Kerinduan Itu


Adakah sesuatu yang lebih menyiksa dari kerinduan?

Lelaki perkasa tersungkur akibat menahan rindu kekasihnya. Raja-raja kehilangan malu karena menahan gejolaknya. Para bijak bestari kehabisan kata-kata lantaran tenggelam dalam perasaan yang sama.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Sejak lama orang-orang mengagungkan cinta. Seakan cinta adalah kenyataan paling absolut yang tak terbantahkan.

Siapa pun yang merasakan cinta mungkin akan berpendapat sama, sampai mereka terpisah dengan sang kekasih dan terpaksa menahan diri untuk tak bertemu.

Saya sepakat cinta adalah jawaban untuk semua persoalan, tapi rindu boleh jadi akar dari segala permasalahan.

Apakah kemudian klop? Masalah apa pun yang muncul sebab kerinduan akan terjawab dan selesai begitu saja dengan hadirnya cinta?

Belum tentu.

Nyatanya, seorang perindu bisa jadi malah kehilangan cinta terhadap kekasihnya. Waktu membenamkannya dalam samudera kekaguman tak bertepi, dan ruang yang tanpa batas seakan membuatnya menggenggam erat hati sang kekasih.

Jadi, mana yang absolut?

Yang lebih menarik, justru dalam derita menahan rindu itu, seseorang menyatu dengan kekasihnya. Raga mungkin terpisah, tapi jiwa mereka bercumbu setiap saat, sepanjang waktu.

Cinta yang dulu kenyataan paling agung menjadi tanpa makna, sebab dalam penyatuan segala rasa tak lagi punya kuasa.

5 Original Soundtrack Paling Keren


Teman saya, yang dua tahun belakangan mengerjakan tugas-tugas freelance di kantor, heran dengan kebiasaan aneh saya: menonton film yang sama hingga berkali-kali.

“Apa gak bosan?” ujarnya. Itu adalah pertanyaan standar dari teman-teman lain yang juga baru tahu kebiasaan saya tersebut. “Apa asyiknya? Kan sudah tahu alur ceritanya?” buru mereka.

Iya, sih. Menonton film yang sama sampai berkali-kali pasti membuat bosan, apalagi kalau filmnya bukan film favorit kita. Tapi, itu kalau kita sekadar menonton, apalagi cuma killing time. Kalau kita punya maksud lain, yang kita rasakan pasti beda.

Tak Hanya Menonton

Saya suka romance dan action movie. Gak tahu deh berapa banyak film romance atau action yang saya tonton. Tapi, saya gak sekadar menonton. Saya juga suka mencari dialog, adegan, latar tempat dan waktu, serta alur cerita yang menarik di dalamnya.

Akibat kebiasaan menonton film yang sama berulang-ulang itu, saya jadi hafal dengan unsur-unsur yang ada dalam film tersebut. Tuntas dengan dialog, adegan, latar tempat dan waktu, serta alur cerita yang menarik, saya jatuh cinta pada soundtrack-nya.

Baca juga:
7 Lagu Lawas yang Paling Menyentuh
Mengapa Lagu Zaman Dulu Masih Enak Didengar?

Berkali-kali menonton film gak cuma membuat hafal dengan visual yang kita lihat, tapi juga akrab dengan audionya. Nah, dalam tulisan kali ini saya ingin sharing lagu apa saja yang paling saya sukai dalam film-film yang pernah saya tonton.

Mungkin ini sangat subyektif, tapi lagu-lagu yang melekat di telinga saya ini benar-benar bisa menghadirkan sebuah “dunia” yang unik, jauh, dan berbeda.

1. Ma L’Amore No (Malena)

Malena adalah film tentang istri seorang tentara Italia. Setelah bertahun-tahun menunggu kabar sang suami yang hilang di medan perang, ia akhirnya jatuh miskin. Meski sempat tertolong oleh kebaikan mertuanya, ia tak bisa menghindari jebakan nasib berikutnya, yang memaksanya menjadi seorang pelacur.

Tak tanggung-tanggung, pelanggannya adalah tentara asing yang berganti-ganti menguasai negaranya. Tentara Nazi Jerman, lalu tentara Sekutu. Profesinya sebagai wanita penghibur jelas menuai cibiran masyarakat, terutama dari kaum hawa, yang jengkel melihat laki-laki mereka kepincut.

Ma L’Amore No adalah lagu gubahan Giovanni D’Anzi. Liriknya ditulis oleh Michele Galdieri. Lagu ini pertama kali tayang dalam sebuah gambar bergerak yang berjudul Stasera Niente di Nuovo, pada 23 Desember 1942. Penyanyi aslinya bernama Alida Valli.

