Sorban Kyai Fatah

Kyai Fatah bukan tidak tahu kalau yang mencuri mangga di kebunnya adalah santri-santrinya sendiri. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk menangkap basah mereka.

Beberapa kali saat tengah malam Kyai Fatah memergoki anak-anak itu beraksi. Tapi karena usia yang sudah kepala enam, langkahnya kalah cepat. Bahkan untuk melihat wajah mereka ia terlambat.

Suatu malam sepulang ceramah di desa tetangga, Kyai Fatah mendengar suara berisik dari kebun di belakang rumahnya. Suara itu berasal dari ranting-ranting yang terinjak dan buah mangga yang berjatuhan. Tanda maling-maling sedang menjalankan aksinya.

Sambil memanggil Gus Tamam anak bungsunya, Kyai Fatah membuka pintu. Tapi karena yang dipanggil tak juga keluar kamar, ia melangkah sendiri ke belakang rumah, menyalakan senter, dan mengarahkan pada pohon-pohon mangganya.

Tak ada orang. Maling-maling kecil itu seperti punya pertanda kalau kyai mereka sebentar lagi datang.

***

Kyai Fatah sebenarnya bukan orang yang pelit. Ia malah terkenal sangat dermawan. Pesantrennya yang sederhana tak memungut sepeser pun dari para santri. Bahkan untuk makan mereka, ia sendiri yang menanggungnya.

Kebun mangga itu adalah satu dari sedikit yang dimiliki Kyai Fatah, selain sawah dan ladang sayuran. Dengan beberapa petak tanah itulah ia membiayai hidup keluarga dan santri-santrinya, yang total berjumlah lima puluhan anak. Ia enggan meniru kyai lain membuat proposal bantuan kepada pemerintah.

“Malu,” jawabnya saat ditanya sang istri tentang alasannya. Entah malu pada siapa.

Ketika panen padi atau sayuran tiba, ia akan mengerahkan santri-santrinya ikut bekerja. Tapi itu tidak berlaku saat mangga-mangganya mulai ranum dan Cak Tikno, tengkulak mangga di desa itu, sepakat membeli. Ia lebih suka mengupahi tetangga untuk mengunduhnya.

Memasrahkan mangga-mangga itu kepada para santri sama saja menyuruh mereka menggarong hasil kebunnya. Bagi anak-anak yang kebanyakan dari keluarga kurang mampu itu, mangga memang semacam buah surga yang tak mudah didapatkan.

Dulu Kyai Fatah tak keberatan santri-santri itu mengambil satu atau dua buah mangganya, sebagai ganti jajan. Tapi dasar anak-anak itu kelewatan. Jangankan berterima kasih, tahu diri saja tidak. Kyai Fatah bahkan pernah memergoki mereka mengunduh sampai sekarung buah-buah itu, lalu diam-diam menjualnya ke Cak Tikno.

Kalau ada walisantri datang dan menitipkan anak, Kyai Fatah dengan senang hati membuka tangannya. Tak peduli orang baik-baik atau mantan bajingan. Itu mengapa santrinya bermacam-macam. Ada yang pandai dan pendiam, ada juga yang suka mencuri dan tukang kelahi.

Kalau pesantren lain mirip salon mobil, tempat mobil-mobil mewah disulap menjadi semakin indah, pesantren Kyai Fatah lebih mirip bengkel vespa butut. Santri-santri yang baik memang ada, tapi jumlahnya tak seberapa. Sisanya adalah santri-santri yang kelakuannya naudzubillah.

Sadam yang berasal dari Bangkalan pernah mencuri burung tetangganya yang sedang dijemur, melarikannya ke pasar, lalu menjualnya dengan harga murah. Munir, yang giginya tanggal gara-gara terjatuh saat kabur untuk menonton drum band, pernah kedapatan membawa kabur karpet musala di kampungnya.

Kyai Fatah seperti tak sampai hati menolak orangtua mereka saat menyampaikan niat hendak memondokkan anaknya. Mungkin sebagai kyai ia merasa tak boleh pilih-pilih. Mungkin juga karena ia punya alasan yang sangat pribadi.

Ada yang bilang saat remaja Kyai Fatah tak kurang nakal dibanding santri-santrinya sekarang. Bahkan kakeknya yang sudah kewalahan sampai tega mengirimnya ke sebuah pesantren terpencil di Pasuruan. Maklum, Kyai Fatah sudah yatim-piatu sejak kecil.

Maka, setiap ada orang menggelandang anaknya ke pesantren, Kyai Fatah bisa menebak maksud kedatangannya. Dan meski orang itu mengeluh betapa kebandelan si anak seperti titisan entah setan mana, tak pernah sekali pun Kyai Fatah menolak.

