Life, So Far


Saya menulis catatan pendek ini setelah sadar bahwa saya semakin jarang menulis, sementara dalam rentang waktu yang panjang ini banyak hal yang sebenarnya perlu saya tuangkan. Sekadar curhat atau demi bahan nostalgia di kemudian hari.

Tentang teman

Sudah agak lama sahabat saya di pesantren mengajak belajar bersama. Bukan membahas kitab-kitab tentunya –saya lupa hampir semua cara membaca buku berbahasa Arab, di samping tentu saja dia sudah jauh meninggalkan saya, tapi teknis menulis.

Setelah berjibaku dengan pekerjaan dan urusan rumah, akhirnya saya bisa meluangkan (kosakata yang menunjukkan su’ul adab untuk orang yang mengaku jebolan pesantren) waktu untuk mengisi materi di kelas menulis di almamater saya.

Dari sekitar 40 santri yang ikut kelas tersebut, cukup banyak yang antusias mengikuti pelajaran. Tugas-tugas yang saya berikan mereka kerjakan dengan baik, dan beberapa pertanyaan yang mereka ajukan menunjukkan bahwa mereka memang serius.

***

Tentang Nabil

Dua minggu lalu saya pergi ke Jalan Kartini untuk melihat-lihat sepeda. Agaknya Nabil sudah cukup umur untuk belajar bersepeda. Setelah survei produk dan harga di marketplace, saya memutuskan membeli sebuah push-bike berwarna biru muda.

Tetangga saya mengira butuh 1 minggu bagi Nabil untuk lancar mengendarai benda mungil itu. Nyatanya cukup 1 hari saja baginya untuk meluncur, berbelok, dan mundur. Tinggal mendudukkan pantatnya di sadel yang masih butuh pegangan.

Kemarin pagi saya harus ngos-ngosan mengejarnya, karena bersepeda kelewat kencang. Istri saya pun akhir-akhir ini sering berteriak menyuruhnya pelan-pelan. Lucunya, kemarin anak-anak tetangga mengajaknya bersepeda bersama. Padahal mereka sudah TK semua.

Sementara Nabil baru dua tahun setengah.

***

Tentang pekerjaan

Ini bulan ketujuh pandemi menghantam Indonesia. Jadwal kerja saya masih dua hari sekali, gaji saya juga masih dikurangi. Industri perbukuan benar-benar kelimpungan dibuatnya. Tak ada buku yang kami terbitkan, tak ada duit yang masuk ke perusahaan.

Positivity rate di Indonesia terus menanjak. Semua orang tahu pandemi ini akan lama dan berat. Mungkin itu sebabnya beberapa teman bersiap-siap. Agar jika kemungkinan terburuk yang terjadi, mereka tahu harus melakukan apa.

Teman-teman lain yang sejak enam bulan lalu dirumahkan jelas yang paling kesusahan. Gaji tak ada, THR pun tak diterima. Mereka lalu melakukan entah apa saja untuk bertahan hidup. Ada yang berjualan pecel lele, kue kering, ada juga yang bakulan buku.

***

Tentang hidup

Beberapa bulan lalu saya dan istri masih semangat mencari rumah, tapi tidak setelah keadaan berubah. Saya tetap akan berusaha. Tapi yang namanya usaha harus mengukur keadaan juga, kan? Saat ini, sehari-hari bisa makan saja alhamdulillah.

Seorang teman bercerita bahwa sejumlah sales di perusahaannya harus dirumahkan. Mereka pun mendadak tak berpenghasilan. Mungkin karena terdesak tanggung jawab, salah seorang sales sampai rela memancing demi mencari lauk untuk keluarganya.

Saya dengar pandemi baru berakhir dua atau tiga tahun lagi, dan celakanya industri penerbitan hanya bisa bertahan sampai akhir tahun ini. Itu artinya tinggal empat bulan lagi. Rasanya aneh menghitung “ajal” yang terus mendekat.

Tak ada yang tak bingung sepanjang bulan-bulan ini. Tak apa, bingung masih boleh kok. Saya pun bingung, tapi semoga masih ingat cara bertawakal.

After all, we’re only servants of The Master. And no master will neglect and forget to feed his servants.

***

Tanda-tanda


Hai, Nak.

Apa kabar?

Bagaimana belajarmu? Semua baik-baik saja, bukan?

Sekarang adalah minggu terakhir bulan Agustus 2020, tepatnya hari Kamis tanggal 27. Aku datang lebih pagi dibanding teman-teman seruangan. Tadi aku berpamitan padamu saat kau dibujuk ibumu untuk segera memakai baju. Kami berbagi tugas, sebelumnya aku yang memandikanmu.

Sebentar lagi kita ada di pengujung tahun, Anakku. Tak terasa, seperti baru kemarin kita melewatkan malam pergantian tahun.

Aku tak pernah menduga tahun ini menjadi tahun yang berat. Sejak Maret kemarin aku bekerja dari rumah, teman-temanku juga sama, bahkan orang-orang di seluruh dunia. Saat-saat seperti ini tanggal merah seperti biasa saja, tak ada sensasinya.

Aku tak lagi menunggu-nunggunya, dan tak pernah lagi membuat rencana untuk kita jalan-jalan bersama. Wah, aku baru ingat, kita sudah enam bulan tak pernah ke wahana permainan kesukaanmu: bermain pasir, naik mobil-mobilan, atau mandi bola.

Saat lebaran dan hari raya kurban pun kita tak pulang kampung. Bahkan ke rumah Bude di Bogor kita tak berani. Kita benar-benar dihantui oleh benda superkecil dan sialan itu, coronavirus. Kita jadi selalu curiga dengan gagang pintu, uang cash, tombol lift, bahkan udara yang kita hirup.

