Tanda-tanda


Hai, Nak.

Apa kabar?

Bagaimana belajarmu? Semua baik-baik saja, bukan?

Sekarang adalah minggu terakhir bulan Agustus 2020, tepatnya hari Kamis tanggal 27. Aku datang lebih pagi dibanding teman-teman seruangan. Tadi aku berpamitan padamu saat kau dibujuk ibumu untuk segera memakai baju. Kami berbagi tugas, sebelumnya aku yang memandikanmu.

Sebentar lagi kita ada di pengujung tahun, Anakku. Tak terasa, seperti baru kemarin kita melewatkan malam pergantian tahun.

Aku tak pernah menduga tahun ini menjadi tahun yang berat. Sejak Maret kemarin aku bekerja dari rumah, teman-temanku juga sama, bahkan orang-orang di seluruh dunia. Saat-saat seperti ini tanggal merah seperti biasa saja, tak ada sensasinya.

Aku tak lagi menunggu-nunggunya, dan tak pernah lagi membuat rencana untuk kita jalan-jalan bersama. Wah, aku baru ingat, kita sudah enam bulan tak pernah ke wahana permainan kesukaanmu: bermain pasir, naik mobil-mobilan, atau mandi bola.

Saat lebaran dan hari raya kurban pun kita tak pulang kampung. Bahkan ke rumah Bude di Bogor kita tak berani. Kita benar-benar dihantui oleh benda superkecil dan sialan itu, coronavirus. Kita jadi selalu curiga dengan gagang pintu, uang cash, tombol lift, bahkan udara yang kita hirup.

Bosan rasanya berdiam diri di rumah. Ibumu juga entah berapa kali mengatakannya. Tapi apa boleh buat, pandemi ini memaksa kita untuk menahan diri. Lagipula lama-lama dia terbiasa, kecuali belanja ke warung atau tukang sayur. Selebihnya paling minimarket dan danau kecil favoritmu.

Atasanku di kantor mendapat informasi dari koleganya bahwa pandemi ini mungkin baru berakhir dua sampai tiga tahun lagi. Artinya, baru pada tahun 2024 kita akan bebas sepenuhnya dari masker (yang pagi ini hampir saja kulupakan), hand sanitizer, dan social distancing.

Yang mengkhawatirkan, banyak perusahaan dalam dua atau tiga tahun ke depan yang mungkin bertumbangan. Termasuk perusahaan tempatku kini bekerja. Dengar-dengar jika tak ada perubahan drastis yang kami lakukan, kami hanya bisa bertahan sampai akhir tahun.

Aku sih pasrah saja. Tawakal. Ikhtiar tetap kita lakukan, dan insya Allah yang terbaik yang akan kita dapatkan. Masa-masa sulit mungkin akan kita hadapi, tapi jangan sampai kita hidup seakan-akan tak punya Tuhan. Ya, ya, mungkin sekoci memang sudah saatnya kita siapkan.

Bismillah saja. Kita orang-orang kuat, Nak. Kakek-kakek kita bukan orang sembarangan, nenek-nenek kita juga. Lain kali aku akan bercerita tentang kakek-nenekmu dan orangtua-orangtua mereka yang luar biasa. Kautahu, salah seorang buyutmu adalah pejuang.

Itu baru kutahu beberapa minggu lalu. Tak pernah kusangka, mereka yang dipuji-puji dalam lagu nasional karena pengorbanannya memerdekakan negara ini, salah satunya adalah kakek kita. Aku bangga sekali, meski aku tahu kakek meregang nyawa akibat dibedil tentara Belanda.

Kakek-nenek kita memang hidup di zaman yang berbeda dengan kita, dengan masalah-masalah yang tak sama. Tapi, semoga kita punya semangat dan daya juang yang sama untuk menghadapi semua itu. Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus’aha. Bukankah begitu?

Hari ini aku ingin menyelesaikan sisa tugas yang belum sempat kuselesaikan: mencari alternatif judul. Kemarin lusa atasanku sampai ke ruangan dan menanyakannya. Kami berharap banyak pada buku ini. Semoga semuanya lancar sesuai harapan.

Aku berharap demikian sebab dua buku sebelumnya, yang sudah selesai dikerjakan oleh redaksi, gagal terbit gara-gara penulisnya bermasalah. Luar biasa memang, di tengah situasi yang tak menentu seperti sekarang, ada saja tambahan masalah yang datang.