Ia selalu terkenang masa remajanya, juga budi baik kyainya yang telah mendidiknya dari biang onar menjadi kyai pesantren seperti sekarang.

***

Malam itu Kyai Fatah tak berkecil hati. Sebab di antara daun-daun mangga yang berjatuhan, sebuah sorban merah nan kumal ia temukan. Sekilas ia merasa mengenalinya, tapi entah siapa yang pernah memakainya.

Maling-maling kecil itu agaknya terburu-buru kabur saat mendengarnya melangkah keluar rumah.

“Kena kalian sekarang!” gumamnya.

Tinggal mencari siapa pemilik sorban itu, akan ketahuan anak yang tadi mencuri mangga-mangganya.

Keesokan harinya saat pengajian tafsir, sorban tersebut ia perlihatkan kepada santri-santri. Dengan suaranya yang datar dan tertahan, ia umumkan agar siapa pun yang memilikinya silakan menghadap selepas pengajian.

“Ambil sendiri di rumah!” ujar beliau.

Santri-santri hanya menunduk. Gus Tamam yang dipercaya menjadi kepala keamanan ikut memandang satu persatu mereka. Badannya yang gemuk tak lagi lucu. Mungkin karena ikut marah.

Begitu pengajian usai tak satu pun santri berani menghadap. Semua seperti tidak mau tahu dengan sorban merah itu. Kyai Fatah curiga. Jangan-jangan mereka sengaja menutup mulut untuk melindungi si empunya barang.

Sehari, dua hari, sampai satu minggu tak ada santri yang mau mengaku. Padahal setiap mengaji tafsir Kyai Fatah membawanya dan meletakkan di dekat tempat duduknya. Ia pun tak lelah mengingatkan agar pemiliknya segera menghadap.

“Berani berbuat, berani bertanggung jawab,” ujarnya.

Kalimat Kyai Fatah itu membuat santri-santri yang selama itu bingung menjadi mafhum, mengapa kyai mereka sangat ingin si pemilik mengambil sendiri sorbannya. Ternyata kegelisahannya bukan hanya tentang siapa pemiliknya, tapi juga apa yang sudah diperbuatnya.

Dua bulan berselang sejak Kyai Fatah menemukan sorban tak bertuan itu. Selama itu pula rasa penasarannya terhadap si pemilik semakin luntur. Ia sudah tak pernah menyinggungnya, apalagi membawanya saat mengaji. Santri-santri pun tak lagi mengingatnya.

Hingga suatu siang saat jumatan, Kyai Fatah melihat seorang santri di barisan paling belakang di teras masjid mengenakan sorban merah itu. Ia terperanjat. Siapa anak kurang ajar itu? Berani-beraninya mengambil sorban merah yang ia letakkan di rumah, tanpa izin pula!

Kyai Fatah tak bisa berbuat banyak karena sedang menyampaikan khutbah. Itu pun beberapa kali konsentrasinya buyar karena matanya yang tengah membaca catatan bolak-balik memandang si anak bersorban merah. Ia berusaha mengenalinya, tapi sia-sia. Jarak yang jauh membuat matanya tak leluasa melihat.

Kyai Fatah merasa dirinya tak mungkin salah. Setelah berminggu-minggu membawa sorban itu ke pengajian, ia jadi hafal dengannya. Warnanya, juga motifnya.

Begitu salat Jumat selesai, anak yang memakai sorban merah itu tiba-tiba menghilang. Seperti lenyap begitu saja. Padahal Kyai Fatah sudah memangkas wirid dan doanya. Ia pun tergopoh-gopoh menuju teras masjid dan mencarinya. Tapi, nihil.

Sambil menahan kecewa Kyai Fatah melangkah ke rumahnya, yang terletak persis di sebelah masjid itu. Begitu sudah di dalam, ia empaskan badannya ke kursi ruang tamu, sebelum kemudian beranjak ke meja makan.

Saat itulah, persis setelah ia menyibak kelambu yang menutup pintu dapurnya, benda sialan yang dua bulan lebih membuatnya penasaran tertangkap kedua matanya. Tergeletak begitu saja di sandaran kursi meja makan.

Di dekatnya, sambil mengangkat sebelah kaki, Gus Tamam tampak sangat menikmati makan siangnya. Keringat yang mengucur di dahi dan lehernya ia abaikan. Mulutnya yang tengah mengunyah nasi seolah tak bisa berhenti.

Saat menyadari abahnya mendekat dan menarik pelan sorban merah yang dipakainya saat jumatan, Gus Tamam baru memperbaiki duduknya. Lalu kembali menyorongkan suap demi suap nasi ke dalam mulutnya.

“Makan, Bah!” ajaknya, sambil terus mengunyah.

Depok, November 2018
(Cerpen ini pertama kali dimuat di majalah Risalah)