Berikut sebagian lirik lagunya.

Ma l’amore no
L’amore mio non può
Dissolversi con l’oro dei capelli
Fin ch’io vivo sarà vivo in me
Solo per te

2. Now We Are Free (Gladiator)

Yang paling menarik dari lagu ini adalah maknanya: tak ada seorang pun yang tahu. Dari semua unsur yang ada di dalamnya, hanya judulnya saja yang bisa kita mengerti. Mengapa demikian? Karena sang penyanyi, Lisa Gerrard, menggunakan glosalalia.

Glosalalia adalah bahasa yang diciptakan sendiri oleh sang penyanyi. Cara ini mirip dengan nyanyian bayi yang belum bisa bicara atau sekelompok penganut Kristen Pantekosta ketika sedang memanjatkan doa.

Saya pertama menonton Gladiator (2000) dalam format VCD, dan langsung suka dengan original soundtrack-nya. Sejak saat itu saya bertanya-tanya dalam bahasa apa lirik lagu tersebut dinyanyikan. Dan entah kenapa baru sekarang saya browsing dan menemukan jawabannya.

Russell Crowe bermain sangat apik dalam film ini. Dari keseluruhan filmnya, mungkin Gladiator adalah filmnya yang paling sukses. Ada kutipan bagus dalam salah satu dialognya di film ini, yang mungkin akan saya tulis dalam postingan berikutnya.

Berikut kutipan lirik lagu ini.

Anol shalom
Anol sheh lay konnud de ne um
Flavum
Nom de leesh
Ham de nam um das
La um de
Flavne …

3. L’appuntamento (Ocean’s Twelve)

Ocean’s Twelve (2004) adalah action movie paling sepi yang pernah saya tonton. “Yang paling sepi” maksudnya gak banyak tembak-tembakannya. Saya lupa tepatnya, gak banyak atau gak ada sama sekali. Meski begitu, film ini gak membosankan, bagus malah.

L’appuntamento menjadi lagu pembuka dalam film ini. Dikisahkan bahwa seorang maling profesional bernama Robert “Rusty” Ryan (Brad Pitt) berhasil mengelabui agen Europol cantik bernama Isabel Lahiri (Catherine Zeta Jones). Ia bahkan juga memacarinya.

Setelah menghabiskan waktu yang lama untuk menyelidiki pencurian sebuah koleksi langka, Isabel akhirnya menemukan sejumlah petunjuk tentang profil pelakunya: ukuran sepatu, rambut, dan selanjutnya DNA. Bagi Rusty, itu adalah petir di siang bolong.

Cerita kemudian berlanjut sangat menarik. Tentu jika kita bisa mengikuti ceritanya. Agar mudah memahami film ini, kita perlu menonton sekuel pertamanya: Ocean’s Eleven. Saya sendiri, meski sudah menonton film pertamanya, tetap saja harus mengulang-ulang film keduanya.

Nah, setelah mendengar sang kekasih menemukan titik terang pelaku pencurian itu, Rusty melarikan diri. Dalam adegan itulah (Rusty mengalirkan air bathtub agar berisik, lalu melompat jendela), L’appuntamento dimainkan.

Lagu ini pertama kali dipopulerkan oleh Ornella Vanoni, seorang penyanyi Italia, pada tahun 1970. L’appuntamento sendiri artinya the date atau kencan atau janji temu. Belakangan lagu ini juga dinyanyikan oleh Andrea Bocelli.

Berikut kutipan liriknya.

Sono triste tra la gente che mi sta passando accanto
Ma la nostalgia di rivedere te è forte più del pianto
Questo sole accende sul mio volto un segno di speranza
Sto aspettando, quando ad un tratto ti vedrò spuntare in lontananza

4. Let It Be Me (Flipped)

Let It Be Me populer saat dinyanyikan oleh Everly Brothers. Lagu ini mulanya dirilis tahun 1955 di Prancis dengan judul Je t’appartiens. Versi bahasa Inggrisnya diterjemahkan oleh Gilbert Becaud. Belakangan lagu ini juga dinyanyikan oleh duet Betty Everett dan Jerry Butler.

Namun, lagu Let It Be Me yang menjadi OST Flipped adalah versi yang lain lagi, yang dinyanyikan oleh Phil Everly. Seperti umumnya lagu-lagu keren yang menjadi OST sebuah film, lagu ini juga terletak di bagian akhir, mengiringi adegan penutup.