Bosan rasanya berdiam diri di rumah. Ibumu juga entah berapa kali mengatakannya. Tapi apa boleh buat, pandemi ini memaksa kita untuk menahan diri. Lagipula lama-lama dia terbiasa, kecuali belanja ke warung atau tukang sayur. Selebihnya paling minimarket dan danau kecil favoritmu.

Atasanku di kantor mendapat informasi dari koleganya bahwa pandemi ini mungkin baru berakhir dua sampai tiga tahun lagi. Artinya, baru pada tahun 2024 kita akan bebas sepenuhnya dari masker (yang pagi ini hampir saja kulupakan), hand sanitizer, dan social distancing.

Yang mengkhawatirkan, banyak perusahaan dalam dua atau tiga tahun ke depan yang mungkin bertumbangan. Termasuk perusahaan tempatku kini bekerja. Dengar-dengar jika tak ada perubahan drastis yang kami lakukan, kami hanya bisa bertahan sampai akhir tahun.

Aku sih pasrah saja. Tawakal. Ikhtiar tetap kita lakukan, dan insya Allah yang terbaik yang akan kita dapatkan. Masa-masa sulit mungkin akan kita hadapi, tapi jangan sampai kita hidup seakan-akan tak punya Tuhan. Ya, ya, mungkin sekoci memang sudah saatnya kita siapkan.

Bismillah saja. Kita orang-orang kuat, Nak. Kakek-kakek kita bukan orang sembarangan, nenek-nenek kita juga. Lain kali aku akan bercerita tentang kakek-nenekmu dan orangtua-orangtua mereka yang luar biasa. Kautahu, salah seorang buyutmu adalah pejuang.

Itu baru kutahu beberapa minggu lalu. Tak pernah kusangka, mereka yang dipuji-puji dalam lagu nasional karena pengorbanannya memerdekakan negara ini, salah satunya adalah kakek kita. Aku bangga sekali, meski aku tahu kakek meregang nyawa akibat dibedil tentara Belanda.

Kakek-nenek kita memang hidup di zaman yang berbeda dengan kita, dengan masalah-masalah yang tak sama. Tapi, semoga kita punya semangat dan daya juang yang sama untuk menghadapi semua itu. Laa yukallifulloohu nafsan illaa wus’aha. Bukankah begitu?

Hari ini aku ingin menyelesaikan sisa tugas yang belum sempat kuselesaikan: mencari alternatif judul. Kemarin lusa atasanku sampai ke ruangan dan menanyakannya. Kami berharap banyak pada buku ini. Semoga semuanya lancar sesuai harapan.

Aku berharap demikian sebab dua buku sebelumnya, yang sudah selesai dikerjakan oleh redaksi, gagal terbit gara-gara penulisnya bermasalah. Luar biasa memang, di tengah situasi yang tak menentu seperti sekarang, ada saja tambahan masalah yang datang.

Tapi bagaimanapun, Nak, kita harus berterima kasih. Aku yakin ada sesuatu di balik gagal terbitnya naskah-naskah itu. Dan apa pun yang ada di belakang semua itu, pasti sesuatu yang baik.

Sekarang aku hanya masih menebak-nebak: Apakah ini pertanda itu?

Untuk Anakku (2)


Assalamualaikum, Nak. Apa kabar? Terima kasih sudah meluangkan waktu, dan maaf kalau aku mengganggu istirahatmu. Aku janji, ini tak akan lama. Kau mungkin sudah sampai di baris terakhir surat ini sebelum terpikir untuk beranjak dari tempat dudukmu.

Photo by Zach Damberger on Pexels.com

Sebelumnya, aku ingin sampaikan salam dari ibumu. Alhamdulillah, kami di rumah baik-baik saja. Semua sehat. Minggu lalu ibumu malah baru mendapat arisan di kelompok mengajinya. Keberuntungan yang aneh, sebab ia tak pernah terlihat mengharapkannya.

Apa kabar guru-gurumu? Semoga Allah selalu menjaga dan mencukupi kebutuhan mereka. Tolong sampaikan permintaan maafku. Sudah beberapa bulan ini aku belum juga menemukan waktu untuk mengunjungi mereka.

Akhir pekan kemarin sebenarnya ingin kami habiskan di Malang, setelah terlebih dulu singgah di Jogja. Meski tak bisa lama, kami ingin menemui guru-gurumu dan melihat keadaanmu. Sayangnya, rencana itu harus kami batalkan, karena suatu alasan.

Aku tak perlu menjelaskan. Kau sudah tahu, bukan?

Ada banyak yang ingin kulakukan di Malang. Terutama menjumpai teman-teman seperjuangan dulu. Sudah belasan tahun kami tak pernah bersua.

Hampir setiap hari aku ingat mereka. Orang-orang yang ada tak hanya saat aku senang tapi juga saat kesusahan. Aku tak sedang meromantisasi, sebab tentu saja mereka selalu ada, karena kami tinggal di tempat yang sama.

Satu kamar, satu kelas mengaji, satu kelas sekolah, satu kamar mandi. Satu tempat untuk semua. Dua puluh empat jam sehari, tiga tahun lamanya.

Sering saat membuka-buka catatan masa lalu, aku menemukan kenangan tentang mereka. Tentang satu atau dua nama yang membuatku tertegun, tersenyum, kadang juga menitikkan air mata.

Bagaimana kabar mereka sekarang?

***

Aku ingat, pernah saat mengaji aku marah pada teman-temanku.

