannya. Yang tersisa hanyalah ingatan tentang sebuah buku yang inspiratif.

Saya tak ragu menyebutnya inspiratif, karena buku itu mengubah perspektif saya dalam memandang orang lain. Dan yang paling penting, membuat saya sadar bahwa semua orang, serendah apa pun derajatnya di mata manusia, tetap memiliki hasrat untuk dihargai. Atau dalam kalimat Penulis, “rasa dahaga untuk diapresiasi”.

Saat bekerja di penerbit dan sering berkunjung ke toko buku, saya berjumpa lagi dengan buku itu. Saya langsung ‘kangen-kangenan’. Saya bolak-balik halamannya dan saya baca kembali kisah-kisahnya.

Saya juga membeli buku-buku lain karya penulis yang sama, yang beberapa di antaranya saya hadiahkan ke teman-teman. Sekarang, kalau ada teman yang bertanya buku apa favorit saya, saya tak ragu menyebutnya.

how-to-win-friends-and-influence-people
Source: http://scbks.blogspot.sg/

Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain disebut-sebut sebagai salah satu buku bestseller sepanjang masa. Buku itu pertama kali dicetak pada 1936 di Amerika Serikat. Hingga saat ini, ia sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan terjual puluhan juta kopi. Buku-buku pengembangan diri yang terbit belakangan, terutama yang mengangkat tema komunikasi interpersonal, banyak merujuk pada buku itu.

Di buku itu, kita berkali-kali diingatkan agar pandai mengendalikan ego dan bersimpati secara tulus pada orang lain. Kesuksesan dalam banyak hal mustahil diraih jika kita terpaku pada upaya memenangkan ego kita sendiri, lalu memaksa orang lain agar menuruti kemauan kita. Seolah dunia hanya bisa bergerak dengan izin kita dan orang lain cuma menumpang tinggal.

Sebuah prinsip yang relevan dengan dunia kerja, tapi bisa juga diterapkan dalam lingkungan yang lebih luas.

Membolak-balik buku itu mengingatkan saya pada literatur tasawuf akhlaqi. Melihat latar belakang penulisnya sebagai seorang pengusaha, menarik saat kita mencermati uraiannya tentang keikhlasan.

Benarkah keikhlasan masih punya tempat di dunia kerja? Lebih dari itu, apakah keikhlasan bisa menggantikan etos yang selama ini hampir-hampir dianggap sebuah kewajaran dalam dunia kerja, yaitu terpenuhinya keserakahan manusia?

Keikhlasan sering dikaitkan dengan ajaran agama. Membaca uraian tentang keikhlasan sama dengan membaca doktrin agama. Karena sebagian orang lebih senang menjaga jarak dengan agama (alasannya: agama itu irasional dan kuno), mereka pun menganggap keikhlasan tak lebih dari omong kosong.

Menurut saya, di sinilah salah satu daya tarik buku ini. Meski tak bicara dalam konteks keagamaan, Penulis menekankan keikhlasan sebagai kunci sukses dalam usaha meraih cita-cita apa pun.

Ia tak segan mengutuk keserakahan dan fanatisme terhadap kepentingan pribadi sebagai biang kerok hancurnya masa depan, dan menyebut keikhlasan sebagai pembuka kebahagiaan.

Kita mungkin akrab dengan ceramah para ustadz tentang keikhlasan. Tapi, bagaimana jika hal yang sama kita dengar dari pengusaha yang umumnya menjadikan materi sebagai ukuran kesuksesan bahkan tujuan hidupnya?

Dengan membaca buku ini, kita akan tahu, bahwa orang yang terbiasa hidup di lingkungan yang mengagungkan kenikmatan dunia bisa punya keyakinan: di balik gemerlapnya materi ada hal-hal imateri yang perlu dipikirkan.