Let It Be Me sendiri merupakan film yang disutradarai oleh Rob Reiner hasil adaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Wendeline Van Dranen. Novel ini terbit pada tahun 2010 di Amerika Serikat. Versi filmnya pertama kali tayang di tahun yang sama.

Meski tema novel atau film ini klise, yakni cinta monyet anak-anak remaja, tapi pemilihan latar waktu yakni tahun 1950-an membuatnya istimewa. Kita diajak oleh penulis untuk merasakan suasana pemukiman serta pergaulan anak-anak remaja Amerika Serikat pada dekade itu.

Berikut cuplikan lirik lagu ini.

I bless the day I found you
I want to stay around you
And so I beg you, let it be me
Don’t take this heaven from one
If you must cling to someone
Now and forever, let it be me

5. Love Theme (Cinema Paradiso)

Ini adalah lagu favorit saya dibanding lagu-lagu sebelumnya. Meski belum pernah menonton filmnya (hehe, maaf), OST-nya terbaique.

Cinema Paradiso atau versi aslinya Nuovo Cinema Paradiso adalah film drama Italia karya Giuseppe Tornatore. Film ini pertama kali tayang pada tahun 1988. Oh ya, Giuseppe Tornatore juga merupakan sosok yang menyutradarai Malena.

Saya pertama kali menemukan lagu ini saat streaming lagu-lagunya Ann Akiko Meyers. Meski lagu-lagunya yang lain juga keren, Love Theme adalah juaranya. Apalagi sebagai violinis, Meyers terlihat sangat menjiwai saat membawakan lagu ini.

Saya sempat penasaran dengan pencipta masterpiece ini, tapi setelah mendengar nama Ennio Morricone, saya gak banyak berkomentar. Hanya kalimat, “Pantes … ” yang keluar dari bibir. Siapa yang gak kenal komposer gaek itu? Berbagai lagu keren lahir dari tangan dinginnya.

Morricone adalah sosok penting yang menjadi penata musik lebih dari 500 film dan acara televisi. Film-film yang menggunakan gubahannya sebagai OST antara lain A Fistful of Dollars (1964), For a Few Dollars More (1965), The Good, the Bad, and the Ugly (1966) dan Once Upon a Time in the West (1968). Keempatnya adalah film-film koboi Italia.

Film lainnya adalah The Thing (1982), Once Upon a Time in America (1984), The Mission (1986) Roland JoffeThe Untouchables (1987), Cinema Paradiso (1988), U Turn (1997), The Legend of 1900 (1998), Malena (2000), Mission to Mars (2000), Fateless (2005), Baaria-La porta del Vento (2009), dan tak ketinggalan Django Unchained (2012).

Segalanya, Untukku


Aku tahu, tak baik mengungkit-ungkit sesuatu yang telah lalu. Membiarkannya tenang di alam baka aku yakin pilihan yang tepat.

Lebih baik melanjutkan hidup dan berkonsentrasi dengan sesuatu yang takdir sudah pilihkan untuk kita. Buang jauh-jauh ingatan tentang “kita”. Dengan begitu, rasanya hidup akan sederhana, bukan?

Tak banyak drama, juga air mata.

Aku mungkin naif, tapi yang membuat beban hidup bertumpuk-tumpuk sebenarnya bukan apa yang kini datang mengampiri, tapi sesuatu dari masa lalu yang entah kenapa datang kembali.

Mungkin itu terdengar adil, mungkin juga tidak. Bagaimanapun yang kita kubur di liang itu bukan sebuah prasasti, tapi isi hati. Ya, kau akan berkata itu sama saja. Setelah sekian lama, prasasti atau isi hati sama-sama akan membatu. Seperti fosil binatang purba.

Diam dan mati.

Tapi, menurutku itu kesimpulan yang terlalu simplistis. Sebab, itu sama artinya kita menyamakan hidup dengan mati. Seakan hidup dengan gemerlap keindahannya tak ada beda dengan kematian yang gelap dan penuh teka-teki.

Bukankah benih yang dulu kita harapkan tumbuh dan berbuah itu pernah memiliki hidup?

Kau tak bisa mengingkari itu. Kau mungkin sangat ingin melupakannya. Tapi, melupakan itu sulit. Jadi, saranku, terima saja. Lagipula, dengan menerimanya kau tak harus melupakannya.

Ah, aku terlalu lama berputar-putar membicarakan omong kosong ini. Maaf.

***

Begini.