Saat itu guruku menugaskanku untuk menemani mereka belajar. Kami disatukan ke dalam suatu kelompok. Dan tanggung jawabku adalah memastikan (ya, memastikan!) mereka memahami pelajaran.

Kau harus mengerti keadaanku saat itu, Nak. Aku marah, karena meski berkali-kali kujelaskan kembali pelajaran yang telah disampaikan oleh guruku, mereka tak juga paham.

Itu masalah, tentu. Kalau sampai guruku melempar pertanyaan pada mereka dan mereka tak bisa menjawab, aku yang akan kena hukuman.

Aku merasa dicurangi. Sebab dari lima orang temanku di kelompok tersebut, lima-limanya manusia ajaib. Maaf kalau aku bersikap kasar; mereka biang onar semua.

Kau tahu apa artinya? Artinya, dengan menjadi ketua kelompok, dijamin aku sering ketiban sial, karena kebebalan mereka.

Saat itu aku merasa guruku berlaku tidak adil padaku …

***

Bertahun-tahun kemudian, setelah lama berpisah dengan guru dan teman-temanku, aku baru mengerti. Bahwa menemani mereka di ‘grup neraka’ itu ternyata membawa pemahaman yang sepenuhnya baru dalam hidupku.

Bukan hanya bagaimana membantu mereka memahami pelajaran, tapi yang jauh lebih penting adalah membuatku tergerak untuk mengerti, merasakan, dan terlibat dalam pengalaman ‘menjadi’ diri mereka.

Dan pelan-pelan, aku sampai pada sebuah sudut pandang.

Kelak setelah lulus dari pesantren dan bergaul dengan bermacam-macam orang, aku sangat berterima kasih karena pengalaman ini. Dan kepada guru yang telah memasukkanku ke dalam situasi serba tak nyaman itu, aku benar-benar berutang budi.

Menemani mereka di kelompok itu adalah sebuah latihan menempatkan diri. Latihan menghadapi orang. Latihan sabar dan telaten. Latihan berlaku bijak dan tawadhu’.

Latihan memberi manfaat pada sesama.

Apa pun keadaannya.

Aku pun kemudian sadar. Bahwa pandai dalam pelajaran ternyata bukan segala-galanya. Itu mungkin bawaan seseorang sehingga ia mudah menangkap penjelasan gurunya. Di pesantren, seperti kata kyaiku, itu nomor 27. Yang jauh lebih penting dari itu adalah adab. Bagaimana sikap yang baik terhadap gurumu, temanmu, benda-benda di sekitarmu.

Selama itu aku ternyata salah paham. Merasa lebih hebat dari teman-temanku, hanya karena mudah memahami pelajaran dan piawai menjelaskan ulang.

Aku menyesal. Sebab, mereka yang lebih santun tutur katanya dan lebih sopan tindak-tanduknya sangat mungkin lebih bermanfaat dan berkah ilmunya.

Nanti, Anakku, kalau gurumu memberikan tugas padamu, laksanakanlah dengan riang-gembira. Jangan hanya taati, tapi nikmati. Nikmatilah tugas itu seakan kau tahu kebaikan apa yang akan kau terima setelah melaksanakannya.

Aku mengirimmu ke tempat yang jauh bukan agar kau pandai dalam pelajaranmu. Bukan agar kau piawai memuntahkan dalil-dalil. Aku ingin, Anakku, kau memungut lembar demi lembar keberkahan dari orang-orang alim dan ikhlas yang ada di sekitarmu.

Nah, Nak, sampai di sini dulu perbincangan kita. Kapan-kapan, jika aku belum juga punya waktu untuk mengunjungimu, surat yang lain akan kukirimkan untukmu.

Tamu-tamuku sudah menunggu.

Ingat, hormati gurumu. Kalau kau tak bisa menyenangkan hati mereka, setidaknya jangan membuat mereka marah padamu.

Salam.


Untuk Anakku (1)


Assalamualaikum, Nak. Bagaimana kabarmu? Semoga sehat-sehat selalu.

Akhir-akhir ini cuaca sering tak menentu. Dua minggu lalu aku terserang flu, dan seminggu berikutnya giliran ibumu yang menggantikan sakitku.

Kamu jaga kesehatan, ya!

Aku tak sedang menulis sesuatu yang mendesak. Jadi, kau tak perlu buru-buru membaca surat ini.

Aku hanya ingin sedikit bercerita tentang anugerah Allah yang Dia titipkan padaku, dan ibumu. Sesuatu yang berada di luar angan-angan kami. Sesuatu yang mengubah warna kehidupan kami.

Sesuatu itu adalah kamu.

***

Photo by Johannes Plenio on Pexels.com

Aku masih ingat. Malam itu, aku hanya bisa berserah.

Ibumu sudah merasakan nyeri yang menyiksa beberapa hari sebelum aku pulang. Sendirian menahan sakit menjelang hari kelahiranmu. Sementara aku, paling-paling hanya susah tidur. Tak sebanding, aku akui.

Begitu sampai di rumah dan menjumpainya, malam itu aku tak bisa memejamkan mata. Kami pun melewati sepi hanya dengan berpandangan, bertukar senyum, dan sesekali saling menyuruh tidur.

Malam terpanjang dalam hidupku.

Kau lahir dari rahim yang mulia, Anakku, dari seorang ibu yang luapan kasih sayangnya tak terkira. Seumur hidup, mungkin baru kali itu ia mempertaruhkan nyawanya; untuk sebuah harapan yang kami genggam sejak mengucap janji setia.

Kau akan menemukan banyak kekurangan dalam diri kami berdua, tak lama setelah melewati beberapa kali ulang tahunmu. Watak kami yang sedikit kaku akan kau keluhkan. Juga kemampuan kami yang tak selalu bisa membuatmu bahagia.