Tapi bagaimanapun, Nak, kita harus berterima kasih. Aku yakin ada sesuatu di balik gagal terbitnya naskah-naskah itu. Dan apa pun yang ada di belakang semua itu, pasti sesuatu yang baik.

Sekarang aku hanya masih menebak-nebak: Apakah ini pertanda itu?

Hai, Ramadan!


Terima kasih mau menemuiku lagi.

Aku punya banyak cerita untukmu. Seperti tahun kemarin, aku harap kau ada waktu untuk duduk-duduk bersamaku; berbagi cerita tentang cinta, mimpi-mimpi, dan kenangan.

Source: pixabay.com

Aku sebenarnya ingin menulis cerita-ceritaku beberapa minggu yang lalu, saat momen-momen yang tepat menyapaku. Tapi, pekerjaan benar-benar tak menyisakan waktu untukku. Jangankan menulis cerita, mengganti celana dalam saja aku sering lupa.

Kau tahu, setahun ini aku mendapat banyak sekali pelajaran. Kalau aku bandingkan dengan sembilan tahun sebelumnya, setahun belakangan jauh lebih mendewasakan. Aku bersyukur. Itu artinya, aku menghemat sembilan tahun usia hidupku untuk mendapatkan pelajaran yang baru.

Satu tahun ini juga membawa banyak perubahan dalam diri orang-orang terdekatku. Teman akrabku di pesantren dulu, Rosydan, akhirnya menimang bidadari cantik setelah tujuh tahun menikah. Aku yang dulu ikut merasa kesepian setiap kali berkunjung ke rumahnya ikut bahagia.

Temanku yang lain, tandem bolos terbaik di kelas bahasa Arab dulu, Enjang, menikah bulan Agustus lalu. Saat datang di resepsi pernikahannya yang baru diadakan minggu lalu, aku lihat istrinya sedang hamil enam bulan. Anehnya, bukan hanya sang istri yang terlihat berbadan dua, tapi juga temanku itu! 😀

Kabar baik yang lain datang dari seorang teman kantor. Deffi, yang selama ini selalu menghasilkan desain keren untuk cover buku-buku yang aku dan teman-teman lain edit, memilih untuk lebih berkonsentrasi dengan usahanya. Ini sebenarnya menyedihkan. Saat kami sedang butuh-butuhnya desainer andal, kami justru kehilangan.

Tapi, kami mencoba melihat dari kacamata teman kami itu. Kesempatan untuk berkembang tak pernah datang dua kali. Karenanya, kapan pun itu, jika kesempatan tersebut menghampiri, kita harus mengambilnya. Akan ada risiko, tentu. Tapi, bukankah di situ menariknya hidup? 

Anyway, jangan mengira Deffi gadis cantik yang gemar bersolek; dia laki-laki tulen, brewok, dan sudah beranak dua!

Oh ya, hampir aku lupa. Keponakanku yang dulu biasa bermanja-manja kepada mama-papanya, kini sudah lebih bisa mandiri. Ia sekarang tinggal bersama om dan neneknya di Malang. Setelah beberapa bulan mogok sekolah, orangtuanya sepakat memboyong anak sulung mereka itu ke kotaku yang penuh kenangan.

Bagaimana dengan diriku? Selain motor bututku yang terus menua –ini yang beberapa minggu terakhir paling kurasakan dampaknya, tak ada yang banyak berubah.

Aku masih tinggal di kos yang sama, bekerja di kantor yang sama, dan mengetik di laptop yang sama. Tapi, ini yang aku sadari. Yang tak kusadari, aku tak tahu. Untuk beberapa hal dalam hidup, aku memang tak mau tahu.

Ramadan, seperti aku bilang, aku akan bercerita banyak kepadamu. Selama tiga puluh hari nanti, aku harap kau tak terburu-buru pergi.

Jika bukan sekarang, kapan lagi kita menghabiskan waktu bersama?

Kukusan-Ciganjur, 29 Sya’ban 1434 H

Untuk Anakku (2)


Assalamualaikum, Nak. Apa kabar? Terima kasih sudah meluangkan waktu, dan maaf kalau aku mengganggu istirahatmu. Aku janji, ini tak akan lama. Kau mungkin sudah sampai di baris terakhir surat ini sebelum terpikir untuk beranjak dari tempat dudukmu.