Aku pernah berpikir, kalau akhirnya seperti ini, mengapa dulu kita coba-coba memetik bunga itu, memecah benihnya, lalu menanamnya di tanah gembur hati kita. Kenapa tak kita abaikan saja? Tak ada harapan juga, kan?

Ada malam-malam hatiku terasa penuh dengan kenangan masa lalu kita. Ujung jilbabmu terus berkelebat di depan mataku. Kerling cahaya dari tatap indahmu membias di dinding-dinding hatiku. Caramu memanggil namaku serupa orkestra yang memainkan nyanyian surga.

Tapi, setiap kali ingatan membawaku terbang ke masa-masa itu, bukan hanya kegembiraan yang menggelayuti hatiku, tapi juga trauma. Kau tak perlu bertanya mengapa. Yang jelas, ketidakberanianku adalah biang keladi terbangnya mimpi-mimpi itu.

Mimpi-mimpi menggenggam tanganmu, juga hatimu …

Aku sudah memaafkan diriku sendiri. Tak apa, tak apa. Bagaimanapun kau adalah matahari yang terlalu menyilaukan untuk kutatap. Bintang kejora yang terlalu indah untuk kucuri. Langit yang terlalu tinggi untuk kuraih.

Saat itu, kau adalah segalanya untukku, tapi aku tak punya cukup kepercayaan diri untuk menawarkan masa depan padamu.

Aku menulis surat ini dengan sedikit emosi. Ya, aku marah oleh ketidakmampuanku, atau tepatnya ketidakyakinanku. Harusnya kusampaikan saja apa yang ingin kusampaikan, dan kulupakan saja apa yang seharusnya kulupakan. Bukan sebaliknya.

Kadang saat terbangun dari lelapnya tidur, bukan siapa-siapa yang kuingat, tapi kau. Itu agak aneh. Kau tak pernah benar-benar kudekati, apalagi kumiliki, tapi tahun-tahun ini kaulah yang rajin datang mengunjungiku. Entah kenapa.

Kadang ketika hadirmu semakin mengganggu, kulangkahkan kaki ke luar rumah. Kulayangkan pandang ke tempat yang jauh, dan dalam gelapnya malam itu, kubisikkan namamu. Aku tak pernah berharap bisa memilikimu, tapi semoga di kejauhan sana kau mendengar bisikanku.

Maafkan kejujuranku (atau kau lebih suka kata “kekurangajaranku”?). Aku tak ingin terlalu lama menyimpan bom waktu. Kalau ternyata akan meledak juga, lebih baik kunyalakan saja pemicunya sekarang. Dengan begitu, aku harap tempat, waktu, dan sasarannya tepat.

Tak ada korban-korban berjatuhan. Kalau sekadar keriuhan kecil di hati kita, semoga sang malam bisa memakluminya.

You Are Important


Some people think that their life is full of sorrow.

They have very bad relationship with their parents, dropped out from their school, and haven’t found a job they wish for.

There are times they feel that they are the most unfortunate human walking in the earth. They curse the destiny, they angry at God, and they question what kind of life do they have.

It’s like no need for them to continue their life. They think that the last day they live will be the day they are about to be independent.

I don’t know how to continue this, let alone finish it, but if you have the same feeling and think that your life has lost it’s meaning, remember this: you were born for a reason. It’s not only because your parents wanted you to be born, but also the world.

Yes, the world wanted you to be born. As a mercy of a mankind, or at least as a reason someone to smile.

You have to realize that you, even if people or even you yourself think that you are meaningless, in fact you are not.

You are important, the way you are.

Islam Populer: Antara Passion dan Prasangka


Hampir sepuluh tahun saya kerja di penerbit buku. Entah sudah berapa banyak naskah yang saya sunting. Kalau setahun saja saya menangani 12 naskah maka total hampir 120 naskah yang sudah saya baca, teliti, dan edit.

Sayangnya, dari sekian banyak naskah itu sebagian besar temanya kurang sesuai dengan minat saya.

Dulu saya berpikir bahwa kerja di perbukuan itu cocok dengan apa yang saya minati. Benar, sih. Tapi, semakin ke sini semakin saya sadari bahwa itu hanya berlaku kalau tema buku yang diterbitkan memang sesuai minat. Kalau gak?

Ini cerita sedih. Tapi, bagaimanapun pekerjaan saya gak melulu tentang air mata. Artinya, ada juga kok cerita senangnya. Salah satunya ini: meski buku-buku yang saya sunting gak sesuai minat, paling gak buku-buku itu masih dalam jangkauan keilmuan saya.