Namun, kau harus tahu, kami membesarkanmu dengan segala yang kami bisa.

Itu tak mengharuskanmu memaafkan banyaknya kekurangan kami. Tapi, orang hebat mana pun, Anakku, tak hanya dibentuk dengan belaian tapi juga tempaan.

Ini mungkin agak terburu-buru kusampaikan. Tapi, kelak setelah membaca surat ini, aku harap kau mengerti apa yang saat ini kubicarakan.

Kami ingin kau menjadi seorang anak yang kuat. Tak layu hanya karena sanjungan, atau meranggas hanya gara-gara sebuah kritikan.

Kau adalah harapan kami. Kau terbit di tengah kebahagiaan yang tercipta dalam sebuah perjalanan yang kami mulai.

Ada cinta di hati kami, yang seiring berjalannya waktu menjelma gugusan awan dan pohon-pohon rindang yang meneduhkan jalanmu.

Kami tak mencita-citakan seorang anak yang luar biasa. Kau tak perlu khawatir tentang itu.

Kau hanya perlu tumbuh.

Tumbuhlah sesuai inginmu. Tanpa takut kami marahi karena nilai Matematikamu yang buruk atau hasil ujianmu yang sekadar cukup untuk lulus.

Orangtua lain mungkin tertawa jika tahu kami tak menuntutmu begini dan begitu. Tapi, akhir-akhir ini aku menyaksikan sendiri anak-anak yang kehilangan tahun-tahun terbaik mereka hanya karena gengsi orangtuanya.

Kau punya hidup sendiri, Nak. Kau punya masa depan yang berbeda dengan kami. Jadi, jalani hidupmu dengan penuh kebahagiaan. Dengan senyuman dan hati yang lapang.

Kalau kau camkan betul kata-kataku ini, aku yakin, selamanya kau tak akan menyesal.

Masalah mungkin silih berganti menghampirimu, tapi seperti semua yang datang dalam hidup, saatnya nanti semua itu akan berlalu.

Sudah, ya. Kapan-kapan Ayah akan mengirim lagi sepucuk surat untukmu.

Salam.

Obrolan Siang Hari


Saya berkeras akan mengantar anak pertama saya ke pesantren, begitu usianya mulai masuk remaja.

Source: pixabay.com

Nggak ada tawar-menawar. Dan pesantren yang saya maksud adalah pesantren tradisional, atau salaf. Biar nanti sepulang ke rumah, ia mahir membaca literatur keislaman. Baik klasik maupun modern. Mulai fikih, sampai filsafat.

Baca juga:
Mari Berkenalan Kembali
Cinta yang Tak Muluk

Nggak cuma buat bekal hidup, tapi melanjutkan tradisi keluarga. Saya mondok, bapak saya mondok, kakek saya apalagi, tamat mondok malah mendirikan pesantren di perantauannya.

Kebetulan dulu istri juga mondok, bapaknya juga. Sementara kakek dari pihak ibu dan bapaknya saya nggak tahu.

Istri saya tersenyum, lalu berkata agar saya nggak memaksakan harapan itu. Biar anaknya yang memilih mau sekolah di mana. Hari gini, jadi orangtua konservatif banget.

Mau mondok atau nggak silakan, mondok di pesantren salaf atau modern monggo. Kita tinggal mengarahkan, soal keputusannya terserah si anak. ‘Kan dia yang menjalani.

***

Gara-gara keseringan dengar berita pernikahannya Kahiyang, saya nyeletuk saat sedang leyeh-leyeh di dekat istri. Bahwa nanti pernikahan anak-anak kami sederhana saja.

Yang penting syarat-syarat dalam agama dan ketentuan negara terpenuhi, beres. Nggak perlu pesta-pestaan, apalagi sampai dangdutan dan nyewa layar tancep semalam suntuk.

Atau nanggap reog, barongsai, dan wayang orang. Nambah-nambahi biaya.

“Tasyakuran aja,” kata istri. “Tapi, kalau nyetel lagu-lagu sih boleh,” lanjutnya.

“Masak ngundang orang nggak ada apa-apanya, sepi dong kayak kuburan. Minimal ‘kan ceramah agama. Terus, karena ada tamu, ya mesti ada hidangan. Kue-kue apalah, dan tentu saja makan besar.”

Begitu mungkin batinnya. Hmm, berarti mesti nyewa tenda dong, tukang masak, tukang rias, sound system, dan MC?

Itu sih rasa-rasanya pesta juga ya namanya.

***

By the way, itu dua topik obrolan saya dan istri siang kemarin, yang akhirnya membuat kami eyel-eyelan. Padahal, yang kami bincangkan itu bukan sesuatu yang mendesak. Wong iseng-iseng saja kok.

Lha bagaimana, anak kami masih dalam kandungan lho! Hihi … Jadi, itu sebenarnya celetukan saya saja, yang ditanggapi serius oleh istri.

Yang saya jawab apa adanya, lalu dibantah dengan sengit oleh istri. Saya tawar, dia bergeming. Saya bantah, dia bilang, “Terserah”.

Perasaan saya langsung nggak enak, dan benar, obrolan ganjil siang itu pun berakhir antiklimaks. Untungnya doi nggak sampai nunjuk-nunjuk karpet sebagai isyarat saya akan tidur di sana malam harinya.

Nama Untuknya


Ya, ya, ini masih soal nama. Sementara istri saya sudah punya ide untuk nama perempuan, saya belum juga menemukan nama yang tepat untuk anak kami, kalau ternyata nanti dia terlahir laki-laki.