Photo by Zach Damberger on Pexels.com

Sebelumnya, aku ingin sampaikan salam dari ibumu. Alhamdulillah, kami di rumah baik-baik saja. Semua sehat. Minggu lalu ibumu malah baru mendapat arisan di kelompok mengajinya. Keberuntungan yang aneh, sebab ia tak pernah terlihat mengharapkannya.

Apa kabar guru-gurumu? Semoga Allah selalu menjaga dan mencukupi kebutuhan mereka. Tolong sampaikan permintaan maafku. Sudah beberapa bulan ini aku belum juga menemukan waktu untuk mengunjungi mereka.

Akhir pekan kemarin sebenarnya ingin kami habiskan di Malang, setelah terlebih dulu singgah di Jogja. Meski tak bisa lama, kami ingin menemui guru-gurumu dan melihat keadaanmu. Sayangnya, rencana itu harus kami batalkan, karena suatu alasan.

Aku tak perlu menjelaskan. Kau sudah tahu, bukan?

Ada banyak yang ingin kulakukan di Malang. Terutama menjumpai teman-teman seperjuangan dulu. Sudah belasan tahun kami tak pernah bersua.

Hampir setiap hari aku ingat mereka. Orang-orang yang ada tak hanya saat aku senang tapi juga saat kesusahan. Aku tak sedang meromantisasi, sebab tentu saja mereka selalu ada, karena kami tinggal di tempat yang sama.

Satu kamar, satu kelas mengaji, satu kelas sekolah, satu kamar mandi. Satu tempat untuk semua. Dua puluh empat jam sehari, tiga tahun lamanya.

Sering saat membuka-buka catatan masa lalu, aku menemukan kenangan tentang mereka. Tentang satu atau dua nama yang membuatku tertegun, tersenyum, kadang juga menitikkan air mata.

Bagaimana kabar mereka sekarang?

***

Aku ingat, pernah saat mengaji aku marah pada teman-temanku.

Saat itu guruku menugaskanku untuk menemani mereka belajar. Kami disatukan ke dalam suatu kelompok. Dan tanggung jawabku adalah memastikan (ya, memastikan!) mereka memahami pelajaran.

Kau harus mengerti keadaanku saat itu, Nak. Aku marah, karena meski berkali-kali kujelaskan kembali pelajaran yang telah disampaikan oleh guruku, mereka tak juga paham.

Itu masalah, tentu. Kalau sampai guruku melempar pertanyaan pada mereka dan mereka tak bisa menjawab, aku yang akan kena hukuman.

Aku merasa dicurangi. Sebab dari lima orang temanku di kelompok tersebut, lima-limanya manusia ajaib. Maaf kalau aku bersikap kasar; mereka biang onar semua.

Kau tahu apa artinya? Artinya, dengan menjadi ketua kelompok, dijamin aku sering ketiban sial, karena kebebalan mereka.

Saat itu aku merasa guruku berlaku tidak adil padaku …

***

Bertahun-tahun kemudian, setelah lama berpisah dengan guru dan teman-temanku, aku baru mengerti. Bahwa menemani mereka di ‘grup neraka’ itu ternyata membawa pemahaman yang sepenuhnya baru dalam hidupku.

Bukan hanya bagaimana membantu mereka memahami pelajaran, tapi yang jauh lebih penting adalah membuatku tergerak untuk mengerti, merasakan, dan terlibat dalam pengalaman ‘menjadi’ diri mereka.

Dan pelan-pelan, aku sampai pada sebuah sudut pandang.

Kelak setelah lulus dari pesantren dan bergaul dengan bermacam-macam orang, aku sangat berterima kasih karena pengalaman ini. Dan kepada guru yang telah memasukkanku ke dalam situasi serba tak nyaman itu, aku benar-benar berutang budi.

Menemani mereka di kelompok itu adalah sebuah latihan menempatkan diri. Latihan menghadapi orang. Latihan sabar dan telaten. Latihan berlaku bijak dan tawadhu’.

Latihan memberi manfaat pada sesama.

Apa pun keadaannya.

Aku pun kemudian sadar. Bahwa pandai dalam pelajaran ternyata bukan segala-galanya. Itu mungkin bawaan seseorang sehingga ia mudah menangkap penjelasan gurunya. Di pesantren, seperti kata kyaiku, itu nomor 27. Yang jauh lebih penting dari itu adalah adab. Bagaimana sikap yang baik terhadap gurumu, temanmu, benda-benda di sekitarmu.

Selama itu aku ternyata salah paham. Merasa lebih hebat dari teman-temanku, hanya karena mudah memahami pelajaran dan piawai menjelaskan ulang.