Dulu saya pengin dapat pekerjaan yang benar-benar cocok dengan minat, tapi apa daya kebutuhan hidup terus mendesak. Go hell with passion! Mending nafkah tercukupi daripada ngurusi passion yang mengawang-awang.

Saya mungkin terlalu pragmatis. Tapi, gak mudah memang memegang teguh idealisme sambil terus-terusan digebuki kenyataan.

Lagipula, lama-lama saya bisa menikmati rutinitas menyunting naskah-naskah itu. Selain menambah wawasan, juga membuka mata saya tentang kelompok masyarakat yang dulu jarang saya perhatikan: anak-anak muda yang baru belajar agama.

Saya jadi bisa membaca kemauan mereka dan isu-isu apa saja yang menarik perhatian mereka. Ini penting, sebab bidang keilmuan yang pernah saya geluti meniscayakan pemahaman terhadap kelompok masyarakat yang berbeda-beda.

And since we do not know who they are, it’s better to get ready for whoever they are.

Seorang teman pernah mencibir buku-buku yang saya sunting. Menurutnya, buku-buku itu berdampak negatif, sebab bisa mendangkalkan diskursus tema-tema yang ada di dalamnya.

Saya terbata-bata mengikuti argumentasinya. FYI, buku yang kami terbitkan banyak mengangkat tema Islam populer. Sementara teman saya adalah peminat filsafat Islam dan sufisme.

Dia memandang buku-buku yang saya sunting dari satu sisi, dan saya melihatnya dari sisi yang lain. Dia melihat dampak negatif darinya, saya melihat dampak positifnya.

Menurut saya, dia terlalu jauh saat bicara tentang diskursus keislaman; terlalu abstrak, elitis, dan eksklusif. Dia berdiri di puncak menara gading. Padahal, realita ada di bawah sana dan menunggu untuk dijawab.

Pendapat teman saya mungkin hanya berdasar pengamatannya yang sepintas lalu. Tapi, melihat kenyataan sejumlah teman lain yang juga menunjukkan gejala emoh menulis tema keislaman yang remeh-temeh, saya khawatir itu mencerminkan kenyataan sebagian santri yang menekuni diskursus keislaman saat ini: mereka elitis, kalau gak mau disebut egois.

Mereka sibuk menekuni kuliah dalam bidang keislaman, gak sedikit yang merupakan disiplin ilmu yang rumit: filsafat, filologi, politik, tafsir, hadis, dll. Mereka sangat menikmati studinya. Tapi banyak di antara mereka yang menempuh jalan itu hanya demi memuaskan egonya.

Motivasi mereka? Ya, karena sesuai minat. Apa yang mereka tekuni memang cocok dengan passion mereka. Mereka merasa menjadi diri-sendiri dengan bertungkus-lumus dengannya. Mereka tercerahkan oleh pilihan itu.

Tapi, jangan bilang itu karena perintah agama. Wong di benak mereka gak ada keinginan untuk kembali ke masyarakat dan berkontribusi nyata dengan memanfaatkan ilmu-ilmu yang sudah mereka pelajari kok. Menjadi dosen di kampus-kampus Islam ternama jelas pilihan yang menarik. Pekerjaan mulia nan prestisius, juga membanggakan orangtua.

After all, life is about choice. We are free to choose whatever we want.

Life, So Far


Saya menulis catatan pendek ini setelah sadar bahwa saya semakin jarang menulis, sementara dalam rentang waktu yang panjang ini banyak hal yang sebenarnya perlu saya tuangkan. Sekadar curhat atau demi bahan nostalgia di kemudian hari.

Tentang teman

Sudah agak lama sahabat saya di pesantren mengajak belajar bersama. Bukan membahas kitab-kitab tentunya –saya lupa hampir semua cara membaca buku berbahasa Arab, di samping tentu saja dia sudah jauh meninggalkan saya, tapi teknis menulis.

Setelah berjibaku dengan pekerjaan dan urusan rumah, akhirnya saya bisa meluangkan (kosakata yang menunjukkan su’ul adab untuk orang yang mengaku jebolan pesantren) waktu untuk mengisi materi di kelas menulis di almamater saya.

Dari sekitar 40 santri yang ikut kelas tersebut, cukup banyak yang antusias mengikuti pelajaran. Tugas-tugas yang saya berikan mereka kerjakan dengan baik, dan beberapa pertanyaan yang mereka ajukan menunjukkan bahwa mereka memang serius.