Source: pexel.com

Sempat saya mempertimbangkan nama Muhammad, Ahmad, dan Abdurrahman. Tapi, rasa-rasanya saya butuh waktu sebelum memutuskan. Biar matang, gak grusah-grusuh.

Baca juga:
Bumil Memang Lebih Cantik
Ini Tentang Keluarga Saya

Saya gak tahu, yang pusing mencari nama (meski menyenangkan) seperti ini apa cuma orang Indonesia, atau semua orang dari berbagai negara.

Kalau saya perhatikan nama-nama orang Arab, apalagi nama para ulama zaman dulu, simple-simpel. Pendek dan gak berbelit. Ahmad, Umar, Zaid, Abdullah. Ada malah yang nama kakek-bapak-anak diulang-ulang, seperti Imam Al-Ghazali.

Nama lahirnya Muhammad, punya bapak namanya Muhammad, punya kakek namanya juga Muhammad, baru setelah itu punya kakek buyut namanya Ahmad. Diulang-ulang terus sampai tiga turunan.

Bukan malas mencari nama sebenarnya. Kakek-buyut Imam Al-Ghazali, yang memang para ulama atau cerdik cendekia itu, mungkin ingin tabarukan dengan nama Nabi Muhammad saw.

Ini mirip dengan ‘kasusnya’ Gus Mus.* Anak terakhir beliau namanya Bisri (bin) Mustofa, Gus Mus sendiri namanya Mustofa (bin) Bisri, beliau punya bapak namanya Bisri (bin) Mustofa, dan punya kakek namanya Mustofa (bin siapa saya gak tahu).

Jadi, dua nama itu dibolak-balik terus sampai empat generasi. Kayak-kayak ‘Mustofa’ dan ‘Bisri’ itu nama keramat yang harus terus dipakai.

Kebetulannya lagi, nama ayahanda Gus Mus (Bisri Mustofa) dijadikan nama jalan di Rembang sana, yang gak lain merupakan alamat kediaman beliau.

Konon, dalam sebuah lawatan ke Al-Quds, Palestina, putra Gus Mus yang waktu itu ikut serta, sempat tertahan berjam-jam di pos imigrasi Israel. Pasalnya, nama yang bersangkutan mencurigakan, penuh kejanggalan, dan mbulet.

Nama: Bisri Mustofa bin Mustofa Bisri
Alamat: Jl. KH. Bisri Mustofa.

Saya gak kepikiran menggunakan nama yang sulit, yang bikin lidah kemeng gara-gara kesulitan mengejanya, seperti Chiqueeta Gabriella atau Azraqilla Emanuella. Kok gak sekalian saja Uvuvwevwevwe Onyetenyevwe Ugwemubwem Osas.

Teman saya dulu ada yang namanya Tokyo Valentino. Masih mending sih, cuman kalau kami mengolok-ngoloknya dengan memanggil nama bapaknya, kejanggalan itu terasa, “Man, Giman!”

Ya, nama si anak semacam akulturasi antara Jepang dan Italia, sementara nama bapaknya adalah ekspresi kearifan lokal. Hehe …

***

Beberapa waktu lalu tiba-tiba terbetik keinginan menggunakan nama Ahmad untuk anak pertama saya. Selain meniru nama Nabi Muhammad (atau Ahmad, sebagaimana para malaikat mengenal beliau), kebetulan nama bapak saya juga Ahmad (sementara nama bapaknya Imam Ahmad, jadi Ahmad bin Ahmad, nah!).

Jadi, kelak anak saya cepat familiar dengan nama eyangnya, di samping agar ia selalu ingat dengannya.

Ya meski kelak setelah lahir ia gak akan pernah bertemu dengannya.

Kakak-kakak saya sering meminta tolong Bapak untuk mencarikan nama calon anaknya. Nama yang paling bagus yang beliau berikan, menurut saya, adalah Zahra Salsabila.

Zahra itu ‘bunga’, Salsabila itu ‘mata air di surga’. Orangtuanya kemudian memberi tambahan Felda di depannya. Gak tahu artinya apa. Yang pasti, anaknya sekarang sudah jadi gadis yang cantik, meski belakangan suka jutek.

Ketika bapak saya berpulang, kebiasaan meminta nama pada beliau terhenti. Nama-nama keponakan saya yang lahir setelah itu ya buah kreatifitas orangtuanya, yang menurut saya gak kalah bagus dibandingkan nama-nama yang Bapak pernah berikan.

Ada yang buah diskusi sama istrinya, mencari di kamus nama-nama bayi, browsing di internet, atau hasil ngundi. Hehe, gak ding.

Beberapa hari ini saya teringat Bapak. Seandainya beliau masih ada, mungkin saya tinggal memintakan nama padanya. Saya yakin, nama yang beliau berikan pasti keren, mau nama anak laki-laki atau perempuan.

Dan biasanya Bapak suka mencari nama yang maknanya rada-rada dalem, seperti nama cucu pertamanya, Nurcholis Majid. Nurcholis itu ‘cahaya murni’, Majid itu ‘agung’ atau ‘mulia’.

Tapi, saya juga curiga. Jangan-jangan Bapak malah menyuruh saya mencari sendiri nama untuk anak saya. Kalau diingat-ingat, selera beliau dan selera saya agak mirip.

Sewaktu kakak perempuan saya melahirkan Felda dan belum diputuskan nama yang tepat untuknya, saya gak sengaja membaca sebuah ayat yang menyebutkan kata ‘salsabila’. “Bagus,” batin saya waktu itu.

Ndilalah ketika pulang (waktu itu saya masih SMA dan pindah tidur di pesantren), Bapak sudah memberikan nama tersebut pada si jabang bayi. Mungkin kebetulan belaka, mungkin juga gak.