Aku menyesal. Sebab, mereka yang lebih santun tutur katanya dan lebih sopan tindak-tanduknya sangat mungkin lebih bermanfaat dan berkah ilmunya.

Nanti, Anakku, kalau gurumu memberikan tugas padamu, laksanakanlah dengan riang-gembira. Jangan hanya taati, tapi nikmati. Nikmatilah tugas itu seakan kau tahu kebaikan apa yang akan kau terima setelah melaksanakannya.

Aku mengirimmu ke tempat yang jauh bukan agar kau pandai dalam pelajaranmu. Bukan agar kau piawai memuntahkan dalil-dalil. Aku ingin, Anakku, kau memungut lembar demi lembar keberkahan dari orang-orang alim dan ikhlas yang ada di sekitarmu.

Nah, Nak, sampai di sini dulu perbincangan kita. Kapan-kapan, jika aku belum juga punya waktu untuk mengunjungimu, surat yang lain akan kukirimkan untukmu.

Tamu-tamuku sudah menunggu.

Ingat, hormati gurumu. Kalau kau tak bisa menyenangkan hati mereka, setidaknya jangan membuat mereka marah padamu.

Salam.


Untuk Anakku (1)


Assalamualaikum, Nak. Bagaimana kabarmu? Semoga sehat-sehat selalu.

Akhir-akhir ini cuaca sering tak menentu. Dua minggu lalu aku terserang flu, dan seminggu berikutnya giliran ibumu yang menggantikan sakitku.

Kamu jaga kesehatan, ya!

Aku tak sedang menulis sesuatu yang mendesak. Jadi, kau tak perlu buru-buru membaca surat ini.

Aku hanya ingin sedikit bercerita tentang anugerah Allah yang Dia titipkan padaku, dan ibumu. Sesuatu yang berada di luar angan-angan kami. Sesuatu yang mengubah warna kehidupan kami.

Sesuatu itu adalah kamu.

***

Photo by Johannes Plenio on Pexels.com

Aku masih ingat. Malam itu, aku hanya bisa berserah.

Ibumu sudah merasakan nyeri yang menyiksa beberapa hari sebelum aku pulang. Sendirian menahan sakit menjelang hari kelahiranmu. Sementara aku, paling-paling hanya susah tidur. Tak sebanding, aku akui.

Begitu sampai di rumah dan menjumpainya, malam itu aku tak bisa memejamkan mata. Kami pun melewati sepi hanya dengan berpandangan, bertukar senyum, dan sesekali saling menyuruh tidur.

Malam terpanjang dalam hidupku.

Kau lahir dari rahim yang mulia, Anakku, dari seorang ibu yang luapan kasih sayangnya tak terkira. Seumur hidup, mungkin baru kali itu ia mempertaruhkan nyawanya; untuk sebuah harapan yang kami genggam sejak mengucap janji setia.

Kau akan menemukan banyak kekurangan dalam diri kami berdua, tak lama setelah melewati beberapa kali ulang tahunmu. Watak kami yang sedikit kaku akan kau keluhkan. Juga kemampuan kami yang tak selalu bisa membuatmu bahagia.

Namun, kau harus tahu, kami membesarkanmu dengan segala yang kami bisa.

Itu tak mengharuskanmu memaafkan banyaknya kekurangan kami. Tapi, orang hebat mana pun, Anakku, tak hanya dibentuk dengan belaian tapi juga tempaan.

Ini mungkin agak terburu-buru kusampaikan. Tapi, kelak setelah membaca surat ini, aku harap kau mengerti apa yang saat ini kubicarakan.

Kami ingin kau menjadi seorang anak yang kuat. Tak layu hanya karena sanjungan, atau meranggas hanya gara-gara sebuah kritikan.

Kau adalah harapan kami. Kau terbit di tengah kebahagiaan yang tercipta dalam sebuah perjalanan yang kami mulai.

Ada cinta di hati kami, yang seiring berjalannya waktu menjelma gugusan awan dan pohon-pohon rindang yang meneduhkan jalanmu.

Kami tak mencita-citakan seorang anak yang luar biasa. Kau tak perlu khawatir tentang itu.

Kau hanya perlu tumbuh.

Tumbuhlah sesuai inginmu. Tanpa takut kami marahi karena nilai Matematikamu yang buruk atau hasil ujianmu yang sekadar cukup untuk lulus.