***

Tentang Nabil

Dua minggu lalu saya pergi ke Jalan Kartini untuk melihat-lihat sepeda. Agaknya Nabil sudah cukup umur untuk belajar bersepeda. Setelah survei produk dan harga di marketplace, saya memutuskan membeli sebuah push-bike berwarna biru muda.

Tetangga saya mengira butuh 1 minggu bagi Nabil untuk lancar mengendarai benda mungil itu. Nyatanya cukup 1 hari saja baginya untuk meluncur, berbelok, dan mundur. Tinggal mendudukkan pantatnya di sadel yang masih butuh pegangan.

Kemarin pagi saya harus ngos-ngosan mengejarnya, karena bersepeda kelewat kencang. Istri saya pun akhir-akhir ini sering berteriak menyuruhnya pelan-pelan. Lucunya, kemarin anak-anak tetangga mengajaknya bersepeda bersama. Padahal mereka sudah TK semua.

Sementara Nabil baru dua tahun setengah.

***

Tentang pekerjaan

Ini bulan ketujuh pandemi menghantam Indonesia. Jadwal kerja saya masih dua hari sekali, gaji saya juga masih dikurangi. Industri perbukuan benar-benar kelimpungan dibuatnya. Tak ada buku yang kami terbitkan, tak ada duit yang masuk ke perusahaan.

Positivity rate di Indonesia terus menanjak. Semua orang tahu pandemi ini akan lama dan berat. Mungkin itu sebabnya beberapa teman bersiap-siap. Agar jika kemungkinan terburuk yang terjadi, mereka tahu harus melakukan apa.

Teman-teman lain yang sejak enam bulan lalu dirumahkan jelas yang paling kesusahan. Gaji tak ada, THR pun tak diterima. Mereka lalu melakukan entah apa saja untuk bertahan hidup. Ada yang berjualan pecel lele, kue kering, ada juga yang bakulan buku.

***

Tentang hidup

Beberapa bulan lalu saya dan istri masih semangat mencari rumah, tapi tidak setelah keadaan berubah. Saya tetap akan berusaha. Tapi yang namanya usaha harus mengukur keadaan juga, kan? Saat ini, sehari-hari bisa makan saja alhamdulillah.

Seorang teman bercerita bahwa sejumlah sales di perusahaannya harus dirumahkan. Mereka pun mendadak tak berpenghasilan. Mungkin karena terdesak tanggung jawab, salah seorang sales sampai rela memancing demi mencari lauk untuk keluarganya.

Saya dengar pandemi baru berakhir dua atau tiga tahun lagi, dan celakanya industri penerbitan hanya bisa bertahan sampai akhir tahun ini. Itu artinya tinggal empat bulan lagi. Rasanya aneh menghitung “ajal” yang terus mendekat.

Tak ada yang tak bingung sepanjang bulan-bulan ini. Tak apa, bingung masih boleh kok. Saya pun bingung, tapi semoga masih ingat cara bertawakal.

After all, we’re only servants of The Master. And no master will neglect and forget to feed his servants.

***

Tanda-tanda


Hai, Nak.

Apa kabar?

Bagaimana belajarmu? Semua baik-baik saja, bukan?

Sekarang adalah minggu terakhir bulan Agustus 2020, tepatnya hari Kamis tanggal 27. Aku datang lebih pagi dibanding teman-teman seruangan. Tadi aku berpamitan padamu saat kau dibujuk ibumu untuk segera memakai baju. Kami berbagi tugas, sebelumnya aku yang memandikanmu.

Sebentar lagi kita ada di pengujung tahun, Anakku. Tak terasa, seperti baru kemarin kita melewatkan malam pergantian tahun.

Aku tak pernah menduga tahun ini menjadi tahun yang berat. Sejak Maret kemarin aku bekerja dari rumah, teman-temanku juga sama, bahkan orang-orang di seluruh dunia. Saat-saat seperti ini tanggal merah seperti biasa saja, tak ada sensasinya.

Aku tak lagi menunggu-nunggunya, dan tak pernah lagi membuat rencana untuk kita jalan-jalan bersama. Wah, aku baru ingat, kita sudah enam bulan tak pernah ke wahana permainan kesukaanmu: bermain pasir, naik mobil-mobilan, atau mandi bola.

Saat lebaran dan hari raya kurban pun kita tak pulang kampung. Bahkan ke rumah Bude di Bogor kita tak berani. Kita benar-benar dihantui oleh benda superkecil dan sialan itu, coronavirus. Kita jadi selalu curiga dengan gagang pintu, uang cash, tombol lift, bahkan udara yang kita hirup.