Orang Jawa menyebutnya tumus, alias nyambung. Semacam keterhubungan batin antara seorang anak dan bapak meski keduanya berada di tempat yang berjauhan. Mungkin karena telepon-teleponan.

Celakanya, sampai sekarang saya belum menemukan nama lain yang seindah ‘Salsabila’. Kalau tahu seperti ini, mending waktu itu saya baca surat lain saja yang gak ada kata ‘Salsabila’-nya, jadi Bapak mungkin memberikan nama lain untuk keponakan saya itu.

Biar anak saya saja yang namanya ‘Salsabila’. Hehe. Tapi kalaupun iya, istri saya belum tentu setuju. Lagipula, belio sudah punya alternatif: Sofie.

Menurut saya, Sofie (bukan Sofia) juga indah.

*Nih dia link-nya http://teronggosong.com/2010/11/mbulet/

Hanya Bisa Berharap


Ini adalah kali kedua istri saya memberitahu kalau isi perutnya seperti ada yang menendang-nendang.

“Dug … dug … dug,” katanya, melalui pesan Watsapp. Mungkin si adek mengajak main, mungkin juga mengajak shalawatan.

Saya pernah merindukan seseorang yang tak pernah saya temui sebelumnya. Pertama, kakek saya, dan kedua, istri saya. Buah hati saya ini sepertinya menjadi yang ketiga.

Baca juga: Untuk Anakku (1)

Kakek saya meninggal sekitar lima belas tahun sebelum saya lahir. Kata Bapak, kakek saya galaknya bukan main, tidak kalah dengan komandan koramil yang kumisnya seperti sikat sepatu itu. Tapi, beliau juga baik. Puluhan anak pernah ditampung di rumahnya yang mungil, diberi makan, dan diajari mengaji.

Istri saya, sebelum saya kenal dan kami sepakat hidup bersama, adalah orang yang saya rindukan di dalam doa-doa. Saya tidak pernah bermimpi memiliki teman hidup secantik Raisa atau Dian Sastro. Saya tahu diri, bahkan saat bermimpi pun saya tahu diri. Dan ketika doa saya terkabul, istri saya memang bukan Raisa atau Dian Sastro.*

Nah, anak dalam kandungan istri saya adalah orang ketiga yang, meski belum pernah saya jumpai juga, sudah saya rindukan kehadirannya. Minggu-minggu ini saya sering membayangkan bermain-main dengannya, membacakan buku cerita, atau mengajarinya mengaji dan shalawatan.

***

Saya bersyukur, sejauh ini si kecil baik-baik saja. Ibunya juga sama, tidak mual-mual lagi atau, seperti umumnya ibu hamil, ngidam sesuatu yang sulit dicari. Emosinya juga lebih stabil, malah sudah tidak sabar ingin melakukan ini dan itu. Mungkin boring kalau tiap hari berdiam diri terus.

Eh, ada ding keinginan istri saya yang susah dicari. Tapi, karena saking susahnya didapatkan, dia mafhum. Atau lebih tepatnya, pasrah.

Beberapa waktu lalu dia bilang ingin tojin. Katanya, itu semacam makaroni dengan bumbu khas Mesir. Sebabnya, setelah seharian buka-buka Instagram, dia melihat temannya mem-posting foto makanan yang seumur-umur belum pernah saya lihat itu. Seperti baru dapat wangsit, istri saya langsung terinspirasi.

Baca juga: Untuk Anakku (2)

Saya sih belum mencari di restoran Mesir atau Timur Tengah di sekitar Depok dan Jakarta. Tapi katanya, tojin ini jajanan kaki lima di negeri asalnya sana. Kalau di sini mungkin cilok atau gorengan. Tapi, karena istri saya maunya tojin dan bukan cilok atau gorengan, ya saya tidak mungkin membelikannya cilok atau gorengan.

Disetrap saya nanti …

***

Sampai hari ini, kami belum sepakat dengan nama anak pertama kami. Istri saya sudah dapat sebetulnya, dan saya setuju, sebelum kemudian dia mengganti satu huruf yang paling akhir. Dari Sofie menjadi Sofia. Satu huruf sih, dan maknanya tidak berubah gara-gara huruf itu. Tapi, itu sukses membuat saya berpikir ulang.

By the way, itu nama cewek. Kalau nama cowok, kami belum nemu. Saya sendiri masih galau. Kadang suka nama Abdurrahman, besoknya ingin Muhammad, lain waktu ingat Ibrahim. Saya tidak mempertimbangkan nama Jawa, seperti Soesilo, Soewito, apalagi Bambang dan Joko. Terlalu “biasa” rasanya, di samping terkesan kuno.

Kalau kami jadi memberi nama Sofie (bukan Sofia), yang berarti anak kami perempuan, mungkin buku kedua yang akan dia baca setelah Al-Quran adalah Sofies Verden, atau Dunia Sofie, karya Jostein Gaarder. Sebuah novel filsafat yang tebalnya mungkin sama dengan bantal saya yang penuh gambar pulau itu. ‘Kan namanya sama.

Baca juga: Life, So Far

Berharap masih boleh, ‘kan? Belum ada tagar untuk memboikotnya, ‘kan? Hehe, ya kalau ternyata dia lebih suka cergam tidak apa-apa, masak mau dipaksa? Lagipula, anak-anak zaman now mana ada yang suka buku filsafat? Saya sendiri sebenarnya juga malas membaca. Dunia Sofie saja sampai sekarang masih jadi pajangan di rak buku.