Orangtua lain mungkin tertawa jika tahu kami tak menuntutmu begini dan begitu. Tapi, akhir-akhir ini aku menyaksikan sendiri anak-anak yang kehilangan tahun-tahun terbaik mereka hanya karena gengsi orangtuanya.

Kau punya hidup sendiri, Nak. Kau punya masa depan yang berbeda dengan kami. Jadi, jalani hidupmu dengan penuh kebahagiaan. Dengan senyuman dan hati yang lapang.

Kalau kau camkan betul kata-kataku ini, aku yakin, selamanya kau tak akan menyesal.

Masalah mungkin silih berganti menghampirimu, tapi seperti semua yang datang dalam hidup, saatnya nanti semua itu akan berlalu.

Sudah, ya. Kapan-kapan Ayah akan mengirim lagi sepucuk surat untukmu.

Salam.

Apa Kabar, Zuhda?


Kau sehat, Nak? Bagaimana kabar ayah-ibumu? Semoga baik-baik saja.

Source: pixabay.com

Sudah lama aku tak bertemu mereka, berbincang-bincang, bahkan sekadar bertegur sapa. Untuk saat-saat seperti ini, biasanya aku mengkambinghitamkan jarak. Tapi kali ini, kesibukan agaknya bisa kujadikan alasan.

Sekarang bulan Oktober, awal musim hujan tahun ini. Aku tak tahu, mungkin tak pernah tahu, kapan kau akan membaca suratku ini. Sepuluh, lima belas, atau dua puluh tahun lagi. Yang pasti, ini yang aku ingin kau tahu, aku menulis surat ini setelah teringat tahun-tahun pertama aku mengenal ayahmu, lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Sepuluh tahun bukan waktu yang lama, Nak. Ketika kau beranjak dewasa, tahun demi tahun akan berlalu dengan cepat. Kau yang dulu tak sabar dengan masa kanak-kanakmu akan terkejut melihat perubahan di sekelilingmu. Tapi bagiku, di antara banyak hal yang berubah dalam sepuluh tahun ini, pertemananku dengan ayahmu masih seperti dulu.

Kalau kau pernah bertanya dalam hati, siapa orang yang paling bahagia di
dunia ini, akulah orangnya. Kau tahu kenapa? Karena aku, orang dungu yang sombong dan egois ini, pernah mengenal ayahmu. Aku tak perlu ragu mengatakan bahwa masa-masa terbaik dalam hidupku adalah saat berteman dekat dan kulewati bersama ayahmu.

Aku tak sedang berbicara tentang seorang pria yang jenius dan memiliki
banyak kelebihan. Tidak, tidak, ayahmu tak sesempurna itu. Aku sering
berbincang-bincang dengannya dan, hai, aku bahkan pernah sekelas dengannya! Aku mengerti cara berpikirnya. Aku sering melihatnya berpendapat dan bagaimana ia mempertahankannya.

Kalau kau mencari sosok superhero yang cemerlang dan selalu juara, ayahmu bukan orangnya. Tapi kalau kau mendambakan manusia biasa, yang seakan-akan tak mampu menampilkan dirinya sebagai figur yang pantas dipuja tapi sanggup membuatmu merasa menjadi orang yang paling bahagia di dunia, kau sudah memilikinya.

Ayahmu adalah orang yang istimewa …

Saat kanak-kanak dan remaja, kau mungkin tak menyadari hal ini. Tapi nanti, saat kau cukup usia untuk memahami betapa beruntungnya dirimu memiliki seseorang yang mau mendengar, mengerti, dan menemani saat kau berada dalam masa-masa sulit, kau tak akan berhenti bersyukur memiliki ayah sepertinya. Hidupmu akan terasa cukup, Anakku.

Aku tak sedang membual. Kalau kau menganggapku melebih-lebihkan, tunggu saja sampai kau berjalan di sebuah lorong yang sempit, gelap, dan panjang. Tunggulah sampai kau merasa hidupmu sangat berat dan langkahmu begitu melelahkan; sebuah tangan yang hangat akan menuntunmu, memegang erat bahumu, dan menenangkanmu.

Itu adalah tangan ayahmu.

Ia mungkin sama bingungnya denganmu. Yang pasti, Anakku, ia tak akan
meninggalkanmu. Kami menjalani masa muda bersama-sama. Kami berdiskusi tentang apa saja. Membicarakan keyakinan, membincangkan pemikiran. Mengenang masa silam, menertawakan masa depan. Sesekali, kami juga berkhayal tentang seorang gadis pujaan. Kami melewati hari dengan banyak cerita, kadang dengan kepolosan, juga kebodohan.