Bosan rasanya berdiam diri di rumah. Ibumu juga entah berapa kali mengatakannya. Tapi apa boleh buat, pandemi ini memaksa kita untuk menahan diri. Lagipula lama-lama dia terbiasa, kecuali belanja ke warung atau tukang sayur. Selebihnya paling minimarket dan danau kecil favoritmu.

Atasanku di kantor mendapat informasi dari koleganya bahwa pandemi ini mungkin baru berakhir dua sampai tiga tahun lagi. Artinya, baru pada tahun 2024 kita akan bebas sepenuhnya dari masker (yang pagi ini hampir saja kulupakan), hand sanitizer, dan social distancing.

Yang mengkhawatirkan, banyak perusahaan dalam dua atau tiga tahun ke depan yang mungkin bertumbangan. Termasuk perusahaan tempatku kini bekerja. Dengar-dengar jika tak ada perubahan drastis yang kami lakukan, kami hanya bisa bertahan sampai akhir tahun.

Aku sih pasrah saja. Tawakal. Ikhtiar tetap kita lakukan, dan insya Allah yang terbaik yang akan kita dapatkan. Masa-masa sulit mungkin akan kita hadapi, tapi jangan sampai kita hidup seakan-akan tak punya Tuhan. Ya, ya, mungkin sekoci memang sudah saatnya kita siapkan.

Bismillah saja. Kita orang-orang kuat, Nak. Kakek-kakek kita bukan orang sembarangan, nenek-nenek kita juga. Lain kali aku akan bercerita tentang kakek-nenekmu dan orangtua-orangtua mereka yang luar biasa. Kautahu, salah seorang buyutmu adalah pejuang.

Itu baru kutahu beberapa minggu lalu. Tak pernah kusangka, mereka yang dipuji-puji dalam lagu nasional karena pengorbanannya memerdekakan negara ini, salah satunya adalah kakek kita. Aku bangga sekali, meski aku tahu kakek meregang nyawa akibat dibedil tentara Belanda.

Kakek-nenek kita memang hidup di zaman yang berbeda dengan kita, dengan masalah-masalah yang tak sama. Tapi, semoga kita punya semangat dan daya juang yang sama untuk menghadapi semua itu. Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus’aha. Bukankah begitu?

Hari ini aku ingin menyelesaikan sisa tugas yang belum sempat kuselesaikan: mencari alternatif judul. Kemarin lusa atasanku sampai ke ruangan dan menanyakannya. Kami berharap banyak pada buku ini. Semoga semuanya lancar sesuai harapan.

Aku berharap demikian sebab dua buku sebelumnya, yang sudah selesai dikerjakan oleh redaksi, gagal terbit gara-gara penulisnya bermasalah. Luar biasa memang, di tengah situasi yang tak menentu seperti sekarang, ada saja tambahan masalah yang datang.

Tapi bagaimanapun, Nak, kita harus berterima kasih. Aku yakin ada sesuatu di balik gagal terbitnya naskah-naskah itu. Dan apa pun yang ada di belakang semua itu, pasti sesuatu yang baik.

Sekarang aku hanya masih menebak-nebak: Apakah ini pertanda itu?

Hari Itu


Kau masih lekat menatap kedua mataku, meski kata selamat tinggal sudah terlepas dari bibirmu.

Sumber foto: pixabay.com

Angin sore menderu dari pucuk-pucuk gunung di kejauhan. Warna keemasan pelan-pelan menyeruak di cakrawala.

Kita berdiri lama di ujung jalan itu. Tak percaya bahwa esok akan menjadi hari-hari yang panjang. Tak ada lagi cerita yang akan kita bagi, impian yang bisa kita yakini, atau cinta yang malu-malu kita tutupi.

Kita mulai melangkahkan kaki. Mata kita berat untuk saling melepaskan. Ada harapan, di detik-detik terakhir pertemuan itu, bahwa suatu saat kita akan bertemu kembali.

Menyatukan keping-keping kenangan yang masih tersisa. Membalut luka yang mungkin masih terasa.

Tapi, masa depan memang memiliki misterinya sendiri. Penuh teka-teki yang siapa pun kewalahan menebaknya.

Kita sadar betul hal itu. Mungkin karena itu, kita lantas membiarkan semua berjalan apa adanya. Kita pasrahkan hidup pada kejutan-kejutan yang mungkin tak pernah kita duga.