***

Saya kira, sembilan bulan itu akan lama, ternyata saya keliru. Rasanya baru kemarin istri saya antarkan ke klinik untuk cek kehamilan, sekarang sudah lima bulan saja usia kandungannya. Ada waktu empat bulan bagi kami untuk mempersiapkan segalanya. Bukan waktu yang lama, tapi semoga saja cukup.

Mungkin kalau anak kami sudah lahir nanti, waktu juga berjalan cepat, ya? Selama ini, saya melihat ketakjuban itu di wajah kakak-kakak saya saat mereka memperhatikan anak-anaknya. Tahu-tahu sudah lulus SD, tahu-tahu sudah pakai abu-abu-putih, tahu-tahu sudah jadi PNS. Hihi, time flies …

Apa pun itu, semoga semua yang terjadi dalam hidup kita adalah yang terbaik yang Allah berikan untuk kita. Dan, semoga kita senantiasa ingat hal itu. Mau bagaimana lagi, Dia yang punya hidup. Kalau tidak terima, kita bisa apa? Wong makan pakai nasi dan Boncabe saja sudah alhamdulillah.

Eh, kapan-kapan kita sambung lagi ya ceritanya. Mau menikmati hujan dulu. Sayang kalau tidak sambil makan Indomie goreng.

* Tuhan mungkin memang cepat mengabulkan impian yang nggak muluk-muluk seperti ini.

Yang Haram Aja Susah


Kita mungkin punya teman-teman yang beda-beda karakternya. Satu di antara mereka bisa jadi sangat unik.

Seorang teman punya pekerjaan yang bagus. Jabatan yang mentereng, fasilitas kantor yang lengkap, dan tentu saja gaji yang sepadan. Gak hanya itu, prestasi kerjanya pun memuaskan.

Teman-temannya angkat topi, sebab jarang-jarang ada karyawan di kantornya meraih pencapaian seperti dirinya.

Baca juga:
Bedanya Orang yang Tahu dan Tidak Tahu
Memang, Tidak Baik Berprasangka

Tapi, apa yang kita anggap cukup dan memuaskan ternyata bisa dipersepsikan berbeda oleh orang yang merasakannya langsung. Sawang sinawang, kata orang Jawa.

Bagi teman tersebut, gaji yang untuk ukuran saya sangat buanyak itu, tak lebih sekadar selilit di sela gigi-giginya.

It means something, but still it’s not enough.

Maka, cerita yang saya dengar berikutnya adalah bagaimana ia memanfaatkan jabatan dan wewenangnya untuk meraup apa saja yang ia mau. Demi apa lagi jika bukan duit.

Saya gak tahu, kenapa ia gak buka usaha sendiri di luar pekerjaan utamanya, buat tambah-tambahan. Mungkin, lambat.

balloons-2617785_960_720
Sumber foto: pixabay.com

Menariknya, dan ini tipikal orang yang sebenarnya tahu mana benar dan mana salah tapi kadung kejeblos di lingkungan yang buruk, ia berharap keluarganya baik-baik saja. Istrinya adalah muslimah jelmaan bidadari surga dan anak-anaknya tumbuh menjadi orang-orang yang saleh dan saleha.

Saya agak ngeri membayangkannya. Di tanggal gajian, teman tersebut pulang membawa uang dan kebahagiaan ke rumahnya, lalu mengajak istri dan anak-anaknya shoping dan bersantap di restoran mahal dengan uang panas yang didapatnya. Dan, ia mengira semua akan baik-baik saja.

Dengan uang itu ia membelikan busana muslimah untuk dipakai istrinya ikut pengajian, membayar biaya sekolah anak-anaknya di Sekolah Dasar Islam Terpadu, dan mengisi perutnya agar kuat shalat.

“Ya Allah,” pintanya selepas Maghrib, “jadikanlah istriku wanita yang setia dan anak-anakku orang-orang yang saleh dan saleha.”

Kira-kira, kalau Sampeyan yang jadi malaikat, sewot atau terpingkal-pingkal mendengar doanya?

Dulu saya tahu ada orang seperti itu dari buku-buku agama atau PPKN, juga film, dan itu bisa jadi fiksi belaka. Tapi, semenjak bekerja dan kenal banyak orang dari berbagai latar belakang, saya sadar bahwa orang dengan perilaku seperti itu ada.

Ya, ada. Dan, mereka bisa jadi teman baik kita atau orang yang kita percaya.

Akhiran, sesulit apa pun keadaan kita, semoga kita gak menjadi orang yang sedang kita bicarakan ini. Menjadi monster yang bisa menjelma suami atau ayah yang baik bagi keluarga itu mengerikan.

Kasihan istri dan anak-anaknya. Bukan hanya telah dibohongi tapi bahkan sudah dirusak hati dan jiwanya.

Tentang Sahabat


Mungkin kita gak selalu bisa bersahabat dengan semua orang.

Tapi paling gak, hingga dewasa seperti sekarang, kita pernah punya sahabat. Orang yang kita merasa nyaman dengannya dan percaya rahasia-rahasia kita aman di tangannya. Minimal satu orang deh.

Baca juga:
Masruhin & Teman-teman Kambingnya
Cinta yang Tak Muluk

Kalau judulnya “mencari sahabat”, sejak dulu kita sebenarnya pilih-pilih lho. Saya gak sedang menuduh, atau mencibir. Lagipula itu bukan sesuatu yang keliru.

Kalau kita mau mengingat, sahabat kita biasanya adalah orang yang punya minat dan cara berpikir yang sama dengan kita.

Ini sudah kita lakukan sejak kecil, tapi berkembang seiring bertambahnya umur dan berubahnya lingkungan kita. Hanya saat SD, pertimbangan atas dasar cara pandang yang sama belum kentara.