Bersama-sama.

Kapan pun, Anakku, kau merasa hidup tak cukup adil padamu, temuilah ayahmu. Cium tangannya, ceritakan semua padanya. Ia akan setia mendengarkan keluh kesah dan kekhawatiranmu. Ia akan ikut merasakan bebanmu. Dan kalau kau tak cukup beruntung, ia juga akan membaca rahasia di balik ucapan dan sikap yang sengaja kau tutup rapat itu.

Ayahmu melihat dengan telinganya dan mendengar dengan matanya. Itu yang membuatnya berbeda.

Jakarta, 29 Oktober 2014

Apa Kabar, Pak?


Aku baik-baik saja di sini, Neng juga.

Akhir-akhir ini, banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Bertemu penulis, membuat laporan pertanggungjawaban, juga menyunting naskah yang harus terbit bulan depan. Itu sebabnya, baru sekarang aku bisa menulis surat untukmu.

Source: pexel.com

Neng titip salam buat Bapak. Dia bilang, masalah Ariq sudah ketemu jalan keluarnya. Alhamdulillah, setelah dibawa ke psikolog, akhirnya dia mau sekolah juga. Sekarang, hampir tiap malam kami BBM-an.

Curhat tentang gebetannya yang baru. ABG labil, seperti kita dulu.

Hari ini, umurku bertambah lagi, Pak. Untung di Facebook dan Twitter aku tak menyantumkan tanggal lahir. Gawat kalau ketahuan orang-orang, bisa diseret aku nanti ke kamar mandi, atau kalau tidak disuruh bayar makan siang.

***

Pak, besok aku akan pulang. Sudah setengah tahun aku tak menjenguk Ibu. Kangen.

Aku kadang berpikir, betapa durhakanya aku pada kalian. Setelah membesarkan, menjaga, dan mendidikku sepenuh hati, kalian malah kutinggalkan. Bagaimana perasaan kalian saat melepasku pergi dari rumah?

Neng bilang kalau Ibu sekarang sakit-sakitan. Gula darahnya semakin sulit dikontrol. Tubuhnya kurus, ubannya merata. Aku selalu ingat Ibu setiap melihat wanita seusianya di televisi atau di jalan.

Apa yang sedang ia pikirkan sekarang? Apa yang sedang ia harapkan?

Kalaupun aku tahu, Pak, aku tak yakin bisa banyak membantu.

Aku memang tak berguna. Hanya uang bulanan yang tak seberapa yang bisa kukirimkan. Padahal di usianya yang sekarang, Ibu tak hanya butuh uang.

Kasih sayang, itu yang sangat Ibu dambakan. Betapa durhakanya aku, yang membiarkan wanita paling berjasa dalam hidupku menjalani hari tuanya dengan kesepian.

Besok, aku akan bertemu Ibu kembali, insya Allah. Ada berita baik sekaligus berita buruk yang akan kusampaikan. Berita baiknya, aku sekarang sudah diangkat menjadi karyawan tetap. Aku harap, Ibu senang mendengar ini.

Berita buruknya, gajiku tak ada kenaikan. Hihi… Status karyawanku saja yang berubah, yang artinya, uang bulanan yang kukirimkan ke rumah mungkin belum bertambah. Semoga Ibu tak kecewa.

***

Sayangnya, aku tak bisa bertemu denganmu, Pak.

Andai ada kesempatan untuk bersua, kau mungkin akan bicara panjang-lebar tentang jadwal pengajianmu yang padat dan murid-muridmu yang terus bertambah. Atau kalau sedang ingin berkelakar, kau mungkin akan menceritakan masa mudamu yang penuh pengalaman menggelikan.

Kita juga bisa berbincang tentang koleksi bukumu yang berjilid-jilid itu. Kau mungkin akan membuka percakapan tentang hadits-hadits. Kau memang punya banyak kitab hadits. Tapi, jangan salahkan kalau aku hanya banyak mendengarkan. Aku tak banyak mengerti tentang itu.

Tak terasa, Pak, sebelas tahun sudah kau tak bersama kami. Aku rindu. Sesampai di Malang nanti, aku berjanji akan menjengukmu. Akan kutabur segenggam melati di pusaramu dan kukirimkan doa untukmu. Semoga Allah mengabulkan permohonanku.

Suatu hari di 2015