Maka, kita pun sibuk menenggelamkan diri. Dalam kabut kenyataan yang menutup cerita tentang rasa itu. Dalam ombak masa depan yang membuat kita hilang ingatan.

Hingga kemudian, datanglah kejutan itu …

Malam-malam kau kembali hadir dalam mimpiku. Memanggil-manggil namaku. Mengakhiri tidur panjangku.

Kau mengajakku melompat mundur ke masa lalu. Menelusuri jalan-jalan berliku di hatiku. Dan menikmati angin dari pucuk-pucuk gunung seperti sore itu.

Lalu, sayup-sayup lagu itu pun terngiang di telingaku.

Jangan datang lagi, Cinta
Bagaimana aku bisa lupa
Padahal kau tahu keadaaannya
Kau bukanlah untukku

Jangan lagi rindu, Cinta
Ku tak mau ada yang terluka
Bahagiakan dia
Aku tak apa
Biar aku yang pura-pura lupa

Ada Malam-malam


Ada malam-malam aku ingin pulang ke masa itu. Masa-masa jiwa kita tak ubahnya rimba yang lebat. Yang tiap pohonnya menjulang, membuahkan cita-cita dan harapan.

Photo by Dmitry Zvolskiy from Pexels

Kita belum diracuni uang dan kemewahan atau dipusingkan sewa rumah dan cicilan. Kita bahkan tak pernah sempat memikirkan hidup dan masa depan.

Ada malam-malam aku ingin berdua saja denganmu. Menghabiskan waktu di kantin penuh kenangan itu, menikmati secangkir sepi dan meredakan hiruk-pikuk di hati.

Hari-hari yang damai. Detik-detik yang berjalan lambat. Kita saling mendengar dan berkeluh kesah. Seakan hati kita selembar surat yang bisa dibaca dan dibolak-balik halamannya.

Tak terasa, hampir seabad sejak masa-masa itu. Tapi, aku masih bisa membayangkan rambut-rambut halus di keningmu, titik indah di dagumu, dan binar cahaya yang berloncatan di antara kerling matamu.

Masih segar dalam ingatanku bagaimana caramu bicara, menatap, membuat jantungku berderap-derap.

Tak cukup. Tak cukup kata-kata untuk menggambarkan betapa jauh kaumenyelam di dasar hatiku. Mengacak-acak diamku. Meluluhlantakkan sumpahku.

Tak sabar kuhitung hari yang memisahkan pertemuan kita. Habis sudah angka-angka untuk menghitung musim entah yang ke berapa. Abad-abad berlalu tanpa sempat aku membuka mata.

Ada malam-malam aku ingin kautahu. Bahwa hari-hari yang kita jalani bersama telah berlalu dengan penuh makna, berkat hadirmu. Tapi ruas-ruas masa yang kini kujalani tanpamu adalah kesia-siaan yang kusengaja, sebab terkenang dirimu.

Mengingatmu membuatku ingin bunuh diri. Berkali-kali.

Namamu


Aku tak pernah mengira, bahwa nama yang pertama kali kudengar berabad lalu masih terngiang di telingaku yang mulai tuli ini.

Aneh, sebab tiap ingatanku menghadirkannya, bahkan caramu memperkenalkan diri dengan menyebutkan nama itu juga tergambar jelas.

Photo by Matheus Bertelli on Pexels.com

Aku tak tahu, ini anugerah atau musibah …

Yang pasti, nama itulah yang menemaniku pada hari-hari bahagiaku, juga pada saat-saat sedihku. Meski hanya sepenggal nama –sebab kau tak pernah menyebutkan nama panjangmu, kenangan membuatnya seakan abadi.

Seumpama orang, ia bisa berbisik, tertawa, menghibur, atau setidaknya membersamaiku. Ia yang selama ini menjelmakanmu di alam khayalku, menghadirkan sosokmu di antara kerinduanku padamu.

Kadang, aku bertanya-tanya di mana kau sekarang. Apa yang sedang kaulakukan. Apa yang tengah kauperjuangkan. Lalu, detik demi detik menyeretku pada kata seumpama.

Seumpama kita berjumpa, seumpama kita bersama. Indahnya …

Sayangnya, sering terjadi, cerita kita berhenti di situ. Tak pernah lebih jauh. Seperti tak terima aku melipir sejenak, duniaku selalu membuyarkan lamunan dan menggelandangku untuk kembali bergumul dengan kenyataan. Seperti yang sudah-sudah.

Dan aku pun melihatmu, untuk kesekian ribu kali, melambaikan tangan padaku.