Kita bisa berteman dengan siapa saja, dan bersahabat dengan anak yang paling sering bermain dengan kita. Gak peduli dia anak yang paling badung atau sangat jorok sekalipun.

boys-2609144_960_720
Sumber gambar: pixabay.com

Saat remaja dan beranjak dewasa, kita semakin pilih-pilih. Kita cenderung menggunakan pertimbangan yang masuk akal tapi kadang ruwet, khas mahasiswa. Sering bertemu bukan jaminan kita bisa bersahabat dengan seseorang, bahkan meski ia dan kita punya minat yang sama.

Cara berpikirnya juga kita lihat. Kalau teman sekelas kita punya minat dan cara berpikir yang sama, ada kemungkinan kita bisa bersahabat dengannya. Tapi, ini harus dibarengi dengan hal-hal yang sudah menjadi “prasyarat” dalam sebuah hubungan, misalnya gak bossy atau suka nyolong.

Saat kecil dulu saya punya dua sahabat. Seperti halnya persahabatan anak-anak, bukan pertimbangan masuk akal yang menjadi alasan. Kami hanya kebetulan tinggal berdekatan, di samping mengaji dan bersekolah di tempat yang sama. Jadi, hampir setiap hari kami bermain bersama.

Saat dewasa dan ada kesempatan bersua, saya melihat jurang perbedaan yang luar biasa lebar di antara kami. Salah satu teman saya, Yayan namanya, gemar sekali bicara soal perempuan. Badannya tinggi besar, kalau duduk makan tempat. Profesinya: polisi lalu lintas.

Teman saya yang lain, Amin, seperti malas bicara tentang perempuan, apalagi sama Yayan. Amin bekerja sebagai tukang rias, pembawaannya agak melambai. Teman-temannya banyak yang berprofesi sebagai model, cantik-cantik tentunya. Tapi, justru karena itu ia malas membahasnya dengan Yayan.

Yayan terobsesi dengan perempuan cantik karena ingin menidurinya, sementara Amin menyukai mereka karena merasa nyaman, dan karenanya ingin melindungi. Dua hal yang bukan hanya mengakhiri alasan persahabatan mereka saat kanak-kanak tapi juga membuat mereka bertolak belakang.

Kita tahu, anak-anak punya motif yang murni dalam menjalin hubungan. Gak ada anak-anak yang berteman karena ingin diberi jatah proyek oleh sahabatnya, atau agar dimudahkan dalam urusan bisnisnya. Mereka berteman karena merasa nyaman, dan kenyamanan itu ditentukan oleh sesuatu yang natural.

Bukan sesuatu yang rasional, apalagi pragmatis.

Setelah dewasa, seperti dalam komitmen lain dalam hidup, alasan-alasan yang murni itu terlupakan, dan pelan-pelan tergantikan, oleh sesuatu yang rasional, pragmatis, dan seringkali gak tulus. Persahabatan di antara mereka pun tinggal kenangan, atau kalau tersisa paling-paling cuma “relasi”.

Tak Baik Berprasangka


Kadang saya dan istri bisik-bisik tentang tetangga sebelah rumah.

Bukan tanpa alasan, mereka itu sering banget berantem. Teriak-teriak saling menuntut, mengolok, mendebat. Seakan volume suara baik yang laki-laki maupun perempuannya tak ada tombolnya.

Baca juga:
Ujung-ujungnya Nggak Jadi
Lupa Lagi, Lupa Lagi

Kemarin pagi sebelum berangkat kerja, saya mendengar sang istri meneriaki lagi suaminya dengan kata-kata yang kurang enak didengar, “Makanya, jadi laki itu yang tegas!” Suaminya mendelik, lalu mengancam pelan, “Ati-ati kalau ngomong!”

Source: pixabay.com

Saya dan istri yang kebetulan sedang di teras hanya bisa diam dan saling tatap. Yang istri berani sama orang laki-laki, yang suami tak mau mengalah dan bersabar. Sebelas-dua belas ya!

Sore harinya setelah saya pulang kerja, anak tetangga itu tampaknya baru selesai mandi. Tak lama kemudian, ia mengambil sepeda BMX-nya, membetulkan letak pecinya, lalu berpamitan pada ibunya, “Ma, aku ke masjid dulu, ya!”

“Ya, ati-ati, gak usah ngebut!” sahut sang ibu.

Hari-hari sebelumnya, bocah itu juga sering berpamitan ke masjid, shalat, atau ngaji. Bukan hal yang istimewa sebenarnya. Anak-anak seusianya banyak yang bersikap manis seperti itu. Hanya saja petang itu, saya merasakan sesuatu yang berbeda.

Mungkin, ini subyektivitas saya saja. Sebab, pagi harinya saya mendengar ibu-bapaknya beradu mulut, sore harinya saya melihat anak mereka bersikap manis dan pergi ke masjid. Terus terang, saya tersentuh, sekaligus malu.

Seperti apa pun orangtuanya, anak tetangga itu punya sikap yang baik. Memang sih, kalau saya perhatikan, ia rajin ke masjid. Saya saja kalah.

Nah kadang, saat berbisik bareng istri, kami sering keasyikan membicarakan sesuatu yang kami tidak tahu apa-apa tentang urusan mereka. Membicarakan hal-hal yang tak patut kami bicarakan, sambil melewatkan hal-hal baik yang ada pada diri mereka.

Sementara kami ini, yang diam-diam mungkin merasa lebih bisa mengontrol ucapan, belum tentu bisa mendidik anak menjadi seperti itu. Jangankan mendidik anak, mendidik diri sendiri untuk rajin ke masjid saja kepayahan.